Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Semua persiapan untuk kunjungan kerja ke Swiss dan Inggris sudah selesai, Tuan Nicolas," ucap Matteo seraya menyerahkan paspor dan tiket pesawat VIP.
"Penerbangan kita dijadwalkan pukul sepuluh pagi ini. Pertemuan dengan para pemegang saham utama Vance Group di Zurich dan negosiasi akuisisi di London akan memakan waktu setidaknya satu hingga dua minggu," sambung Matteo.
Nico menerima dokumen tersebut, lalu melirik dingin ke arah pintu koridor menuju kamar utama. "Bagaimana dengan pengamanan penthouse selama aku pergi?"
"Empat pengawal terlatih akan berjaga 24 jam di lorong lift utama dan pintu keluar emergency," jawab Matteo tegas. "Sistem keamanan biometrik seluruh pintu juga telah dikunci otomatis dari pusat kontrol saya. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar atau masuk tanpa izin khusus."
Nico mengangguk pelan, menyipitkan matanya. "Pastikan Maya mengawasi kondisi fisik Anna dengan ketat. Jangan biarkan gadis itu melangkah satu meter pun keluar dari batas penthouse ini. Jika ada hal mencurigakan sekecil apa pun, langsung laporkan padaku."
"Baik, Tuan."
Nico melangkah menuju kamar utama. Dengan satu sentuhan kartu akses biometrik, pintu kayu berat itu terbuka pelan.
Di dalam kamar, Sienna sedang duduk kaku di kursi pinggir jendela, menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit. Kehadiran Nico membuat bahu mungilnya menegang seketika.
Nico berjalan mendekat, berhenti tepat di samping kursi Sienna. Pria itu menatap puncak kepala Sienna sebelum akhirnya merengkuh dagu gadis itu dengan jemarinya yang kokoh, memaksa Sienna menatap sepasang mata kelabunya yang membeku.
"Aku akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis selama dua minggu," ujar Nico dengan intonasi rendah dan penuh penekanan. "Jangan berpikir bahwa ketidakhadiranku adalah kesempatanmu untuk melarikan diri, Sienna. Penjagaan di tempat ini jauh lebih ketat daripada yang kau bayangkan."
Sienna membalas tatapan Nico, berusaha menahan getaran di dadanya. "Saya tahu posisi saya di mana, Tuan Vance. Saya tidak punya tempat untuk pergi."
Nico menatap iris cokelat Sienna selama beberapa detik, mencari kebohongan di sana. Saat tidak menemukan apa-apa selain tatapan redup yang pasrah, Nico melepaskan cengkeramannya.
"Bagus jika kau sadar diri," desis Nico seraya berbalik. "Tetaplah menjadi tawanan yang penurut hingga aku kembali."
Dengan langkah lebar, Nico keluar dari kamar dan meninggalkan penthouse. Suara dentuman pintu utama yang terkunci rapat menandai keberangkatan sang pemilik dominan.
Begitu deru mesin mobil Nico terdengar menjauh dari area gedung, Sienna menarik napas panjang. Paru-parunya serasa baru saja mendapatkan pasokan udara segar setelah berhari-hari tercekik oleh aura intimidasi pria itu.
Dua minggu. Nico akan pergi selama dua minggu penuh.
Ini adalah satu-satunya kesempatan emas yang dimilikinya. Sienna merogoh kain gaunnya, meraba lembaran kertas resep medis racun arsenik yang tersembunyi rapat. Kertas ini tidak akan ada gunanya jika hanya tersimpan di dalam saku gaunnya.
Ia membutuhkan seseorang yang berilmu, tepercaya, dan memiliki akses untuk meneliti ulang bukti ini, seseorang yang bisa membantunya mengungkap kebenaran di balik tragedi sebelas tahun lalu.
Dan orang itu adalah Sofia, sahabat karibnya.
Namun, kendala terbesar menghadangnya adalah penthouse ini, yang dijaga ketat oleh empat pengawal tegap di luar pintu, dan seluruh akses terkunci secara digital. Mustahil baginya untuk melangkah keluar tanpa memicu alarm atau ditahan oleh pengawal Nico.
Klik.
Pintu kamar terbuka pelan. Maya, perawat pribadi yang ditugaskan Nico untuk merawat Sienna, melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan panas dan obat-obatan.
"Selamat pagi, Nona Sienna," sapa Maya lembut. Wanita berusia tiga puluh tahunan itu selalu menatap Sienna dengan tatapan iba. Selama bertugas, Maya tahu betul bahwa gadis muda di hadapannya ini bukanlah komplotan jahat seperti yang sering dituduhkan Tuan Nicolas, melainkan seorang korban penderitaan yang malang.
