"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3. Bisikan Licik
Adam terhadap sinis. "Kamu gak usah khawatirkan soal Rosa. Dia tahu batasan kok. Lagipula, ini cuma tinggal menunggu waktu sampai satu tahun selesai."
Kata-kata itu meluncur begitu mudah dari bibir Adam, tanpa memikirkan betapa hancurnya perasaan Fitri. Fitri hanya bisa mengepalkan jarinya kuat-kuat di balik gamis sederhananya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di mata Adam, dirinya tak pernah ada. Yang ada hanyalah sebuah kewajiban dan kepura-puraan.
Fitri mengangguk pelan, menyembunyikan getaran di sudut matanya. "Baik, Mas. Aku paham."
"Ya sudah, aku lewat pintu belakang. Pengen rebahan sekarang." Ujar nya lalu dia pun mengendap-endap menuju kamar nya.
***
Alarm ponsel berbunyi nyaring tepat pukul empat pagi. Fitri terbangun dengan tubuh yang terasa begitu pegal. Namun, tak ada waktu untuk memanjakan rasa lelah. Ia menyibak selimut, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Seusai salat Subuh, Fitri langsung berkutat di dapur. Tangan kecilnya cekatan mengupas wortel dan memotong daging ayam untuk membuat sup hangat kesukaan Bu Rahma. Di saat yang sama, ia juga harus membagi fokus untuk menghafal materi yang harus dipresentasikannya di hadapan dokter spesialis siang nanti.
"Fitri..." suara serak Bu Rahma memanggil dari arah kamar utama.
Fitri menyeka tangannya pada celemek, lalu berlari kecil menghampiri. "Iya, Bu? Ada yang sakit?"
Bu Rahma tersenyum tipis, matanya yang redup menatap Fitri penuh rasa iba. "Kamu kok pucat sekali, Nak? Jangan terlalu diforsir. Kamu sudah lelah kerja di rumah sakit, masih bisa buat sarapan ibu. Biar Suster Yani saja yang siapkan sarapan Ibu."
"Nggak apa-apa, Bu. Fitri masih sanggup kok. Makanan buatan Fitri kan lebih disesuaikan sama takaran garam yang dibolehkan dokter, Sebentar ya bu bubur nya sudah siap kok" jawab Fitri lembut sambil membantu mertuanya duduk tegak di tempat tidur.
Tepat saat Fitri sedang menyuapkan sendok pertama sup ke mulut Bu Rahma, Adam melangkah masuk ke kamar ibunya. Penampilannya sudah rapi dengan kemeja ikonis dan aroma parfum mahal yang menyeruak memenuhi ruangan.
"Pagi, Bu," panggil Adam hangat. Ia mengecup kening ibunya penuh kasih sayang, lalu melirik Fitri dengan tatapan yang seketika berubah dingin. "Aku berangkat kantor dulu ya, Bu."
"Lho, tidak sarapan dulu sama Fitri, Dam? Istrimu sudah masak dari subuh," tegur Bu Rahma.
Adam mengibaskan tangannya pelan. "Ada janji sarapan sama klien di luar, Bu. Nanti telat kalau makan di rumah."
Fitri hanya diam, tetap fokus menyuapi mertuanya tanpa memprotes. Ia tahu betul 'klien' yang dimaksud Adam adalah Rosa. Saat Adam berjalan keluar menuju garasi, Fitri menyusul langkahnya untuk mengantarkan tas kerja sang suami sampai ke depan pintu kewajiban formalitas yang selalu ia jaga.
"Nanti malam aku pulangnya agak larut," ujar Adam tanpa menoleh saat memakai sepatunya. "Kamu gak usah tungguin."
"Siapa yang tunggu kamu mas.. Hati-hati di jalan," sahut Fitri singkat dan tenang.
"Begitu? Baiklah satu lagi," Adam menghentikan gerakannya, menatap Fitri dari atas ke bawah. Penampilan Fitri pagi itu sangat sederhana, hanya gamis kain katun kusam dan jilbab kaos instan tanpa polesan riasan sedikit pun. "Kalau kamu keluar rumah atau ke rumah sakit, tolong dandan yang rapi dikit. Jangan bikin malu kalau ada teman kantor aku yang gak sengaja ketemu kamu."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Adam, tajam dan merendahkan. Pria itu tidak pernah mau tahu betapa tidak sempatnya Fitri bersolek karena harus membagi waktu antara stase koas yang menyiksa dan mengurus rumah tangga sendirian.
