Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Ciuman Pertama
Guntur menggetarkan jendela ketika jarak terakhir di antara kami hilang.
Om Bram berhenti sesaat sebelum bibirnya menyentuh bibirku, memberiku kesempatan terakhir untuk mundur. Aku tidak bergerak. Tanganku justru mencengkeram ujung selimut, dan aku mengangguk kecil.
Baru setelah itu dia menciumku.
Ciumannya singkat dan sangat hati-hati. Tidak ada desakan, tidak ada tangan yang menarikku lebih dekat. Hanya kehangatan yang menyentuh, menetap selama satu tarikan napas, lalu perlahan menjauh.
Jantungku berdetak begitu keras sampai aku yakin dia bisa mendengarnya. Telapak tanganku dingin di luar selimut, tetapi wajahku terasa panas. Om Bram menjaga kedua tangannya tetap terlihat, satu di sisi tubuh dan satu lagi bertumpu pada sofa. Bahkan ketika aku bergerak sedikit mendekat, dia tidak menganggapnya izin untuk memperpanjang ciuman.
Sikap hati-hati itu tidak mengurangi artinya. Justru karena dia bisa berhenti, aku tahu dia memilih satu detik tersebut dalam keadaan sadar.
Mataku tetap tertutup beberapa detik.
Selama berminggu-minggu aku membayangkan momen ini sebagai ledakan. Ternyata rasanya justru seperti rumah setelah hujan, tenang, hangat, dan membuat semua suara di luar terdengar jauh.
Ketika membuka mata, wajah Om Bram masih dekat. Napasnya tidak setenang ekspresinya.
"Om," bisikku.
Dia mengangkat tangan ke pipiku, tetapi berhenti di udara. "Kamu yakin?"
"Aku yakin sebelum Om mendekat."
"Jawabannya bisa berubah kapan saja."
"Sekarang belum berubah."
Aku menyentuh pergelangan tangannya dan membawa telapak itu ke sisi wajahku. Om Bram memejamkan mata seolah sentuhan sederhana tersebut jauh lebih sulit diterima daripada ciuman tadi.
"Om sebenarnya cuma nggak berani, kan?" tanyaku.
Matanya terbuka.
"Saya punya alasan."
"Aku tahu. Tapi alasan dan takut bisa ada bersamaan."
"Dan keberanian tidak selalu berarti keputusan itu benar."
"Kalau begitu kenapa Om menciumku?"
Pertanyaan itu membuatnya diam.
POV Bram
Karena selama beberapa minggu terakhir, setiap alasan yang kupakai untuk menjauh justru membuktikan bahwa jarak menyakiti kami berdua.
Karena Sekar datang ke rumah ini saat takut, tetapi tetap menangani masalah kos dengan pilihannya sendiri. Dia tidak lagi bergantung kepadaku untuk membuat keputusan. Dia memilihku sebagai tempat pulang.
Karena aku mencintainya.
Kalimat terakhir muncul begitu jelas di kepala hingga aku hampir mengucapkannya. Aku menahannya. Satu ciuman tidak otomatis menyelesaikan perbedaan usia, sejarah kuasa, keluarga, atau pandangan masyarakat.
Empat tahun lalu, aku menandatangani formulir sekolah dan rumah sakit sebagai wali. Aku menentukan jam pulang, menyimpan dokumennya, dan menjadi orang yang menyediakan semua kebutuhan. Sekarang kewenangan itu sudah berakhir secara hukum, tetapi bekasnya tidak hilang hanya karena kalender berubah.
Jika aku menerima cintanya, aku harus memastikan dia tetap memiliki uang, pendidikan, teman, dan tempat untuk berkata tidak. Aku tidak boleh menjadikan rasa utang budi sebagai tali. Aku juga tidak boleh menggunakan semua kekhawatiran itu sebagai alasan pengecut untuk membuat keputusan seorang diri.
Sekar sudah membuktikan dia bisa menolak, memukul ketika marah meski caranya salah, pergi ketika terluka, dan kembali ketika memilih. Dia bukan gadis enam belas tahun yang hanya memiliki satu pintu keluar.
Aku melepaskan wajahnya dan mundur setengah langkah.
"Ini salah," kataku serak.
