Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERINDUAN
Pantulan cahaya hijau zamrud dari liontin pusaka peninggalan sang ayah tampak begitu kontras dengan kemeja putih sederhana yang dikenakan Freya. Di hadapannya, Amartha tersenyum hangat, merapikan kerah baju putrinya untuk terakhir kalinya. Udara sejuk kamar V.I.P. rumah sakit mendadak terasa begitu hangat, dipenuhi oleh kelegaan setelah badai rahasia masa lalu berhasil diungkapkan.
Tepat saat jarum jam menunjuk pukul dua siang, pintu kamar terbuka lebar. Seorang dokter spesialis senior didampingi dua perawat masuk membawa dokumen kepulangan medis. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan menyeluruh dan evaluasi kesehatan terakhir, kondisi Amartha dinyatakan telah pulih dengan sangat baik. Organ tubuhnya merespons pengobatan dengan sempurna, dan pihak rumah sakit memberikan izin resmi bagi wanita paruh baya itu untuk keluar hari ini juga.
Freya merasakan gelombang kebahagiaan sekaligus kebingungan yang membuncah di dalam dadanya. Di satu sisi, ia sangat bersyukur sang ibu bisa kembali menghirup udara segar di luar rumah sakit. Namun di sisi lain, sebuah masalah logistik yang pelik langsung menghantam benaknya.
Tempat tinggalnya saat ini adalah penthouse mewah tersembunyi di tengah hutan pinus pinggiran kota Amsterdam—sebuah tempat perlindungan rahasia yang dikuasai penuh oleh Victor Thorne, tempat di mana ia menghabiskan malam-malam panas bersama sang konglomerat dan merawat adiknya, Steven, selama beberapa hari. Membawa sang ibu yang baru saja sembuh dari sakit parah ke tempat persembunyian rahasia semacam itu tentu bukan ide yang bijak. Terlebih lagi, ia tidak ingin membuat ibunya curiga mengenai status hubungannya yang terikat kontrak transaksional dengan Victor.
Tanpa menunggu waktu lama, Freya merogoh saku mantelnya, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan langsung mendial nomor pria yang kini telah menjadi pusat dari seluruh dunianya.
Sambungan telepon tidak butuh waktu lama untuk terhubung. Suara bariton Victor yang tenang dan berwibawa langsung menyapa telinganya dari ujung seberang, seolah pria itu memang sedang menunggu panggilannya.
"Ada apa, Honey? Apakah ada masalah di rumah sakit?" tanya Victor langsung to the point, nada suaranya menyiratkan perhatian terselubung di balik kedatangannya yang dingin.
"Victor..." ucap Freya ragu-ragu, menggigit bibir bawahnya sejenak. "Mama sudah diperbolehkan pulang hari ini. Tapi... aku bingung. Aku tidak mungkin membawanya kembali ke penthouse tanpa menjelaskan banyak hal kepadamu, dan aku juga tidak ingin Mama kelelahan tinggal di apartemen kecil kami yang lama. Apa yang harus kulakukan?"
Di ujung sambungan sana, Victor terdiam sejenak. Suara ketukan jari di atas meja kerja terdengar samar, menandakan pria itu sedang berpikir cepat.
"Jangan bawa dia ke penthouse," jawab Victor tenang namun pasti. "Aku sudah mengantisipasi hal ini sejak lama. Dua hari lalu, sebelum aku berangkat ke wilayah barat, aku meminta Markuz untuk membelikan sebuah rumah tinggal permanen di kawasan Oud-Zuid, Amsterdam. Rumah itu sudah siap huni, lengkap dengan seluruh fasilitas medis dan pelayan pribadi."
Freya membelalakkan matanya, terkejut luar biasa. "R-rumah di Oud-Zuid? Victor, kawasan itu adalah salah satu perumahan paling elit dan mahal di Amsterdam! Kenapa kau sampai menyiapkan itu?"
"Karena kau dan keluargamu adalah tanggung jawabku sekarang," tukas Victor tanpa keraguan sedikit pun di suaranya. "Kirim pesan ke Markuz, dia akan mengirimkan alamat lengkap serta kunci digitalnya ke ponselmu. Antar Mami dan Steven ke sana sekarang juga."
Freya tidak mampu berkata-kata lagi. Hatinya bergemuruh hebat, dipenuhi oleh rasa haru dan cinta yang teramat dalam kepada pria yang kerap bersikap dingin di hadapan dunia luar itu, namun memperlakukannya bagai seorang ratu di balik layar.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam V.I.P. yang disediakan khusus oleh tim Markuz berhenti dengan mulus di depan sebuah bangunan berarsitektur klasik modern dua lantai di kawasan Oud-Zuid, Amsterdam.
Begitu pintu mobil terbuka, Amartha dan Steven keluar dengan mata membelalak takjub. Lingkungan di sekitar rumah tersebut benar-benar bagaikan oase ketenangan di tengah kota metropolitan. Jalan trotoar di sepanjang kawasan itu tersapu bersih tanpa sehelai sampah pun, dikelilingi oleh jajaran pohon ek besar yang menaungi jalanan, serta hamparan rumput hijau yang terpangkas rapi di setiap halaman depan rumah-rumah bergaya era abad pertengahan yang didesain seragam secara elegan.
"Rumah ini... milik siapa, Kak?" tanya Steven terpukau, menatap bangunan bata merah klasik dengan jendela kaca besar dan pintu kayu mahoni di hadapan mereka.