Fitri meremas ujung jilbabnya pelan, mengutip napas dalam-dalam untuk menahan rasa panas di dadanya. "Baik, Mas. Aku ingat."
Tanpa mengucapkan kata perpisahan lagi, Adam melangkah keluar dan melajukan mobilnya. Fitri menatap kepergian mobil itu dengan pandangan hampa. Rasa lelah di tubuhnya mungkin bisa sembuh dengan tidur beberapa jam, tapi rasa lelah di hatinya akibat terus-menerus direndahkan sepertinya akan berbekal sangat lama.
Fitri berbalik melangkah masuk, menguatkan hatinya sendiri. Ia harus bertahan. Satu tahun ini harus ia lewati demi menjaga kebahagiaan Bu Rahma dan menyelesaikan pendidikannya.
***
Siang harinya, Fitri tiba di rumah sakit dengan sesekali menggerakan otot-ototnya untuk menghadapi pasien pasien yang datang hari ini. Sepanjang koridor rumah sakit tempat Fitri menjalani koas terasa sangat bising oleh langkah lalu lalang pasien dan tenaga medis. Dengan jas putih koas yang sedikit kusam dan tas ransel hitam yang membebankan bahunya, Fitri berjalan terburu-buru menuju kantin. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah menyelesaikan laporan shift jaga dan memeriksa belasan pasien anak.
Saat hendak membelok di persimpangan koridor dekat poli spesialis, langkah Fitri terhenti seketika. Di sana, berdiri sosok wanita dengan balutan gaun merah menyala, sepatu high heels berkilau, dan tas bermerek yang begitu mencolok. Wajahnya dipoles riasan tebal yang sempurna. Wanita itu adalah Rosa.
Rosa yang sedang menunggu pesanan minumannya berbalik dan langsung mendapati Fitri. Bibirnya tersenyum miring, memancarkan nada meremehkan yang amat jelas.
"Wah, lihat siapa ini... Istri sahnya Adam yang tersayang," sapa Rosa dengan nada sindiran yang dibuat-buat manis. Ia melangkah mendekat, suara heels nya mengetuk lantai marmer dengan tajam.
Fitri menarik napas panjang, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang dan profesional. "Mau apa kamu ke sini, Rosa?"
Rosa terkekeh pelan, memutar-mutar gantungan tas mahal di jemarinya. "Aku cuma kontrol rutin aja.. sambil membeli minuman kesukaan Adam di sini. Oh ya, tadi pagi Adam mengantarku belanja, lalu dia mengeluh capek karena harus melihat penampilan rumah yang suram. Kamu tahu kan maksudku?"
Fitri mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Rasa panas merayap di dadanya, namun ia menolak memperlihatkan rasa sakit itu di hadapan wanita di depannya. "Kalau kamu cuma mau pamer, sebaiknya simpan energi kamu. Aku tidak punya waktu buat melayani hal tidak penting."
"Tidak penting?" Rosa melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar hanya Fitri yang bisa mendengar. "Fitri, coba kamu cermin diri sebentar. Kamu itu terlihat seperti pembantu yang keliru pakai jas dokter. Lusuh, kusam, dan sama sekali tidak punya daya tarik. Pantas saja Adam tidak pernah sudi menyentuhmu, apalagi menganggap mu sebagai istri."
Lengan Fitri meremas kuat tali ranselnya. Kata-kata Rosa bagaikan belati yang dianyam dengan kepalsuan, tapi ia tahu betul tujuannya: memancing emosinya agar Fitri terlihat buruk.
"Penampilanku mungkin sederhana, Rosa," balas Fitri dengan nada suara pelan namun begitu dingin dan tajam. "Tapi setidaknya aku punya harga diri. Aku tidak perlu menempel pada suami orang lain demi mendapatkan barang ber-brand hanya untuk menutupi rasa ketidakpercayaan diri."
Mata Rosa mendelik kesal. Wajahnya yang semula penuh kemenangan mendadak tegang. "Jaga mulutmu ya Fitri! Adam itu mencintaiku! Kamu cuma benalu yang memanfaatkan kebaikan ibunya Adam!"
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.