NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Istana yang Sunyi

Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Sasuke dan Saviera meninggalkan penginapan Griffin Compass dengan langkah senyap. Aldous sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana untuk Elaina yang masih tertidur pulas di kamar atas.

"Kami akan kembali sebelum tengah hari," Sasuke berkata pada Aldous, yang mengangguk serius sambil menggenggam erat tangannya sebagai tanda saling percaya.

"Aku akan menjaganya seperti janjiku," Aldous menjawab. "Kalian berdua juga—jaga diri kalian sendiri."

---

Jalan menuju istana melewati distrik yang lebih dekat ke pusat kota, di mana kekosongan terasa semakin pekat. Rumah-rumah bangsawan yang megah kini berdiri dengan pintu-pintu yang terbuka lebar, tirai-tirai berkibar tertiup angin dari jendela yang pecah, seolah penghuninya menghilang di tengah aktivitas sehari-hari tanpa sempat menutup apa pun.

"Lihat itu," Saviera berbisik, menunjuk ke arah sebuah meja makan yang masih tertata lengkap di dalam salah satu rumah, piring-piring berisi makanan yang sudah membusuk dan mengering, kursi-kursi yang tertarik keluar seolah orang-orangnya baru saja bangkit dari makan malam mereka dan tidak pernah kembali.

Sasuke tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, indranya semakin waspada seiring mereka mendekati gerbang besar istana yang menjulang di depan mereka.

Gerbang utama istana—struktur besi raksasa yang seharusnya butuh puluhan orang untuk membukanya—kini berdiri terbuka lebar, seolah tidak pernah ditutup sejak malam kejadian itu. Tidak ada penjaga, tidak ada tanda kehidupan sama sekali.

"Kita masuk lewat sini, atau memutar?" Saviera bertanya pelan.

"Memutar," Sasuke memutuskan. "Aku ingin melihat kondisi di sekitar tembok luar dulu, sebelum memutuskan mendekat lebih jauh."

---

Mereka bergerak mengelilingi tembok luar istana, tetap dalam jarak aman, mengamati dari balik reruntuhan bangunan-bangunan kecil di sekitarnya. Dari sudut pandang ini, Sasuke bisa melihat halaman dalam istana yang luas—dan di sanalah ia melihat bukti nyata dari cerita yang selama ini hanya ia dengar lewat mulut orang lain.

Ratusan zirah kosong tergeletak berserakan di seluruh halaman, seperti kulit-kulit yang ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya. Beberapa masih dalam formasi barisan yang rapi, seolah para prajurit lenyap tepat di tempat mereka berdiri berjaga, tanpa sempat bergerak sedikit pun.

"Ya Tuhan," Saviera berbisik, tangannya menutup mulutnya sendiri melihat pemandangan itu.

Sasuke mengaktifkan Rinnegannya sepenuhnya, menyibak poninya sedikit untuk memperjelas pandangan. Saviera melirik sekilas, sedikit tertegun—meski mereka sudah tinggal bersama beberapa minggu, dan Elaina sudah lebih dulu memuji mata itu sejak pertemuan pertama mereka, momen melihatnya benar-benar terbuka penuh dan aktif seperti ini, dengan pola riak konsentris yang berputar pelan, tetap saja terasa berbeda—lebih nyata, lebih menandakan bahwa ini bukan sekadar percakapan santai lagi.

Sasuke memindai setiap sudut halaman istana dengan penglihatan yang jauh melampaui manusia biasa. Tidak ada jejak chakra, tidak ada sisa energi magis yang bisa ia kenali dari teknik mana pun yang pernah ia pelajari—hanya kekosongan yang aneh, seolah kekuatan yang digunakan di sini beroperasi dengan prinsip yang sama sekali berbeda dari apa pun yang ia ketahui.

"Kau melihat sesuatu?" Saviera bertanya, memperhatikan ekspresi seriusnya.

