Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prioritas 28.
Malam minggu, aula hotel bintang lima di pusat kota gemerlap oleh cahaya lampu kristal. Selly, dengan gaun pesta rancangan desainer ternama, berdiri di tengah ruangan dikelilingi teman-teman satu gengnya. Musik berdentum keras. Semua anak populer dari SMA Pancasila ada di sana. Mereka tertawa, bersulang, dan menikmati pesta ulang tahun Selly yang ke delapan belas.
Namun, mata Selly terus tertuju pada pintu masuk. Ia menunggu satu orang tersisa, yaitu Affan.
"Affan mana, Sel? Katanya dia mau datang?" tanya salah satu temannya, memecah lamunan Selly.
Selly tersenyum kaku, menyembunyikan kekesalannya. "Palingan lagi disidang sama istri terpaksa nya" Jawab Selly mengira-ngira.
Di tempat lain, sangat jauh dari kemewahan pesta itu, suasana justru sunyi senyap.
Di dalam sebuah kamar tidur bernuansa putih dan abu-abu, hanya terdengar suara gesekan pulpen di atas kertas dan helaan napas berat.
Mona duduk meringkuk di atas karpet bulu, dikelilingi oleh tumpukan buku tebal, buku catatan, dan tumpukan latihan soal matematika. Kacamata anti radiasi yang sedang dipakai terlihat bertengger di hidungnya yang sedikit merah karena flu.
Senin adalah hari pertama ujian tengah semester.
Bagi Mona, ujian ini taruhannya besar. Jika nilainya dibawah dua puluh besar, pihak sekolah akan langsung memanggil pihak orang tua sesuai perjanjian yang ada pasca rahasia pernikahan hancur total.
Ponsel di atas meja belajar bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Selly'. Affan, yang sejak tadi duduk di kasur sambil memperhatikan Mona, melirik benda itu. Ia tidak berniat mengangkatnya. Ia tahu persis apa isi panggilan tersebut. Selly pasti menagih untuk datang ke pesta. Padahal sampai saat ini Affan menyuekinya habis-habisan.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Mona tanpa menoleh. Matanya tetap fokus pada rumus logaritma yang membingungkan. "Siapa tahu penting. Pesta Selly malam ini, kan?" Lanjutnya.
Affan mengembuskan napas panjang. Ia beranjak dari kasur, berjalan mendekati Mona, lalu duduk di samping gadis itu. "Nggak penting. Biarin aja."
"Hm"
Affan meraih pulpen dari tangan Mona, membuat gadis itu tersentak dan akhirnya menatap.
"Gimana bisa saya pergi bersenang-senang di pesta, sementara istri saya di sini hampir nangis gara-gara rumus matematika?" kata Affan dengan nada datar, namun matanya memancarkan keseriusan.
Kata 'istri' yang diucapkan Affan selalu berhasil membuat jantung Mona berdegup dua kali lebih cepat.
"Tapi Selly..."
"Selly punya ratusan orang di pestanya malam ini," potong Affan cepat. "Dia nggak akan kekurangan perhatian. Tapi kamu? Kalau saya pergi, siapa yang bakal jelasin materi bab empat yang sengaja kamu lewati dari tadi?"
Mona mengerucutkan bibirnya. "Saya nggak melewati bab empat. Saya cuma... menundanya." Aslinya sih otak Mona sudah bergumul-gumul
Affan terkekeh pelan. Ia menarik buku catatan Mona ke hadapannya. "Sini, saya pelajarin bagian yang kamu nggak mengerti. Logaritma itu nggak seseram yang kamu pikir. Sini mendekat."
Mona menggeser duduknya, bersandar sedikit pada tepi kasur, tepat di sebelah Affan.
"Perhatikan ini," Affan mulai menuliskan coretan rumus dengan rapi. "Kalau basisnya sama, kamu tinggal jumlahkan pangkatnya kalau ini perkalian. Jangan terkecoh sama angka di depannya."
Suara bariton Affan perlahan mengisi keheningan malam. Dengan sabar, Affan membimbing Mona melewati baris demi baris soal. Tidak ada bentakan, tidak ada ejekan. Hanya ada kehangatan seorang suami yang mulai peduli pada masa depan istrinya.
Satu jam berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Ponsel Affan kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan singkat masuk dari Selly.
“Fan, kamu di mana? Saya nungguin kamu dari tadi. Teman-teman nanyain kamu terus. Kamu tega ya sama saya?”
Affan membaca pesan itu sekilas, lalu mengetik balasan singkat tanpa ragu: “Saya nggak bisa datang. Ada urusan keluarga yang nggak bisa ditinggal. Sorry. HBD.” Setelah itu, Affan mematikan ponselnya sepenuhnya.
"Kenapa dimatiin mas?" tanya Mona, yang sempat melirik layar ponsel Affan.
"Biar enggak mengganggu fokus guru privat kamu," jawab Affan sekenanya. Ia kemudian menyentuh dahi Mona dengan punggung tangannya. "Suhu badan kamu agak naik. Kamu udah minum obat?"
Mona menggeleng. "Belum mas. Nanti ngantuk, saya nggak bisa belajar lagi."
Affan berdecak pelan, namun tangannya bergerak mengacak rambut Mona dengan gemas. "Kalau kamu sakit besok, kamu malah nggak bisa mikir pas ujian. Tunggu di sini."
Affan berdiri, berjalan ke dapur kecil di sudut lantai atas rumah mereka. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa segelas air hangat dan sebutir obat flu, lengkap dengan semangkuk kecil bubur instan yang sempat ia seduh.
"Makan sedikit, minum obatnya, habis itu tidur," perintah Affan tidak terbantahkan.
"Tapi mas, materi sejarah belum..."
"Saya yang bakal bacain rangkumannya buat kamu sampai kamu tertidur. Gimana?" tawar Affan.
Mona menatap mangkuk bubur, lalu menatap Affan. "Makasih ya, Mas," bisik Mona tulus.
Affan tersenyum tipis. "Iya sayang, sama-sama. Sekarang makan, terus istirahat. Tugas kamu cuma belajar dan jaga kesehatan. Tugas saya yang selalu ada si samping kamu"
Malam itu, di saat pesta Selly mulai berakhir dengan kekecewaan mendalam, di sebuah kamar sederhana, Affan duduk di tepi ranjang.
Ia membacakan poin-poin penting sejarah dunia dengan suara rendah yang menenangkan, sementara Mona perlahan memejamkan mata, tertidur pulas dengan perasaan aman di samping cowok yang kini sepenuhnya menjadi prioritas hidupnya.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan