NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Tamu Tak Terduga

"Papa?" cicit Luna refleks. Ia melangkah mundur satu jengkal, memutus jarak dekatnya dengan Marko.

Ardi Raharja melangkah masuk, mematikan layar ponsel di genggamannya. Tatapannya berganti-ganti menatap putrinya dan sahabat karibnya dengan dahi berkerut. "Kamu kok masih di sini, Lun? Bukannya tadi Mbak Rani dibilang mau antar kamu ke divisi SDM?"

Marko langsung mengambil alih suasana dengan tenang. Pria itu memutar meja, melangkah mendekati Ardi sambil mengulurkan tangan. "Gue yang nahan sebentar, Di. Cuma ngasih pengarahan dasar soal aturan kantor. Biar anak lu nggak kaget."

Ardi menyambut uluran tangan Marko, menjabatnya erat lalu menepuk bahu sahabatnya itu. Wajah tegangnya perlahan mengendur. "Baguslah kalau gitu. Lu tahu sendiri kan, di rumah dia ini dimanja banget. Gue cuma takut dia mikir magang di Janitra Group itu kayak liburan."

"Santai aja," balas Marko terkekeh tipis. "Di sini dia staf magang. Gue nggak bakal kasih karpet merah cuma gara-gara dia anak lu."

"Harus itu," kata Ardi terkekeh, lalu menoleh pada Luna. "Sana, Lun. Tadi Papa ketemu HRD di bawah, mereka udah nungguin kamu. Biar Papa ngobrol sebentar sama Marko."

Luna menyisir pandangan, menatap Marko yang hanya mengangguk formal tanpa ekspresi. "Yaudah, Luna ke bawah dulu ya, Pa, Pak Marko. Permisi."

Begitu pintu jati itu tertutup rapat meninggalkan kedua pria paruh baya tersebut, Ardi berjalan menuju sofa kulit hitam di sudut ruangan dan menghempaskan tubuhnya. Sementara Marko melangkah ke dispenser mewah, menuangkan dua cangkir kopi hitam panas.

"Thanks, Ko," ucap Ardi saat Marko menyodorkan cangkir kopi padanya. Pria itu menyesapnya sedikit sebelum kembali menatap Marko. "Gue nitip Luna ya. Tolong didik dia benar-benar. Kalau dia malas atau ngelunjak, tegor aja. Nggak usah sungkan sama gue."

"Tenang aja, Di. Anak lu pinter kok. Alasan dia magang di sini juga masuk akal," sahut Marko seraya mendaratkan tubuh kekarnya di sofa seberang Ardi. "Tapi jujur, lu sendiri kenapa izinin? Lu kan punya Raharja Group."

Ardi mendengus pelan. "Lu tahu sendiri anak gadis gue itu. Keras kepala. Katanya kalau di perusahaan gue, semua orang cuma bakal ngangguk-ngangguk doang. Ya ada benernya juga sih."

Atmosfer ruangan hening sejenak. Keduanya menikmati aroma kopi yang menguar tipis. Ardi memperhatikan wajah sahabatnya—pria empat puluh lima tahun yang masih terlihat begitu maskulin, bugar, dan tampan. Rahang tegas tanpa kerutan berarti, postur tubuh tegap dari rutin latihan gym, namun memiliki tatapan mata yang menyimpan kesepian mendalam.

"Lu gimana, Ko?" tanya Ardi tiba-tiba, mengubah topik pembicaraan.

Marko menaikkan alisnya. "Gimana apanya?"

"Ya... kehidupan lu. Asmara lu," kata Ardi pelan, nada suaranya berubah jauh lebih serius dan simpatik. "Udah lima belas tahun, Ko. Sejak almarhumah Siska dan calon anak kalian meninggal di kecelakaan itu... lu bener-bener menutup diri."

Gerakan tangan Marko yang hendak mengangkat cangkir kopi mendadak terhenti. Sorot matanya meredup seketika, membawa ingatan kelam masa lalu yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam. Tragisnya malam di mana ia kehilangan wanita yang dicintainya beserta bayi yang bahkan belum sempat menghirup udara dunia.

"Gue sibuk, Di. Janitra Group lagi ekspansi ke luar negeri," jawab Marko singkat, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan suara dingin yang biasa.

"Sibuk itu cuma alasan lu buat melarikan diri, Ko," potong Ardi tegas namun lembut. "Lu itu masih muda, tampan, kaya raya. Duda tanpa anak kayak lu tuh jadi incaran banyak wanita di luar sana. Sampai kapan lu mau hidup sendiri di rumah sebesar itu?"

Marko menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Gue udah terbiasa sendiri, Di. Lagian... fokus gue sekarang cuma bisnis. Gue nggak punya energi buat buka hati lagi."

"Suatu saat lu bakal butuh pendamping, Marko. Seseorang yang bisa bikin rumah lu hangat lagi," ujar Ardi penuh keprihatinan.

Marko hanya tersenyum tipis tanpa berniat membalas. Di dalam hatinya, sebuah bayangan wajah melintas tanpa diundang—wajah Aluna dengan tatapan berani dan bibir plum yang tadi pagi berdiri sangat dekat darinya. Marko cepat-cepat menggelengkan kepala secara samar, merutuki pikirannya sendiri. Gila kamu, Marko. Dia anaknya Ardi!

Di tempat lain, di sebuah kafe mewah tak jauh dari kampus, Kenan sedang menghentakkan cangkir espresso-nya ke meja dengan wajah gusar. Di hadapannya, Aris—ayahnya yang merupakan salah satu investor besar—menatapnya heran.