"Tidak ada jejak energi yang bisa kubaca," Sasuke menjawab, dahinya berkerut. "Apa pun yang melakukan ini, caranya bekerja di luar pemahamanku."

Mereka terus bergerak mengelilingi tembok, hingga tiba di sisi timur istana, tempat sebagian tembok tua sudah retak dan runtuh sebagian jauh sebelum kejadian malam itu—kerusakan lama akibat usia bangunan, bukan sesuatu yang baru—menciptakan celah yang cukup besar untuk diintip lebih dekat.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, mereka melihat sesuatu yang bergerak.

---

Sesosok bayangan melintas di kejauhan, di antara pilar-pilar reruntuhan aula utama istana—terlalu jauh dan terlalu singkat untuk dilihat jelas, namun cukup untuk membuat Sasuke membeku di tempatnya, menarik Saviera turun berjongkok di balik reruntuhan bersamanya.

Mereka menunggu dalam diam, napas tertahan, mengamati apakah bayangan itu akan muncul lagi.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa pun.

"Kau melihatnya?" Saviera berbisik, hampir tidak bersuara.

"Ya," Sasuke berbisik balik, matanya masih terpaku pada titik di mana bayangan itu terakhir terlihat. "Terlalu jauh untuk memastikan detailnya. Tapi ada sesuatu di sana."

Perlahan, sangat perlahan, Sasuke mengintip kembali dari balik reruntuhan.

Aula utama istana masih berdiri megah dan utuh—tidak ada tanda kehancuran fisik sama sekali, seolah menegaskan bahwa apa pun yang terjadi di sini bukan pertarungan atau perang dalam pengertian biasa. Cahaya pagi yang menembus lewat jendela-jendela kaca besar bergaya klasik menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang memotong kegelapan di dalamnya, jatuh lembut di atas lantai marmer yang masih berkilau, tanpa noda darah atau puing sedikit pun. Dan di tengah salah satu garis cahaya itu, berdiri sesosok yang tidak bergerak sama sekali—seolah sosok itu sudah berdiri di sana sejak lama, menunggu, atau mungkin sekadar beristirahat.

Jubah hitam legam menutupi hampir seluruh tubuhnya, kerudungnya yang dalam menyembunyikan wajahnya sepenuhnya dari pandangan. Namun dari balik bayangan kerudung itu, dua titik cahaya merah menyala redup, seperti bara api yang hampir padam namun menolak untuk benar-benar mati.

Sosok itu tidak bergerak. Tidak menoleh. Hanya berdiri diam di tengah reruntuhan aula, seolah waktu tidak memiliki arti baginya sama sekali.

Sasuke menahan napas, setiap insting bertarungnya yang terasah selama bertahun-tahun pengalaman sebagai shinobi kini bekerja penuh, menganalisis postur, jarak, dan setiap detail kecil yang bisa ia tangkap dari jarak sejauh ini.

*“Tidak ada tekanan yang keluar darinya\,”*Sasuke berpikir\, mengerutkan dahi. “Seolah dia sengaja menyembunyikan kekuatannya sepenuhnya. Atau mungkin... dia memang tidak menganggap perlu mengeluarkannya sama sekali.”

Tepat saat itu, sosok berjubah hitam itu berhenti sejenak.

Kepalanya, yang sejak tadi menunduk diam, perlahan mulai menoleh—bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, terlalu lambat untuk sesuatu yang seharusnya spontan, seolah gerakan itu sengaja diperlambat untuk menciptakan efek dramatis, ke arah yang tepat sama dengan posisi Sasuke dan Saviera bersembunyi.

Dua titik merah itu, untuk sepersekian detik, tampak menatap lurus ke arah reruntuhan tempat mereka berlindung.

Saviera mencengkeram lengan Sasuke erat-erat, napasnya tertahan sepenuhnya.

---

*Bersambung ke Bab 16: Mata yang Menyala*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!