Sienna menatap Maya. Kehangatan dan kepedulian di mata perawat itu menumbuhkan seberkas keberanian di dalam dada Sienna. Ia tahu ini adalah keputusan yang sangat berisiko, namun ia tak punya pilihan lain.
"Suster Maya..." panggil Sienna dengan suara bergetar pelan.
Maya meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu menoleh heran. "Ya, Nona? Apakah ada bagian tubuh Anda yang terasa sakit lagi?"
Sienna bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Maya, lalu secara mengejutkan, Sienna berlutut di depan perawat tersebut seraya menggenggam erat kedua tangan Maya.
"Nona Sienna! Apa yang Anda lakukan? Ayo berdiri!" seru Maya panik, berusaha menegakkan tubuh Sienna.
"Suster Maya... tolong saya..." tangis Sienna pecah seketika, air matanya membasahi jemari Maya. "Saya mohon... bantu saya sekali ini saja..."
"Nona, jika Tuan Nicolas tahu-"
"Tuan Nicolas akan membunuh saya secara perlahan jika kebenaran ini tidak terungkap!" potong Sienna dengan nada memelas yang sangat memilukan.
"Saya tidak bersalah, Suster... Papa saya bukan pembunuh almarhumah Nyonya Christina, dan saya bukan komplotan siapa pun. Saya memegang bukti bahwa Nyonya Christina diracuni sebelum ditembak... tapi saya butuh bantuan untuk menyelidikinya!"
Maya tertegun, matanya membelalak kaget mendengar rahasia besar itu. "Di-diracuni...?"
"Saya butuh bertemu dengan sahabat saya, Sofia. Hanya dia yang bisa membantu saya menyibak kebenaran ini," bisik Sienna seraya terisak parah.
"Saya mohon, Suster... Kalau Anda punya sedikit saja rasa kasihan pada saya, bantu saya membawa Sofia masuk ke tempat ini... Saya tidak berniat kabur, saya hanya ingin membagikan bukti ini padanya..."
Maya menatap wajah pucat Sienna yang dipenuhi linangan air mata. Selama ini, hati kecil Maya sering merintih melihat bagaimana Tuan Nicolas memperlakukan Sienna dengan begitu dingin dan kasar. Naluri kemanusiaannya sebagai seorang perawat bergolak hebat.
"Tapi Nona... pengawal di luar menjaga pintu 24 jam. Mereka memeriksa siapa pun yang keluar dan masuk," cicit Maya dengan suara berbisik, ragu namun mulai luluh.
Sienna mendongak, menyapu air matanya cepat. "Kita bisa mengelabui mereka, Suster. Anda bisa berpura-pura bahwa kondisi saya memburuk dan Anda membutuhkan perawat tambahan untuk menjaga saya shift malam, sementara Anda harus pergi ke rumah sakit untuk mengambil stok racikan obat khusus saya yang habis."
Maya berpikir keras, dadanya berdebar kencang membayangkan risiko yang akan dihadapinya jika tindakan ini terbongkar oleh Nicolas Vance. Namun, melihat mata cokelat Sienna yang memohon dengan sangat tulus, Maya akhirnya menghembuskan napas panjang dan mengangguk pelan.
"Baiklah..." bisik Maya mantap. "Saya akan menolong Anda, Nona Sienna."
...****************...
Sore harinya, sekitar pukul lima.
Maya keluar dari penthouse membawa tas medisnya. Di depan lorong lift, dua pengawal bertubuh tinggi besar langsung mencegatnya.
"Suster Maya, mau ke mana?" tanya salah satu pengawal dengan nada curiga.
Maya menetralkan raut wajahnya, berusaha tampil sesenang dan seprofesional mungkin. "Kondisi Nona Sienna mendadak drop sore ini. Suhu tubuhnya naik dan obat racikan khususnya habis. Saya harus mengambil pasokan obat baru di laboratorium rumah sakit utama."
Pengawal itu mengerutkan dahi. "Kami harus mengonfirmasi ini ke Tuan Nicolas atau Pak Matteo."
"Tuan Nicolas dan Pak Matteo sedang dalam penerbangan menuju Swiss saat ini, ponsel mereka mati," tegur Maya dengan wajah tegas yang dibuat-buat.
"Jika terjadi sesuatu yang fatal pada Nona Sienna karena keterlambatan obat ini, apakah kalian berani bertanggung jawab di depan Tuan Nicolas saat beliau kembali nanti?"
Kedua pengawal itu saling pandang dengan cemas. Mereka tahu betul betapa mengerikannya amukan Nico jika tawanan utamanya mengalami komplikasi parah.
"Baiklah," ujar pengawal itu akhirnya. "Tapi Anda harus kembali sebelum malam."