Mata Sekar langsung dipenuhi luka. "Karena aku anak angkat?"
"Karena saya meminta waktu lalu melanggar batas yang saya buat sendiri."
"Aku juga ada di sini. Aku juga setuju."
"Saya tahu. Itu sebabnya saya berhenti sekarang, bukan berpura-pura kamu tidak punya pilihan."
Air matanya menggenang, tetapi dia tidak menunduk.
"Om menyesal?"
Aku melihat bibirnya yang masih sedikit terbuka karena napas cepat. Rasa ingin mendekat lagi datang begitu kuat sampai jemariku mengepal.
"Tidak," jawabku.
Sekar berkedip.
"Saya takut," lanjutku. "Tapi saya tidak menyesal."
Kejujuran itu menghapus sebagian luka di wajahnya.
Aku memindahkan satu bantal ke antara kami lagi dan duduk. Sekar menatap bantal tersebut dengan kesal, lalu duduk di sisi lain.
"Kosku mungkin nggak bisa ditempati beberapa hari," katanya.
"Kamu tinggal di kamar lama sampai aman."
"Kalau setelah diperbaiki aku tetap di sini?"
"Sekar."
"Biar aku pindah balik."
Hujan mulai mengecil. Tetesannya tidak lagi menghantam kaca, hanya mengalir dalam garis panjang.
"Kita baru saja membuktikan bahwa tinggal dalam satu rumah bisa membuat batas menjadi kabur," kataku.
"Malam ini Mbok Nah pergi mendadak. Biasanya ada dia dan staf rumah. Kamarku juga di lantai berbeda."
"Tetangga tidak peduli pada denah rumah."
"Jadi aku harus tinggal di kos bocor supaya tetangga senang?"
"Kita bisa mencari kos lain."
"Aku tidak bicara soal atap." Sekar menyingkirkan bantal di antara kami, tetapi tidak mendekat. "Aku capek berpura-pura Puri Cendana bukan rumahku. Aku juga capek datang dengan alasan cabai, partitur, dan wedang jahe. Kalau Om butuh waktu, biarkan aku menjalani hidupku di tempat yang memang kupilih."
Aku menatapnya lama.
Memintanya tinggal akan membuatku bahagia. Justru itu yang membuat keputusan ini berbahaya. Aku harus memastikan kebahagiaanku bukan satu-satunya alasan.
"Kalau kamu kembali, ada tiga syarat," kataku akhirnya.
Wajah Sekar langsung terang. "Apa?"
"Pertama, hubungan kita belum diumumkan kepada siapa pun. Bukan karena saya malu, tetapi karena saya belum siap membiarkan nama baikmu menanggung gosip keluarga dan perusahaan. Dinda boleh tahu bahwa kamu pindah, tidak tentang ciuman ini."
"Bagaimana kalau orang kampus tanya?"
"Katakan kos sedang diperbaiki dan kamu pulang ke rumah keluarga. Itu benar. Kita tidak membuat kebohongan rumit."
"Kalau Nadia tanya?"
Aku mengingat laporan tentang nama butik. "Kamu tidak berutang penjelasan tentang hidup pribadi kepada Nadia. Kalau dia mendekatimu lagi, beri tahu saya."
Sekar tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kembali menahannya. Rahasia percakapan mereka jelas belum siap dia buka. Aku tidak memaksa malam ini.
Sekar mengerucutkan bibir. "Baik. Sementara."
"Sementara," tegasku.
"Kedua?"
"Kuliah tetap prioritas. Kamu masuk kelas, menyelesaikan ujian, dan tidak memakai hubungan ini sebagai alasan mengabaikan kesehatan atau tugas."
"Aku setuju."
"Ketiga, kamar kita tetap terpisah. Mbok Nah atau staf rumah harus ada dalam rutinitas rumah, terutama malam hari. Kita tidak menciptakan keadaan berduaan tertutup yang menimbulkan khalwat atau omongan. Kalau rumah sedang kosong seperti malam ini, kita menjaga pintu dan ruang bersama, lalu masing-masing kembali ke kamar."
"Aku nggak mau semua aturan hanya berlaku untukku."
