Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Minggu, Taman Kota, dan Insiden Balon Udara
Di dapur, aroma harum nasi goreng mentega buatan Mila menyeruak indah. Mila berdiri anggun mengenakan gaun kasual berwarna pastel, sementara Chiko sibuk memotong buah naga di sampingnya. Pria itu memakai kaus polos dan celana kain biasa, lengkap dengan kacamata tebalnya yang ikonik.
"Pah, potongannya tipis-tipis saja ya untuk Lala," puji Mila manis seraya mematikan kompor.
"Siap, Bunda! Ini sudah diiris presisi," sahut Chiko polos. Presisi sampai ketebalan 0.2 sentimeter dengan presisi bedah, batinnya jujur.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mungil yang cepat memecah ketenangan dapur. Puk-puk-puk!
"Papaaa! Bundaaa! Lihat! Panda dan Lala punya baju baru!"
Lala muncul sambil membawa boneka pandanya yang kini dipasangi pita merah jambu raksasa di leher. Bocah berusia empat tahun itu memakai gaun balon warna kuning cerah, membuatnya terlihat persis seperti anak ayam menggemaskan yang bisa berjalan.
"Wah, cantiknya anak Bunda!" puji Mila sambil mengangkat Lala ke pangkuannya dan mengecup pipinya yang kenyal.
"Hari ini kita jadi ke taman kota, kan, Pah?" tanya Lala dengan mata bulatnya yang berbinar-binar. "Panda bilang, kalau tidak ke taman kota hari ini, dia mau mogok makan biskuit!"
Chiko tertawa renyah sambil mengacak rambut gelombang Lala. "Jadi dong! Papa sudah siapkan bekal buah dan jus jeruk segar."
Taman Kota Pertiwi dipenuhi oleh keluarga yang bersantai, anak-anak yang berlarian, dan penjual mainan yang menjajakan barangnya.
Di sudut taman dekat danau buatan, ada atraksi utama hari ini: sebuah balon udara panas raksasa berwarna-warni yang ditambatkan ke tanah dengan tiga utas tali baja tebal. Balon udara itu disewakan untuk pengunjung yang ingin melihat pemandangan kota dari ketinggian lima puluh meter.
Lala duduk di atas kain piknik, memegang kotak biskuit panda dengan satu tangan dan es krim cokelat di tangan lainnya.
"Pah, balon udara itu besar sekali ya! Seperti onde-onde raksasa yang mau meledak!" celoteh Lala sambil menunjuk ke atas.
Chiko tersenyum sambil membetulkan posisi kacamatanya. Namun, secara refleks, mata Chiko memindai struktur tali penambat balon udara tersebut melalui pindaian mikro lensa kontaknya.
Tali baja nomor tiga mengalami kelelahan material sebesar 42 persen. Pengunci hidrolik di landasan juga aus. Sangat ceroboh, analisis Chiko prihatin.
Di saat yang sama, Mila yang duduk di samping Lala menyeruput teh dinginnya. Tatapan matanya yang jernih juga sempat melirik ke arah petugas pengelola balon udara di dekat landasan.
Operatornya mabuk, napasnya berbau alkohol murah, dan fokusnya teralih pada ponsel. Keselamatan pengunjung sangat memprihatinkan, batin Mila dingin.
"Bunda! Lala mau beli balon bentuk kelinci yang di sana!" jerit Lala menunjuk penjual balon di dekat dermaga danau.
"Ayo, Bunda antar," kata Mila lembut sambil berdiri. "Pah, titip barang-barang sebentar ya."
"Siap, Bunda. Hati-hati ya," jawab Chiko lembut.
Lala bergandengan tangan dengan Mila menuju penjual balon. Namun, di tengah jalan, lencana panda di dada Lala kembali bergetar halus. Bzz-bzz.
Sensor mikro Lala mendeteksi sesuatu yang ganjil: Sistem tekanan gas pada balon udara raksasa mengalami lonjakan drastis secara tiba-tiba!
Lala menoleh cepat ke arah landasan balon udara. Tiga anak kecil baru saja naik ke keranjang balon udara tanpa didampingi orang tua, sementara operatornya yang mabuk secara tidak sengaja menekan tuas pelepas tekanan utama!
KREEEKKK... BLETAK!
Tali baja penambat yang sudah aus itu mendadak putus! Akibat sambaran angin kencang dan lonjakan gas panas, balon udara raksasa itu terlepas dari landasan dan meluncur naik ke udara secara tak terkendali!
"TOLONGGG! ANAK SAYA DI DALAM!" teriak seorang ibu di darat histeris.
Kerumunan warga di taman kota seketika gempar dan panik.
Di tempat piknik, Chiko langsung berdiri tegak. Wajah penakutnya hilang berganti menjadi raut tegas sang penguasa teknologi. Tali penambat putus dan katup pembuangan gas tersumbat! Dalam dua menit balon itu bisa meledak di udara!
Chiko berpura-pura panik dan berlari ke arah semak-semak di balik toilet umum. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan pemancar sinyal nirkabel tingkat tinggi untuk mengambil alih sistem pengatur katup gas balon tersebut secara jarak jauh lewat satelit Leonhart.
