NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Dan Sifat Yang Sama

Suasana meja makan kembali tenang.

Tidak ada lagi perdebatan.

Yang terdengar hanyalah dentingan pelan sendok dan garpu yang sesekali bersentuhan dengan piring.

Lord Ashcroft beberapa kali mencoba membuka percakapan ringan.

Tentang cuaca.

Tentang taman belakang yang baru selesai direnovasi.

Tentang beberapa kegiatan amal keluarga Ashcroft.

Emma menjawab seperlunya.

Singkat.

Sopan.

Sedangkan Nyonya Ashcroft hanya sesekali menanggapi dengan kalimat pendek.

Bagi orang luar...

Makan siang itu tampak seperti jamuan keluarga yang biasa.

Tenang.

Berkelas.

Tanpa pertengkaran.

Namun hanya Emma yang merasakan betapa dinginnya suasana di balik meja makan itu.

Ia diam-diam melirik wanita yang duduk di hadapannya.

Perempuan itu makan dengan anggun.

Gerak-geriknya terukur.

Tatapannya tenang.

Tidak banyak bicara.

Bahkan ketika putrinya duduk tepat di hadapannya.

Tidak ada pertanyaan seperti...

"Apa kabarmu?"

"Apa kau bahagia?"

"Apa kau sehat?"

Tidak ada.

Emma mengembuskan napas pelan.

Dalam hati ia tiba-tiba memahami sesuatu.

"Jadi seperti ini kehidupan Ella selama bertahun-tahun..."

Rumah ini megah.

Mewah.

Tidak kekurangan apa pun.

Namun...

Terasa sangat sepi.

Setelah makan siang selesai, para pelayan membereskan meja.

Emma berdiri lebih dulu.

"Kalau begitu..."

"...aku pamit."

Lord Ashcroft ikut berdiri.

"Sudah mau pulang?"

"Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan di rumah."

Lord Ashcroft mengangguk pelan.

"Baik."

"Aku akan meminta sopir mengantarmu."

"Tidak perlu."

"Sopir dari Alexander Manor sudah menunggu."

Pria itu tidak memaksa.

"Kalau begitu hati-hati."

Emma mengangguk sopan.

"Terima kasih atas makan siangnya."

Nyonya Ashcroft juga berdiri.

Tatapannya tetap datar seperti sejak Emma datang.

"Hati-hati."

"Hm."

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kecupan di pipi.

Tidak ada genggaman tangan.

Salam perpisahan itu terasa begitu formal.

Seolah mereka baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis.

Bukan makan siang antara seorang ibu dan putrinya.

Emma membungkukkan badan sedikit sebagai bentuk penghormatan.

"Permisi."

Lalu ia berbalik menuju pintu utama.

Lord Ashcroft mengikuti hingga ke teras depan.

"Aku senang kau datang hari ini."

ucapnya.

Emma menoleh.

Untuk pertama kalinya hari itu...

Ia melihat sorot mata yang benar-benar tulus.

Pria itu memang dingin.

Tidak banyak berbicara.

Namun perhatian kecilnya terasa nyata.

"Tidak perlu terlalu lama menahan semuanya sendirian."

kata Lord Ashcroft pelan.

"Kalau suatu hari kau ingin bercerita..."

"...rumah ini tetap terbuka untukmu."

Emma terdiam.

Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya sedikit menghangat.

Ia mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Lord Ashcroft hanya menganggukkan kepala.

Tidak lebih.

Namun bagi Emma...

Sikap pria itu jauh lebih menyerupai sosok orang tua dibanding wanita yang melahirkannya.

Mobil Alexander Manor perlahan meninggalkan Ashcroft Manor.

Emma menoleh ke belakang.

Dari balik jendela rumah...

Nyonya Ashcroft masih berdiri dengan ekspresi yang sama datarnya seperti saat mereka bertemu.

Tidak ada lambaian tangan.

Tidak ada senyuman.

Tidak ada tatapan penuh kerinduan kepada putri yang baru saja berpamitan.

Emma mengalihkan pandangannya ke depan.

Lalu mengembuskan napas panjang.

Baru hari ini ia benar-benar mengerti...

Bagaimana kehidupan Ella selama dua puluh tahun terakhir.

Rumah itu begitu megah.

Tidak kekurangan apa pun.

Namun kehangatan seorang ibu nyaris tidak pernah terasa.

Emma lalu teringat pada Richard.

Ayah yang membesarkannya sejak kecil di New York.

Richard memang sering kewalahan menghadapi sifat keras kepala Emma.

Bahkan tidak jarang mereka berdebat karena Emma selalu memilih berjalan dengan caranya sendiri.

