"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Piyama Sutra, Mie Instan, dan Cabai Rawit
"Aska...?"
Suara serak khas bangun tidur itu mengalun sepi di dalam kamar tidur utama yang gelap. Jemari Nadira bergerak meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun yang ia rasakan hanyalah sprei dingin yang kosong. Nadira mengucek matanya perlahan, menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Dengan napas berhembus pelan, Nadira beranjak turun dari tempat tidur. Tanpa merepotkan diri memakai sandal kamar maupun outer linen-nya, ia berjalan melangkah keluar kamar. Piyama sutra satin tipis berwarna champagne dengan tali spageti melekat di tubuhnya, memperlihatkan bahu mulus serta leher jenjangnya yang dihiasi beberapa jejak merah keunguan ulah suaminya tadi sore.
Langkah kakinya yang tanpa alas berjalan pelan di atas lantai marmer dingin menuju sudut koridor lantai dua. Di sana, pendar cahaya lampu kekuningan menyeruak dari balik pintu ruang kerja Askara yang sedikit terbuka.
Klek...
Nadira mendorong pintu ruangan itu perlahan. Di balik meja kerja jati besar, Askara sedang mematikan layar laptopnya usai meninjau laporan keamanan Bimo. Begitu mendengar gesekan lembut pintu, kepala Askara terangkat.
Mata hitam Askara seketika membelalak lebar melihat penampilan istrinya. Pria itu langsung berdiri sigap dari kursinya, melangkah cepat menghampiri Nadira sebelum wanita itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan.
"Nadira! Kok gak pakai sandal kamar sih?" omel Askara cepat namun penuh kecemasan.
Tanpa ragu sedikit pun, Askara merengkuh tubuh ramping Nadira, menyusupkan sebelah tangannya di bawah lipatan lutut dan sebelah lagi di punggungnya, lalu mengangkat tubuh wanita itu secara bridal style. Ia membawanya duduk di kursi kerja empuk milik Askara, memposisikan Nadira berbaring di dalam pangkuannya.
Aska berlutut sejenak di lantai, menggunakan telapak tangan hangatnya untuk mengusap dan membersihkan debu tipis serta rasa dingin dari telapak kaki mulus Nadira.
"Kan udah sering gue bilangin, kaki lo itu sensitif sama dingin. Nanti kalau flu atau masuk angin gimana?" omel Askara protektif, mendongak menatap wajah polos istrinya. "Terus ini lagi... cuma pakai piyama tipis gini tanpa outer malam-malam. Sengaja banget mau bikin suami lo senut-senut?"
Nadira bukannya takut diomeli, ia justru menyunggingkan senyuman manja yang amat menggemaskan. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Askara, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Lagian lo ditinggal tidur sebentar aja udah kabur ke sini," cicit Nadira pelan dengan mata setengah memejam. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Askara, membisikkan sesuatu dengan nada merengek yang amat lirih. "Aska... badan gue pegal-pegal semua tahu. Sakit banget pinggang sama bawah gue..."
Askara terkekeh rendah, mengusap punggung polos Nadira dengan lembut. "Ya maaf, Sayang. Siapa suruh tadi pakai ganti posisi di atas segala? Kan lo sendiri yang bikin suasana makin panas."
"Ih, Askara!" Nadira menepuk dada suaminya pelan, pipinya merona merah. "Pokoknya lo harus tanggung jawab!"
"Tanggung jawab gimana, Hm? Mau dipijitin?" tawar Askara manis.
"Bukan!" potong Nadira cepat, perutnya mendadak berbunyi nyaring yang cukup keras di dalam ruangan hening itu.
Nadira menahan malu, sementara Askara menyunggingkan senyuman miring menggoda.
"Lapar ya, Nyonya Pradipta?" ledek Askara.
"Iya! Gue terbangun gara-gara perut gue bunyi!" rengek Nadira menatap mata Askara dengan binar memohon. "Gue mau makan mie instan kuah. Buatan lo! Pakai telur setengah matang, irisan tomat, sawi hijau segar, terus... iris cabai rawit yang banyak!"
Askara langsung mengerutkan dahinya begitu mendengar kata terakhir. "Cabai rawit? Malam-malam begini mau makan pedas? Gak ada ya, Nadira. Mie instan biasa aja pakai sawi sama telur. Gak pakai cabai."
"Ih! Mana enak mie kuah gak pedas!" protes Nadira melotot. "Pokoknya harus pakai cabai rawit! Lima biji!"
"Satu aja gak boleh, apalagi lima," pangkas Askara tegas sambil berdiri, tetap mendekap tubuh Nadira di dadanya dengan mudah. "Nanti lambung lo sakit, terus meringis-ringis pas tidur."
"Askaaaa! Pelit banget sih!" omel Nadira sepanjang jalan saat Askara menggendongnya turun menaiki tangga menuju dapur bersih di lantai bawah.
Di dapur berkonsep open-space yang megah itu, Askara mendudukkan Nadira di atas kitchen island yang tinggi agar kaki telanjang istrinya tidak menyentuh lantai dingin dapur. Pria itu kemudian menyalakan kompor, mengambil panci kecil, dan mengisinya dengan air bersih.
