Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mobil yang mereka tumpangi melaju pelan menyusuri jalanan pesisir yang diapit tebing kapur dan pepohonan hijau.
Tak butuh waktu lama, Naren menghentikan kendaraannya di area parkir sebuah warung makan saung kayu yang berdiri kokoh di atas tebing, menyuguhkan pemandangan laut lepas dari ketinggian.
Aroma gurih ikan yang dibakar di atas arang batok kelapa langsung menyambut penciuman begitu mereka melangkah masuk.
Naren memesan tempat di sudut saung yang paling dekat dengan pagar pembatas tebing, membiarkan angin laut bertiup bebas menerpa mereka.
"Kamu mau ikan apa, Tiyas? Di sini ada kakap merah, gurame, sama bawal laut," tanyanya seraya menatap daftar menu.
"Kakap merah bakar aja, Naren. Bumbunya yang manis pedas ya," sahut Tiyas santai, mencoba menyamankan diri di atas lesehan kayu.
"Sip. Mbak, kakap merah bakarnya satu, cumi goreng tepung satu, cah kangkung, sama es jeruknya dua," pesan Naren pada pelayan warung.
Sembari menunggu pesanan datang, hening sempat menyapa mereka.
Namun, bukan lagi hening yang canggung seperti sebelumnya, melainkan keheningan yang nyaman dan menenangkan.
Tiyas melempar pandangannya ke garis cakrawala di jauh sana, sementara Naren tak henti-hentinya menatap lekat paras Tiyas yang kini terlihat jauh lebih cerah dan tenang.
Tak lama kemudian, hidangan makan siang mereka disajikan.
Kepulan asap dari gurame dan kakap bakar bumbu merah melambung hangat, menggugah selera.
"Ayo makan, Bu CEO. Biar ada tenaga buat mikirin jawaban kamu," ledek Naren terkekeh pelan seraya menyodorkan piring ke depan Tiyas.
Tiyas hampir saja tersedak liurnya sendiri, memelototkan matanya gemas ke arah Naren.
"Naren, kita baru saja sepakat buat nggak
ngebahas itu dulu!"
"Bercanda, Tiyas," Naren tertawa renyah, tawa lepas yang membuat matanya menyipit tampan. Ia lalu mengambilkan potongan daging ikan kakap yang tebal dan meletakkannya di atas piring Tiyas.
"Makan yang banyak. Hari ini fokus bahagia dulu."
Mereka menikmati makan siang itu dengan diselingi obrolan hangat dan candaan ringan.
Rasa gurih manis bumbu bakar yang meresap sempurna bercampur dengan kesegaran es jeruk terasa sempurna menutup rasa letih beberapa hari terakhir.
Setelah makan siang usai dan menyelesaikan pembayaran, Naren menuntun Tiyas kembali ke mobil.
Matahari perlahan mulai bergeser ke barat, memancarkan pendar oranye yang hangat di atas permukaan air laut.
Naren melirik Tiyas yang duduk di sampingnya, mengamati wanita itu yang tampak memandangi pemandangan sore dari balik kaca jendela.
"Siap untuk pulang, Tiyas?" tanya Naren lembut seraya memutar kunci kontak.
Tiyas mengalihkan pandangannya pada Naren, menyunggingkan senyum tulus yang begitu manis—sebuah senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya.
"Siap, Naren. Terima kasih ya, untuk hari ini."
Naren mengangguk pelan, jemarinya mengusap lembut puncak kepala Tiyas sebelum kembali memegang kemudi.
"Sama-sama. Kita pulang sekarang."
Sementara itu di rumah kontrakan kecil yang terasa pengap dan berdebu, Gio dan Mia baru saja bangun tidur di jam satu siang.
Sinar matahari siang yang terik menembus celah jendela kusam tanpa hiasan gorden yang layak, menyengat wajah mereka berdua.
Gio menggeliat, merasakan seluruh badannya pegal luar biasa akibat tidur di atas kasur busa tipis tanpa alas yang empuk.
Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, memijat tengkuknya yang kaku dengan wajah cemberut dan napas yang masih berat.
"Mia, buatkan aku kopi," suruh Gio kasar tanpa menoleh, suaranya parau khas orang baru bangun tidur.
Mia yang terlentang di sampingnya ikut terbangun.
Rambutnya berantakan dan matanya sembap bekas menangis histeris semalaman. Mendengar nada memerintah dari Gio, Mia mengerucutkan bibirnya penuh rasa jengkel.
