NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Bukti di Depan Satu Batalyon

Terompet apel selesai berbunyi ketika seluruh kursi di aula batalyon terisi.

Prajurit duduk dalam barisan menurut satuan. Para perwira menempati sisi depan, sementara anggota Persit berada di deret kanan. Arum duduk di antara Bu Yanti dan seorang pengurus, selendang ayahnya terlipat di dalam tas.

Di panggung, Letkol Yusuf membuka apel luar biasa dengan laporan singkat tentang ketertiban dan evaluasi satuan. Tak ada satu pun kata mengenai surat anonim.

Hartono mulai tidak sabar.

Ia duduk dengan dada tegak, seragam terbaik menutup keringat yang mengalir di punggungnya. Beberapa kali ia melirik Bara, tetapi wajah Mayor itu tidak memberi petunjuk apa pun.

Ketika Yusuf membuka sesi laporan khusus, Hartono mengangkat tangan.

"Izin, Komandan. Ada persoalan yang menurut saya menyangkut kehormatan satuan dan sebaiknya dibahas terbuka."

Aula langsung lebih sunyi.

Yusuf menatapnya. "Sampaikan."

Hartono berdiri membawa salinan surat. Suaranya dibuat mantap.

"Telah beredar pengaduan mengenai Mayor Bara yang diduga menyalahgunakan pengaruh jabatan dalam urusan seorang perempuan bernama Arum Wijaya. Perempuan itu pernah berada dalam perjodohan keluarga saya dengan putra kami, Reyhan. Namun, Mayor Bara menempatkannya di rumah dinas, menghalangi keluarga, dan membangun hubungan yang menimbulkan pertanyaan tentang perilaku seorang perwira."

Bisik-bisik terdengar di belakang.

Arum mencengkeram tali tas. Bu Yanti menyentuh lengannya, mengingatkan agar ia bernapas.

Hartono melanjutkan, semakin berani karena tak ada yang memotong. "Saya menyampaikan ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan agar penilaian kenaikan pangkat tidak mengabaikan persoalan moral. Kalau perlu, Mayor Bara harus menjelaskan di depan satuan mengapa ia mengambil perempuan yang masih punya ikatan dengan keluarga lain."

Bara tetap duduk sampai Hartono selesai.

Yusuf bertanya, "Apakah itu seluruh laporanmu?"

"Untuk saat ini, ya."

"Bagus. Kapten Iwan, mulai pemeriksaan bukti."

Pintu samping aula terbuka. Dua petugas membawa peti tersegel ke meja di depan panggung. Iwan memeriksa nomor segel di hadapan saksi, lalu membukanya.

Wajah Hartono menegang.

"Sebelum Mayor Bara menjawab," kata Iwan, "Denpom perlu menjelaskan asal surat yang baru dibacakan."

Ia mengangkat kantong bukti pertama. "Ini surat anonim asli yang masuk ke kotak pengawasan. Surat ini tidak ditulis oleh pelapor yang barusan berdiri."

Hartono tertawa pendek. "Tentu saja. Namanya juga anonim."

"Benar. Karena itu kami mencari penulisnya."

Adi masuk melalui pintu yang sama dengan seorang petugas pendamping. Juru tulis muda itu tampak pucat, tetapi langkahnya tidak berhenti. Ia berdiri di depan mikrofon dan menyatakan identitas serta kesediaannya memberi keterangan.

"Siapa yang menyuruh Saudara menulis surat ini?" tanya Iwan.

Adi memandang lurus ke depan. "Kapten Hartono Prasetyo."

Aula meledak oleh suara terkejut.

Hartono bangkit. "Bohong! Anak ini sedang mencari selamat!"

Yusuf mengetuk meja. "Duduk. Kamu sudah diberi waktu bicara tanpa dipotong."

Hartono terpaksa duduk, tetapi wajahnya mulai merah.

Adi melanjutkan. Ia menceritakan pertemuan di belakang gudang, janji bantuan untuk adiknya, dan ancaman terselubung terhadap berkas pendaftaran. Ia mengaku menyalin konsep tanpa mengetahui kejadian yang dituduhkan.

"Apakah Saudara pernah melihat Mayor Bara memaksa Arum tinggal di rumah dinas?"

"Tidak."

"Apakah Saudara menyaksikan hubungan tidak patut?"

