NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Dreven tersenyum miring, menikmati setiap kata tajam yang keluar dari bibir istrinya. "Oh? Kau muak padaku? Tapi kemarin kau dengan sukarela menyelamatkanku di kantor polisi."

Elara menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh dengan tatapan tajam. "Jangan salah paham. Aku hanya menyelamatkan diriku sendiri."

Dreven terkekeh. "Benarkah? Lalu kenapa aku merasa kau mulai tertarik padaku?"

Elara menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan. "Jangan terlalu percaya diri," gumamnya sebelum berjalan pergi.

"Kau pergi kemana?" Tanya Dreven kala melihat Elara akan pergi.

"Menemui teman!" katanya dengan sedikit keras dan benar-benar menghilang dari balik pintu.

Dreven hanya menyeringai kecil melihat Elara pergi dengan sikap yang sedikit tergesa-gesa.

"Menemui teman?" gumamnya pelan, memainkan pemantik api di tangannya. Entah kenapa, dia merasa jawaban itu tidak sepenuhnya benar.

Dengan santai, dia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. "Ikuti Elara, laporkan padaku kalau ada yang mencurigakan," perintahnya sebelum menutup telepon.

---

"Ini laporan keuangan perusahaan yang anda miliki, semua sudah sah menjadi milik anda. Jadi, kapan anda akan kembali?" suara pria dengan menggunakan masker hitam dan topi hitam menatap ke arah Elara dengan serius.

Elara mengambil dokumen itu dan membacanya satu per satu, senyumnya terukir disana. Akhirnya dia bisa melihat perkembangan perusahaan yang diam-diam ia bangun selama bertahun-tahun di belakang keluarga Roselyn—sebuah perusahaan desain interior yang kini cukup dikenal di kalangan elit.

"Secepatnya, aku masih ada beberapa urusan disini," kata Elara dengan tenang lalu meletakkan dokumen itu ke meja.

"Baik, saya akan mempersiapkan semuanya. Namun, saya minta jangan membuat skandal yang membuat anda sulit sebelum anda benar-benar bebas dari keluarga itu."

Elara tersenyum tipis, menutup dokumen dengan perlahan. "Jangan khawatir. Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Pria itu mengangguk. "Bagus. Jika anda butuh sesuatu, hubungi saya seperti biasanya. Kami akan selalu siap."

Elara hanya mengangguk kecil. "Terima kasih, Billy. Kau sudah banyak membantuku selama ini."

"Itu sudah menjadi tugas saya, Nyonya. Dan saya mendapatkan titipan surat dari Tuan Martin. Sepertinya beliau sangat menantikan pertemuan dengan anda." Kata Billy sambil meletakkan surat di atas meja.

Elara sama sekali tak terkesan, dia hanya mengangguk. "Aku akan membacanya nanti, dan jika penting aku akan mengirim balasan."

Billy mengangguk, lalu tanpa banyak bicara lagi, dia membungkuk sedikit sebagai tanda hormat sebelum meninggalkan cafe.

Elara menatap surat di mejanya tanpa minat. Martin—salah satu klien terbesarnya sekaligus orang yang selalu terobsesi dengannya sejak pertama kali mereka bertemu dalam urusan bisnis. Pria itu memang selalu berusaha mendekatinya.

Dengan malas, dia membuka segel surat itu dan mulai membaca. Dibandingkan dengan surat biasa, ini lebih seperti surat cinta.

Elara mendecak pelan, matanya menelusuri baris demi baris kata yang ditulis dengan begitu hati-hati.

"Elara tersayang, kau tahu seberapa besar pengaruhmu di dunia ini. Sejak pertama kali kita bertemu, kau adalah seseorang yang seharusnya berada di sisiku. Kerjasama bisnis kita hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar..."

Elara berhenti membaca, jemarinya mencengkeram kertas itu lebih kuat. Ia tidak terkejut. Martin selalu seperti ini—berbicara seolah dirinya adalah bagian dari permainan bisnis dan politiknya.

"Aku menantikan saat kita bisa duduk bersama, membicarakan masa depan yang seharusnya menjadi milik kita. Aku harap kau tidak terlalu terpikat dengan permainan kecil yang kau jalani sekarang. Waktu kita semakin dekat. Aku sudah menunggu ini sejak lama.."

Elara mendecak, lalu melempar surat itu ke dalam perapian yang menyala di sudut ruangan. Kertas itu langsung terbakar, berubah menjadi abu dalam hitungan detik.

Terpikat? Martin terlalu percaya diri jika berpikir dirinya akan jatuh dalam permainan yang ia ciptakan. Meskipun posisinya sebagai anak yatim piatu membuatnya tidak memiliki nama besar, Elara tidak akan pernah bergabung dengan pria yang hanya memikirkan keuntungan bisnis dan status.