"Saya juga membawa seorang perawat pengganti untuk mendampingi Nona Sienna selama saya pergi," tambah Maya cepat.
"Dia adalah rekan sejawat saya dari rumah sakit. Saya tidak bisa meninggalkan pasien dalam keadaan demam tinggi sendirian."
Pengawal itu mengangguk kaku. "Pastikan perawat pengganti itu menunjukkan tanda pengenal medisnya saat masuk nanti."
"Tentu."
Maya melangkah masuk ke dalam lift dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan genderang perang.
Dua jam kemudian.
Pintu lift VIP penthouse kembali terbuka. Maya melangkah keluar, diikuti oleh seorang wanita yang mengenakan seragam perawat serba putih, lengkap dengan masker medis melilit wajahnya dan topi perawat yang menutupi sebagian rambutnya. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya membawa sebuah tas peralatan medis yang cukup besar.
Di depan pintu utama penthouse, pengawal menahan mereka.
"Tanda pengenal medisnya," minta pengawal itu tegas.
Sofia, wanita yang menyamar sebagai perawat itu dengan tangan yang sedikit gemetar menyerahkan kartu identitas perawat milik rekan kerja Maya yang telah disiapkan sebelumnya.
Pengawal meneliti kartu tersebut sejenak, menatap postur tubuh Sofia dari atas ke bawah, lalu menempelkan kartu akses biometrik pada pemindai pintu.
Beep... beep...
Pintu ganda berlapis baja itu terbuka perlahan.
"Masuklah. Jangan membuat keributan di dalam," peringat pengawal itu.
"Terima kasih," bisik Sofia dengan suara yang diubah sedikit parau.
Begitu melangkah masuk ke dalam penthouse dan pintu baja di belakang mereka terkunci rapat kembali, Sofia menarik napas lega yang sangat panjang. Maya menuntunnya dengan tergesa-gesa membelah ruang tamu yang megah menuju kamar utama.
Klik.
Maya membuka pintu kamar Sienna, lalu mendorong Sofia masuk dan dengan cepat mengunci pintu dari dalam.
"Nona Sienna, saya berhasil membawanya," bisik Maya penuh kelegaaan.
Sienna yang sedang duduk di tepi ranjang langsung berdiri seketika.
Sofia melepaskan masker medis dari wajahnya dan mencopot topi perawatnya. Begitu wajah Sofia terpampang jernih, matanya langsung bertaut dengan sepasang mata cokelat Sienna.
"Sienna..." cicit Sofia dengan suara bergetar hebat.
Iris mata Sofia meneliti penampilan sahabatnya. Wajah Sienna tampak begitu tirus dan pucat bagaikan kertas, lehernya dihiasi bekas memar tipis, dan tubuhnya yang dulu bugar kini tampak sangat kurus serta rapuh di balik gaun katun longgar.
Tangis Sofia pecah seketika itu juga.
"Sienna, Oh Tuhan Sienna-ku!" jerit Sofia pelan seraya berlari menyeberangi ruangan dan merengkuh tubuh Sienna ke dalam pelukannya yang sangat erat.
Sofia menangis tersedu-sedu di pundak Sienna. Bahunya naik turun oleh benturan kepedihan yang luar biasa saat merasakan betapa kurusnya tulang-tulang rusuk sahabatnya itu di dalam dekapannya.
"Maafkan aku... maafkan aku, Sienna..." isak Sofia penuh penyesalan, suaranya parau dan terputus-putus.
"Aku... aku tidak tahu kalau kau menderita seperti ini di sini... Lihat keadaanmu... Kenapa Nicolas Vance tega melakukan ini padamu? Kau seperti mayat hidup, Sienna."
Sienna membalas pelukan Sofia tak kalah erat, menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya. Air mata hangat menetes perlahan di pipinya, bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata haru karena masih ada orang yang peduli dan mengkhawatirkannya dengan tulus di dunia yang kejam ini.
"Sofia... jangan menangis..." bisik Sienna halus seraya mengelus punggung Sofia. "Aku tidak apa-apa... aku masih bertahan hidup..."
"Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa?" tangis Sofia makin menjadi-jadi, melepaskan pelukannya sejenak untuk memegang kedua pipi Sienna dengan jemarinya yang gemetar.
"Wajahmu pucat sekali, bibirmu kering, dan tubuhmu dingin. Pria brengsek itu menyiksamu, bukan? Dia mengurungmu seperti hewan."
"Sofia, dengarkan aku," potong Sienna dengan nada yang sangat serius, menyapu air mata di wajah sahabatnya. "Waktu kita tidak banyak. Kita tidak boleh membuang waktu dengan menangis."
