Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
“Nona, apakah Anda menyukainya?”
Hana mengangguk. Dia benar-benar menyukai tempat-tempat yang belakangan ini dipilih Jethro untuknya. Awalnya, dia hanya ingin pergi ke tempat minum-minum untuk melampiaskan stres. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa pria itu justru akan membawanya ke sebuah tempat minum jus buah di pinggir pantai.
Jauh dari ekspektasi.
Justru karena itu, tempat tersebut berhasil melampauinya.
Suasananya hangat dan terbuka. Angin laut yang berembus lembut, suara ombak, serta suasana santai di sekelilingnya membuat Hana sejenak melupakan penat yang selama ini menumpuk di kepalanya.
Dia bersenang-senang.
Benar-benar bersenang-senang setelah sekian lama.
Dan sejujurnya, kehadiran Jethro turut membuat waktu singkat itu terasa lebih menyenangkan. Namun, Hana masih menganggapnya sederhana. Mungkin karena Jethro lebih muda darinya, sehingga pria itu memang lebih tahu bagaimana cara menikmati hidup.
Itulah sebabnya sekarang mereka kembali menyusuri jalan, mencari tempat lain untuk dituju.
Jethro memegang kemudi dengan tenang. Sesekali, dia melirik ke arah Hana, meski perempuan itu jelas menyadari setiap tatapannya.
“Kenapa melihatku begitu?”
Jethro tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Tidak, Nona. Saya hanya senang melihat Anda juga senang.”
Hana yang sedang mengunyah cokelat mengangguk. Tidak ada salah tingkah ataupun salah paham dalam pikirannya.
“Ya. Semua ini juga berkat kamu. Terima kasih banyak, Jethro. Terima kasih juga untuk cokelat yang sepertinya tidak pernah habis ini.”
Dia mengangkat bungkus cokelat itu dengan ekspresi kekanak-kanakan.
Jethro tertawa.
Entah sudah berapa kali dia dibuat tidak habis pikir oleh tunangan sang majikan. Bagaimana mungkin seorang pria yang telah menjalin hubungan begitu lama dengan Hana masih saja mengulur-ulur pernikahan mereka?
Bagi Jethro, itu bukan sekadar tindakan tidak sopan. Itu adalah bentuk menyia-nyiakan seseorang yang seharusnya dihargai.
Dan semakin sering melihat Hana seperti sekarang—tersenyum, tertawa, dan sedikit melupakan masalahnya—semakin sulit pula baginya untuk menyukai Alexander.
Sebaliknya, perasaan sayangnya kepada Hana justru tumbuh tanpa dia sadari.
---
DRRTTTTT.
DRRTTTTT.
DRRRTTTT.
Getaran ponsel dari dalam tas Hana membuat keduanya spontan saling menatap.
Mereka sama-sama menduga itu mungkin ayah Hana. Belakangan ini, pria tua itu memang semakin sering menelepon hanya untuk memarahinya.
“Nona, mungkin itu orang tua—”
“Alexander?”
Jethro terdiam.
Alisnya perlahan bertaut begitu mendengar nama itu.
“Kenapa tidak diangkat, Nona?”
Hana menatap layar ponselnya.
Aneh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia justru lambat bereaksi ketika melihat nama Alexander muncul di layar.
Dulu, satu panggilan darinya selalu cukup membuat Hana segera meraih ponsel.
Sekarang?
Dia hanya diam.
“Nona.”
Panggilan Jethro menyadarkannya.
Hana menoleh. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa canggung di hadapan pria muda yang beberapa hari terakhir justru menjadi orang yang paling sering membuatnya merasa lebih baik.
“Oke.”
Dia mengusap layar, menerima panggilan tersebut.
“Halo.”
Suara Alexander terdengar dari seberang.
“Hana, kamu di mana?”
“Aku di jalan. Kenapa?”
Ada jeda singkat.
“Maaf baru menghubungimu. Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.”
Hana langsung tahu apa yang ingin dibicarakan.
Pernikahan mereka.
Sesuatu yang bahkan sudah berhenti dia pikirkan karena terlalu kecewa untuk berharap.
Tanpa sadar, pandangannya kembali jatuh kepada Jethro.
Jethro hanya mengangkat alis, lalu memberi isyarat kecil dengan tatapan matanya.
Hana mengangguk.
Benar.
Alexander meminta bertemu.
Jethro langsung memperlambat laju mobil. Naluri profesionalnya bekerja lebih dulu. Urusan majikan harus didahulukan, tentu dia harus mengubah arah.
