Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Pagi itu, jam dinding baru menunjukkan pukul empat pagi, namun Miska sudah terjaga dan bergerak di dalam dinginnya dapur rumah besar itu. Ia menyapu lantai, menyusun peralatan makan, dan menyiapkan bahan-bahan masakan dengan hati-hati. Setiap gerakannya pelan dan berhati-hati, takut menimbulkan suara yang bisa memicu kemarahan ibu mertuanya. Sejak menikah dengan Askar setahun lalu, rumah ini tidak pernah terasa seperti rumah sendiri. Baginya, rumah ini lebih mirip istana tempat ia menjadi pelayan tanpa bayaran yang tak pernah dianggap ada.
Langkah kakinya ringan saat ia memotong sayuran, namun hatinya terasa berat. Ia tahu, beberapa jam ke depan akan menjadi pertarungan batin yang biasa ia jalani setiap hari. Selama Askar ada di rumah, Bu Surya, ibu mertuanya yang berwajah tegas dan selalu berpakaian rapi, akan bersikap seolah Miska adalah menantu kesayangannya. Namun begitu pintu tertutup dan suara kendaraan Askar menghilang, ekspresi wajah ibu mertuanya itu akan berubah drastis, menjadi dingin dan penuh kebencian yang entah dari mana asalnya.
"Astaga, ini rasa apa sih? Kok Hambar banget Kayak air cucian beras!" Suara tajam Bu Surya memecah kesunyian dapur tepat saat Miska meletakkan panci di atas kompor. Wajah wanita paruh baya itu melengkung jijik, matanya menatap tajam ke arah Miska.
"Kamu mau ngasi makan apa ke anakku? Makanan Hambar begitu?!"
Miska menunduk dalam, tangannya meremas ujung celemek. "Maaf, Bu kalau kurang garam. saya kasi garam dulu sekarang."
"Sudah terlanjur hambar rasanya! Kamu memang nggak punya bakat apa-apa,? kamu Hanya beruntung Askar mau menerimamu, anak orang miskin yang nggak punya apa-apa!" Bu Surya mendekat, suaranya rendah namun penuh racun, memastikan hanya Miska yang mendengarnya.
"Ingat posisimu di sini. Jangan pernah merasa kamu nyonya di rumah ini. Kamu hanya penumpang yang harus tahu diri."
Miska menelan ludah yang terasa pahit. Ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi ia tahu itu hanya akan menambah masalah.
"Sabar,"
bisik dalam hatin. Demi Askar, demi rumah tangga yang ia bangun dengan harapan, ia akan bertahan. Ia mengambil mangkuk itu, berniat memasak ulang, namun langkahnya terhenti saat terdengar suara pintu depan terbuka dan langkah kaki yang ia kenal baik—langkah kaki suaminya.
Seketika, ekspresi Bu Surya berubah total. Kerutan di dahinya menghilang, bibirnya membentuk senyum paling lembut, dan suaranya berubah manis seolah tak ada kemarahan yang baru saja ia tumpahkan.
"Wah, harum sekali masakan ini, Miska! Ibu benar-benar beruntung punya menantu yang rajin dan pintar memasak seperti kamu."
Miska tertegun sejenak, hampir tak percaya pada perubahan itu. Ia menoleh dan melihat Askar berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya tampak segar dan tersenyum melihat pemandangan itu.
"Ibu benar Miska, Rajin sekali kamu sudah menyiapkan semuanya pagi-pagi," ujar Askar lembut, lalu menatap ibunya.
"Aku kan sudah bilang, Bu? Miska itu anak yang baik. Ibu pasti bisa menyayanginya."
"Tentu saja, Nak!" Bu Surya langsung memeluk lengan anaknya, matanya berbinar-binar penuh kasih sayang yang tampak tulus.
"Miska ini seperti anak sendiri bagi Ibu. Dia penurut, rajin, dan sangat menghormati Ibu. Ibu bahagia sekali kau memilihnya."
Miska berdiri di sudut ruangan, memegang pinggiran meja dengan tangan yang gemetar pelan. Ia menatap kedua orang itu, lalu pada dirinya sendiri yang tampak tak seberapa di antara kemewahan rumah itu. Di hadapan suaminya, ibu mertuanya adalah malaikat penyayang yang memujanya tanpa henti. Tak ada makian, tak ada hinaan soal latar belakang keluarga, tak ada tatapan merendahkan yang setiap hari ia terima saat sendirian.
"Terima kasih, Miska," kata Askar sambil mencium keningnya sebelum duduk di kursi makan.
"Maaf ya, kalau Ibu kadang keras. Tapi itu semua karena ibu sayang sama kamu. ibu ingin kamu menjadi istri yang sempurna untukku."
Miska mengangguk pelan, menahan agar air matanya tak jatuh. "Iya, Mas. Saya tahu."
Ia duduk di kursi paling ujung, mendengarkan percakapan ibu dan anak itu yang hangat dan penuh tawa. Sesekali Bu Surya menoleh padanya, tersenyum, dan melemparkan pujian tipis yang terdengar tulus di telinga Askar. Namun setiap kali pandangan matanya bertemu dengan pandangan Miska, ada kilatan dingin yang mengingatkan: ini semua hanya sandiwara. Begitu Askar pergi, kau akan kembali menjadi hamba di sini.
Sarapan itu berjalan tenang di permukaan, tapi di dalam dada Miska, badai kecil terus bergejolak. Ia berpikir, sampai kapan ia bisa bertahan di tengah kepura-puraan ini? Sampai kapan suaminya tak menyadari bahwa kasih sayang ibunya itu hanya ada bila ia melihatnya sendiri? Dan saat nanti ia tak sanggup lagi sabar, apa yang akan terjadi pada pernikahan ini?
Piring di depannya terisi penuh dengan makanan yang ia masak sendiri, namun ia tak punya nafsu sedikit pun. Ia hanya mengaduknya pelan, menyadari bahwa hari yang panjang dan penuh ujian baru saja dimulai. Begitu mobil Askar keluar dari halaman rumah, topeng lembut Bu Surya itu akan jatuh kembali, dan Miska harus siap menanggung segala kemarahan yang tertahan selama suaminya ada di rumah.
SAYANG2.. TOLONG BANTU LIKE DAN KOMEN YA, 😭😭😭😭 capek buat novel di hapus lagi krna nggak ada perkembangan
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