"Tidak."

"Apakah keterangan ini diberikan karena tekanan Mayor Bara?"

"Tidak. Beliau hanya meminta saya mengatakan yang saya lihat."

Iwan mengangkat dokumen kedua. "Ini konsep yang disimpan saksi. Pada pinggirnya terdapat koreksi asli."

Layar proyektor menampilkan pembesaran tulisan. Di sebelahnya muncul contoh tulisan tangan Hartono dari formulir dinas yang sah. Bentuk huruf, kemiringan, dan cara menarik garis pada huruf tertentu tampak serupa.

"Hasil pemeriksaan dokumen menyatakan koreksi dibuat oleh tangan yang sama dengan contoh resmi milik Kapten Hartono," ujar Iwan. "Ini bukti kedua."

Hartono menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap layar. "Pemeriksaan bisa salah. Konsep itu bisa dibuat siapa saja."

"Karena itu ada bukti ketiga."

Iwan menunjukkan laporan pergerakan dan waktu. Petugas keamanan mencatat Hartono bertemu Adi di belakang gudang. Kamera koridor juga merekam Hartono mendatangi meja pengawasan setelah salinan umpan diletakkan.

Setiap waktu ditampilkan tanpa komentar berlebihan. Semakin dingin penyampaiannya, semakin jelas lubang yang menutup di sekitar Hartono.

Yusuf kemudian menoleh kepada Arum. "Saudari Arum Wijaya, apakah bersedia menjawab satu pertanyaan?"

Arum berdiri. Lututnya terasa ringan, tetapi ia mengingat saputangan yang kini berada di saku Bara.

"Bersedia."

"Apakah Saudari pernah menyetujui perjodohan dengan Reyhan Prasetyo?"

"Tidak. Itu keputusan keluarga yang dibuat tanpa persetujuan saya. Saya sudah menyampaikan penolakan saya secara terbuka."

"Apakah Mayor Bara memaksa Saudari tinggal di Blok C-3?"

"Tidak. Saya menerima tugas pengurus rumah dengan aturan pendampingan perempuan. Saya memilih bertahan karena di sana saya aman."

"Cukup. Terima kasih."

Arum duduk kembali. Bu Yanti meremas tangannya. Di sisi lain aula, beberapa istri prajurit yang pernah ikut bergosip menundukkan kepala.

Bara akhirnya berdiri.

"Saya tidak merusak perjodohan," katanya. "Tidak ada persetujuan Arum yang bisa dirusak. Saya melindungi seorang warga dewasa yang menyatakan pilihannya sendiri."

Tak ada teriakan, tak ada pembelaan panjang. Hanya dua kalimat yang membuat tuduhan Hartono kehilangan pijakan terakhir.

Namun, Iwan belum menutup peti.

Ia mengeluarkan map ketiga.

"Pemeriksaan surat anonim membuka kebutuhan untuk melihat motif pelapor. Dalam proses terpisah, tim audit menemukan masalah pada santunan gugur seorang prajurit."

Hartono mendadak berdiri lagi. "Itu tidak ada hubungannya!"

"Duduk," perintah Yusuf.

Kali ini dua petugas bergerak mendekat. Hartono jatuh kembali ke kursi.

Di layar muncul nama mendiang Letda Suryadi Wijaya.

Arum berhenti bernapas.

Nama ayahnya berdiri besar di depan satu batalyon.

Iwan menjelaskan bahwa santunan gugur dan pembayaran terkait ASABRI pernah dicairkan atas nama ahli waris. Hartono tercatat sebagai pendamping ahli waris, saksi pencairan, sekaligus perwira yang memiliki akses pada pembukuan bekang saat itu.

"Audit menemukan dana dipecah menjadi beberapa transaksi. Sebagian tidak sampai kepada ahli waris yang berhak. Dana bergerak ke rekening perantara milik mantan juru tulis di bawah Kapten Hartono."

Layar berganti pada salinan buku kas, nomor rekening, dan tanda tangan.

"Pemilik rekening sudah memberi keterangan bahwa ia menyerahkan dana tunai kepada Hartono. Bukti transfer, buku kas, dan keterangan saksi telah diamankan. Pemeriksaan tinta juga menunjukkan paraf persetujuan ditambahkan setelah pencatatan awal."