Jam sudah menunjukkan tiga sore, namun Elara masih tak ingin beranjak dari sana.

"Kenapa tak ada rumah yang benar-benar rumah untukku?" gumam Elara dengan mendesah lelah.

Dengan pelan dia menyeruput tehnya, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Setidaknya dia sekarang sudah memiliki perusahaan yang stabil. Selama bertahun-tahun, dia bekerja diam-diam di balik layar, membangun kerajaannya sendiri tanpa sepengetahuan keluarga Roselyn. Mereka pikir dia hanya budak tak berdaya—mereka tidak tahu bahwa dia telah mengumpulkan kekayaan dan pengaruh yang cukup untuk melarikan diri kapan saja.

"Tapi, dimana aku harus menjual salah satu propertiku?" gumamnya pelan.

Elara mengetuk ujung cangkir tehnya dengan pelan, pikirannya berputar mencari solusi. Menjual aset sebesar itu tidak bisa sembarangan—terutama tanpa menarik perhatian keluarga Roselyn atau bahkan keluarga Dastan.

Dia butuh perantara. Seseorang yang bisa menjualnya dengan cepat dan tanpa jejak mencurigakan.

Akhirnya dia berdiri dari sana dan keluar cafe, sepertinya dia harus menemui teman lama.

Orang yang dia tuju bukan sekadar kenalan, tapi seseorang yang pernah membantunya di masa lalu—seseorang yang memahami permainan licik dunia ini dan tahu bagaimana menyembunyikan jejak. Dia adalah mitra bisnis pertamanya, orang yang membantunya membangun perusahaan dari nol tanpa sepengetahuan siapa pun.

Elara mengeluarkan ponselnya, menekan kontak yang sudah lama tidak dia hubungi. Nada sambung terdengar sebentar sebelum suara seorang pria menjawab di seberang sana.

"Sudah lama sekali kau tidak menghubungi, Elara."

Elara tersenyum tipis. "Aku butuh bantuanmu, Leo."

Ada jeda singkat sebelum pria itu tertawa kecil. "Tentu saja. Katakan, apa yang bisa kulakukan untukmu?"

Elara menatap ke arah langit senja, matanya penuh perhitungan. "Aku ingin menjual sesuatu... dan aku butuh uangnya secepat mungkin."

"Jika begitu kita bahas di apartemenku, kau masih ingat bukan?"

Elara mengangguk kecil, meskipun Leo tidak bisa melihatnya. "Tentu saja," jawabnya dengan nada tenang.

Tanpa banyak bicara lagi, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan segera menuju apartemen Leo. Lokasinya tersembunyi di salah satu distrik kelas atas, tempat di mana transaksi bisnis rahasia bisa terjadi dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan.

Setibanya di sana, Elara mengetuk pintu dua kali, sesuai kode yang biasa mereka gunakan dulu. Tidak butuh waktu lama sebelum pintu terbuka, menampilkan sosok pria tinggi dengan senyum miring khasnya.

"Masuk," kata Leo santai, membuka pintu lebih lebar.

Elara melangkah masuk dan langsung disambut aroma kopi yang bercampur dengan sedikit bau rokok. Apartemen itu masih sama seperti dulu—tertata rapi tetapi terasa dingin dan tanpa kehidupan. Leo adalah satu-satunya orang yang tahu tentang perusahaan rahasianya, dan dia telah terbukti dapat dipercaya selama bertahun-tahun.

Leo menjatuhkan diri di sofa, menatap Elara dengan penuh minat. "Jadi, apa yang ingin kau jual?" tanyanya, langsung ke inti pembicaraan.

Elara segera mengeluarkan surat tanah dan bangunan villa miliknya, "aku butuh dana cepat. Jika bisa minggu ini, apa kau bisa menjualnya? Villa ini seharusnya memiliki nilai jual tinggi apalagi harga tanah dan property sedang naik."

Leo mengambil dokumen itu dan mulai membacanya dengan teliti. Matanya menyipit sesaat sebelum dia menyeringai kecil. "Kau tahu, Elara, villa ini bukan sekadar properti biasa. Lokasinya strategis, desainnya mewah, dan... ada sejarah di baliknya."

Elara menyilangkan tangan di dada. "Aku tidak peduli sejarahnya. Aku hanya ingin menjualnya secepat mungkin."

Leo tertawa pelan, meletakkan dokumen di meja kaca di depannya. "Tentu saja kau tidak peduli, tapi para kolektor dan investor peduli. Itu sebabnya aku bisa menjualnya lebih tinggi dari harga pasar— jika kau memberiku sedikit waktu."

