NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 01

Sore yang teduh, si taman pusat kota. Berbagai aktivias dari para manusia sedang terjadi si sana, ada yang sedang memancing di pinggir danau, ada yang tengah berolahraga, para ibu berjalan-jalan dengan anaknya, lalu para pasangan muda yang sering berkunjung untuk menikmati indahnya sunset di pinggir Danau itu.

Semua benar-benar berjalan dengan baik, seperti yang seharusnya di harapkan oleh para pengunjung.

Namun, hal tak selamanya mulus, dalam apa pun situasi pasti selalu ada sebuah masalah, contohnya untuk pasangan muda yang sedang berdiri di bawah naungan pohon besar.

“Kita selesai,” ucap Bianca kepada Arsenio yang membeku mendengarkan perkataan pacarnya.

“Ow ternyata semudah ini meminta putus?, sudahlah. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik Arsen!.” Bianca yang hendak pergi itu, kini tertahan oleh genggaman tangan Arsen yang menggenggamnya dengan erat.

Pria itu tak membiarkan gadis itu untuk pergi begitu saja, dan bahkan kini ia menariknya untuk kembali dalam pelukannya.

“Tidak, jangan putus Bianca, jangan putus! aku mohon padamu!.” Arsenio membelai rambut panjang milik Bianca, berharap bahwa ia akan luluh dan mencoba mempertahankan hubungannya sebisa mungkin. Namun, Bianca yang sudah tak bisa itu pun, pada akhirnya mendorong tubuh Arsen. Ia meronta, mencoba lepas dari pelukan pria itu. Namun, sekeras apa pun usaha Bianca, Nathan tak akan melepaskannya begitu saja. Dia akan menariknya kembali dan memeluknya dengan erat, lagi dan lagi.

“Arsen, jangan buat aku semakin sakit. Jika kamu sayang kepadaku maka lepaskanlah aku. Arsen!.” Bianca membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, setidaknya untuk yang terakhir kali. Ia akhirnya tahu jika rasa sakit itu benar-benar ada dari luka yang ia perbuat sendiri.

“Bianca, kamu tahu? Setiap hari aku berpikir keras, apa aku terlalu keras kepadamu? atau bahkan aku punya salah denganmu, semua tentang kamu selalu ada di pikiranku. Lantas mengapa harus sebuah perpisahan sekarang?.” Arsen melepaskan pelukannya, Ia kini menggenggam kedua bahu gadisnya dan menatapnya dalam-dalam.

“Bianca, lihat aku sayang! Lihat wajah in!” Bianca enggan menatap pria itu, ia terus memalingkan wajahnya dari Arsen.

“Kamu takut, untuk menatap aku karena kamu masih cinta, air mata yang keluar dari mata kamu itu bukti.” Pria itu pun menggenggam kedua tangan Bianca, ia menaruh tangan kanan Bianca di pipinya dan tersenyum.

“Lepaskan!.” Bianca menginjak kaki Arsen.

“AAAAGGGGHHHHHH.” Teriak Arsen kesakitan, lantaran kakinya yang di terinjak oleh Bianca, ia pun menggenggam kaki kanannya yang sengaja di injak oleh Bianca, namun hal itu malah di balas tatapan puas dari pacarnya.

“Sayang, apa yang kurang dari aku. Hem, akanku coba perbaiki semua yang aku bisa sayang,”

Bianca menghembuskan napasnya panjang, ia kemudian membenarkan rambutnya, dan menyisir rambutnya dengan kedua tangan. Lalu setelah itu mulai menjelaskan beberapa hal pada Arsen.

“Dengar ya, Kamu itu tidak kurang. Hanya saja aku yang sudah sangat jengkel dengan mu Arsen, yang pertama. Kamu sering telat datang kalau kita sudah ada janji. Yang kedua, sok narsis di depan cewek lain dan itu menjengkelkan. Yang ke tiga, sikap mu tidak berubah, kamu bahkan tidak bisa dewasa sesuai umur mu, kita berbeda 3 tahun ingat tapi aku yang selalu lebih peka. Aku juga bisa lelah Arsen.” Bianca menjelaskan panjang lebar, namun ternyata Arsen malah menutup telinganya. Benar rupanya perkataan Bianca, bahwa pria ini memang tidak bisa dewasa.

“Kamu lihat, bahkan sekarang kamu tidak menghargai aku sebagai lawan bicara kamu.”

“Sudah, hanya itu dan sekarang kamu ingin kita putus? Bukannya aku tidak bisa dewasa, kamu yang bilang dari awal kalau pacaran tidak boleh terlalu kaku. Kamu suka aku manja sama kamu dan kamu juga sebaliknya!, tapi sekarang apa?, hah.” Gadis itu tak peduli soal soal itu, ia bahkan melanjutkan ucapannya tanpa mendengarkan Arsen berbicara lebih panjang.

“Itu, Masih ada yang ke empat. Kamu Arsen, Kamu terlalu tinggi untuk aku yang pendek.” Mendengar perkataan itu Arsen pun tak terima ia kembali berdiri dan kembali memeluk Bianca.