Iwan menampilkan urutan pencairan berikutnya. Pada tanggal pertama, jumlah penuh santunan masuk ke rekening yang digunakan untuk proses ahli waris. Dua hari kemudian, uang itu dipecah menjadi empat. Satu bagian tercatat sebagai biaya pengurusan tanpa dasar, dua bagian masuk ke rekening perantara, dan hanya bagian terkecil dicatat untuk kebutuhan Arum.

"Adakah kuitansi yang membuktikan bagian untuk anak dibelanjakan?" tanya Yusuf.

"Tidak ada," jawab Iwan. "Dalam delapan tahun, tidak ditemukan buku perwalian, laporan penggunaan, atau tanda terima yang ditandatangani ahli waris."

Seorang bintara tua di barisan depan menunduk. Ia pernah satu operasi dengan Suryadi dan tahu berapa mahal harga yang dibayar keluarga ketika seorang prajurit tidak pulang.

"Santunan itu bukan hadiah satuan," ujar Iwan, suaranya tetap resmi. "Itu hak keluarga yang ditinggalkan. Setiap rupiah memiliki jalur pertanggungjawaban."

Di deret Persit, seseorang mulai menangis pelan. Perempuan itu segera mengusap pipinya, seolah malu, tetapi yang lain tidak menertawakan. Banyak dari mereka pernah berdiri di depan pintu menunggu suami pulang dari tugas. Untuk pertama kalinya, kasus Arum tidak lagi terdengar seperti urusan satu rumah. Itu bisa menjadi ketakutan mereka sendiri.

Suara gaduh membesar. Beberapa prajurit berdiri separuh dari kursinya, tidak percaya nama seorang perwira bisa terkait uang keluarga prajurit gugur.

Arum membuka tas dengan tangan gemetar dan meraih selendang ayahnya. Selama delapan tahun, ia percaya tidak ada hak yang tersisa. Ia bekerja tanpa upah, makan dari sisa meja, dan menerima ucapan bahwa keluarga Prasetyo telah menyelamatkannya.

Ternyata uang ayahnya pernah ada.

Hartono bukan menyelamatkannya. Lelaki itu mungkin telah hidup dari haknya, lalu menjadikannya pembantu agar jejak itu tak pernah ditanyakan.

"Tidak!" Hartono berteriak. "Saya hanya membantu proses! Juru tulis itu berbohong karena ditekan!"

Iwan mengangkat satu lembar terakhir. "Ini tanda terima tunai dengan tanda tangan Saudara. Pemeriksaan formal sudah dilakukan. Saudara akan diberi hak menjawab dalam proses yang berlaku. Hari ini kami hanya memastikan barang bukti tidak lagi dapat dihilangkan."

Bara menoleh kepada Arum.

Ia ingin mendekat, tetapi Arum menggeleng kecil. Bukan menolak dirinya. Arum sedang meminta satu hal yang baru saja dipelajarinya: kesempatan untuk tetap berdiri dengan kakinya sendiri.

Bara menghormatinya. Ia tidak bergerak, hanya memastikan tatapannya berada di tempat yang bisa ditemukan Arum.

Yusuf berdiri di depan mikrofon. "Berdasarkan keterangan saksi, pemeriksaan dokumen, dan aliran dana, pengaduan terhadap Mayor Bara dinyatakan memiliki indikasi kuat sebagai pengaduan palsu. Pemeriksaan terhadap Kapten Hartono diperluas pada dugaan penggelapan santunan gugur."

Hartono melihat sekeliling. Tak ada lagi wajah yang mendukungnya. Bahkan perwira bekang yang dahulu tertawa bersamanya memilih menatap lurus ke depan.

"Saya Kapten!" katanya serak. "Kalian tidak bisa mempermalukan saya seperti ini tanpa keputusan komando atas!"

Seolah menjawab kalimat itu, suara kendaraan berhenti di depan aula.

Seorang petugas jaga masuk cepat, memberi hormat kepada Yusuf, lalu membisikkan laporan. Yusuf mengangguk.

Di luar, pintu mobil dinas dibuka. Derap sepatu terdengar dari teras.

Iwan menutup map bukti. Bara berdiri tegak. Seluruh perwira menoleh ke pintu utama.

"Danbrig tiba," lapor petugas.

Wajah Hartono berubah sepucat kertas surat yang ia palsukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!