"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bertengkar
Kaia mengancingkan celemek di pinggangnya, lalu membuka kulkas. Tatapannya menyusuri satu per satu bahan makanan yang telah ia beli sejak siang.
Hari ini Elio pulang dari Semarang. Entah mengapa, sejak bangun pagi tadi ada perasaan kecil yang membuatnya bersemangat.
Sudah tiga hari ia tidak bertemu, Elio sibuk dengan acara grand opening dan ia di Singapore berlibur bersama Sienna.
Ada sesuatu yang muncul dalam hatinya. Ada perasaan rindu yang sulit ia tolak.Mungkinkah ia mulai jatuh cinta dengan suaminya?
Ia mengeluarkan seekor ayam kampung yang telah dipotong, wortel, kentang, daun bawang, seledri, lalu beberapa bumbu dapur.
"Sup ayam..." gumamnya pelan.Ia masih ingat ucapan Maika beberapa minggu lalu.
"Kalau Elio lagi capek pulang kerja, dia paling suka sup ayam hangat. Dari kecil memang begitu."
Kaia tersenyum kecil mengingatnya. Tangannya mulai menghaluskan bawang putih, bawang merah, pala, merica, dan sedikit jahe. Aroma bumbu yang ditumis perlahan memenuhi dapur.
Ia memasukkan potongan ayam ke dalam panci, lalu menuangkan kaldu bening. Uap hangat mulai mengepul.
Sambil menunggu sup matang, ia mencicipi kuahnya sedikit. "Hmm... kurang garam."
Ia menambahkan sejumput garam, lalu mengaduk perlahan. Dan kali ini rasanya pas. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.
Ia mengambil mangkuk putih favorit Elio yang selalu dipakai setiap sarapan. Tanpa sadar bibirnya kembali melengkung.
"Semoga Kak El suka."
Setelah sup matang, ia menata meja makan. Satu mangkuk sup ayam. Sepiring nasi hangat. Segelas air putih.Dan sendok yang ia letakkan sejajar dengan sangat rapi.
Selesai menata semuanya, Kaia berdiri beberapa detik memperhatikan hasilnya. Entah mengapa, ada rasa puas yang sederhana.Meskipun hubungan mereka masih dingin, setidaknya ia masih bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Ia melirik jam dinding.Pukul lima lewat tiga puluh lima menit. Masih ada waktu sebelum Elio pulang.
Tubuhnya terasa lengket karena sejak tadi berdiri di depan kompor. Kaia melepas celemek, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Aku mandi dulu deh. Nanti pas Kak El datang, makanannya masih hangat dan aku udah bersih."
Waktu berjalan, menit berlalu berubah menjadi jam.Elio masuk ke apartemen dengan langkah panjang.Kemeja navy yang melekat di tubuhnya tampak sedikit kusut setelah perjalanan dari Semarang. Di tangan kirinya masih tergenggam koper kecil.
Begitu pintu tertutup,aroma sup ayam langsung memenuhi indera penciumannya. Biasanya aroma itu mampu menenangkan siapa pun yang menciumnya.
Namun tidak hari ini.Tatapan Elio tetap dingin. Di meja makan telah tersaji semangkuk sup ayam yang masih mengepulkan uap tipis.
Di sampingnya ada nasi hangat dan segelas air.
Kaia yang baru keluar dari dapur langsung berdiri. Senyum kecil menghiasi wajahnya. "Kak El... sudah pulang."
Tak ada jawaban. Kaia tetap mencoba tersenyum. "Mau mandi dulu atau makan dulu? Sup nya masih hangat."
Elio berhenti tepat di depan meja makan. Tatapannya jatuh pada semangkuk sup itu beberapa detik.
Lalu tanpa menyentuhnya sedikit pun, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Ini lebih menarik dari pada makan malam."
Nada suaranya terlalu datar.Kaia mulai merasa tidak enak.Elio menggeser layar ponselnya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Kaia.
"Lihat."Kaia menerimanya perlahan. Begitu layar itu menyala, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang.
Foto dirinya bersama Sean di sebuah kafe Singapura memenuhi layar. Sudut pengambilan gambarnya jauh.
