NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7. Mertua Jahanam

Gia terkekeh pelan, nada tawanya sangat renyah namun dingin menusuk. "Meras? Meras dari mana? Ku cuma minta dia kerja sesuai gajinya, Bu. Kenapa? Anak kebanggaan Ibu ternyata cuma mentok jadi pembuat kopi yang lambat?"

"Kurang ajar kamu ya!" teriak Ibu Titik dari seberang sana, suaranya terdengar makin histeris. "Ibu tahu kamu cuma mau pamer harta! Besok pagi Ibu bakal datang ke gedung kantor kamu! Ibu bakal telanjangin semua kebohongan kamu di depan bos-bos kamu!"

"Silakan datang, Bu," balas Gia tenang tanpa riak kepanikan sedikit pun. "Tapi pastikan Ibu bawa uang lima ratus juta rupiah. Karena kalau Ibu berani buat keributan di lobi kantor saya, surat tagihan biaya hidup saya selama dua tahun nikah sama anak Ibu bakal langsung diproses hukum detik itu juga."

"Kamu... kamu gila, Gia?!"

Gia tidak menjawab lagi dan langsung mematikan sambungan telepon. Ia meletakkan ponselnya, kembali menatap pemandangan kota di bawah sana.

Namun, baru saja Gia hendak merapikan tasnya untuk pulang, pintu ruangannya mendadak didorong kasar dari luar.

Aldo berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, matanya memerah liar, dan di tangannya ada sebuah dokumen tebal berwarna merah yang membuat dahi Gia berkerut heran.

"Gia! Jangan kira kamu bisa menang gitu aja!" teriak Aldo sambil mengacungkan dokumen itu ke udara. "Aku baru ingat! Surat perjanjian pra-nikah kita masih ada di tangan ibuku!"

Gia membeku di tempatnya. Perjanjian pra-nikah?

Gia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kulit. Tatapannya menajam, meneliti raut wajah Aldo yang dipenuhi rasa percaya diri palsu di ambang pintu.

"Perjanjian pra-nikah?" Gia terkekeh pelan, nada suaranya begitu renyah namun dingin menusuk. "Coba ulang sekali lagi, Manajer Aldo. Kamu halusinasi atau kurang tidur gara-gara draf proyek sampahmu?"

Aldo melangkah maju dua tindak, melipat kedua tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum kempot yang jumawa. "Kamu jangan pura-pura lupa, Gia! Sebelum kita nikah dua tahun lalu, Ibu yang minta kamu tanda tangan dokumen pelepasan harta! Artinya, semua aset yang kamu punya atas nama kamu sekarang... sebagian besar bisa dituntut jadi milik keluarga aku!"

Gia menatap pria di hadapannya dengan rasa iba. Betapa menyedihkannya seorang Aldo—terjebak dalam dongeng buatannya sendiri demi menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur lebur.

"Aldo, Aldo," Gia menggelengkan kepala pelan. "Dua tahun nikah sama kamu, baru hari ini aku sadar kalau otak kamu memang sekecil biji cabai. Dulu waktu kita mau nikah, aku ini cuma rakyat jelata di mata ibumu. Mana ada orang kaya yang minta orang miskin tanda tangan perjanjian pra-nikah pelepasan harta?"

Wajah Aldo mendadak kaku. Senyum jumawa nya pelan-pelan luntur, digantikan oleh keraguan yang mulai menggerogoti dadanya.

"Lagi pula," Gia berdiri, melangkah mendekati Aldo dengan keanggunan seorang penguasa. Ketukan heels-nya berbunyi tegas di atas lantai marble. "Dokumen yang ibumu suruh tanda tangan dulu itu cuma surat pernyataan bahwa aku nggak boleh nuntut uang belanja tambahan dari kamu. Jadi, dokumen apa yang mau ibumu pakai buat nuntut saham VK Group milikku?"

"K-kamu... kamu bohong!" bentak Aldo, suaranya sedikit mencicit karena kepanikan mulai menyerang. "Ibu bilang dokumen itu"

"Ibumu cuma wanita tua yang gila harta dan suka mengarang cerita," potong Gia cepat. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Aldo, menatap manik mata mantan suaminya itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Sekarang, keluar dari ruangan saya sebelum saya panggil keamanan untuk melempar kamu keluar lewat pintu belakang."