Namun, baru saja mobil mulai berbalik, Hana menatapnya dengan mata membesar.
Jethro mengira tatapan itu adalah teguran.
Refleks, kakinya menginjak rem.
“Ah!”
Tubuh Hana terdorong sedikit ke depan.
“Nona, maaf! Anda—”
“Diam.”
Entah bagaimana, tangan Hana sudah lebih dulu menutup mulutnya.
Jethro membeku.
Begitu pula Hana.
Mata mereka bertemu.
Tidak ada satu pun dari keduanya yang bergerak.
Bibir basah Jethro menyentuh telapak tangan Hana. Hembusan napasnya terasa hangat di kulit perempuan itu.
Hana menelan ludah.
Jethro menarik napas perlahan, dan aroma lembut dari tangan Hana memenuhi inderanya.
Sesaat, suara Alexander di telepon seperti menghilang dari dunia mereka.
“Hana?” Suara itu kembali terdengar.“Kamu tidak apa-apa?”
Hana tersentak. “A-aa... iya. Aku baik-baik saja.”
Dia buru-buru menarik tangannya.
“Tapi maaf, Alexander. Sekarang aku belum bisa bertemu denganmu.”
Di seberang sana, Alexander tidak langsung menjawab.
Sebenarnya, dia sudah menduga kemungkinan itu. Setelah beberapa kali menjadi pihak yang membatalkan janji secara sepihak, dia tidak punya alasan untuk terkejut ketika Hana melakukan hal yang sama.
Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Hana meminta maaf.
Dan entah kenapa, permintaan maaf itu justru membuatnya semakin gelisah.
“Alexander, kita bicara lagi nanti, ya. Sekarang aku sedang sibuk.”
“Tunggu, Hana—”
TET.
Panggilan berakhir.
Hana menyandarkan punggungnya ke kursi. Tubuhnya menegang.
Dia masih tidak berani menoleh ke samping.
Baru beberapa detik lalu dia menutup mulut Jethro tanpa berpikir, dan sekarang dia bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Benar-benar konyol.
“Nona...”
Suara Jethro akhirnya terdengar.
“Anda tidak jadi bertemu tunangan Anda?”
Hana mengangkat dagu dan menatap lurus ke depan.
“Tidak.”
Nada suaranya dibuat setenang mungkin, kembali pada sikapnya sebagai seorang Nona besar.
“Aku ingin jalan-jalan saja.”
Dia menarik napas pendek.
“Aku ingin pergi ke vila di pinggir sungai yang kamu ceritakan.”
Jethro terdiam sesaat.
Lalu sudut bibirnya terangkat. “Baik, Nona.”
Mobil kembali melaju.
Kali ini, Jethro tidak bertanya apa pun.
Namun, senyum tipis di wajahnya bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
---
Sementara itu, di kediaman Kim, Alexander berbalik perlahan.
Kedua orang tuanya masih duduk tidak jauh darinya.
Dia tahu dirinya bersalah.
Dan sekarang, dia masih berada di tengah persidangan yang belum selesai.
Alexander mengusap wajahnya berat.
Langkahnya terasa semakin berat ketika dia kembali mendekati kedua orang tuanya.
“Hana sedang sibuk. Dia belum bisa bicara sekarang.”
Jiah mengusap pipinya yang kembali basah oleh air mata.
Sebagai seorang perempuan, dia merasa sangat bersalah kepada Hana.
Dia merasa gagal membesarkan putranya.
Namun, di sisi lain, sebagai seorang ibu yang baru mengetahui bahwa dirinya akan memiliki cucu, ada kebahagiaan yang tidak bisa sepenuhnya dia singkirkan.
Hanya saja, dia belum berani bertanya bagaimana semua itu bisa terjadi.
Sementara Barack, dia elum membuka mulut sejak tadi.
Dan justru itulah yang membuat Jiah semakin takut.
Suaminya terlalu diam.
Napasnya terdengar berat dan teratur, tetapi ketegangan di wajahnya menunjukkan bahwa ada amarah besar yang sedang ditahannya.
Alexander akhirnya memberanikan diri duduk di hadapan mereka.
“Ayah...”
Tidak ada jawaban.
“Ayah.”
Dia mencoba menyentuh tangan Barack.
Namun, Jiah segera menahan tangannya. “Jangan.”
Alexander menatap ibunya. Jiah menggeleng pelan.