Di tempat penjual balon, Mila juga bertindak cepat. Tanpa membuang waktu, ia mendorong Lala secara lembut ke dalam dekapan penjual mainan.
"Pak, tolong jaga anak saya sebentar!" bisik Mila.
Mila berlari menuju sisa tali baja yang tertambat di darat. Dengan gerakan secepat kilat dan refleks atletis luar biasa khas Viper, Mila melompati pagar pembatas, meraih sisa tali baja yang terseret di tanah, lalu melilitkannya ke tiang besi panggung utama untuk menahan laju naiknya balon udara!
SRAAATHHH!
Gesekan tali baja itu membuat sarung tangan kain Mila bergesek panas, tapi otot dan teknik tumpuan tubuhnya yang sempurna sanggup menahan beban balon udara berbobot ratusan kilogram itu agar tidak makin membumbung tinggi!
Sementara kedua orang tuanya sibuk menyelamatkan situasi dari dua sudut berbeda, Lala yang ditinggal di dekat penjual mainan menyipitkan matanya.
‘Wah, Bunda menahan tali baja secara manual dengan teknik tumpuan beban otot tingkat tinggi! Dan Papa di balik semak sedang mencoba meretas katup gasnya!’ analisis Lala kagum.
‘Tapi sinyal satelit Papa terlalu lambat karena terhalang pohon, dan tali tiang Bunda hampir roboh!’
Lala tidak tinggal diam. Ia harus menyelaraskan kerja sama rahasia Papa dan Bunda!
Dengan polosnya, Lala berlari mendekati tiang panggung tempat Mila menahan tali.
"BUNDAAA! ADA SARANG LEBAH DI TIANG!" teriak Lala sangat keras sambil melemparkan biskuit pandanya tepat ke arah tuas pemicu darurat hidrolik yang ada di tiang panggung!
TAK!
Biskuit keras buatan pabrik itu menghantam tuas darurat secara presisi berkat perhitungan sudut parabola anak ber-IQ 210!
BZZZZT! Pengunci hidrolik cadangan di tiang panggung mendadak aktif otomatis, mencengkeram tali baja itu secara mekanis dan mengambil alih beban berat yang ditahan Mila!
"Eh?!" Mila terkejut melihat pengunci darurat tiba-tiba aktif akibat leparan biskuit Lala yang sangat tidak masuk akal itu.
Di saat yang sama, Lala memutar jam tangan Hello Panda-nya dan memancarkan sinyal pemancar penguat (booster) ke arah semak-semak tempat Chiko berada.
Wusss... Sinyal peretasan laptop Chiko yang tadinya tersendat mendadak meloncat menjadi 100% instan!
"Yes! Berhasil terhubung!" seru Chiko kaget di balik semak-semak. Dengan sekali tekan di layarnya, katup pembuangan gas panas di atas balon udara terbuka perlahan.
Balon udara raksasa itu perlahan turun secara stabil dan aman kembali ke darat, disambut sorak-sorai dan tangis haru ribuan pengunjung taman.
Sepuluh menit kemudian...
Suasana taman kembali tenang. Tim medis dan polisi sudah mengamankan lokasi.
Chiko keluar dari balik semak-semak sambil membetulkan kacamatanya yang miring, berpura-pura napasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. "B-Bunda! Lala! Kalian tidak apa-apa?! Aduh, Papa tadi panik sekali sampai sembunyi di toilet!"
Mila melangkah mendekat sambil mengusap tangannya yang agak merah akibat gesekan tali. Ia menyunggingkan senyum lembutnya kembali. "Tidak apa-apa, Pah. Tadi ada bapak-bapak petugas yang cepat tanggap menahan talinya. Papa dari toilet ya?"
"I-iya, perut Papa mendadak mules karena kaget..." Sahut Chiko penuh akting canggung.
di bawah, Lala berdiri di antara mereka berdua sambil memeluk boneka pandanya yang sedikit terkena rumput. Pipinya yang tembam bersemu merah gembira.
"Papa penakut! Masa takut sama balon melayang!" ledek Lala sambil menjulurkan lidahnya yang menggemaskan. "Tapi tidak apa-apa, Lala tetap sayang Papa dan Bunda!"
Chiko dan Mila saling pandang, lalu tertawa bersama. Chiko berlutut dan mengangkat Lala ke atas pundaknya.
"Nah, karena hari ini penuh petualangan heboh, bagaimana kalau kita beli es krim dua porsi untuk Lala?" tawar Chiko.
"HOREEE! DUA PORSI! PAPA DAN BUNDA MEMANG YANG TERBAIK!" seru Lala gembira sambil menepuk-nepuk kepala Chiko dari atas pundak.
Sambil berjalan bergandengan tangan di sepanjang danau taman kota, Chiko merasa beruntung memiliki keluarga yang selamat, Mila merasa lega suaminya tidak terluka, dan Lala tersenyum puas di atas pundak babak barunya.
Tiga pahlawan rahasia itu berjalan pulang bersama di bawah naungan langit sore yang indah—sebuah keluarga paling berbahaya, namun paling penuh kasih di dunia.
Bersambung..