NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Malam sebelum akad nikah, ketika seluruh rumah masih sibuk dengan persiapan terakhir, Nenek Bani meminta Tara datang ke kamarnya. "Tara, sini sebentar."

"Iya, Nek." Tara masuk perlahan lalu menutup pintu di belakangnya.

Untuk pertama kalinya sejak semua persiapan pernikahan dimulai, mereka berada di dalam satu ruangan hanya berdua. Kamar itu sederhana, dipenuhi lemari kayu tua dan foto-foto keluarga yang telah menguning dimakan usia. Di salah satu sudut, Al-Qur'an masih terbuka di atas meja kecil, menandakan Nenek baru saja selesai mengaji.

Nenek menepuk pelan sisi tempat tidurnya. "Duduk di sini."

Tara menurut. Entah mengapa, jantungnya berdebar lebih kencang daripada saat menjalani sidang BP4R. Beberapa saat, tidak ada satu pun yang berbicara.

Nenek hanya memandangi wajah cucunya yang besok pagi akan resmi menjadi seorang istri. "Besok..." suara Nenek akhirnya pecah, "...kamu bukan lagi tanggung jawab ibu dan keluarga ini sepenuhnya."

Tara menundukkan kepala.

"Besok, tanggung jawab itu berpindah kepada suamimu." Nenek mengusap pelan punggung tangan Tara yang sejak kecil jarang sekali beliau sentuh. "Menjadi istri itu tidak mudah, Nak. Bukan cuma soal memasak atau mengurus rumah. Yang paling berat adalah menjaga hati."

Tara mendengarkan tanpa menyela.

"Jadilah istri yang penurut selama suamimu tidak menyuruhmu berbuat maksiat..Hormati dia. Jaga lisanmu. Kalau sedang marah, jangan buru-buru mengeluarkan semua kata yang ada di kepalamu. Karena ada luka yang sembuhnya lebih lama daripada luka karena pukulan, yaitu luka karena ucapan."

Mata Tara mulai berkaca-kaca.

Nenek melanjutkan dengan suara yang kini terdengar semakin pelan. "Rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah itu tidak datang sendiri. Itu dibangun setiap hari. Dengan sabar. Dengan saling memaafkan. Dengan saling mengalah." Beliau menarik napas panjang. "Jangan biasakan mengeluh kepada orang lain setiap kali ada masalah dengan suamimu. Kalau ada persoalan, selesaikan baik-baik berdua. Kalau memang butuh nasihat, datanglah kepada orang yang bisa menjaga rahasia kalian, bukan kepada orang yang justru memperbesar masalah."

Tara mengangguk pelan. Air matanya mulai jatuh satu per satu.

Nenek mengusapnya dengan ibu jari yang mulai keriput. "Jaga kehormatan suamimu. Kalau dia berhasil, jangan sombong.Kalau dia sedang jatuh, jangan ikut meninggalkannya. Jadilah rumah tempat dia pulang. Karena laki-laki sekuat apa pun, tetap ingin pulang ke tempat yang membuatnya tenang."

Suasana kamar berubah sangat hening. Hanya terdengar suara jam dinding yang terus berdetak.

Setelah beberapa saat, Nenek tersenyum tipis. "Nenek memang sering memaksa. Nenek juga sering membuatmu kesal. Tapi percayalah...tidak pernah sekalipun Nenek ingin melihat cucu Nenek hidup sengsara."

Kalimat itu membuat tangis Tara pecah. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk tubuh renta perempuan yang selama ini lebih sering dikenalnya lewat ketegasan daripada kelembutan. "Nek...Maaf kalau selama ini Tara sering membantah."

Nenek membalas pelukan itu. Tangannya mengusap pelan kepala Tara seperti ketika cucunya masih kecil.."Tidak ada yang perlu dimaafkan. Besok, kamu akan memulai hidup yang baru. Nenek tidak bisa terus berjalan di sampingmu. Tapi doa Nenek akan selalu mengikuti setiap langkahmu."

Air mata keduanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan..Malam itu, tidak ada lagi sosok pemimpin keluarga yang keras ataupun cucu yang selalu ceria. Yang ada hanyalah seorang nenek yang sedang melepaskan cucu perempuannya menuju kehidupan baru, sembari menitipkan doa-doa terbaik agar rumah tangga yang akan dibangun Tara bersama Sarif kelak benar-benar menjadi rumah yang dipenuhi ketenangan, kasih sayang, keberkahan, dan cinta yang tumbuh sampai akhir usia.

