NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur

Seketika pengunjung dan karyawan bank heboh dengan pingsannya Aruna di depan meja customer service. Ibu Salma pun sama terkejutnya dengan yang lain. Aruna shock karena ternyata mertuanya mempunyai uang yang banyak. Kafka memang pernah bilang pada Aruna bahwa Ibu Salma mempunyai simpanan sehingga tidak perlu diberikan uang bulanan. Namun Aruna berpikir bahwa uang simpanan itu hanya sedikit, tidak sampai milyaran. Aruna dibawa pergi ke ruangan khusus agar tak semakin banyak orang yang mengerumuninya.

"Kok ya pingsan tuh kenapa, Aruna? Padahal kan wajar saja punya uang segitu kalau rajin dan telaten menabung," ucap Ibu Salma sambil memijat kepala Aruna yang berada dalam pangkuannya.

"Ini minyak anginnya, Bu." Nita memberikan minyak angin kepada Ibu Salma. Wanita paruh baya itu segera mendekatkan minyak angin itu pada hidung Aruna. Bahkan mengoleskannya pada leher Aruna.

Eugh...

"Minum dulu, Bu." Nita langsung memberikan segelas teh hangat kepada Aruna saat melihatnya sadar.

"Terimakasih, Mbak."

Aruna sudah sadar kalau dirinya ada di bank. Dia masih terkejut dengan apa yang terjadi. Aruna pun dibantu Ibu Salma untuk duduk. Aruna melihat Ibu Salma dengan lekat. Bahkan Aruna terlihat menilai penampilan Ibu Salma yang tampak biasa saja. Hal itu juga yang membuat dia shock dan tak percaya jika Ibu Salma mempunyai simpanan sebanyak itu. Ibu Salma mengelus punggung Aruna sambil tersenyum.

"Kamu pasti masih bingung kan? Nggak usah bingung. Semua orang juga bisa mempunyai uang simpanan sebesar itu. Kamu memangnya pernah lihat Ibu menghamburkan uang? Buat beli makanan saja, Ibu hanya seadanya. Rumah juga begitu-begitu saja, yang penting tidak bocor saat hujan." ucap Ibu Salma menjelaskan.

"Bapak mertuamu itu pensiunan. Uangnya sampai sekarang masuk ke rekening Ibu. Kafka tidak tahu, tenang saja." lanjutnya seakan tahu tentang isi pikiran Aruna.

"Aruna yang kerja bagai kuda di kantor saja, belum punya uang sebanyak itu lho. Makanya Aruna shock," ucap Aruna sambil menghela nafasnya pelan.

"Ibu Salma ini hampir jarang ambil uang, Bu. Biasanya ambil uang hanya 500 ribu berapa bulan sekali. Padahal pensiunan dari suaminya lumayan setiap bulannya," jelas Nita yang selalu melayani Ibu Salma ketika datang.

Aruna hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Nita segera saja menyelesaikan transaksi yang diminta Ibu Salma. Setiap bulannya, uang pensiunan suaminya itu nanti akan diambil oleh Ibu Salma kemudian dimasukkan ke rekening Nasya. Aruna begitu terharu dengan kebaikan Ibu Salma pada cucunya. Menyiapkan cucunya agar di masa depan tidak kekurangan jika dia dan Kafka bercerai.

"Terimakasih, Bu. Aruna tidak akan mengambil sepeser pun uang itu. Semua uang itu untuk biaya pendidikan Nasya," ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca setelah mereka keluar dari bank.

"Kamu ambil juga nggak papa, Aruna. Kamu perlu beli baju yang bagus untuk mulai bekerja lagi. Katanya mau kerja di tempat temanmu kan? Biar Nasya, Ibu yang jaga." ucap Ibu Salma tidak masalah.

"Aku masih ada pakaian yang lama, Bu. Terimakasih sekali lagi ya, Bu." Aruna menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tajam saat mengingat bagaimana perjuangan mertuanya untuk dia dan Nasya.

"Kamu akan rasakan akibatnya, Mas. Membuang istri, anak, dan seorang Ibu yang baik. Padahal mereka tak kurang memberimu dukungan dan kasih sayang. Namun kamu malah memilih untuk memungut benalu," gumam Aruna sambil mengepalkan kedua tangannya.