Dia tidak ingin terjadi lagi pertengkaran fisik di antara ayah dan anaknya.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Barack mengangkat kepala.
Tatapannya langsung menghantam mata Alexander.
Dingin.
Berat.
Dan sulit ditebak.
“Jadi...”
Suaranya rendah. “Nama perempuan itu Soraya?”
Alexander langsung menunduk.
Jawaban itu sudah cukup. Barack mengembuskan napas panjang melalui hidung. “Katakan.”
Tidak ada kelembutan dalam suaranya. “Perempuan seperti apa Soraya?”
Alexander mengangkat wajahnya perlahan. Barack melanjutkan, “Dan jangan mencoba menyembunyikan apa pun dariku.”
Alexander menelan ludah.
“Dia...”
Dia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.
“Dia seorang mahasiswa tingkat akhir.”
“Apa?”
Suara Jiah pecah.
Perempuan itu langsung berdiri.
Wajahnya berubah pucat.
“Alexander, apa yang sebenarnya kamu katakan?”
“Ibu—”
“Kamu bilang dia mahasiswa?”
Jiah menatap putranya tidak percaya.
Tingkat akhir mungkin terdengar cukup dewasa. Namun, ketika dibandingkan dengan seorang pria berusia kepala tiga seperti Alexander, perbedaan usia dan pengalaman hidup itu tetap terasa mencolok.
“Alexander, jangan membuat Ibu takut.”
Alexander menggeleng cepat. “Maaf Ibu.” Dia menarik napas dalam. “... Tapi aku akan bertanggung jawab.”
Tawa pendek terdengar. Bukan tawa bahagia.
Barack tertawa sinis sambil menggelengkan kepala.
“Kamu berurusan dengan anak kemarin sore.”
Tatapannya semakin tajam. “Lalu kamu bilang akan bertanggung jawab semudah itu?”
Alexander terdiam.
“Katakan padaku bagaimana caramu bertanggung jawab kepadanya.”
Barack sedikit membungkuk ke depan.
“Lalu bagaimana dengan Hana?”
Alexander mengepalkan tangannya.
“Bagaimana dengan nama baik Hana?”
Suara Barack semakin rendah.
“Dan bagaimana dengan nama baik keluarga kita?”
Satu per satu pertanyaan itu menghantam Alexander tanpa memberinya kesempatan untuk mengelak.
Dia menundukkan kepala.bBahkan untuk membela diri pun dia tidak sanggup.
Namun, sebelum percakapan itu berlanjut—
“Barack.”
Suara dari arah pintu membuat ketiganya menoleh.
“Conrad.”
Jiah segera menyeka air matanya.
Conrad berdiri di sana dengan senyum yang dipaksakan.
“Ha-ha-ha...”
Tawa canggungnya terdengar sangat tidak sesuai dengan suasana ruangan.
“Oho-ho... menantuku akhirnya kembali dari pekerjaan sibuknya.”
Alexander tidak mampu membalas dengan senyuman.
Dia hanya maju dan menerima pelukan Conrad.
“Paman, apa kabar?”
Conrad menepuk bahunya sebelum melepaskan pelukan.
“Alexander, Alexander...”
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas cokelat tuanya.
“Kalau bukan karena kesibukanmu, seharusnya sekarang kamu sudah bisa memanggilku Papa.”
“Ha-ha-ha...”
Conrad tertawa sendiri.
Tidak ada yang ikut.
Barack hanya diam.
Jiah memalingkan wajah.
Sedangkan Alexander berdiri kaku.
Ketegangan yang sebelumnya memenuhi ruangan kini terasa semakin aneh.
“Mari, silakan duduk dulu.”
Jiah buru-buru memotong suasana.
Conrad menurut dan mengambil tempat di salah satu kursi.
Namun, tidak sampai satu menit dia duduk, pertanyaan yang sejak awal menjadi alasan kedatangannya akhirnya keluar.
“Jadi... kapan pernikahan kalian dilaksanakan?”
Ruangan kembali hening, dan kali ini lebih lama.
Barack menatap lurus ke depan. Jiah menahan napas dan Alexander yang menunduk.
Conrad mengerutkan dahi, mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Jiah akhirnya angkat bicara.
“Entah.”
Suaranya pelan.
“Tadi Alexander baru saja mencoba menghubungi Hana, tetapi dia bilang belum bisa bertemu.”
Conrad terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang. “Hana bilang, belum bisa bertemu? Anak itu benar-benar....”