Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Jejak Menuju Bandung
Matahari baru naik separuh saat rombongan kelompok Black tiba di depan sebuah toko swalayan yang bangunannya masih berdiri tegak. Mobil mereka berhenti pelan, mematikan mesin agar tak menimbulkan suara yang menarik perhatian.
Hilda dan anggota lain turun satu per satu, senjata terangkat erat di tangan. Langkah kaki mereka pelan, teratur, masuk ke dalam toko yang pintunya sedikit terbuka. Setiap sudut mereka periksa sambil mengarahkan pandangan dan senjata ke segala arah — memastikan tak ada bahaya yang mengintai di balik rak-rak yang kini sebagian kosong.
Mereka pun berpencar: ada yang memeriksa bagian makanan, ada yang menuju lemari obat-obatan, sementara yang lain tetap berjaga di pintu masuk. Di antara sisa-sisa barang yang terbuang, mereka menemukan harapan — beberapa bungkus makanan kering yang masih utuh, kaleng-kaleng, obat-obatan yang belum tersentuh, serta camilan yang masih tersimpan rapi. Semua itu dikumpulkan ke dalam tas dan dibawa keluar dengan hati-hati.
"Lumayan cukup untuk bekal perjalanan kita," ucap salah satu pemimpin kelompok itu sambil memeriksa isi tas yang kini penuh. Ia menoleh ke arah rombongan. "Ayo, kita berangkat. Waktu tidak menunggu."
Pintu mobil tertutup satu per satu, mesin menyala pelan, dan kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, Hilda menatap ke luar jendela — ke arah jalan yang membentang panjang menuju Bandung. Di sana, di kejauhan, tempat teman-temannya bertahan. Semakin dekat, semakin tak sabar, namun semakin dekat pula pertanyaan yang terus menghantui: apakah pertemuan itu akan membawa kebahagiaan atau justru masalah baru?
Perjalanan mereka jauh dari mulus. Di sebuah persimpangan jalan yang terbuka, mobil tiba-tiba berhenti pelan. Di depan sana, terlihat sekelompok zombie berdiri diam, wajah mereka mendongak menatap langit — seolah tertidur sambil berdiri, atau terpaku memandang sesuatu yang tak bisa dipahami manusia.
Pemimpin rombongan langsung memberi isyarat. "Kita turun. Habisi mereka tanpa suara. Ambil tombak kalian — satu per satu, jangan buat keributan."
"Baiklah, baby.... kita bertempur lagi," gumam pria bertubuh besar itu sambil meraih senjatanya dan mencium nya. "Bertempur melawan para that fucking Walker."
Ia turun dari mobil bersama beberapa rekan, dan Hilda ikut melangkah di antara mereka.
"Hei, Hilda... tetap waspada, hati-hati di sekelilingmu," ucap pria besar itu lembut namun serius.
Hilda tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Aku tahu."
"Ingat — arahkan tepat ke kepala," bisik pemimpin itu sekali lagi sebagai pengingat terakhir.
Mereka melangkah mendekat, langkah kaki nyaris tak terdengar di aspal. Makhluk-makhluk itu masih berdiri mematung, mata putih menatap ke atas, tak sadar bahaya yang kini berdiri di samping mereka. Satu per satu, ujung tombak menusuk tepat ke kepala — cepat, tenang, tanpa suara. Tubuh mereka jatuh serempak ke tanah, tak sempat mengeluarkan raungan sedikit pun.
Setelah semua selesai, mereka kembali ke mobil dengan langkah ringan. Pintu tertutup pelan, mesin menyala, dan kendaraan itu kembali melaju — melewati mayat-mayat yang kini diam selamanya, terus bergerak mendekati Bandung, mendekati tempat di mana teman-teman Hilda bertahan hidup.
Mobil terus melaju membelah jalan sepi, membawa mereka menuju kawasan pemukiman yang diprediksi masih berpenghuni — tempat yang mungkin saja menyisakan orang-orang yang selamat. Sebelum menyusuri lebih jauh, kelompok Black berencana mencari tempat berlindung dan beristirahat lebih dulu, mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan pencarian.
Tiba-tiba suara berdengung terdengar daRi alat komunikasi di pinggang Damian — walkie-talkie yang setia memancarkan suara rekan mereka yang berjalan di depan.
"Hei Damian... apa kau mendengar ku?" panggil suara dari seberang, sedikit pecah namun jelas.
Damian segera meraih alat itu, menekan tombol kirim. "Ya, aku mendengar. Bagaimana keadaan di sana? Apakah aman?"
"Kondisinya aman," jawab suara itu, nada lega terdengar jelas. "Tempat ini bagus, cukup terlindungi... cocok untuk kita beristirahat di sini dulu."
Damian menoleh ke arah rombongan di belakang, mengangguk tanda kabar baik. Mobil perlahan berbelok menuju arah yang ditentukan — ke tempat yang semoga saja tenang, semoga saja aman, dan semoga saja menjadi langkah yang membawa Hilda semakin dekat ke tujuan.
Mereka turun di tempat yang terlindung dan tenang — tempat yang dipilih untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Kelompok Black mengeluarkan bekal makanan serta minuman yang tadi mereka temukan, lalu duduk berkumpul untuk makan bersama.
Penjagaan diatur secara bergantian: sebagian beristirahat dan makan, sementara yang lain tetap waspada mengawasi sekeliling. Hilda duduk bersama Damian, pemimpin kelompok itu, dan Jagad — pria bertubuh besar yang tadi menemaninya.
"Makanlah, Hilda," ucap Damian sambil menyodorkan porsi kepadanya. "Perjalanan kita masih panjang. Setelah ini kita menuju pemukiman untuk mencari siapa saja yang masih selamat."
Jagad mengangguk setuju, lalu bertanya dengan nada lembut. "Ngomong-ngomong... teman-temanmu yang kau cari itu, apakah mereka ada di daerah sekitar sini?"
Hilda menunduk sedikit, menatap makanan di tangannya. "Mungkin... mungkin mereka ada di sini, atau mungkin sudah pergi jauh dari sini. Aku tak tahu pasti."
"Baiklah..." Jagad menepuk bahunya pelan. "Semoga mereka masih hidup, dan semoga kalian segera dipertemukan kembali."
Hilda tersenyum tipis, berusaha menahan rasa rindu dan cemas yang menyelimuti hatinya. Mereka pun melanjutkan makan dalam keheningan yang tenang, lalu segera mengatur giliran berjaga agar semua orang bisa beristirahat dengan aman — mengumpulkan tenaga untuk langkah berikutnya yang semakin mendekat ke Bandung.
Bersambung