Sofia menyapu air matanya cepat, menetralkan napasnya yang memburu seraya mengangguk kaku. "Ya... ya, kau benar. Maya bilang kau butuh bantuanku untuk sesuatu yang sangat penting. Ada apa, Anna?"
Sienna menarik Sofia menuju meja kecil di sudut kamar. Dengan jemarinya yang gemetar, Sienna merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan lembaran kertas resep medis tua berstempel laboratorium rumah sakit yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Sienna membentangkan kertas kumal itu di atas meja. "Lihat ini, Sofia."
Sofia menunduk, meneliti tulisan tangan medis dan stempel kimia pada kertas tersebut. Sebagai seorang dokter, mata Sofia langsung membelalak lebar saat membaca komposisi bahan dan diagnosis yang tertulis di sana.
"Ini... ini resep senyawa arsenik trioksida dosis tinggi..." bisik Sofia kaget, memandang Sienna dengan penuh tanda tanya. "Atas nama... Christina Vance? Dari mana kau mendapatkan dokumen ini?!"
"Kertas ini berada di dalam kotak rahasia milik ayahku yang disembunyikan di rumah lama kami," tutur Sienna dengan intonasi cepat dan berbisik.
"Tanggal resep ini dibuat adalah tiga bulan sebelum malam tragedi pembunuhan itu terjadi sebelas tahun lalu."
Sofia menutup mulutnya dengan telapak tangan, terperanjat hebat. "Maksudmu... Ibu dari Nicolas Vance sudah diracuni racun arsenik secara perlahan sebelum malam penembakan itu?!"
"Ya!" tegas Sienna, sepasang matanya memancarkan keteguhan yang kuat. "Ayahku hanyalah seorang kurir makanan yang dimanfaatkan. Seseorang telah meracuni Nyonya Christina secara berkala, dan ketika racun itu hampir ketahuan, orang itu mengatur skenario penembakan di malam hari untuk menyalahkan Ayahku dan orang yang meracuninya... adalah Claudia Ophelia."
Sofia menatap kertas itu dengan tubuh merinding. "Ini bukti yang sangat fatal, Anna. Jika racun arsenik diendapkan dalam tubuh selama berbulan-bulan, jejak zat kimianya akan tetap tertinggal pada sisa-sisa tulang atau jaringan tubuh almarhumah."
"Itulah sebabnya aku memanggilmu ke sini, Sofia," ujar Sienna penuh harap, memegang erat tangan Sofia.
"Tuan Sebastian Vance tidak tahu apa-apa tentang kejahatan ini. Beliau dan Nico dibutakan oleh dendam karena mengira Papaku yang membunuh Nyonya Christina. Aku butuh bantuanmu untuk meneliti keabsahan stempel laboratorium ini dan mencari tahu siapa dokter yang mengeluarkan resep racun ini sebelas tahun lalu."
Sofia menatap dokumen tua itu, lalu memandang Sienna dengan ketetapan hati yang baru. Duka dan rasa kasihan yang tadi dirasakannya kini berubah menjadi amarah yang membakar terhadap ketidakadilan yang menimpa sahabatnya.
"Aku akan membawanya, Anna," janji Sofia tegas seraya mengambil foto beresolusi tinggi pada dokumen tersebut menggunakan ponselnya, lalu menyembunyikan salinan fisik dokumen itu ke dalam lapisan rahasia tas medisnya.
"Aku punya rekan di bagian forensik dan arsip medis laboratorium kota. Aku akan mengusut siapa yang memesan senyawa arsenik ini sebelas tahun lalu atas nama Christina Vance."
"Terima kasih, Sofia... terima kasih banyak..." cicit Sienna lega.
Tok... tok...
Pintu kamar diketuk dua kali dari luar oleh Maya. "Nona Sofia, waktu kita hampir habis. Pengawal di luar mulai menanyakan keberadaan Anda."
Sofia segera merapikan kembali seragam perawatnya, memasang topi medis dan melilitkan masker ke wajahnya. Sebelum melangkah menuju pintu, Sofia berbalik dan merengkuh Sienna sekali lagi dalam pelukan yang hangat.
"Bertahanlah, Anna," bisik Sofia tepat di telinga sahabatnya, menahan air mata yang hendak menetes kembali. "Aku akan membongkar kebenaran ini dan mengeluarkanmu dari neraka Nicolas Vance. Aku berjanji padamu."
Sienna tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus pertama yang terukir di wajahnya setelah sekian lama. "Aku percaya padamu, Sofia. Berhati-hatilah."
Dengan langkah cepat namun tenang, Sofia melangkah keluar dari kamar utama bersama Maya, meninggalkan penthouse mewah tersebut dengan membawa kunci kebenaran yang akan meruntuhkan seluruh kebohongan di masa lalu.
...Bersambung... ...