Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Pasar Desa dan Kabar yang Mengguncang Jiwa
Sinar matahari sabana yang hangat perlahan mulai merangkak turun ke sisi barat, menciptakan bias cahaya keemasan yang memantul di atas hamparan rumput liar. Setelah berdiskusi singkat dan meredakan ketegangan yang sempat melanda hati Zass, party petualang Tier SSS tersebut kembali melanjutkan perjalanan panjang mereka. Langkah kaki mereka mantap menyusuri jalur setapak yang membelah padang rumput, dipimpin oleh Ryu yang memegang peta usang di tangannya.
Tidak lama setelah perjalanan yang cukup melelahkan itu, samar-samar terlihat kepulan asap tipis dari kejauhan, disusul oleh deretan atap rumah kayu yang tertata rapi. Sebuah desa perbatasan yang cukup ramai dan makmur tampak menyambut kedatangan mereka. Desa itu bernama Desa Oakhaven, sebuah titik peristirahatan strategis yang sering dikunjungi oleh para pedagang keliling dan petualang yang lalu-lalang antara wilayah perbatasan dan ibu kota.
"Wah, akhirnya kita menemukan pemukiman!" seru Ken dengan wajah sumringah, meregangkan otot-otot bahunya yang kaku. "Aku sudah bosan makan roti kering dan daging beku selama di perjalanan. Saatnya mengisi kembali kantong perbekalan kita dengan makanan segar!"
Okta mengangguk setuju sambil meraba kantong koin di pinggangnya. "Ide bagus, Ken. Kita juga butuh tambahan ramuan penyembuh dan rempah-rempah untuk perjalanan ke selatan. Mari kita berpencar sebentar untuk berbelanja, lalu berkumpul lagi di dekat air mancur alun-alun desa."
Kelima anggota party itu pun memasuki gerbang desa yang tidak dijaga ketat. Suasana di dalam pasar desa terasa begitu hidup dan meriah. Berbagai gerai pedagang berjejer rapi di sepanjang jalan utama, menawarkan aneka barang mulai dari hasil bumi, senjata tempaan lokal, hingga kue-kue manis yang harumnya mengundang selera.
Okta dan Kayla langsung berjalan berdampingan menuju gerai bahan makanan segar, sementara Ryu dan Ken sibuk memilih botol-botol ramuan sihir di lapak seorang alkemis tua. Di sisi lain, Zass memilih berjalan perlahan di belakang rekan-rekannya. Langkah pemuda itu terhenti di depan sebuah gerai kecil yang menjual roti lapis buah segar. Perasaan lapar yang sempat ia abaikan kini mulai terasa, membuat Zass memutuskan untuk memilih beberapa potong roti sebagai bekal tambahan.
Saat Zass sedang berdiri di depan etalase kayu, memperhatikan berbagai pilihan roti dengan saksama, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara bisik-bisik dari sekelompok warga desa yang sedang berkumpul di dekat sebuah papan pengumuman tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hei, apa kau sudah dengar berita terbaru dari ibu kota Kerajaan Imperial?" bisik seorang pria paruh baya bertopi jerami kepada temannya dengan nada prihatin.
"Berita yang mana? Soal pajak baru atau pergerakan monster?" balas pria di sebelahnya, penasaran.
"Bukan! Ini berita besar yang melibatkan bangsawan tinggi dan keluarga kerajaan!" ujar pria pertama dengan suara yang sengaja dikecilkan namun masih bisa ditangkap jelas oleh telinga Zass yang berdiri beberapa meter dari mereka. "Katanya... Putri Celestia, sang putri mahkota yang terkenal cantik dan cerdas itu, baru saja dijodohkan secara paksa oleh Raja David!"
Deg!
Nama "Putri Celestia" dan "Raja David" yang disebut secara bersamaan langsung menghantam kesadaran Zass bagaikan sambaran petir di siang bolong. Tangan Zass yang sedang memegang sebuah roti seketika membeku. Seluruh darah di tubuhnya terasa berdesir dingin, dan ia langsung memfokuskan seluruh pendengarannya ke arah percakapan dua orang warga desa tersebut tanpa berkedip sedikit pun.