Aldo mengepalkan tangan kuat-kuat. Gigi-giginya berkatuk menahan malu dan amarah yang membakar dada. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk membalas, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah koridor luar.

Seorang satpam paruh baya berlari napas terengah-engah, berhenti di depan pintu ruangan Gia.

"Maaf, Nona Komisaris!" panggil satpam itu panik. "Di lobi utama ada seorang ibu-ibu paruh baya yang ngamuk! Dia teriak-teriak minta ketemu Nona dan Pak Aldo sambil bawa toa masjid!"

Dahi Gia berkerut. Aldo di sebelahnya mendadak melotot, wajahnya memucat seketika.

"Ibu...?" gumam Aldo horor.

Tanpa membuang waktu, Gia melangkah keluar ruangan menuju lift khusus eksekutif, diikuti Aldo yang berlari terbirit-birit di belakangnya.

Suasana di lobi utama VK Group sudah berubah kacau balau saat Gia dan Aldo tiba. Puluhan karyawan dan pengunjung berkumpul membentuk lingkaran. Di tengah-tengah lobi, Ibu Titik berdiri dengan daster mewah yang mencolok, memegang toa kecil di tangan kanannya sambil menunjuk-nunjuk beberapa satpam yang menahannya.

"Lepasin saya! Kalian nggak tahu saya ini siapa?!" teriak Ibu Titik melengking, suaranya memantul di dinding-dinding kaca lobi. "Saya ini mantan ibu mertua dari wanita iblis yang sok jadi bos di sini! Gia! Keluar kamu! Jangan sembunyi di balik ketiak bos kamu!"

Siska yang berdiri tak jauh dari sana pura-pura tidak kenal, menutupi wajahnya pakai tas bermerek agar tak ikut malu.

"Ibu! Bu, stop!" Aldo berlari menembus kerumunan, memegang tangan ibunya dengan raut wajah sangat panik. "Ibu ngapain ke sini pakai acara teriak-teriak begini?! Malu-maluin Aldo, Bu!"

"Malu kamu bilang?!" sentak Ibu Titik sambil menepis tangan anak kesayangannya itu. "Rumah kita mau disita besok pagi, Aldo! Semua rekening kamu diblokir! Dan perempuan licik ini yang bikin kita sengsara!"

Ibu Titik menunjuk lurus ke arah Gia yang baru keluar dari pintu lift.

Gia berjalan tenang menembus kerumunan. Aura dingin dan berkuasa memancar kuat dari dirinya, membuat para karyawan otomatis memberi jalan. Elkan yang baru turun dari lantai atas berdiri di samping Gia, bersedekap dengan tatapan mata yang siap menerkam siapa saja.

Gia menghentikan langkahnya tiga meter di depan Ibu Titik. "Sudah puas dramanya, Bu?"

"Gia! Kamu jangan pura-pura suci!" teriak Ibu Titik lewat toa, matanya melotot liar. "Semua orang di sini harus tahu kalau kamu ini cuma perempuan gila harta yang lupa diri setelah pegang uang! Kamu yang peras anak saya selama dua tahun!"

Gia tidak marah. Ia justru tersenyum sangat manis..jenis senyuman yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding.

"Ibu bawa toa, tapi lupa bawa ingatan ya?" sindir Gia tenang. Ia melirik asisten pribadinya yang berdiri di belakang. "Tolong putar rekaman suara dari ponsel saya dua hari lalu."

Asisten Gia mengangguk, lalu menyambungkan rekaman audio ke pengeras suara (sound system) utama lobi kantor. Detik berikutnya, suara melengking Ibu Titik menggema ke seluruh sudut ruangan:

'Aldo! Cepat ceraikan si Gia itu! Dia cuma beban di rumah! Mumpung Siska mau sama kamu, anak direktur kaya! Gia suruh angkat kaki cuma bawa baju murahnya, rumah itu harus atas nama kamu sepenuhnya!’

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!