Seolah seseorang memang sengaja mengintai mereka.Jantung Kaia berdegup semakin cepat.
Siapa yang memotret?Apa Kak Nena? Tapi tidak mungkin.
Kenapa hanya aku dan Sean yang terlihat? Sementara tak lama Kak Nena datang, dan Sean langsung pamit pergi.
Tangannya mulai gemetar. Ia mengangkat wajah perlahan. "Kak ini..."
"Siapa dia?" Suara Elio rendah. Tidak keras, namun justru membuat tengkuk Kaia meremang.
Ia menelan ludah. "Itu..."
"Jawab."
Bibirnya terasa berat saat ingin mengucapkan nama Sean. Ia menelan ludah membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Itu Sean."
Sorot mata Elio berubah. Ia mengingat nama itu. Kiara pernah bercerita tentang adiknya yang menjalin hubungan dengan pria keturunan Tionghoa saat kuliah.Hubungan yang ditentang Fadlan karena perbedaan keyakinan.
Elio tertawa pendek. Tawa tanpa sedikit pun rasa lucu. "Jadi selama di Singapura... kamu menemui mantanmu."
Kaia buru-buru menggeleng. "Enggak, Kak. Kami benar-benar nggak janjian.Aku ketemu dia nggak sengaja di kafe."
"Dan kamu duduk hanya berdua." Mata tajam itu menatap lurus.
"Itu karena Kak Nena lagi beli titipan temannya."
Elio menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Masih sempat mencari alasan."
"Aku nggak bohong."
"Benarkah?" Elio melangkah mendekat. Tatapannya menekan Kaia hingga tanpa sadar perempuan itu mundur selangkah. "Kamu kelihatan bahagia sekali."
Deg.
Kalimat itu membuat Kaia membeku. "Aku..." suaranya mengecil.
"Kamu bahkan tersenyum saat lihat dia."
"Itu cuma karena aku kaget ketemu teman lama."
"Teman lama?" Elio
menyeringai tipis. "Atau laki-laki yang belum bisa kamu lupakan?"
Air mata mulai memenuhi mata Kaia. "Bukan begitu."
"Bohong!" Kali ini suara Elio meninggi. "Selama ini kamu pura-pura jadi istri yang baik. Masak buat aku. Antar makan siang. Padahal di belakangku kamu masih menemui mantanmu."
Kaia menggeleng. "Aku tidak selingkuh."
"Tidak?" Elio tertawa hambar. "Dulu ibumu merebut suami perempuan lain. Merusak rumah tangganya" Ia berhenti sesaat, tatapannya semakin tajam. "Dan sekarang ternyata anaknya hampir sama. Ingin merusak rumah tangganya sendiri."
Kaia langsung mengangkat wajah. Air matanya jatuh begitu saja. "Jangan hina mama." Suaranya pecah. "Mamaku bukan perempuan seperti yang Kak Elio pikir."
"Omong kosong."
"Mama bukan perebut suami orang!" Tanpa sadar suara Kaia ikut meninggi.
"Aku muak mendengar pembelaan itu." Dengan kesal, Elio melempar ponselnya ke atas meja hingga terdengar bunyi keras.
Prak!
"Aku nggak akan pernah percaya sama perempuan yang masih tersenyum di depan mantannya." Setelah mengucapkan itu, ia berbalik menuju kamar.
Brak!
Pintu ditutup begitu keras hingga dinding apartemen bergetar pelan. Ruangan kembali sunyi. Kaia masih berdiri mematung.
Air matanya terus mengalir tanpa suara. Perlahan lututnya kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh terduduk di kursi makan.
Di hadapannya, semangkuk sup ayam masih mengepulkan uap tipis, sup yang ia masak sejak sore.
Sup yang ia buat sambil membayangkan Elio akan pulang dengan selamat dan mungkin... mengucapkan satu kalimat ucapan terimakasih sederhana.
Namun harapan itu kembali padam. Uap hangat dari mangkuk perlahan menghilang.
Begitu pula harapan kecil di dalam hati Kaia.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya *
*Terimakasih 🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