Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kawanan Serigala Utara
Mata Esmera memicing, berusaha untuk melihat dengan jelas pemandangan yang diselimuti kabut tebal. Udara di sekitar mereka terasa begitu dingin hingga setiap hembusan napas yang keluar dari bibirnya berubah menjadi kepulan putih yang samar. Kabut menggantung rendah di antara pepohonan, membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Saat ini Esmera berada di atas kuda bersama Edris. Mereka menaiki kuda yang sama, dengan tubuh Esmera berada tepat di depan tubuh sang raja. Posisi itu sebenarnya membuat Esmera merasa sedikit canggung, tetapi udara yang terlalu dingin membuatnya tidak punya banyak tenaga untuk mempermasalahkannya.
Tangannya yang berada di depan tubuhnya terus digosokkan satu sama lain, berusaha mengusir rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Esmera kemudian melirik ke belakang, memperhatikan rombongan yang mengikuti mereka. Beberapa ksatria tampak sesekali melirik ke arah dirinya dan Edris, meskipun mereka buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari dirinya memperhatikan.
"Aku yakin, mereka semua sedang berbisik di belakang," gumam Esmera. Keningnya berkerut. Wajahnya terlihat tidak senang, seolah hanya dengan memikirkan kemungkinan tersebut saja sudah membuatnya kesal.
"Dan yang paling disalahkan adalah aku, karena aku telah mengambil seluruh perhatian dari pria yang telah memiliki calon istri. Di mata mereka, aku pasti terlihat seperti wanita penggoda yang tidak tahu malu." Lanjut Esmera yang terus menggerutu, walaupun suaranya sedikit bergetar karena udara disekitarnya yang sangat dingin.
Ia bahkan menarik syalnya lebih tinggi hingga hampir menutupi sebagian wajahnya.
Esmera sebenarnya tahu bahwa para bangsawan pasti memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Terlebih lagi sejak dirinya mulai sering terlihat bersama Edris. Yang mereka tahu selama ini, Esmera Arrabella yang dianggap sebagai calon istri yang paling pantas untuk sang raja oleh sebagian kalangan bangsawan, bukan Ruby. Padahal keduanya adalah orang yang sama.
Bagi Esmera, semua itu terasa begitu merepotkan. Ia hanya ingin hidup tenang. Namun entah mengapa, sejak dirinya bertemu kembali dengan Edris di kehidupan keduanya ini, ketenangan tersebut seolah semakin jauh darinya.
"Simpan tenagamu untuk bertahan di cuaca ekstrem ini, Esmera, jangan membuangnya dengan terus mengoceh tidak jelas," sindir Edris, yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan ocehan Esmera.
Nada suaranya tetap tenang. Bahkan wajah pria itu terlihat sama sekali tidak terganggu dengan udara dingin yang menusuk. Kedua tangannya tetap memegang kendali kuda dengan santai, sementara pandangannya lurus ke depan.
Esmera langsung cemberut. Ia menatap sisi wajah Edris dengan kesal."Sepertinya aku harus belajar berkuda."
Tidak ada tanggapan dari Edris, sehingga membuat wajah Esmera semakin kesal. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menatap ke depan.
"Setidaknya kalau aku bisa berkuda sendiri, aku tidak perlu terus menempel padamu seperti ini," gumamnya pelan, meskipun tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari Edris.
Pria itu seolah tidak mendengar. Atau mungkin sengaja tidak mendengar.
Esmera akhirnya memilih diam. Meski hanya beberapa saat kemudian, matanya kembali bergerak mengamati keadaan sekitar. Semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin sunyi. Pepohonan yang tumbuh di sekitar wilayah itu tampak lebih tinggi dan rapat. Kabut juga semakin tebal, seakan-akan menyembunyikan sesuatu yang berada di baliknya.
Akhirnya mereka sampai di tepi Danau Tibe.
Begitu tiba di sana, rombongan memperlambat langkah. Suasana yang sejak awal sudah terasa dingin dan sunyi kini berubah menjadi jauh lebih menegangkan.
Danau Tibe terbentang luas di hadapan mereka. Permukaan airnya tampak tenang, hampir tidak bergerak, sementara kabut putih menyelimuti sebagian besar permukaan danau. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara binatang lain.
Hanya suara langkah kaki kuda yang terdengar samar. Esmera menatap sekeliling dengan saksama. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar. Ketika Esmera ingin turun dari kuda, Edris langsung menahannya.
"Tidak perlu turun, kita hanya akan melihat saja."
Tangan Edris menahan tubuh Esmera agar tidak bergerak turun. Esmera sempat menoleh kepadanya, tetapi akhirnya tidak membantah.
Esmera tidak menjawab. Tatapannya langsung menyusuri area sekitar. Dan ya. Persis seperti yang ada di mimpinya.
Jantung Esmera berdegup sedikit lebih cepat.
Pohon-pohon tinggi itu.
Kabut yang menggantung rendah.
Danau yang terlihat samar di balik kabut.
Semuanya sama.
Esmera menelan ludah. Tatapannya terus bergerak, seolah sedang mencari sesuatu yang belum terlihat. Mimpi itu kembali terlintas di dalam kepalanya.
Dalam mimpi tersebut, ia juga berdiri di tempat seperti ini. Ada hawa dingin yang sama. Ada kabut yang sama. Esmera tanpa sadar menggenggam erat kain pakaiannya.
"Yang Mulia, biasanya mereka tidak akan keluar jika melihat banyak orang seperti ini. Kita harus sembunyi, dan menunggu pergerakan mereka," jelas Duke Relis yang juga ikut dalam ekspedisi itu.
