NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ila yang aneh...

Aku menelan ludah. Semakin tegang, peluh mulai menetes di pelipis mataku. Kenapa Ila mau? Dia akan ketahuan.

Petugas berseragam lebih gelap mengangguk. “Periksa anak itu”

Ila masih mencengkram tangan kananku. Petugas-petugas yang dari tadi mengiringi mulai melakukan pemeriksaan. Lengkap menyeluruh di bagian-bagian kostum yang Ila pakai. Kantong-kantong di periksa. Gadis itu hanya terdiam. Seakan tidak tahu apa pun.

Beberapa saat, tiada hasil kecuali dompet milik Ila sendiri. Salah satu petugas menyitanya sejenak. Menyerahkan barang tersebut pada petugas berseragam gelap.

Orang itu menerimanya. Membuka dompet.

Senyap, namun tidak dengan perasaan yang terus terselimuti takut dan terdesak.

Pria berseragam hitam menyipitkan mata. Mengambil salah satu kartu.

Jantungku berdetak lebih kencang. Itu pasti kartu identitas Ila.

Detik-detik menegangkan. Di tengah keramaian oprasi.

“Dia bukan gadis yang di cari” Akhirnya pria paruh baya itu berkata. “Tapi kalian sangat aneh menggunakan kostum kartun itu di saat-saat seperti ini”

Aku berhembus lega. Tapi bagaimana bisa? Itu adalah kartu identitas. Ila masih terdiam.

“Pak, bukannya sangat aneh?” Salah satu petugas biasa menyeletuk.

Kepalaku tertoleh. “Apanya?!” Aku berseru. Ada apa lagi.

Tangan Ila mencengkram kuat. Menahanku agar tetap tenang.

“Ya, ini justru sangat mencurigakan. Sejauh ini, gadis ini yang paling memberikan kesan aneh” Yang lain menyahut.

Gawat. Mereka mulai kritis.

“Ah, hanya gelagat kalian saja. Lagi pula perempuan ini buta. Kalian mau terus mengidentifikasinya? Itu sangat tidak sopan” Bapak petugas berseragam lebih gelam membalas.

“Tapi pak”

“Sudahlah jangan skeptis” Pria paruh baya itu mencoba meyakinkan. “Dia bilang matanya sedang sakit. Pekerjaan kita saja tidak di bayar. Kalian mau mengeluarkan dana jika sesuatu terjadi padanya”

Demi mendengar balasan itu. Petugas yang lain terdiam.

“Kalian boleh pergi” Petugas berseragam gelap menadangkan dompet Ila. Aku langsung mengambilnya. Akhirnya. Jantung dan perasaanku benar-benar lega kali ini.

Selesai di sana. Rintik hujan mulai menimpa kulit. Aku menatap ke atas. Hujan turun. Belum deras. Kami langsung beranjak pergi. Melewati gapura besar pembatas kota. Menuju kota sebelahnya. Trotoar tergenang air. Membuat riak ketika usai di lewati. Ila menutup kepalanya. Aku tidak, walaupun juga punya tudung dari kostum. Kami akan terus berjalan menjauh, mungkin lebih ke dalam kota selanjutnya. Setelah itu baru mencari kendaraan.

Hujan semakin deras. Kendaraan di jalan raya masih tertahan, tersendat-sendat. Satu-dua melintas. Lengang, aku banyak-banyak membisik hamdalah dalam hati.

“Apakah kita sudah aman” Aku bertanya.

“Aku tidak tahu” Ila menjawabnya.

Senggang lagi. Di hiasi suasana hujan. Pakaian kami langsung basah.

Ah iya, aku melupakan sesuatu. “sebenarnya apa yang di lihat petugas ketika mendapatkan kartu identitasmu”

Ila tersenyum. “Tinta kartunya luntur”

Tawaku pecah. “Kok bisa?”

“Entahlah. Tapi sepertinya petugas yang ngecek juga agak rabun. Hanya semakin membuatnya malas membaca teks tidak jelas” Ila cengingisan di sampingku.

Aku berhembus, berhenti tertawa. “Lega sedikit”

Ila terbahak. “Kau terlalu tegang tadi”

Aku menggaruk rambut yang tidak gatal.

Masih di atas trotoar. Melewati bangunan kecil dan rumah-rumah. Fokus berjalan dan waspada. Hingga sekitar tiga puluh meter berbelok. Mulai memasuki area kota. Gedung dan bangunan memenuhi ruang, berdiri di samping jalan raya. Kabut hujan samar-samar menutupnya. Suasana cukup hening. Beberapa orang terlihat berdiri di depan payon bangunan atau tempat teduh lainnya. Kami terus berjalan. Tidak peduli apa yang mereka pikirkan.

“Aro” Ila berkata. Memecah senyap.

“Apa?”

“Jika kita berhasil menemui kakekku. Apa yang akan kau lakukan?” Ila bertanya.

Aku terdiam sejenak. Kenapa gadis ini menanyakan itu. “Aku.. Pulanglah. Selesai, yang penting kau selamat”

“Hanya itu?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk. “Iya, kita akan menjalani keseharian masing-masing. Kau Bahagia dengan kakekmu. Aku Bahagia dengan liburanku” Aku sedikit terbahak.

Senggang sejenak. Menyisakan suara hujan.

“Asing?”

“Jelas tidak”

Ila menatap wajahku, rautnya serius. “Bagaimana kau akan melakukannya. Kau akan pulang”

Akhirnya aku mulai paham inti pembicaraan ini. “Hape kan ada” Jawabku ringan.

