NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27, PENGORBANAN

Pasukan Lirael muncul dari balik hutan — ratusan prajurit yang memakai baju zirah ringan namun bergerak dengan cepat dan teratur, membawa senjata jarak jauh yang mematikan. Dan di barisan depan, di atas kuda putih, berdiri sosok Ratu Seren. Wajahnya masih pucat karena ketakutan masa lalu, namun punggungnya tegak, dan pedang di tangannya terangkat tinggi menandakan bahwa ia telah memilih jalan yang benar.

"Untuk Lirael! Untuk kebebasan!" serunya, dan pasukannya berteriak bersamanya, lalu menyerang barisan belakang pasukan Veyra yang lengah.

Raja Vereon berteriak marah melihat itu. "Pengkhianat! Semua pengkhianat! Aku akan membakar kota kalian sampai rata dengan tanah!"

Namun kemunculan Lirael membalikkan keadaan. Pasukan persekutuan di puncak bukit bersorak, dan Zhoo memimpin serangan balik ke bawah, menyusuri lereng batu, menyerang musuh yang kini terjepit di antara dua kekuatan. Pertempuran itu berlangsung sengit — setiap inci tanah dibayar dengan darah, setiap pohon menjadi saksi sumpah setia dan perpisahan yang menyakitkan.

Di tengah kekacauan itu, Zhoo melihat satu kesempatan. Raja Vereon berdiri di dataran terbuka, dikelilingi pengawal elit, namun jaraknya tidak terlalu jauh. Jika ia bisa menghadapi Vereon — satu lawan satu — perang ini bisa berakhir tanpa lebih banyak darah yang tumpah.

"Tetaplah memimpin mereka," kata Zhoo cepat kepada Elara. "Aku harus menghadapinya."

"Jangan!" Elara mencoba menahannya. "Itu jebakan! Dia ingin kau mendekat!"

"Kau tahu aku tidak punya pilihan," jawab Zhoo lembut namun tegas. "Jika aku tidak melakukannya sekarang, ribuan orang lain akan mati. Percayalah padaku."

Ia berlari menuruni bukit, membelah kerumunan prajurit yang bertarung, pedang di tangan, matanya hanya tertuju pada satu orang. Arvin melihat itu dan segera mengikutinya, membuka jalan dengan pedangnya yang mematikan, menangkis setiap serangan yang mengarah ke Zhoo.

"Pergilah! Aku melindungimu!" teriak Arvin sambil menangkis serangan tiga prajurit sekaligus. "Berakhirilah ini!"

Zhoo berlari terus, hingga akhirnya ia berdiri di hadapan Raja Vereon. Pengawal elit melangkah maju, tapi Vereon mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka mundur. Ia menatap Zhoo dengan tatapan yang penuh kebencian dan rasa heran yang bercampur aduk.

"Kau datang sendiri," kata Vereon pelan, suaranya terdengar di antara suara pedang yang beradu di sekitar mereka. "Kau benar-benar percaya dirimu, anak desa."

"Aku tidak datang untuk membuktikan diriku," jawab Zhoo tenang, pedangnya terangkat siap namun tidak menyerang. "Aku datang untuk mengakhiri ini. Tidak ada lagi yang perlu mati. Serahkanlah pedangmu, dan berhentilah."

Vereon tertawa — kali ini tawanya terdengar pahit dan getir. "Serahkan? Setelah aku membangun kekuasaanku selama puluhan tahun? Setelah aku mengorbankan segalanya demi takhta ini? Kau pikir aku akan menyerah hanya karena kau memintanya dengan kata-kata manis?"

"Kau tidak membangun apa pun," kata Zhoo tegas. "Kau merampas. Kau membangun kekuasaan di atas penderitaan orang lain. Dan itu tidak akan pernah bertahan lama."