"Kamu ini kenapa sih, Ken? Dari tadi ditekuk terus mukanya," tegur Aris.

"Papa harus bantuin Kenan!" tuntut Kenan langsung tanpa basa-basi.

"Bantuin apa lagi? Mobil baru udah Papa beliin, kartu kredit nggak pernah Papa batasi."

"Bukan soal duit, Pa," potong Kenan frustrasi. "Aluna. Cewek yang lagi Kenan taksir dari semester lalu. Dia magang di Janitra Group mulai minggu ini."

Aris menaikkan kedua alisnya. "Janitra Group? Punya Marko Janitra?"

"Iya! Dan Papa kan kenal dekat sama Pak Marko, bahkan perusahaan Papa punya saham kecil di sana kan?" Kenan memajukan tubuhnya, menatap ayahnya penuh harap. "Kuota magang di sana pasti masih ada kan, Pa? Kenan mau magang di Janitra Group juga! Masukin Kenan ke sana, Pa. Tolong!"

Aris tertawa kecil melihat tingkah putra tunggalnya. "Gara-gara cewek kamu sampai bela-belain mau magang? Biasanya disuruh pegang berkas kantor aja kabur."

"Ini beda, Pa! Aluna itu susah banget didapetin. Kalau Kenan bisa satu kantor sama dia, Kenan yakin bisa bikin dia luluh. Tolong ya, Pa? Telepon Pak Marko sekarang."

Aris menggeleng-gelengkan kepala, namun akhirnya mengeluarkan ponselnya. "Yaudah, Papa telepon sekretarisnya Marko dulu. Tapi kamu harus beneran kerja di sana, jangan bikin malu nama Papa!"

"Siap, Pa! Apapun demi Aluna!" seru Kenan mantap, tersenyum puas.

Keesokan harinya, suasana di lantai dasar Janitra Group tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Aluna berjalan menyusuri koridor divisi analisis data bersama Rania, sahabat karibnya sejak masa orientasi kampus yang berambut sebahu dan selalu ceria.

"Sumpah ya, Lun! Gue masih nggak nyangka bisa lolos seleksi susulan di sini!" bisik Rania heboh sambil memeluk map berkasnya. "Ini tuh Janitra Group! Semua anak kampus kita mimpi bisa magang di sini!"

Luna terkekeh melihat tingkah sahabatnya. "Gue juga kaget pas kemarin malam lu ngabarin kalau lu dipanggil. Tapi bagus dong, jadi gue punya temen gosip pas jam istirahat."

"Tapi kan beda, Lun. Lu mah anak kesayangan yang punya jalur khusus—"

"Ssshh! Rania, jangan keras-keras!" potong Luna cepat sambil melotot, menengok ke kanan-kiri memastikan tidak ada karyawan lain yang mendengar. "Gue di sini staf biasa. Jangan sampai ada yang tahu gue anaknya Om Ardi."

"Iya, iya, ampun!" Rania menyengir tanpa dosa. "Tapi jujur ya, Pak Marko tuh di aslinya seganteng yang di majalah bisnis nggak sih? Gue cuma pernah liat foto—"

Ucapan Rania terhenti saat pintu lift eksekutif di ujung koridor terbuka. Suara langkah kaki teratur melangkah keluar, diiringi aura dingin dan dominan yang mendadak membuat beberapa karyawan yang melintas langsung membungkuk sopan.

Marko Janitra berjalan dengan setelan jas hitam elegan, didampingi oleh Mbak Rani dan seorang pria muda berwajah tampan yang sangat familiar bagi Luna.

Langkah Luna terhenti seketika. Matanya membelalak melihat siapa yang berjalan di samping Marko.

"Kenan?" gumam Luna tak percaya.

Kenan yang menyadari keberadaan Luna langsung melempar senyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya secara terang-terangan. Sementara Marko, yang menyadari interaksi terselubung itu, menghentikan langkah kakinya tepat di depan barisan anak magang baru.

Pandangan Marko tertuju pada Kenan, lalu beralih menatap Luna dengan sorot mata yang mendadak berubah sangat tajam dan tidak bersahabat. Ada kilat ketidaksukaan yang asing terpancar dari manik mata pria matang itu.

"Perhatian semuanya," suara berat Marko menggema di koridor, membuat suasana mendadak hening. "Mulai hari ini, kita kedatangan dua anggota magang tambahan di divisi analisis data."

Marko melirik Kenan, lalu menatap Luna lekat-lekat.

"Kenan dan Rania akan bergabung di tim yang sama dengan Aluna," lanjut Marko dengan nada dingin, lalu melangkah satu langkah mendekati tempat Luna berdiri. Pria itu membungkuk sedikit, berbisik dengan intonasi rendah yang hanya bisa didengar oleh Luna.

"Dan karena tim kamu sekarang ada pria... pastikan kamu menjaga jarak profesionalisme, Aluna. Saya tidak suka ada cinta lokasi di perusahaan saya."

Luna tertegun, merasakan sapuan hawa panas dari tatapan yang tampak seperti rasa cemburu terselubung milik sang CEO. Namun sebelum Luna sempat membalas, Kenan tiba-tiba melangkah maju dan memotong pembicaraan mereka dengan senyum percaya diri.

"Tenang aja, Pak Marko," sahut Kenan santai sambil merangkul bahu Luna di depan semua orang. "Saya sama Aluna udah dekat banget dari kampus. Jadi soal kerja sama tim, Pak Marko nggak usah khawatir."

Seketika itu juga, rahang Marko mengetat keras. Pandangan matanya yang dingin bertambah membunuh saat melihat tangan Kenan mendarat dengan bebas di bahu Luna.

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!