"Dijodohkan? Dengan siapa?" tanya warga kedua dengan mata terbelalak kaget.
"Dengan Pangeran Helix dari Kerajaan Aiteria!" jawab pria bertopi jerami itu dengan nada suara berbisik penuh intrik. "Kau tahu sendiri kan, Kerajaan Aiteria itu sekutu kuat kita, tapi Pangeran Helix terkenal dengan perangai angkuhnya. Aliansi politik ini disahkan tepat hari ini, di hari ulang tahun kedelapan belas sang putri. Pesta pertunangannya sedang dilangsungkan secara besar-besaran di istana utama saat ini!"
Mendengar kalimat terakhir itu, dunia di sekeliling Zass seolah berhenti berputar. Hari ulang tahun kedelapan belas... tanggal 24 November... hari ini.
Semua kepingan puzzle perasaan ganjil, debaran jantung yang tidak biasa, dan firasat buruk yang ia rasakan sejak siang tadi kini terjawab sudah secara telak. Celestia tidak sedang merayakan hari ulang tahunnya dengan tenang di balik dinding istana yang damai. Gadis itu sedang dipaksa menyerahkan masa depannya kepada pria yang tidak ia cintai, terperangkap dalam ikatan politik kerajaan yang kejam, tepat di hari usianya genap delapan belas tahun.
Napas Zass memburu. Kepalan tangannya di sisi tubuhnya bergetar hebat. Aura Petir Ungu di dalam tubuhnya mendadak meledak tak terkendali, menciptakan percikan-percikan listrik statis tak kasat mata yang membuat bulu kuduk orang-orang di sekitar gerai roti tersebut merinding ketakutan. Kuda-kuda beban yang diikat di dekat sana mulai meringkik gelisah akibat tekanan aura yang mendadak menekan udara.
"Zass! Hei, Zass!"
Sebuah tepukan kuat di pundaknya tiba-tiba menyadarkan Zass dari lamunannya yang penuh amarah dan kepedihan. Zass tersentak, menoleh dengan mata yang menyala tajam dan dipenuhi urat kemerahan.
Di hadapannya, Ken berdiri sambil membawa beberapa botol ramuan sihir di tangan, menatap Zass dengan alis bertaut bingung.
"Kau kenapa, kawan?" tanya Ken heran. "Wajahmu pucat sekali, seperti baru saja melihat hantu. Kami sudah selesai memborong bahan perbekalan. Yang lain sudah menunggu di dekat air mancur alun-alun. Ayo kita ke sana."
Zass menatap Ken dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering dan berat untuk bersuara. Namun, ia tahu ia tidak bisa memendam rahasia sebesar ini sendirian, terutama di hadapan rekan-rekan party yang sudah bertaruh nyawa bersama melintasi berbagai medan bahaya.
Dengan langkah kaku dan sisa-sisa tenaga yang gemetar, Zass mengikuti Ken menghampiri Ryu, Okta, dan Kayla yang sedang menurunkan barang bawaan mereka di tepian kolam air mancur batu di tengah alun-alun desa.
Melihat kedatangan Zass dengan ekspresi wajah yang sangat kacau, Okta langsung menghentikan aktivitasnya merapikan tas perbekalan.
"Ada apa ini, Zass? Kenapa kau kelihatan seperti mau menerkam orang?" tanya Okta blak-blakan dengan nada prihatin bercampur penasaran.
Kayla, yang memegang sekantong apel segar, ikut mendekat dan menatap Zass dengan tatapan penuh selidik. "Iya, Zass. Kau tidak biasanya berekspresi separah itu setelah berbelanja. Apakah ada pencuri yang mencoba merampokmu di pasar tadi?"
Zass menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak petir di dalam dadanya yang siap meledak kapan saja. Ia menatap keempat rekan setianya satu per satu dengan tatapan nanar.
