Su Yinyin adalah aktris cantik yang baru mekar. Ia banyak memghabiskan waktu bersama pria tampan dan mempermainkan mereka. Semua mengagumi dan mencintai nya. Namun, bagaimana jika ia harus masuk ke dalam novel berlatar kuno dan menakhlukan hati seorang pangeran kedua yang dingin dengan tingkat cinta minus seratus! Gila itu sih bukan cinta tapi sudah tidak cinta dari awal!
Belum lagi ditambah konflik Dikrit Kaisar yang mengharuskan pangeran kembali menikahi Putri Mahkota dari Utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Sinar matahari sore memantul lembut di atas lantai kayu ulin ruang arsip istana dalam. Deretan rak tinggi yang dipenuhi gulungan bambu dan kertas beras tua menjulang tinggi ke langit-langit ruangan, mengeluarkan aroma khas kertas usang yang bercampur dengan bau debu bertahun-tahun.
Su Yinyin duduk di balik meja kerja kayu mahoni yang luas. Di hadapannya tertumpuk puluhan dokumen laporan militer dari divisi pertahanan ibu kota—sisa-sisa administrasi peninggalan faksi Permaisuri yang penuh dengan manipulasi anggaran dan data prajurit fiktif.
Kriet.
Pintu ruang arsip berderit pelan. Mo Jue melangkah masuk membawa sebuah nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring kue kering beraroma kayu manis buatan dapur istana. Pria itu mengenakan jubah santai berwarna abu-abu gelap tanpa atribut kebesaran, membuat garis wajahnya yang tegas tampak sedikit lebih lembut.
Mo Jue meletakkan nampan itu di atas sudut meja Su Yinyin, lalu menarik kursi kayu di sebelah istrinya dan duduk tanpa bersuara.
"Istirahatlah sebentar," ucap Mo Jue rendah, suaranya mengalun tenang di tengah kesunyian ruang arsip. "Kau sudah membaca dokumen-dokumen itu selama hampir tiga jam tanpa berpindah posisi."
Su Yinyin menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kuas kaligrafi yang dipegangnya, lalu meregangkan bahunya yang terasa kaku. Matanya melirik sekilas ke arah cangkir teh yang mengepulkan uap hangat.
"Aku hanya ingin memastikan tidak ada celah sekecil apa pun yang terlewat," balas Su Yinyin sambil tersenyum tipis, menerima cangkir teh dari tangan suaminya. "Para loyalis faksi Permaisuri di divisi logistik militer sengaja memanipulasi data suplai makanan prajurit selama tiga musim berturut-turut. Jika kita tidak membereskannya sekarang, hal ini bisa jadi bom waktu saat musim dingin berikutnya tiba."
Mo Jue memerhatikan wajah istrinya yang tampak serius namun memancarkan pesona luar biasa. Jemari pria itu terulur perlahan, merapikan beberapa helai rambut Su Yinyin yang terjatuh membingkai pipi wanita itu.
"Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian," kata Mo Jue lembut. "Aku sudah mengerahkan Kasim Gui dan beberapa perwira kepercayaan untuk menyita seluruh buku besar keuangan militer pagi tadi. Orang-orang yang terlibat penyelewengan itu sudah digiring ke penjara bawah tanah."
Su Yinyin menyesap tehnya, merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya. "Baguslah kalau begitu. Setidaknya kita bisa memotong tangan-tangan kotor mereka sebelum mereka sempat menyusun rencana perlawanan balik."
Suasana kembali senyap selama beberapa saat, diisi oleh suara deburan angin sore yang menggoyang dedaunan di luar jendela.
Tiba-tiba, Kasim Gui muncul di ambang pintu dengan langkah tergesa-gesa namun berusaha diredam. Wajah tua kasim itu tampak ragu-ragu, memegang secarik surat kecil bersegel lilin biru di tangannya.
"Ampuni hamba karena mengganggu waktu istirahat Yang Mulia dan Putri," kata Kasim Gui setengah berbisik sambil membungkuk dalam-dalam. "Tapi... ada utusan rahasia dari gerbang utara yang menyampaikan pesan mendesak ini khusus untuk Putri Su Yinyin."
Su Yinyin dan Mo Jue saling bertukar pandang. Segel lilin biru bukanlah cap standar istana kekaisaran maupun faksi utara milik Bailu. Itu adalah simbol tanda pengenal dari luar tembok ibu kota.
Su Yinyin mengangguk memberi izin. Kasim Gui melangkah maju, meletakkan surat itu di atas meja, lalu buru-buru mundur meninggalkan ruangan.
Su Yinyin merobek segel lilin biru tersebut dan membentangkan kertas kecil di dalamnya. Sekilas ia membaca barisan kalimat singkat yang tertulis di sana, manik matanya mendadak menyempit.
Mo Jue, yang memerhatikan perubahan ekspresi di wajah istrinya, langsung merapatkan duduknya. "Ada apa? Apa isi surat itu?"
Su Yinyin mendongak, menatap mata kelam suaminya dengan tatapan serius. "Surat ini bukan dari musuh di istana... melainkan dari seseorang dari masa lalu keluarga asliku yang mengklaim tahu persis alasan mengapa tubuh ini dipilih dan dijebak masuk ke dalam pusaran intrik kekaisaran sejak hari pertama."
***
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️
permaisuri
jika kau berdamai dgn mu jue pasti hidupmu akan tenang
TPI sayang sekali kau selalu mengusik singa yg sedang tidur
lalu kenapa seorang permaisuri begitu merasa terancam dgn kehadiran dan kesuksesan jendral joe
sehingga permaisuri hidup semena mena👊
kena kaisar begitu ceroboh
permaisuri👊
wah gawat, dua wanita dlm satu atap
yg terkadang sejalan😭😭
semoga putri mahkota bisa diajak kerja sama
pasti bisa meluluhkan pangeran kedua
su😁😁
gak tau apa gimana hantun su yinyin😁😁👊
sungguh belum tau rasanya jadi buucin yaa🤣
apa dia dicekik atau terpeleset di kamar🤔🤔🤔