"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Sidang Pertama
Bu Sumini duduk sendiri di sisi meja, untuk pertama kalinya tampak seperti orang yang kalah.
Enam minggu kemudian, wajah kalah itu muncul lagi di Pengadilan Agama Surabaya.
Bedanya, kali ini Bu Sumini duduk di kursi pengunjung, memakai kerudung yang terlalu rapi dan wajah yang dipaksa terlihat tersakiti. Ia beberapa kali melirik ke arah Raka, seperti ingin menelan makian tetapi takut pada petugas berseragam di dekat pintu.
Raka duduk di samping Hendra.
Map hitam ada di tas dokumen Hendra, bukan di tangan Raka. Itu sengaja. Di rumah, laporan DNA adalah pukulan. Di pengadilan, laporan itu harus menjadi alat yang digunakan pada waktu tepat.
Ratna datang dengan pengacaranya sendiri, seorang pria berambut klimis bernama Farid. Wajah Ratna lebih pucat daripada terakhir kali, tetapi matanya sudah belajar kembali berpura-pura. Ia memakai baju sederhana, tanpa perhiasan mencolok, seperti seseorang yang ingin dilihat sebagai istri yang dizalimi.
Hendra melirik sekali.
"Ingat," katanya pelan. "Hari ini mediasi. Kita tidak mengejar kemenangan emosional. Kita hanya menunjukkan bahwa Saudara Raka konsisten ingin talak."
"Saya paham."
"Jika dia menangis?"
"Biarkan."
"Jika ibunya memancing?"
"Biarkan petugas yang bekerja."
Hendra sedikit mengangguk. "Bagus."
Di bangku seberang, Farid berbicara cepat kepada Ratna. Suaranya terlalu pelan untuk didengar jelas, tetapi gerak tangannya mudah dibaca: tahan emosi, jangan mengaku, tekankan rumah tangga, tekankan anak, tekan perubahan ekonomi Raka.
Ratna mengangguk beberapa kali.
Bu Sumini tidak sehalus itu.
"Katakan saja dia laki-laki lupa diri," bisiknya cukup keras. "Hakim juga manusia. Kalau tahu dia mau buang anak, pasti marah."
Budi duduk di samping ibunya, memakai kemeja pinjaman yang kerahnya kebesaran. Ia tampak tidak nyaman berada di tempat resmi. Matanya terus bergerak ke petugas keamanan, ke pintu keluar, lalu ke tas dokumen Hendra.
Raka melihat semuanya.
Keluarga Hartono masih berpikir ini panggung tetangga.
Mereka belum paham bahwa di tempat seperti ini, air mata harus melewati berita acara, tuduhan harus melewati bukti, dan teriakan hanya membuat petugas mendekat.
Hendra menyodorkan satu lembar catatan kecil.
Tertulis tiga baris.
Jangan menjelaskan terlalu banyak.
Jangan menyebut sistem.
Jangan terpancing soal anak.
Raka melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku.
Ia tidak butuh diingatkan untuk tidak menyebut sistem. Tapi baris ketiga penting. Ratna pasti akan menyeret Nila ke tengah ruangan. Anak itu adalah tameng terakhirnya.
Saat nama perkara dipanggil, mereka masuk ke ruang mediasi. Ruang itu tidak besar. Meja panjang, kursi sederhana, lambang negara di dinding, dan seorang mediator yang wajahnya sudah terbiasa melihat rumah tangga datang membawa puing.
"Assalamualaikum. Kita mulai dengan niat baik," kata mediator. "Mediasi ini wajib ditempuh sebelum perkara dilanjutkan. Tujuannya mencari kemungkinan perdamaian."
Ratna langsung menunduk.
Farid menyentuh lengannya, memberi isyarat.
Ratna menarik napas, lalu mulai menangis pelan.
"Yang Mulia... saya masih ingin mempertahankan rumah tangga. Saya tidak ingin bercerai. Saya tahu kami ada masalah, tapi semua rumah tangga ada masalah."
Mediator mengangkat tangan. "Di sini cukup Bapak/Ibu, bukan Yang Mulia. Ini ruang mediasi."
Wajah Ratna berkedut sedikit.
Bahkan tangisnya salah panggung.
Farid cepat mengambil alih. "Klien kami pada prinsipnya ingin memperbaiki hubungan. Pemohon, Saudara Raka, tiba-tiba berubah setelah memperoleh kemampuan ekonomi lebih baik. Kami berharap majelis nanti melihat ada indikasi ketidakstabilan emosi dan pengaruh pihak luar."
Raka hampir tersenyum.