“Hapemu sudah di rampok gitu kok” Ila menyangkal.

“Kau kan banyak uang. Kau bisa membelikan ku barang itu” Aku membalas sembarang. Mencoba mencairkan suasana.

Lengang sejenak, menunggu jawaban Ila.

Ila mengusap wajah. Basah. Lalu tersenyum –itu senyum paling tulus yang pernah ku lihat. “Kau pantas mendapatkannya. Apapun itu untuk orang yang membuatku akhirnya bisa merasa cukup”

Aku sedikit tersentak. Kikuk menggaruk kepala yang tidak gatal. Itu jawaban luar ekspetasiku. “Cukup?” Aku sedikit terkelagap, salah tingkah.

Ila mengangguk. “Ya, aku tidak pernah mendapatkan pelajaran itu dari keluargaku. Aku akan terus mengeluh, seakan ada yang kurang”

“Kenapa bisa?” Aku bertanya, masih dalam kelu lidah.

“Karena mereka semua sibuk sendiri” Jawab gadis itu.

“Apakah itu lebih menyebalkan dibanding seorang ayah yang tiba-tiba menghilang?”

“Ayahmu seperti itu?” Sekarang gadis itu bertanya.

Aku mengangguk.

Ila menurunkan alisnya “Jelas lebih buruk ayahku, sampai membunuh keluarga sendiri”

Aku terhenyak. Aku lupa akan itu. Lengang lagi sesaat. Bulir air menetes dari kostum kami. Basah kuyup.

“Aro” Ila memanggil namaku lagi.

Tapi jujur saja, ini membuatku semakin membuat perasaanku kacau, kaku, canggung, grogi, apalah.

Ila melebarkan senyum. “Jika kau mau. Kau akan ku jadikan seorang ayah”

Aku tersentak kaku. Memang tidak ceplos. Tapii… argghhh apa ini. “MASIH LAMA GOBLOK!!”

Ila cengingisan.

Tertahan lagi, diriku hancur telak sekarang, pipiku memanas, rasanya ingin lompat.

Belasan meter terlewati. Ila masih senyum-senyum sendiri melihatku. “Gila lu?!!” Bentakku.

Tawa Ila pecah.

Kami akhirnya berhenti di sebuah halte. Tidak ada seorang pun selain kami berdua. Aku berhembus. Baru kali ini aku menghabiskan sepanjang waktuku dengan seorang perempuan. Apa kata orang tuaku nantinya?

Ila menghempakan diri di kursi halte. Memandang hujan di depan.

“Kita menunggu di sini?” Aku bertanya. Jalanan mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat hilir mudik di depan kami.

“Mungkin. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Kita tidak bisa memesan tiket atau ojol” Ila membalas. Matanya memandang kosong.

Itu benar. Ponsel kami akhirnya sama-sama tidak dalam genggaman. “Apakah aman?”

“Aku tidak tahu”

Lengang lagi, menyisakan suara milyaran air hujan yang menghantam permukaan. Malam mulai menyusul. Lampu-lampu jalanan dan gedung sudah dari tadi menyala. Satu-dua mobil kembali melintas di depanku. Sedikit membuyarkan suasana.

Entah aku yang terlalu khawatir, tapi perasaanku, ada yang aneh.

Ila tiba-tiba menoleh ke belakang. Aku ikut tertoleh.

“AWASS” Ila berseru. Mendorong tubuhku ke sembarang arah.

DOR!!

Aku terkejut. Terpental dua meter lalu jatuh terduduk. Ila juga berkelit.

DOR DOR!!

Aku terperanjat mundur. Dua peluru mendarat di depanku. Batu trotoar melesak kedalam. Dari mana asal tembakan ini?

Aku segera bangkit, berlari menjauh. Ini sangat mendadak. Tunggu, kemana Ila?

Ila melesat ke suatu arah. Cepat sekali, hanya modal berlari.

DORR DORR!! Suara tembakan itu terdengar lagi.

Ila seakan tahu arah peluru-peluru itu. Dia berkelir ke samping. Melakukan manuver. Kembali melesat ke depan.

Aku ikut berlari mengikuti arah gadis itu.

DOR!! DOR!!

Ila menghindar lagi. Hebat sekali. Sebarapa kuat instingnya?

Lima meter terlewati satu detik. Ila melompat. Tidak main-main, setinggi dua meter. Kakinya mendarat sempurna di atas tembok pagar. Anak itu menemukan sesuatu, lantas beringsut turun.

Berganti, terdengar suara seruan. Dan hunjaman tinju. Ila menemukan seseorang di sana.

Aku sampai di balik tembok. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dua orang tumbang di bawah gadis itu. Ila menoleh ke arahku. Dia juga merampas dua pistol –yang pasti dari mereka. “Ini petugas yang tadi”

Aku terperangah. Benar. Mereka adalah petugas yang menggiring kami sebelumnya. Semuanya terkapar, tidak bergerak sedikitpun.

“Mereka hanya pingsan” Ila berkata. Dia melirik ke sebuah arah. “Dan ini buruk sekali. Ada satu petugas kabur di balik gedung itu. Dia pasti memanggil bala petugas atau bahkan tentara kesini”

Menatap gedung besar di depan. Aku mengusap wajah Mengingat sebelumnya bertemu tentara di tempat oprasi masal. Seandainya kami harus melawan, apakah aku bisa mengatasi tentara terlatih?

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!