"Bukan... bukan pencuri," ucap Zass dengan suara parau yang bergetar menahan amarah. "Aku... aku baru saja mendengar percakapan warga di dekat gerai roti pasar tadi."
"Percakapan apa?" tanya Ryu serius, merasakan ada keseriusan yang luar biasa dari nada bicara Zass.
Zass mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentang Kerajaan Imperial... tentang Kerajaan Aiteria... dan tentang Putri Celestia."
Mendengar nama Putri Celestia disebut, ketiga anggota party senior itu langsung terdiam kaku. Okta dan Kayla saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya, sementara Ken mengerutkan kening dalam-dalam.
"Putri Celestia?" ulang Ken dengan nada ragu. "Memangnya ada apa dengan sang putri di ibu kota?"
"Dia..." Zass menelan ludahnya dengan susah payah, menahan sesak yang menghimpit dadanya. "Dia baru saja dijodohkan secara paksa oleh Raja David dengan Pangeran Helix dari Kerajaan Aiteria. Pertunangan itu... dilangsungkan hari ini juga, bertepatan dengan hari ulang tahun kita yang kedelapan belas."
Suasana di sekitar air mancur mendadak senyap seketika. Angin sabana yang bertiup seolah berhenti menghembuskan udara, menyisakan keheningan yang mencekam di antara kelima anggota party petualang tersebut.
Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Okta membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali, seolah otak kasarnya menolak untuk memproses informasi yang baru saja ia dengar.
"Tunggu... tunggu dulu, Zass," ucap Okta akhirnya dengan nada tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana yang terlampau tegang. "Kau... kau pasti salah dengar berita. Mana mungkin Raja David melakukan hal separah itu?"
"Benar, Zass!" timpal Kayla dengan nada cemas, mencoba meyakinkan diri sendiri maupun Zass. "Raja David adalah penguasa yang bijaksana di Kerajaan Imperial. Lagi pula, Celestia adalah putri kesayangannya! Raja tidak mungkin menyerahkan putrinya begitu saja kepada pangeran arogan dari Aiteria lewat perjodohan politik sepihak. Raja David... dia tidak mungkin berubah pikiran secepat itu!"
"Bijaksana kau bilang?...dia yang mengusirku puluhan tahun lalu.." ucap zass dengan lirih namun terdengar ke telinga mereka berempat. Kayla langsung terdiam mendengar ucapan Zass tersebut.
Ryu, yang sedari tadi terdiam dengan tangan bersilang di dada, tidak langsung menyangkal seperti Okta dan Kayla. Pandangan mata Ryu tajam menatap tanah, menganalisis situasi politik yang rumit di balik dinding istana Imperial. Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman luas di dunia militer dan petualangan tingkat tinggi, Ryu tahu persis bahwa kekuasaan dan ambisi politik sering kali mengalahkan hubungan darah sekalipun.
"Mereka tidak percaya..." gumam Zass pelan, menatap lurus ke mata Okta dan Kayla dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan mendalam dan tekad baja yang membara. "Kalian pikir aku sedang mengarang cerita? Aku mendengarnya sendiri dari para pedagang yang baru datang dari jalur utama ibu kota pagi ini."
Zass mengangkat wajahnya, menatap ke arah langit selatan tempat ibu kota Kerajaan Imperial berdiri megah di balik barisan pegunungan jauh di sana. Aura Petir Ungu di tubuhnya kembali bergolak, kali ini jauh lebih kuat dan stabil, memancarkan gelombang kekuatan Tier SSS yang membuat air di dalam kolam air mancur bergetar hebat.
"Raja David mungkin telah berubah pikiran, atau mungkin... ia tidak punya pilihan lain di bawah tekanan politik Kerajaan Aiteria," lanjut Zass dengan suara dingin penuh ketegasan. "Tapi satu hal yang pasti... aku tidak akan tinggal diam membiarkan Celestia dikurung dalam sangkar penderitaan itu."