Jadi arah mereka: ia kaya, maka ia berubah, maka ia salah.
Hendra menulis sesuatu di kertas, lalu berkata tenang, "Klien kami hadir dengan itikad baik mengikuti mediasi. Namun hubungan rumah tangga telah pecah secara prinsip. Ada fakta yang membuat kelanjutan perkawinan tidak lagi mungkin."
Mediator menatap Raka. "Saudara Raka, apakah masih ada niat mempertahankan pernikahan?"
"Tidak."
Satu kata.
Ruang itu menjadi lebih dingin.
Ratna mengangkat wajah. "Raka..."
"Saya hadir untuk mengikuti prosedur," kata Raka, tetap kepada mediator. "Bukan untuk kembali."
Ratna menangis lebih keras. "Aku khilaf. Aku bisa berubah. Demi Nila, jangan begini."
Hendra tidak bergerak, tetapi ujung penanya berhenti.
Raka menatap Ratna.
"Jangan bawa Nila ke sini."
Farid menyela. "Anak adalah bagian penting dari rumah tangga."
Hendra meletakkan pena. "Kami akan membahas kedudukan anak pada tahap pembuktian jika diperlukan. Untuk mediasi hari ini, posisi klien kami jelas: tidak ada perdamaian dalam bentuk rujuk."
Mediator mencatat.
"Saudari Ratna, apakah ada tawaran konkret? Misalnya kesepakatan pisah baik-baik, pembagian kewajiban, atau hal lain?"
Ratna terlihat bingung. Ia tidak datang untuk menawarkan solusi. Ia datang untuk menangis.
Farid menjawab, "Kami meminta permohonan talak dicabut terlebih dahulu. Setelah itu keluarga bisa bicara."
Hendra menoleh sedikit kepada Raka.
Raka menjawab, "Tidak."
Ratna mencengkeram tisu. "Kamu tega sekali."
"Aku hanya tepat waktu terlambat."
Kalimat itu tidak keras, tetapi Ratna seperti ditampar.
Mediasi berlangsung hampir satu jam. Mediator mencoba beberapa pertanyaan: apakah ada kemungkinan pisah sementara, apakah keluarga besar bisa membantu, apakah komunikasi masih mungkin.
Jawaban Raka tetap sama.
Tidak ada rujuk.
Tidak ada pencabutan permohonan.
Tidak ada perundingan di luar pengacara.
Farid beberapa kali mencoba memutar arah.
"Klien kami merasa Pemohon berubah drastis setelah memiliki kendaraan mewah dan dana besar. Kami khawatir permohonan ini bukan keputusan matang."
Mediator menatap Raka. "Apakah Saudara mengajukan permohonan karena tekanan pihak lain?"
"Tidak."
"Apakah keputusan ini sudah dipertimbangkan?"
"Ya."
"Apakah Saudara memahami mediasi gagal berarti perkara lanjut ke pemeriksaan?"
"Saya memahami."
Tiga jawaban pendek itu membuat Farid tidak memperoleh celah.
Ratna mulai gelisah. Ia ingin Raka marah, ingin Raka menyebut nama Kevin, ingin Raka membuka luka di ruang yang salah. Jika Raka meledak, ia bisa menjadi korban.
Tetapi Raka tidak memberinya api.
Ia hanya memberi tembok.
Ketika sesi berakhir, mediator menutup berkas.
"Karena tidak tercapai kesepakatan untuk mempertahankan perkawinan, mediasi dinyatakan gagal. Perkara akan dilanjutkan ke tahap pemeriksaan sesuai jadwal yang ditetapkan."
Ratna menutup wajahnya.
Di luar ruang, Bu Sumini langsung berdiri. "Bagaimana? Dia mau cabut?"
Ratna tidak menjawab.
Farid berkata pendek, "Mediasi gagal."
"Gagal?!" Bu Sumini lupa di mana ia berada. "Raka! Kamu laki-laki tidak tahu malu!"
Petugas keamanan menoleh.
Hendra memandang petugas itu tanpa perlu bicara.
"Bu," petugas berkata tegas, "tolong jaga ketertiban."
Bu Sumini menggertakkan gigi, tetapi duduk kembali. Wajahnya merah, matanya basah oleh amarah yang tidak punya tempat keluar.
Raka berjalan melewati mereka.
Ratna berdiri tiba-tiba. "Raka, kalau kamu teruskan ini, aku juga tidak akan diam."
Raka berhenti.
Farid menyesuaikan jasnya, mengambil peran dengan senyum tipis.
"Pak Raka," katanya, "harta gono-gini itu separuh milik klien saya. Kita lihat nanti."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....