Duke Relis menunjuk ke arah area yang tertutup pepohonan dan kabut. Wajahnya terlihat serius. Dari caranya berbicara, jelas bahwa ia sudah cukup lama mengamati keadaan di sekitar Danau Tibe.
Edris hanya mengangguk.
Ia tidak langsung memberikan perintah apa pun. Tatapannya masih tertuju ke arah danau, mencoba menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk yang selama ini membuat wilayah Utara resah.
Beberapa ksatria mulai memperhatikan sekeliling dengan lebih waspada. Kuda-kuda mereka juga tampak sedikit gelisah.
Namun ketika kuda Edris hendak berbalik, mereka semua dikejutkan dengan kemunculan para serigala besar itu.
Dari balik kabut, satu per satu bayangan besar mulai terlihat.
Awalnya hanya samar. Kemudian semakin jelas. Mata Esmera langsung melebar. Tubuhnya menegang. Ukuran mereka benar-benar di luar nalar.
Serigala-serigala itu memiliki tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan serigala biasa. Bulu mereka tampak tebal, beberapa di antaranya berwarna putih, sementara yang lainnya memiliki warna yang lebih gelap. Langkah mereka begitu tenang, tetapi setiap pergerakan membuat suasana menjadi semakin mencekam.
Salah satu ksatria Utara langsung berteriak.
"Tetap tenang, jangan bergerak dari posisi masing-masing, mereka tidak akan menyerang jika kita tidak melakukan pergerakan. Mereka akan segera tahu jika kita hanya ingin melihat saja!" Suara ksatria itu terdengar tegas, meskipun jelas ada ketegangan yang terselip di dalamnya.
Beberapa ksatria langsung menghentikan gerakan mereka. Tidak ada yang berani menarik pedang. Tidak ada yang berani maju. Bahkan kuda-kuda yang mereka tunggangi pun berusaha ditenangkan agar tidak melakukan gerakan tiba-tiba.
Raja Edris langsung melingkarkan tangannya pada tubuh Esmera, memeluknya lebih erat, seolah takut jika gadis itu akan terjatuh. Gerakannya begitu cepat dan refleks. Tubuh Esmera kini berada lebih dekat dengan dada Edris. Namun pria itu sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut.
Sembari matanya menatap tajam pada sekelompok serigala-serigala yang memang sangat besar itu. Tatapan Edris berubah menjadi sangat waspada. Ia memperhatikan setiap gerakan mereka. Jika salah satu dari makhluk itu bergerak mendekati Esmera, Edris sudah bersiap melakukan sesuatu.
Sedangkan Esmera...
Kedua matanya membulat. Napasnya seolah tertahan. Dia melihatnya. Serigala putih yang berdiri paling depan. Serigala itu berbeda dari yang lainnya.
Bulu putihnya tampak begitu bersih meskipun berada di tengah hutan dan kabut. Tubuhnya jauh lebih besar dibandingkan serigala-serigala lain yang berdiri di belakangnya.
Dan yang paling membuat Esmera tidak mampu bergerak adalah sepasang mata serigala tersebut. Dia mengenal mata itu.
Itu adalah serigala yang ada di dalam mimpinya. Serigala itu sedang menatapnya.
Tatapan mereka bertemu. Esmera bahkan tidak berani berkedip. Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya. Bukan hanya ketakutan. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Seolah-olah serigala itu memang sedang mencarinya.
Seolah-olah mereka pernah bertemu sebelumnya.
Esmera menggenggam erat pakaian Edris tanpa sadar."Dia..." bisiknya sangat pelan.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, serigala putih itu melakukan sesuatu yang membuat seluruh orang di tempat tersebut terdiam.
Serigala itu menurunkan kepalanya. Gerakannya perlahan. Kepalanya semakin rendah, hingga terlihat seperti sedang membungkuk.
Esmera membeku.
Kedua matanya semakin melebar.
Lalu, seolah mendapatkan sebuah perintah yang tidak terdengar, semua serigala lainnya melakukan hal yang sama. Satu per satu mereka menurunkan kepala. Seluruh kawanan serigala besar itu membungkuk.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bersuara.
Bahkan suara angin yang sejak tadi terdengar pun seakan menghilang untuk beberapa saat. Pemandangan itu cukup menarik perhatian semua orang.
Bagaimana tidak, mereka menyaksikan sendiri jika para sekumpulan serigala itu membungkuk pada Raja Edris Ruan.
Beberapa ksatria bahkan tampak saling berpandangan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Duke Relis yang sejak awal mengetahui kebiasaan kawanan serigala tersebut pun terlihat terpaku.
Tidak pernah sekalipun ia mendengar bahwa makhluk-makhluk itu akan melakukan hal seperti ini.
Sementara Edris tetap diam. Tatapannya masih tertuju pada kawanan serigala tersebut. Namun perlahan, matanya bergerak ke arah Esmera, karena Edris menyadari satu hal.
Serigala-serigala itu memang terlihat seperti sedang membungkuk kepadanya.
Tetapi sejak awal, perhatian serigala putih yang berada paling depan tidak pernah benar-benar meninggalkan Esmera. Dan entah mengapa, hal tersebut justru membuat Edris semakin waspada.
penasaran aku, termasuk POV edris Ruan juga
SERU BANGET
kalo berada diposisi esmera, sudah ketar ketir 😩
aku suka interaksi para pemeran ga vulgar masih ada batasan-batasan