Namun di balik semua itu...

Richard tidak pernah berhenti berusaha mendekati putrinya.

Mengajak makan bersama.

Menanyakan pekerjaannya.

Mengkhawatirkannya, meski Emma sering bersikap dingin dan menjaga jarak.

Hari ini, Emma baru menyadari betapa beruntungnya dirinya.

Setidaknya...

Ia tumbuh bersama seseorang yang terus berusaha menjadi seorang ayah.

Sedangkan Ella...

Harus bertahan selama bertahun-tahun menghadapi sikap ibunya yang dingin dan seolah selalu menjaga jarak.

Emma memejamkan mata.

Kemudian muncul satu kesadaran yang membuatnya tersenyum pahit.

Cara berbicara yang tajam.

Sikap dingin.

Sulit menunjukkan perasaan.

Keras kepala.

Semuanya terasa begitu mirip dengan wanita yang baru saja ditemuinya.

Selama ini Emma mengira sifat itu terbentuk karena lingkungan dan didikan Richard.

Namun kini ia menyadari...

Sebagian dari dirinya mungkin memang diwarisi dari ibu kandungnya.

Ironisnya...

Sifat yang paling ia benci dari wanita itu ternyata juga hidup di dalam dirinya sendiri.

Suara mesin mobil Alexander Manor perlahan menghilang dari halaman.

Keheningan kembali menyelimuti Ashcroft Manor.

Nyonya Ashcroft masih berdiri di balik jendela besar ruang tamu.

Tatapannya tetap mengikuti arah gerbang yang kini telah tertutup.

Ekspresinya nyaris tidak berubah.

Tenang.

Dingin.

Sulit ditebak.

Di belakangnya, Lord Ashcroft datang dengan langkah pelan.

Ia berdiri di samping istrinya.

"Kau bahkan tidak memeluknya."

Suara pria itu rendah, tetapi terdengar jelas.

Nyonya Ashcroft tidak menoleh.

"Apakah itu sangat perlu?"

Lord Ashcroft mengembuskan napas panjang.

"Dia putrimu."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa kau memperlakukannya seperti tamu?"

Wanita itu akhirnya menoleh.

Tatapannya tetap setenang biasanya.

"Aku tidak pandai menunjukkan kasih sayang."

"Bukan tidak pandai."

Lord Ashcroft menggeleng pelan.

"Kau tidak pernah mencoba bahkan sejak Ella kecil."

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian, Nyonya Ashcroft berkata pelan,

"Ella sudah terbiasa."

Justru jawaban itu membuat Lord Ashcroft mengernyit.

"Itulah yang membuatku khawatir."

Nyonya Ashcroft menatap suaminya.

Lord Ashcroft melanjutkan,

"Anak bukan berarti tidak membutuhkan kasih sayang hanya karena ia tidak pernah memintanya."

"Kau selalu berpikir dia baik-baik saja."

"Padahal..."

"...mungkin dia hanya berhenti berharap."

Kalimat itu membuat Nyonya Ashcroft terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak makan siang tadi, sorot matanya sedikit berubah.

Namun hanya sesaat.

"Aku membesarkannya dengan baik."

ucapnya pelan.

"Aku memberinya pendidikan terbaik."

"Rumah yang layak."

"Kehidupan yang terhormat."

Lord Ashcroft mengangguk.

"Semua itu benar."

"Tapi seorang anak tidak hanya membutuhkan semua itu."

Ia menatap istrinya dengan penuh kesabaran.

"Kadang..."

"...sebuah pelukan jauh lebih berarti daripada rumah sebesar ini."

Nyonya Ashcroft perlahan memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela.

Angin sore menggerakkan tirai putih di sampingnya.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya."

Suara itu begitu pelan hingga hampir tak terdengar.

Lord Ashcroft mendengarnya.

Ia tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di samping istrinya, memandang halaman yang kini kosong.

Setelah beberapa saat, ia berkata,

"Belajarlah."

"Belum terlambat untuk menjadi seorang ibu."

Nyonya Ashcroft tidak memberikan jawaban.

Tatapannya masih tertuju ke arah gerbang.

Jauh di lubuk hatinya...

Ada sesuatu yang terus mengganggu sejak makan siang tadi.

Ella berubah.

Bukan hanya cara berbicaranya.

Bukan hanya keberaniannya.

Tatapan putrinya hari ini...

Terasa begitu asing.

Seolah menyimpan luka yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Namun seperti biasanya...

Nyonya Ashcroft memilih menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hati.

Karena selama bertahun-tahun, itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjalani hidup.

1
putmelyana
up setiap hari Thor
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!