Ia bangkit duduk dan melipat kedua tangannya di dada, menatap Gio dengan sorot mata menuntut.
"Mana uangnya?" semprot Mia judes.
"Di dapur nggak ada apa-apa, Gio! Jangankan kopi, gula sama air galon aja nggak ada! Kamu pikir bikin kopi tinggal simsalabim?!"
Gio mengusap wajahnya dengan kasar, emosinya langsung tersulut.
Kemewahan yang biasa dilayani oleh Tiyas di rumah megahnya kini lenyap total, berganti dengan realita pahit bersama Mia di kontrakan sempit yang bahkan tak memiliki sebungkus kopi pun.
Gio mendengus kasar. Dengan wajah bersungut-sungut, ia merogoh saku celananya yang tergeletak di lantai, mengambil dompet kulitnya yang kini terasa jauh lebih tipis dari biasanya.
Ia menarik selembar uang kertas berwarna biru lalu melemparnya ke atas kasur, tepat di depan tempat duduk Mia.
"Nih," cetus Gio ketus. Ia mengambil dompet dan memberikan uang lima puluh ribu pada Mia.
"Sekalian beli sarapan yang enak," ucap Gio tanpa rasa bersalah, lalu kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa remuk.
Mia membelalakkan matanya menatap lembaran uang lima puluh ribu rupiah di tangannya dengan tatapan tak percaya.
Bibirnya makin mengerucut drastis, diselimuti rasa dongkol yang membakar dada.
"Lima puluh ribu?!" seru Mia dengan nada melengking, menatap Gio yang sudah memejamkan mata lagi.
"Gio, kamu sadar nggak sih ini jam satu siang?! Toko sarapan udah pada tutup! Terus uang lima puluh ribu mau dapat sarapan enak apa buat kita berdua plus beli kopi sama gula?! Kamu pikir ini zaman kapan?!"
"Dapat apa aja lah, Mia! Jangan rewel!" potong Gio membentak dari balik bantalnya.
"Kalo nggak mau beli, nggak usah makan sekalian!"
Mia mengepalkan tangannya erat-erat hingga uang kertas itu remuk di dalam genggamannya.
Rasa penyesalan mendadak menyusup kencang ke dalam benaknya.
Pria yang dulu menjanjikannya kehidupan mewah dan kebahagiaan kini cuma bisa memberinya uang lima puluh ribu di sebuah kontrakan kumuh berdebu.
Dengan langkah menghentak penuh kekesalan, Mia menyambar jaketnya dan keluar menembus teriknya siang, menyadari betapa pahitnya jurang kehancuran yang baru saja mereka gali sendiri.
Mia berjalan dengan langkah menghentak menyusuri gang sempit yang berdebu.
Terik matahari siang menyengat kulitnya, menambah kekesalan yang membakar dada.
Bau sampah dan aroma masakan dari rumah-rumah tetangga bersahut-sahutan, sangat asing bagi hidungnya yang biasa dihirupi wewangian pendingin ruangan rumah mewah.
Mia berjalan menuju ke warung membeli kopi, gula saset, dan dua bungkus nasi uduk sederhana yang tersisa di etalase kusam.
Sembari menunggu bapak pemilik warung membungkus belanjaannya, Mia menatap nanar kembalian beberapa keping uang koin di telapak tangannya.
Matanya mendadak berkaca-kaca, dipenuhi rasa penyesalan yang teramat dalam.
Padahal dulu Naren selalu meratukan nya.
Bayangan masa lalu mendadak berputar hebat di kepalanya.
Dulu, ia tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar. Setiap pagi, Narendra selalu menyiapkan sarapan mewah, menyeduh kopi favoritnya, bahkan menyelimutinya jika ia masih ingin tertidur.
Setiap kali Mia meminta apa pun, Narendra tidak pernah menghitung nominalnya; pria itu selalu memberikan kartu kredit tanpa batas dan memperlakukannya bagai seorang ratu.
Kini, demi pria seperti Gio yang membentaknya dan hanya memberinya lembaran lima puluh ribu rupiah, Mia harus berdiri di warung kumuh ini dengan pakaian kusut dan penderitaan yang baru saja dimulai.
"Ini belanjaannya, Neng," tegur bapak pemilik warung, membuyarkan lamunan Mia.
Mia menerima kantong plastik hitam itu dengan jemari gemetar.
Air matanya menetes pelan, menyadari betapa bodohnya ia telah menukar emas permata demi sebongkah batu kali yang tak berharga.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