Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Sang Iblis
Mobil-mobil SUV hitam bergemuruh membelah keheningan pagi. Tepat pukul enam pagi, tatkala kabut tebal perlahan mulai menipis dan menyerah pada terbitnya matahari di ufuk timur, iring-iringan kendaraan itu akhirnya meninggalkan jalanan raya utama dan memasuki sebuah kawasan eksklusif.
Perjalanan panjang selama tiga jam dari kaki Hutan Hitam terbayar sudah ketika kendaraan membelok ke sebuah gerbang keamanan otomatis yang langsung terbuka lebar menyambut kedatangan mereka. Mereka tiba di sebuah komplek apartemen privat yang sangat sunyi, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan taman kota yang tertata rapi, jauh dari hiruk-pikuk dan bisingnya kendaraan umum.
Di tempat inilah salah satu safehouse atau markas perlindungan tingkat tinggi klan Dante berada. Suasana di sekitar komplek terasa begitu damai dan steril, menyuguhkan keamanan absolut bagi siapapun yang berada di dalamnya.
Mobil yang ditumpangi Dante dan Aura melambat, lalu berhenti dengan lembut di pelataran basement khusus yang terhubung langsung dengan lift pribadi menuju unit penthouse di lantai atas.
Aura mengintip keluar jendela mobil. Matanya terpukau sekaligus merasa asing melihat bangunan modern yang begitu megah dan tenang di hadapannya. Jauh berbeda dari gubuk bambu mereka di tengah hutan, namun tempat ini memancarkan kesan aman yang begitu kuat.
Valerio yang duduk di kursi depan segera keluar dan membukakan pintu untuk Dante dan Aura.
"Selamat datang kembali, Tuan," ucap Valerio dengan nada hormat seraya menunduk kecil.
Dante melangkah keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aura turun dari kabin mobil. Gadis itu menyambut uluran tangan Dante, membiarkan dirinya dituntun keluar dari mobil mewah tersebut sembari terus mengedarkan pandangan, mencerna kenyataan bahwa dunia luar yang telah ia tinggalkan selama dua tahun kini benar-benar telah menyambutnya kembali.
"Kita sudah sampai, Aura," bisik Dante lembut, memastikan gadis di sampingnya merasa tenang. "Ini tempat aman kita."
"Aku butuh penjelasan, Dante," ucap Aura dengan nada menuntut, suaranya bergetar antara rasa cemas dan ketegasan yang tak bisa ditawar lagi begitu mereka menginjakkan kaki di dalam penthouse.
Dante memandang mata gadis itu, lalu menghela napas panjang. "Baik, ayo kita masuk dulu."
Dante menuntun Aura menelusuri koridor megah beralaskan marmer hingga tiba di kamar utama—sebuah ruangan luas bermandikan cahaya matahari pagi dengan tempat tidur besar dan pemandangan luas ke arah cakrawala kota. Aura melangkah masuk, meletakkan ransel hijau militernya yang berisi batangan emas di sudut ranjang, lalu berbalik membelakangi jendela. Matanya terkunci rapat pada figur tinggi besar Dante yang kini menutup pintu kamar.
Aura melipat kedua tangannya di dada, siap mendengarkan setiap kebenaran yang tersembunyi.
Dante melangkah mendekat, berdiri berjarak beberapa meter di hadapan Aura. Wajahnya yang tegas tampak begitu tenang, namun sorot mata hitamnya memancarkan kejujuran murni tanpa ada lagi sandiwara.
"Namaku Dante. Dan dugaanmu di tepi hutan tadi tidak salah," Dante mulai membuka suara, suaranya berat dan bergema di dalam ruangan yang sunyi. "Aku memang seorang pimpinan dari klan yang oleh dunia luar dipanggil sebagai... mafia."
Dada Aura berdesir hebat. Meski sudah menduga sejak melihat pengawalan Valerio, mendengar pengakuan langsung dari bibir pria yang diselamatkannya tetap terasa seperti dentuman keras di kepalanya.
"Lalu... Marco?" tanyanya dengan napas yang mulai tak teratur.
"Marco dulu adalah orang kepercayaanku. Dia berada di bawah komandoku," lanjut Dante dingin. "Namun, Marco tergiur oleh kekuasaan dan uang haram. Dia berkhianat, membangun jaringan bisnis gelapnya sendiri secara rahasia—termasuk perdagangan manusia, narkoba, dan eksekusi pesanan. Saat aku mengetahui kebusukannya dan berniat menghancurkannya, dia menjebakku di Jurang Tengkorak hingga aku jatuh ke sungai dan ditemukan olehmu."
Aura tertegun, matanya membelalak tak percaya. Namun sebelum gadis itu sempat memotong, Dante melanjutkan penjelasannya dengan nada yang makin serius.
"Tapi ada satu hal yang tidak diketahui oleh dunia luar, Aura," tegas Dante, melangkah satu tapak lebih dekat. "Meski kelompokku dijuluki mafia, kehidupan kami justru sangat dekat dengan para petinggi kepolisian dan intelijen negara."
Dahi Aura mengerut bingung. "Maksudmu?"
"Kami bukan syndicate yang menjalankan bisnis haram. Kami adalah sisi gelap dari hukum," jawab Dante dengan tatapan mata setajam sembilu. "Pemerintah dan kepolisian memiliki keterbatasan hukum yang membuat mereka tidak bisa menyentuh orang-orang berkekuasaan tinggi. Karena itulah kami ada. Tugas kelompokku adalah mengeksekusi dan membunuh para pelaku bisnis gelap, mafia kejam, hingga para pejabat dan petinggi korup yang tidak tersentuh oleh hukum resmi."
Aura terpaku di tempatnya berdiri, mencerna setiap kalimat Dante.
"Kami adalah algojo di balik bayangan," lanjut Dante dengan suara rendah namun sarat akan wibawa. "Dan Marco... telah melanggar batas itu dengan menjadi iblis yang seharusnya kami tumpas. Pembantaian keluargamu dua tahun lalu adalah bagian dari bisnis gelap yang dijalankan oleh kelompok Marco dan Arcanum."
Ruangan utama itu mendadak hening. Kebenaran raksasa kini telah terhampar sepenuhnya di depan mata Aura. Pria bertubuh tinggi besar yang dirawatnya di gubuk bambu sederhana itu bukanlah seorang korban malang—melainkan sang algojo puncak yang memegang kunci utama untuk menghancurkan musuh terbesar dalam hidupnya.