Elara mendesah, menatap Leo dengan sabar. "Seberapa lama?"

Leo mengangkat bahu. "Dua minggu, paling cepat."

Elara mengetuk jemarinya di sandaran sofa, berpikir. Dua minggu memang bukan waktu yang lama, tetapi dia ingin semuanya selesai lebih cepat.

"Aku bisa menunggu," katanya akhirnya. "Tapi jangan buat aku menyesal mempercayakan ini padamu."

Leo tersenyum miring. "Kau tahu aku selalu memberikan hasil terbaik, Elara."

Elara mengangguk, "Baiklah. Dan buatkan aku tabungan atas nama samaran."

Leo terkekeh, "baiklah. Karena kau sudah disini, kau mau minum apa? Wine? Anggur?"

Elara tersenyum tipis. "Anggur saja."

Leo menaikkan alisnya, lalu terkekeh. "Itu baru Elara yang kukenal."

Dia bangkit dan berjalan ke dapurnya, mengambil sebotol anggur merah terbaik dari koleksinya. Sementara itu, Elara bersandar di sofa, menatap jendela besar yang memperlihatkan langit senja yang semakin gelap.

Lalu Leo memberikan anggur dan bersulang sebelum mereka minum, "kau masih di keluarga Roselyn?"

Elara menggeleng, "aku sudah menikah."

Brushhhh!!

Semburan anggur langsung muncrat di mulut Leo karena terkejut dengan berita ini.

"Kau menikah? Dengan siapa?!"

Elara dengan tenang mengambil tissu di meja dan menyodorkannya ke Leo yang masih terbatuk-batuk karena tersedak anggur.

"Dreven Dastan," jawabnya santai.

Leo yang baru saja ingin meneguk anggurnya lagi langsung menghentikan gerakannya. "Tunggu... Dastan? kau waras?!"

Elara mengangguk pelan, kembali menyeruput anggurnya dengan elegan.

Leo mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Astaga, Elara. Kau menikah dengan pria lumpuh yang punya reputasi buruk. Aku kira kau sangat pemilih dalam pasangan, siapa sangka kau memilih pria itu. Bahkan lebih baik aku daripada pria itu."

Elara tersenyum miring, "keluarga angkatku menjualku, yah setidaknya aku sedikit bebas untuk pergi kemanapun."

Leo masih diam menatap Elara, seolah ingin menembus pikiran wanita itu.

Namun, dering ponsel Elara membuat Leo memutus kontak matanya.

"Halo?" Suara Elara tenang.

"Nyonya, anda dimana? T-tuan sedang marah besar bahkan melukai dirinya sendiri. Jika anda tidak sibuk mohon segera kembali," kata Marta dengan suara ketakutan.

Elara menghela napas pelan, menutup matanya sejenak sebelum menjawab. "Aku akan segera kembali."

Dia menutup telepon dan meletakkan ponselnya di meja dengan sedikit kasar. Leo yang melihat ekspresinya langsung mengernyit.

"Apa lagi sekarang?" tanyanya, menaruh gelas anggurnya dengan waspada.

Elara berdiri, merapikan pakaiannya. "Dreven sedang mengamuk... dan melukai dirinya sendiri."

Leo mendecak. "Luar biasa. Kau benar-benar menikahi pria gila."

Elara hanya menyeringai tipis. "Aku sudah tahu itu sejak awal."

Leo menggeleng tak percaya. "Jadi, kau akan pulang dan menenangkan si gila itu?"

Elara mengambil tasnya, berjalan menuju pintu tanpa terburu-buru. "Aku hanya ingin memastikan rumah itu tidak terbakar sebelum waktunya."

Leo tertawa kecil, lalu bersandar di sofa. "Baiklah, hati-hati, Nyonya Dastan. Jika kau butuh tempat untuk kabur, kau tahu harus kemana."

Elara berhenti sejenak, menoleh ke arah Leo. "Aku tahu."

Kemudian, dia melangkah keluar, siap menghadapi kekacauan yang menunggunya di mansion Dastan.

Bersambung

1
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
what? bisa bisanya knpa coba😯
Alia Chans: semedi kak😭😭🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
yeee.. kalo suka ya dari dulu lah bambang! 🗿
Alia Chans: pen tak jedotin dianya mak🤣😭
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyembur dong.. mode mbah dukun si elara di sembur leo! /Curse/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
emak jus alpuket pake coklat pinggir nya, sedotan nya yang tajem dan tebel.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
kepo!!! 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cocot lu drev.. sini baku hantam sama emak, baru aja masuk!!! /Skull/
Alia Chans: gw dukung garda ter depan mak🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!