"Memang tidak. Saya juga tidak masuk kamarmu tanpa izin. Kamu tidak masuk kamar saya tanpa mengetuk. Kita bertemu di ruang bersama. Kalau salah satu merasa keadaan terlalu dekat atau tidak nyaman, pembicaraan berhenti tanpa hukuman atau sindiran."
"Termasuk kalau aku yang bilang berhenti?"
"Terutama kalau kamu yang bilang berhenti."
"Dan kalau Om yang bilang?"
"Kamu boleh kecewa. Tapi kamu tidak membeli alat, minum, atau menghilang untuk menguji saya lagi. Kita bicara."
Sekar menunduk karena malu. "Baik."
Sekar menatap sekeliling ruang tamu. "Sekarang kita berdua saja."
"Itu sebabnya setelah pembicaraan selesai, kamu tidur di kamar lama dan saya tetap di ruang kerja."
"Om akan kerja sampai Mbok Nah pulang?"
"Saya pernah bekerja lebih lama untuk alasan yang lebih buruk."
Dia tertawa kecil. "Aku setuju dengan syarat ketiga."
"Belum selesai."
"Katanya tiga. Jangan tambah pasal setelah tanda tangan."
"Ini bukan syarat. Ini hakmu." Aku memastikan dia menatapku. "Kamu boleh berubah pikiran. Tentang pindah, tentang menunggu, atau tentang saya. Ciuman tadi tidak mengikatmu pada apa pun."
Senyumnya perlahan hilang, digantikan keseriusan.
"Om juga boleh berubah pikiran?"
Aku seharusnya menjawab iya. Namun setelah menghabiskan begitu banyak waktu berusaha pergi, aku tahu jawaban itu akan menjadi kebohongan.
"Saya boleh takut," kataku. "Tapi saya tidak akan menghilang lagi tanpa bicara."
Sekar mengangguk. "Itu cukup untuk sekarang."
Kami membicarakan hal praktis setelahnya. Barang kuliah akan dipindahkan setelah teknisi menyatakan kamar aman dimasuki. Kontrak kos tidak langsung dihentikan agar Sekar masih memiliki pilihan tempat tinggal mandiri. Biaya tetap dibayar dari rekeningnya sendiri, dan aku tidak akan menggantinya tanpa persetujuan. Jika setelah sebulan dia merasa pulang ke sini adalah keputusan yang salah, Fikri bisa membantu mencari tempat baru tanpa pertanyaan.
"Om benar-benar menyiapkan jalan keluar," katanya.
"Pilihan yang tidak punya jalan keluar bukan pilihan."
"Aku tidak berencana memakainya."
"Tetap harus ada."
Dia mengulurkan tangan di atas sofa. Bukan meminta ditarik atau dipeluk, hanya meletakkan telapak menghadap ke atas. Aku menyentuhnya dan membiarkan jemari kami bertaut singkat.
"Aku pulang karena mau," katanya.
"Saya tahu."
"Dan ciuman tadi juga karena mau."
"Saya tahu."
Untuk pertama kalinya malam itu, jawaban sederhana tersebut tidak terasa seperti penolakan.
Dia berdiri sambil menarik selimut lebih rapat. Matanya masih merah, tetapi senyumnya muncul begitu lebar hingga dia harus menunduk untuk menyembunyikannya.
"Aku akan buat daftar barang yang harus dipindah besok."
"Tunggu hasil pemeriksaan listrik dulu. Jangan masuk sebelum aman."
"Baik, Pak Pengawas."
"Baru lima menit lalu kamu menyetujui syarat kesehatan."
"Aku masih boleh mengejek."
Aku hampir tersenyum ketika ponsel di meja bergetar.
Nama Fikri muncul di layar. Pukul sudah lewat tengah malam. Dia tidak akan menelepon tanpa alasan penting.
Aku mengangkat panggilan.
"Ya?"
Suara Fikri terdengar cepat dari seberang. Dia menyebut surat keberatan, tenggat hukum, dan nama Nabra Boutique. Senyum Sekar menghilang ketika melihat wajahku berubah.
"Kamu tidur duluan," kataku kepadanya.
Aku berdiri, membawa ponsel ke balkon, lalu menutup pintu kaca sambil mendengarkan laporan Fikri.