Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA WAJAH MALAM
# PELET LAKNAT 2
## Bab 24: Dua Wajah Malam
Darah encer dari bekas gigitan lintah masih merembes membasahi celana dan lengan baju Jaka yang basah kuyup. Namun, rasa perih di kulitnya tak lagi ia hiraukan. Di dalam genggamannya, karung goni berisi ayam cemani curian itu masih bergerak pelan—bukti bahwa syarat terakhir dari Mbah Usman kini ada di tangannya
Setelah memastikan situasi di sekitarnya aman, Jaka bergegas pulang ke rumah. Dengan langkah tergesa-gesa, Jaka memilih jalan memutar. Walaupun jalurnya jauh lebih panjang, di dalam benaknya itulah jalan yang paling aman agar tidak memancing kecurigaan warga. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada bayangan yang mengikuti dari kejauhan.
Setibanya di rumah, Jaka segera berlari menuju area dapur dengan niat mencari kardus bekas mi instan sebagai wadah untuk si ayam. Dengan napas yang masih memburu dan jantung berdegup kencang, Jaka mulai menggeledah sudut-sudut dapur, tangannya mengaduk isi rak bawah kompor tanpa peduli barang-barang yang berjatuhan.
"Di mana sih Ibu kalau menaruh kardus?!" gerutu Jaka seraya celingukan.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Jaka menemukan kardus yang dicarinya.
"Nah, ini dia yang dicari!" seru Jaka lega seraya mengambil satu kardus. Ia pun bergegas keluar untuk memindahkan ayam cemani tersebut dari karung goni ke dalam kardus.
Setelah selesai, Jaka membawa ayam itu ke belakang rumah. Tepat di dekat pohon nangka, ia menaruh kardus berisi ayam tersebut lalu menutupinya dengan daun kering dan daun pisang agar tidak ada orang yang melihat, terutama sang ibu.
"Kamu diam di sini ya! Jangan berisik! Kalau berisik, aku patahkan lehermu!" seru Jaka seraya terkekeh dan tersenyum puas, jarinya menepuk-nepuk ringan permukaan kardus seolah menakut-nakuti isinya. Ia pun membalikkan badan dan pergi meninggalkan ayam itu.
Dia tidak sadar, ancaman itu bukan untuk ayam saja, tapi sebuah janji pada dirinya sendiri.
Setelah selesai bersih-bersih, Jaka masuk ke kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, mengabaikan pakaian basahnya yang masih menempel di kulit.
"Akhirnya! Syarat dari Simbah sudah aku dapatkan, ayam dapat, uang pun dapat. Besok akan jadi hari bersejarah buatku... hari di mana aku akan mendapatkan Dea!" gumam Jaka seraya menyunggingkan senyum penuh kepuasan, kedua tangannya terlipat di belakang kepala menatap langit-langit kamar dengan puas.
Sementara itu, di kediaman Kiki, situasi bertolak belakang, di mana rumahnya kedatangan seorang praktisi agama yang sedang meruqyah Kiki. Rupanya, Kiki sempat bercerita kepada kedua orang tuanya bahwa ia mendapati luka cakaran misterius di dadanya saat tidur. Awalnya Kiki mengira itu hanya bunga tidur, namun ternyata luka itu nyata dan berdarah. Kepanikan pun melanda kedua orang tua Kiki hingga mereka memutuskan untuk memanggil ustaz tepercaya di desa mereka.
Di ruang tengah yang temaram, Kiki, kedua orang tuanya, dan Pak Ustaz tengah duduk melingkar di atas karpet permadani berwarna merah maroon. Kiki duduk paling ujung, lututnya ditekuk rapat ke dada, kedua lengannya memeluk kaki sendiri seperti berusaha membuat tubuhnya sekecil mungkin.
"Coba, Nak Kiki, saya lihat lukanya!" seru Pak Ustaz yang diketahui bernama Ahmad.
Tanpa ragu, Kiki segera membuka bajunya dan memperlihatkan bekas sayatan di beberapa titik di tubuhnya, matanya menatap ke lantai karpet, tak sanggup melihat reaksi orang-orang di sekelilingnya.
"Astaghfirullahaladzim! Sudah, tutup lagi!" perintah Ustaz Ahmad seraya mengusap wajahnya, tampak terkejut.
Seketika suasana di ruangan berukuran 6 meter x 7 meter itu berubah hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding yang terus berputar, ditambah embusan angin yang masuk melalui celah pintu dan jendela membawa hawa dingin menusuk kulit.
Pak Ustaz Ahmad menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa terkejut dan ketidakpercayaannya saat melihat luka tersebut.
"Masya Allah, Bu, Pak! Kalian benar, ini bukan luka biasa. Ini luka yang dibuat oleh entitas makhluk astral yang menyerang fisik Nak Kiki!" jelas Ustaz Ahmad.
"Alhamdulillahnya Nak Kiki tidak menyimpannya sendiri. Nak Kiki mau cerita sama Ibu dan Bapak sebelum semuanya jadi makin parah!" lanjut Ustaz Ahmad penuh rasa syukur.
"Lalu apa yang harus kami lakukan agar makhluk itu tidak lagi menyerang anak kami? Dan apa alasannya makhluk itu menyerang anak kita, Pak Ustaz?" tanya Pak Jajang, ayah Kiki, dengan raut wajah cemas luar biasa, tangannya mencengkeram lutut istrinya di sampingnya seperti mencari pegangan.
Mendengar pertanyaan itu, Pak Ustaz kembali menyapu wajahnya yang kini dipenuhi keringat. Walaupun suasana di luar sangat dingin, udara di ruangan itu justru terasa panas dan menyesakan.
"Bapak sama Ibu tenang dulu, tidak usah panik. Yang penting kita semua sudah tahu kondisi Nak Kiki sekarang," sahut Ustaz Ahmad mencoba menenangkan kedua orang tua Kiki.
Namun, hal berbeda dirasakan oleh Kiki sebagai korban dari teror gaib tersebut. Ia justru makin dirayapi kepanikan luar biasa. Ada tiga alasan besar yang menyiksa batinnya: pertama, ia takut teror mengerikan ini akan berkepanjangan; kedua, ia sangat takut Mbah Usman akan menagih nyawanya sebagai imbalan; dan ketiga, ia takut rahasia kelamnya terbongkar di hadapan orang tuanya sendiri—bahwa ia telah nekat berurusan dengan dukun. Ketiga alasan itulah yang membuat jiwa Kiki kian tertekan dan terimpit, jari-jari kakinya di balik karpet ia tekuk kuat-kuat menahan gejolak di dadanya.
"Tolong Pak Ustaz, jangan suruh saya menceritakan apa yang telah saya perbuat..." pinta Kiki menjerit dalam hati, seraya menunduk dalam-dalam, sama sekali tak berani menatap wajah ustaz tersebut.