"Mulai hari ini, ini adalah rumah kita, Stev," jawab Freya lembut, merangkul pundak sang ibu yang tampak masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Interior di dalamnya sangat memukau—perpaduan antara sentuhan kayu antik klasik dan perabotan modern minimalis berwarna pastel yang hangat. Kamar tidur utama di lantai bawah telah disesuaikan dengan standar medis untuk kenyamanan pemulihan Amartha, lengkap dengan tempat tidur elektrik yang empuk dan jendela besar yang langsung menghadap ke taman belakang yang dipenuhi bunga tulip.
Amartha duduk di atas sofa ruang tamu yang empuk, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling ruangan yang begitu megah dan tenang. Ia menoleh menatap putrinya, menggenggam tangan Freya erat-erat.
"Freya... pria yang menolong kita ini... siapa sebenarnya dia, Nak?" tanya Amartha dengan nada serius namun penuh rasa syukur. "Rumah semahal ini di kawasan Oud-Zuid... ini bukan tempat yang bisa dibeli oleh orang biasa."
Freya tersenyum canggung, merona merah menutupi kegugupannya. "Dia... seorang pria baik, Mama. Seseorang yang sangat peduli padaku. Jangan khawatirkan biayanya, semua berada di tangan yang aman."
Setelah memastikan kamar ibunya tertata rapi, kebutuhan obat terpenuhi, dan dua orang pengawal tepercaya dari Markuz berjaga di gerbang depan untuk keamanan mutlak, Freya akhirnya bisa bernapas lega.
Freya berjalan ke arah balkon kamar lantai atas yang menghadap langsung ke jalanan asri Oud-Zuid. Sinar matahari sore memantul indah di atas permukaan batu zamrud yang melingkar di lehernya. Ia segera mengeluarkan ponselnya, mendial nomor Victor sekali lagi untuk memberikan laporan sekaligus meluapkan isi hatinya.
Sambungan terhubung nyaris seketika.
"Victor... kami sudah sampai di rumah baru di Oud-Zuid," ucap Freya dengan nada suara yang bergetar lembut. "Rumah ini... luar biasa indah, tenang, dan sangat sempurna untuk Mami. Terima kasih banyak, Victor. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu."
Di ujung sana, Victor menghela napas lega. Suara tawa kecil yang sangat jarang terdengar lolos dari bibir pria itu. "Kau tidak perlu membalas apapun, honey. Kebahagiaan Mama dan keselamatan keluargamu adalah prioritasku juga. Apakah Mama dan adikmu menyukai rumah itu?"
"Sangat menyukainya," jawab Freya tulus. Suaranya mendadak melirih, berubah menjadi nada manja yang membuat debaran di dada Victor melonjak. "Victor... aku merindukanmu."
Keheningan sesaat tercipta di antara sambungan telepon tersebut. Di ujung sana, Victor memejamkan matanya sejenak, merasakan sengatan rindu yang luar biasa tajam. Berada di wilayah barat Belanda menyelesaikan urusan bisnis selama beberapa hari tanpa kehadiran gadis itu ternyata jauh lebih menyiksa daripada memimpin ratusan rapat dewan direksi.
"Aku juga merindukanmu, Freyaa," bisik Victor berat, suaranya sarat akan gairah dan kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi Freya seorang. "Sangat merindukanmu."
Mendengar pengakuan jujur itu, keberanian tiba-tiba menyeruak di dalam dada Freya. Ia mengepalkan tangan kanannya di atas pagar balkon, lalu menarik napas panjang.
"Victor... jika aku meminta izin untuk menyusulmu ke Netherlands sekarang... apakah kau akan mengizinkannya?" tanya Freya penuh harap.
Victor tidak butuh waktu lama untuk berpikir. "Menyusulku? Di sini, di apartemenku di Rotterdam?"
"Ya," jawab Freya cepat. "Mama sudah aman di rumah ini bersama Steven dan penjagaan yang ketat. Aku... aku ingin berada di sisimu sekarang, Victor. Aku ingin terbang ke sana."
Victor tersenyum lebar di ruang kerjanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung memberikan keputusan mutlak.
"Kemas pakaianmu sekarang juga, freyaa," perintah Victor dengan nada tegas namun penuh kehangatan. "Aku akan meminta agen perjalanan pribadi milik keluarga Thorne untuk mengirimkan tiket penerbangan V.I.P. kelas eksekutif paling eksklusif ke ponselmu detik ini juga. Pesawat pribadi akan menunggumu di landasan khusus Bandara Schiphol. Datanglah kepadaku, Freya."
Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Freya. Sebuah e-ticket penerbangan privat V.I.P. atas nama dirinya tertera jelas di layar, lengkap dengan kode akses khusus untuk jalur prioritas di Bandara Schiphol Amsterdam.
Freya segera melangkah kembali ke dalam kamar utama untuk menemui ibunya. Ia memeluk Amartha erat-erat, berpamitan dengan alasan harus pergi mengurus beberapa urusan penting terkait beasiswa kuliahnya di luar kota selama beberapa hari ke depan. Amartha yang tidak menaruh curiga sedikit pun memberikan restu penuh, menyuruh putrinya berhati-hati di jalan.
Ditemani oleh Markuz yang datang langsung menjemputnya dengan mobil khusus menuju landasan V.I.P. bandara, Freya merasakan jantungnya berdegup kencang bukan kepalang. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa melangkah keluar kota, melainkan sebuah lompatan besar menuju dunia baru—dunia di mana ia tidak lagi bersembunyi dalam ketakutan, melainkan terbang menyongsong pelukan seorang pria yang telah merebut seluruh jiwanya.
Beberapa jam kemudian, jet pribadi bermesin ganda milik keluarga Thorne melesat mulus membelah langit senja Eropa, membawa Freya terbang tinggi menembus gumpalan awan putih menuju wilayah barat Netherlands, tempat Victor Thorne telah menantinya dengan debaran rindu yang membara di balik dinding-dinding kota pelabuhan Rotterdam.