"Pokoknya harus pakai cabai rawit!" cerocos Nadira dari atas meja dapur, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil cemberut.
Askara mengambil dua butir telur, sawi hijau, dan sebutir tomat dari dalam lemari es. "Gak ada cabai-cabai, Nadira. Ini udah jam dua malam. Makan mie instan aja udah tergolong cheat meal buruk buat jam tidur lo, apalagi ditambah pedas."
"Aska, plisss... tiga biji deh? Dua biji aja!" tawar Nadira memajukan bibirnya beberapa sentimeter. "Gue gak bakal bisa tidur kalau kuahnya hambar!"
Askara meracik bumbu mie ke dalam mangkuk keramik, mengabaikan tatapan memohon dari istrinya. "Keputusan gue udah bulat. Gak pakai cabai."
Nadira menyipitkan matanya. Otak cerdiknya langsung mencari celah untuk menekan suaminya. Ia menegakkan tubuhnya di atas meja dapur, menatap Askara dengan senyuman misterius nan mengancam.
"Oh... gitu ya?" ujar Nadira dengan nada suara yang sengaja dibikin dingin namun menggoda. "Oke fine. Kalau lo gak mau kasih gue cabai rawit malam ini..."
Askara menoleh sambil memotong batang sawi hijau. "Kenapa?"
"Gak ada jatah melayani suami di ranjang buat seminggu ke depan!" tembak Nadira mantap, melipat tangannya dengan percaya diri. "Ingat ya, Askara! Seminggu penuh lo harus tidur memeluk bantal guling, gak boleh sentuh-sentuh gue sama sekali!"
Tuk!
Pisau di tangan Askara seketika berhenti mengiris tomat. Pria itu mematikan aliran air di wastafel, lalu perlahan berbalik menatap istrinya. Iris mata hitamnya menatap Nadira dengan pandangan yang bercampur antara tidak percaya dan gairah yang menuntut.
"Lo... mau ngancem gue pakai jatah?" tanya Askara rendah, melangkah perlahan mendekati kitchen island tempat Nadira duduk.
Nadira mendadak merasa intimidasinya agak goyah melihat cara berjalan Askara yang seperti serigala mengintai mangsanya. Namun ia tetap berusaha mempertahankan muka temboknya. "I-iya! Makanya turuti kemauan gue!"
Askara mengurung tubuh Nadira di atas meja dapur, menumpukan kedua telapak tangannya di sisi kiri dan kanan paha Nadira. Pria itu membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga jarak ujung hidung mereka hanya terpisah beberapa milimeter.
"Ancaman lo agak berbahaya ya, Sayang," bisik Askara dengan suara serak yang begitu seksi di telinga Nadira. "Lo yakin sanggup gak gue sentuh seminggu? Padahal tadi sore aja lo yang lebih semangat membalikkan posisi duluan gara-gara ketagihan."
Wajah Nadira seketika terbakar hebat hingga ke ujung telinga. "A-ASKARA! Jangan diingetin lagi, ih!"
"Satu cabai rawit. Diiris tipis," tawar Askara akhirnya mengalah, menyunggingkan senyuman menang melihat kepanikan di wajah cantik istrinya. "Atau gak sama sekali dan ancaman lo batal detik ini juga?"
Nadira menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang tawaran tersebut sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah deh... satu biji cabai rawit merah yang gede tapi ya!"
Askara terkekeh renyah, mendaratkan ciuman kilat di bibir manis Nadira sebelum kembali ke depan kompor. "Siap, Nyonya Pradipta."
Beberapa menit kemudian, semangkuk mie instan kuah yang harum asapnya membumbung tinggi sudah tersaji sempurna di hadapan Nadira. Rebusan mi yang pas, kuah gurih beraroma bawang, telur setengah matang yang kuningnya masih meleleh manis, potongan tomat segar, sawi hijau, serta irisan satu cabai rawit merah di atasnya tampak begitu menggugah selera.
"Waaaah! Bau enak banget!" seru Nadira berbinar, langsung menyambar sumpit kayu yang disodorkan Askara.
"Makan pelan-pelan, masih panas," pesan Askara penuh perhatian. Pria itu mengambil posisi berdiri tepat di antara kedua paha Nadira yang duduk di meja dapur, membiarkan istrinya makan sambil menyandarkan bahu padanya.
Nadira menyuap mi beserta kuahnya dengan lahap. "Mmmh! Enak banget, Ka! Telurnya pas banget setengah matang! Lo emang suami terbaik!"
Askara tersenyum hangat, jari-jemarinya membelai halus rambut gelombang Nadira yang terurai di punggungnya. Melihat istrinya makan dengan begitu lahap dan bahagia di tengah malam, segala beban ancaman dari Jaster maupun Sagara serasa menguap dari pikirannya.
Apapun yang harus ia hadapi besok di dunia luar, Askara bersumpah akan selalu menjaga kedamaian dan senyuman manja di wajah istrinya ini sampai kapan pun.
semangat terus thor...
/Heart/