Setelah suasana kembali tenang, Nenek Bani perlahan membuka laci kecil di samping tempat tidurnya. Dari dalam sebuah kotak beludru yang sudah tampak dimakan usia, beliau mengeluarkan sebuah cincin berlian sederhana, namun memancarkan kilau yang anggun.

Tara langsung mengenali kotak itu. Sejak kecil, ia sering melihat Nenek menyimpannya dengan sangat hati-hati, tetapi tak pernah sekali pun melihat isinya. "Nek... itu..."

Nenek tersenyum tipis. "Ini cincin keluarga." Beliau membuka kotak itu sepenuhnya, lalu menatap cincin tersebut beberapa saat, seolah sedang mengenang perjalanan hidup yang begitu panjang. "Dulu, cincin ini diberikan almarhum kakekmu kepada Nenek setelah beberapa tahun kami menikah. Setelah itu, cincin ini disimpan untuk cucu pertamaku yang menikah." Tangan Nenek yang mulai dipenuhi keriput menggenggam jemari Tara. "Selama ini banyak yang mengira cincin ini akan Nenek berikan kepada cucu yang paling tua."

Tatapan Tara langsung mengarah kepada Ratna dalam pikirannya.

"Tapi ternyata Allah memilih jalan yang berbeda." Perlahan, Nenek menyelipkan cincin itu ke jari manis Tara.."Mulai malam ini, cincin ini menjadi milikmu."

Air mata Tara yang sempat mereda kembali mengalir. "Nek... ini terlalu berharga."

Nenek menggeleng pelan. "Yang paling berharga adalah doa dan amanah yang menyertainya." Beliau mengusap tangan Tara dengan penuh kasih. "Setiap kali kamu melihat cincin ini, ingatlah bahwa rumah tangga bukan tentang siapa yang paling menang, tetapi siapa yang paling mau menjaga. Bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang lebih dulu meminta maaf. Dan bukan tentang seberapa mewah kehidupan yang kalian miliki, melainkan seberapa besar rasa syukur yang kalian pelihara."

Tara tak kuasa lagi menahan tangis. Ia memandangi cincin yang kini melingkar di jarinya. Berlian itu memang berkilau indah, tetapi yang membuatnya merasa paling berharga adalah kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, Nenek mempercayakan sebuah pusaka keluarga kepadanya.

Selama ini ia sering merasa menjadi cucu yang berada di balik bayang-bayang. Tidak pernah berharap mendapat perlakuan istimewa, apalagi menerima warisan keluarga. Karena itu, malam ini terasa begitu berbeda. "Nek..." Suara Tara bergetar.

Air mata Tara masih belum benar-benar berhenti. Ia memandangi cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya. Kilau kecil itu seakan membawa cerita panjang tentang keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Beberapa saat suasana hening. Lalu, seperti biasa, otak Tara yang tidak pernah bisa diam mulai bekerja. "Nek..."

"Iya?"

"Kalau suatu hari lagi butuh uang..."

Nenek menatapnya.

"Misalnya ya, misalnya aja..." Tara mengangkat telunjuknya. "Apa cincin ini boleh aku jual?"

"Hah?!" Mata Nenek langsung membelalak. "TARA! Astaghfirullahalazim!" Suara Nenek sampai memenuhi seluruh kamar.

Tara refleks meringis. "Lho... aku kan cuma nanya."

"Nggak ada 'cuma nanya'!" Nenek sampai menepuk pelan lengan cucunya. "Ini warisan keluarga! Bukan emas yang dibeli buat investasi!"

Tara mengusap lengannya sambil nyengir. "Iya sih... Kalau lagi butuh uang, kerja! Begitu kan Nek?"

"Kalau masih kurang, bilang sama suamimu! Jangan yang dijual malah pusaka keluarga."

Tara terkekeh kecil. "Soalnya aku takut nanti Bang Sarif tiba-tiba bilang, 'Dek, kita lagi butuh dana.'"

Nenek mendengus. "Kalau Sarif sampai menyuruh menjual cincin itu, suruh dia menghadap Nenek!"

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!