“Kamu pernah bilang suka cowok tinggi, tinggi ini pas. Aku bisa peluk kamu, bisa jadi penenang saat kamu tantrum, selama ini lari ke mana kamu kalau bukan aku?.” Bianca tersentak, ia menjadi diam sejenak karena tak mampu menjawab sepatah kata pun.

“Masih ada.” Bianca menatap ke atas, ia bisa melihat wajah pacarnya yang masih penuh ketulusan akan-nya.

“Kalau kali ini alasan kamu tepat, aku akan lepaskan kamu.”

Bianca pun mengangguk, ia menghembus kan napasnya. “Aku benci sama penampilan kamu yang kaya berandalan. Tipe aku sekarang bukan kaya kamu lagi, tapi kaya orang di papan reklame itu!.” Bianca menunjuk ke arah papan reklame yang berada di seberang jalan. Pria dengan pakaian jas tampan yang membawa produk shampo sebagai iklan.

“Kamu serius, suka om om?,” pertanyaan Arsen itu kembali membuat Bianca jengkel, ia menginjak kaki Arsen sekali lagi dan mendorongnya.

“Aish sialan, aku suka pria rapi berjas, bukan pria berandalan acak-acakan seperti mu.” Mendengar itu, Arsen pun melihat dirinya sendiri.

“Apa yang salah sama ini, bukannya ini outfit casual sehari-sehari”

“Ini yang buat aku kesal sama kamu, kamu itu nggak pernah peka sama aku. Bukan penampilan kamu yang ini, tapi penampilan kamu yang lain. Pikir saja sendiri!.” Arsen benar-benar tak paham apa maksud dari Bianca.

“Maksudnya apa sih?,”

Bianca yang sudah muak pun memilih pergi, Arsen menggenggam tangan Bianca, ia benar-benar tak membiarkannya pergi begitu saja.

“jangan pergi Bianca, kita masih bisa perbaiki ini!, oke.”

Bianca benar-benar sudah malu, semua orang yang ada di taman itu benar-benar tengah menatap mereka, dirinya benar-benar malu. Karena kini ia sedang menjadi bahan tontonan.

“O ayo lah, tolong lepaskan aku Arsen!. Ini benar-benar memalukan.” Setelah menggenggam tangan gadis itu, kini pria itu beralih memeluk kakinya. Hal itu benar-benar membuat Bianca sangat-sangat malu.

“Tidak akan Bianca, kamu pernah bilang separuh jiwa kamu milik aku. Sampai saat ini seharusnya masih begitu!”

“Tidak, sudah tidak ada alasan lagi karena aku benar-benar muak sama kamu.” Bianca pun mencoba melepaskan lengan Arsen dari kakinya. Namun karena kesulitan, kini gadis itu memilih untuk tetap berjalan pergi dengan Arsen yang masih memeluk kakinya.

"Sialan kau Arsen, ini benar-benar memalukan." Bianca menatap sekitar, melihat semua orang yang tengah menatapnya.

"Aish, sial, aku sudah sangat muak." Bianca kini mengangguk, ia mengalah.

"Baiklah, kita tidak jadi putus." Arsen yang mendengar hal itu pun langsung berdiri.

"Akhirnya, kamu sadar juga sayang."

Dengan secepat kilat, gadis itu kini berlari pergi meninggalkan Arsen. Sebari berteriak. "SEKALI PUTUS YA PUTUS ARSEN."

"Tidak, Bianca...." Arsen kini mengejarnya. Lagi dan lagi, pria itu berhasil menangkapnya. Ia memeluk Bianca dari belakang. Lebih erat dari sebelumnya.

"Jangan seperti ini Bianca, aku mohon!"

Bianca melepaskan genggaman erat itu. Ia kemudian menatap Arsen dengan tatapan yang tajam.

“Ada, satu hal lagi dan itulah yang paling membuat kita tidak bisa bersama”

“Soal apa?”

“Kamu sudah bohongi aku selama ini, dan itu adalah hal yang paling membuat aku benci sama kamu yang sekarang Arsen.”

Arsen pun bingung, namun ia tak mau bingung dengan keadaan ini, Ia berjalan di belakang Bianca dan mengikutinya dari belakang sambil terus meminta maaf.

Bianca menghentikan langkahnya saat ia tahu bahwa pria itu masih mengikutinya. “Berhenti!, Berhentilah mengikuti ku brengsek,” ucapan Bianca itu benar-benar menyayat hati Arsen, Pria itu bahkan kini tengah menekuk kedua lututnya di atas batu batako yang keras dan meringkuk memohon belas kasih.

“Bianca, bagaimana bisa kamu meninggalkan ku setelah semua ini?.” Orang-orang yang berada di taman itu pun tak kuasa melihat Arsen dengan pilu. Mereka mendekati nya dan mulai menenangkan pria itu.

Bianca kini benar-benar pergi, tanpa ada Arsen yang mengikutinya lagi.

“BIANCAAAAAAAA.” Teriakan Nathan menggema, teriakan yang sakit, teriakan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya karena pada akhirnya, gadis yang selama ini ia jaga akhirnya pergi.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!