***

Saat sampai rumah, Aruna terkejut melihat mobil suaminya ada di halaman. Pasalnya ini masih siang hari dan Kafka sudah ada di rumah. Padahal hari ini, Kafka seharusnya sudah masuk bekerja. Ibu Salma membawa Nasya yang sudah pulang sekolah ke rumahnya. Berbeda dengan Aruna yang pulang ke rumahnya sendiri untuk menemui Kafka.

"Sudah pulang? Bukannya hari ini sudah masuk kerja," tanya Aruna sambil meletakkan beberapa sayuran yang tadi dibawanya. Sayuran yang digunakan dirinya agar tidak ada orang curiga dengan kepergiannya bersama Ibu Salma.

"Aku pulang cepat untuk cek keadaan rumah. Katanya semalam ada yang melempar batu ke jendela," ucap Kafka memberikan alasan. Padahal dia pulang ke rumah karena terlambat berangkat kerja dan Silvy tidak ada di apartemen.

"Kata siapa?" tanya Aruna dengan tatapan menyelidik.

"Story tetangga depan di aplikasi pesan," jawab Kafka dengan cepat.

Jantung Kafka berdetak sangat kencang saat ditanya oleh Aruna. Beruntung setelah sampai rumah, Kafka sempat melihat story dari tetangganya tadi malam. Sehingga dia mempunyai alasan darimana mengetahui ini semua. Apalagi Aruna sama sekali tidak memberitahukan kejadian ini. Aruna hanya menganggukkan kepalanya dan menahan tawa karena melihat kegugupan Kafka.

"Kamu darimana?" tanyanya pada Aruna.

"Kok kamu nggak bilang kalau ada orang yang melempar batu? Seharusnya apapun yang terjadi di rumah ini, kamu kasih informasi. Apalagi ada anakku di rumah ini," lanjutnya menyalahkan Aruna.

"Pasar sama jemput Nasya," jawab Aruna yang kemudian memilih pergi ke dapur.

Hei... Aruna...

"Kenapa kamu nggak ngasih tahu?" seru Kafka lagi.

"Nggak penting. Kamu juga nggak akan datang dan mencari tahu siapa pelakunya," seru Aruna dengan raut wajah kesalnya.

Aruna sangat kesal pada Kafka yang seakan menjadi korban. Padahal di balik ini semua, dia adalah pelakunya. Namun raut wajah Kafka sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Rasanya Aruna ingin melempar bayam di tangannya ke arah wajah Kafka. Namun dia harus sabar dan bermain cantik. Biar lah nanti Kafka yang shock kalau istrinya yang dianggap kumal dan tak menarik ini bisa membuatnya jantungan.

"Jelas aku akan cari tahu pelakunya dong. Enak saja, dia harus ganti rugi." seru Kafka menggebu-gebu.

"Harus ganti rugi?" Aruna membalikkan badannya kemudian berjalan mendekat Kafka dengan pelan. Sedangkan Kafka langsung memundurkan langkahnya.

"Iya, harus ganti rugi. Itu kaca kan juga butuh uang buat ganti. Masa melompong kaya gitu. Nanti maling ada yang masuk," ucap Kafka memberikan alasan.

"Nggak usah diganti, toh kamu juga jarang berada di rumah kan? Lagian selama ini kamu juga tidak peduli Nasya bagaimana. Jangan sok peduli sama Nasya. Bahkan selama dia sekolah, kamu belum pernah memberinya uang saku seratus perak pun." ucap Aruna sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah wajah Kafka.

Aruna muak dengan tingkah Kafka yang sok peduli pada anak dan istrinya. Padahal Kafka selama beberapa tahun ini sangat acuh. Saat dulu sebelum berubah, Kafka memang sedikit pelit. Namun Aruna masih bisa menolerirnya. Sekarang, tidak lagi. Dia lelah dan ingin segera membuat Kafka pergi dari rumahnya ini. Namun Kafka harus merasakan kepahitan dulu.

"Oh ya... Aku akan kembali bekerja. Ini bukan ijin, tapi pemberitahuan saja. Aku akan bekerja di tempat yang lama. Jadi kita bisa satu perusahaan lagi," ucap Aruna dengan senyum palsunya.

Deg...

1
E F
lanjuttt thor💪🙏😍
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!