"Kita lihat saja!" Vereon melesat maju dengan kecepatan yang mengejutkan. Pedang baja hitamnya menghantam pedang Zhoo hingga hampir terlepas dari genggamannya. Serangan itu berat, penuh amarah yang terkumpul selama puluhan tahun, setiap tebasannya bertujuan untuk membunuh secepat mungkin. Zhoo mundur beberapa langkah, berusaha menyesuaikan diri dengan kecepatan dan kekuatan lawannya. Vereon adalah ksatria terhebat di zamannya — ia telah bertarung sejak kecil, dan setiap gerakannya telah terasah oleh ribuan pertempuran.

Namun Zhoo tidak bertarung dengan amarah. Ia bertarung dengan ketenangan, dengan pikiran yang jernih. Ia tidak menyerang untuk membunuh — ia menyerang untuk membela. Dan di situlah letak kekuatannya. Setiap kali Vereon menyerang dengan ganas, Zhoo menangkis dan mencari celah, tidak terburu-buru, tidak kehilangan kendali.

"Kau lemah!" seru Vereon sambil terus menyerang. "Karena kau peduli pada orang lain! Itu adalah kelemahan terbesarmu! Dan aku akan menggunakannya untuk menghancurkanmu!"

Ia melesat maju dengan serangan yang mematikan, dan Zhoo terpaksa mundur — mundur terus — hingga kakinya menginjak tepi batu yang curam. Di belakangnya adalah jurang yang dalam dan berawa. Tidak ada jalan mundur lagi.

"Berakhirlah!" teriak Vereon, mengangkat pedang tinggi untuk menghantam kepala Zhoo dengan kekuatan penuh.

Namun saat pedang itu turun, Zhoo tidak menangkisnya. Ia melangkah ke samping, menghindari serangan itu sedetik sebelum pedang itu menghantam batu hingga pecah berkeping-keping. Vereon kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat memulihkannya, Zhoo mengulurkan tangan — bukan untuk menyerang, tapi untuk menahannya.

"Serahkanlah!" teriak Zhoo. "Masih ada waktu untuk berhenti!"

Vereon menatap tangan itu, lalu menatap wajah Zhoo. Dan untuk sesaat, di matanya yang penuh kebencian itu, muncul bayangan kesedihan yang mendalam — seolah ia melihat dirinya sendiri, puluhan tahun yang lalu, sebelum kekuasaan merusaknya. Namun ia menepis tangan itu dengan kasar.

"Tidak ada jalan kembali untukku," bisiknya pelan. "Dan jangan kau pikir kau menang, Zhoo. Karena saat kau memegang kekuasaan ini... kau akan mengerti. Bahwa semakin tinggi kau berdiri, semakin berat beban di pundakmu. Dan semakin banyak orang yang kau cintai... yang akan terluka karena kau."

Ia mundur selangkah, ke tepi batu itu sendiri, dan menatap pasukannya yang kini mulai kalah di segala sisi. Lalu ia menatap Zhoo untuk terakhir kalinya.

"Jadilah raja yang lebih baik dariku," ucapnya pelan, hampir tak terdengar. "Atau... kau akan berakhir sama sepertiku."

Dengan itu, ia mundur ke belakang — jatuh ke dalam kabut tebal yang menyelimuti dasar jurang. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang tiba-tiba, menyelimuti seluruh medan perang.

Zhoo berdiri terpaku, tangannya masih terulur ke depan. Ia tidak merasakan kemenangan. Ia hanya merasakan kesedihan yang mendalam — karena di balik kedengkian Vereon, ada seorang pria yang pernah berharap sesuatu yang lebih baik, namun tersesat di jalan yang salah.

Di seluruh medan perang, pedang-pedang perlahan turun. Prajurit Veyra melihat rajanya jatuh. Mereka tidak lagi punya alasan untuk bertarung. Perlahan, satu per satu meletakkan senjata, berlutut menyerah. Perang itu berakhir. Tidak dengan pembantaian, tapi dengan keheningan yang berat dan penuh air mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!