Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Rahasia
Di luar sekolah, seorang pria sedang menunggu di dalam mobilnya sesekali ia melihat ke gerbang sekolah yang masih di penuhi anak anak sekolah.
Ponselnya berbunyi.
Lalu Ia melihatnya.
“Sudah ketemu anak yang bernama Husnan.?”
Lalu ia mengetik ponselnya.
“Belum pak , di sekolah masih belum selesai."
Beberapa saat kemudian, para murid mulai keluar dari gerbang sekolah.
Pria itu memperhatikan satu persatu.
Sampai akhirnya ia melihat anak yang sedang berjalan bersama beberapa temannya.
Ia melihat sebuah mobil yang sudah parkir dari tadi di depan sekolah.
Kemudian pak Bambang keluar dan membukakan pintu mobil belakang.
“Ayo Hus”
Husnan mengangguk.
“Hei kalian aku pulang dulu ya” ujar Husnan.
“Iya Hus,hati hati di jalan, sampai bertemu besok.” Jawab mereka berdua.
Husnan kemudian masuk kedalam mobil.
Pria itu memperhatikan Husnan.
“Oh jadi itu yang namanya Husnan.”
Pria itu kemudian mengambil ponselnya lalu memotret mobil tersebut dari kejauhan.
Kemudian ia mengirimnya ke seseorang.
“Aku sudah memastikan anak itu”
Jawab masuk.
“Jangan dekati dia dulu, cukup pantau dari jarak jauh.”
Pria itu mengangguk kecil.
“Baik”
Ia kemudian menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu mobil pak Bambang sudah berjalan menuju ke rumah Pak Hendra, sesekali melihat ke arah sepion mobil, ia melihat mobil itu yang tadi parkir di depan gerbang sekolah sudah menghilang.
Husnan duduk di kursi belakang sambil menatap keluar jendela.
“Pak “
“Iya, ada apa?”
“Bapak kenal sama bosnya Pak Arman?”
“tidak Hus, memangnya ada apa?”
“Tidak pak cuma merasa aku mengenal dengannya.”
“Kamu masih mikirin itu Mulu, gak usah banyak berpikir.”
Husnan mengangguk.
“Baik pak”
“Kalau kamu memang mengenalinya,coba kamu tanya sendiri sama Pak Arman.”
“Emangnya boleh pak?”
“Ya boleh lah,nanti pas di rumah kalau dia masih di sana coba tanyain.”
Sesampainya di rumah Husnan langsung turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam.
Ia hanya melihat Om Hendra seorang yang sedang membaca dokumen.
“Om dimana Pak Arman?”
Hendra pun mengangkat kepalanya.
“Oh kamu, Pak Arman sudah pulang”
Husnan mengerutkan dahinya.
“Ah tidak sempat.”
“Memangnya ada apa?”
“Saya mau tanya tentang bosnya pak Arman,Om kenal gak sama bos Pak Arman?”
Hendra terdiam sejenak.
“Enggak,om gak kenal”
“Ya sudahlah om aku masuk ke kamar dulu.”
Hendra menghela napas panjang.
“Gimana ini apa aku cerita saja sama Husnan, tapi aku masih mau anak itu.”
Hendra masih duduk di ruang tamu sambil menatap dokumen di tangannya.
Namun pikirannya sudah tidak lagi tertuju pada pekerjaan.
“Kalau Husnan terus bertanya seperti ini, lama-lama dia pasti tahu,” gumam Hendra.
Tak lama kemudian, Pak Bambang masuk ke dalam rumah.
“Pak.”
Hendra langsung menoleh.
“Iya, Bambang?”
“Pak Arman sudah pulang?.”
Hendra mengangguk pelan.
“iya sudah pulang dari tadi.”
Pak Bambang kemudian duduk disamping Hendra.
“Pak tadi di depan gerbang sekolah ada sebuah mobil, kayaknya dia sedang memantau Husnan.”
Hendra langsung menatap ke wajah Bambang.
“Kok kamu yakin lagi memantau Husnan.”
“Iya soalnya aku melihat mobil itu plat nomor mobilnya sama yang tadi pagi datang cuma beda angka nomor satu dan dua.”
Hendra terdiam.
“Kemungkinan memang iya itu orang suruhan bosnya Arman,Sejauh apa dia tahu?”
“Sepertinya baru memastikan Husnan saja.”
Hendra menghela napas.
“Setidaknya dia belum mendekatinya.”
“Tapi sampai kapan kita bisa membiarkan dia mencari Husnan?”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke arah tangga.
“Husnan sudah mulai bertanya tentang bos Arman.”
Pak Bambang langsung terkejut.
“Dia bertanya apa?”
“Dia ingin tahu siapa aslinya bos Arman.”
“terus Bapak jawab apa?”
“Aku bilang tidak kenal.”
Pak Bambang mengangguk.
“Menurut Bapak, dia percaya begitu saja?”
Hendra tersenyum tipis.
“Entahlah. Husnan sekarang sudah mulai pintar membaca keadaan.”
Sementara itu, di dalam kamar, Husnan masih memikirkan percakapannya dengan Hendra.
Ia berjalan menuju ke meja belajar lalu mengambil buku catatan kecil yang biasa digunakannya.
Ia kembali menulis beberapa nama.
Pak Arman.
Bos Pak Arman.
Pak Bambang.
Om Hendra.
Husnan memandang tulisan tersebut.
“Kenapa semuanya seperti saling mengenal?”
Ia kemudian teringat perkataan Pak Bambang.
Kalau kamu memang mengenalinya, coba tanya sendiri sama Pak Arman.
Husnan mengangguk kecil.
“Besok aku harus bertanya langsung kepada Pak Arman,tapi bagaimana aku bisa bertemu dia?”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu.
Tok... tok...
Husnan buru-buru menutup bukunya.
“Siapa?”
“Om.”
Husnan membuka pintu.
Hendra berdiri di depan kamar.
“Kenapa, Om?”
“Om cuma mau memastikan kamu baik-baik saja.”
“Baik kok, Om.”
Hendra tersenyum.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, jangan terlalu dipikirkan.”
Husnan menatap Hendra.
“Om.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku sudah mengetahui sesuatu yang selama ini Om sembunyikan, Om bakal marah?”
Hendra terdiam sambil tersenyum.
“Tidak, kok Hus, cuma kalau sekarang ini masih belum waktunya kamu tahu.”
“Bener, om tidak marah?”
“Iya. Tapi ada beberapa hal yang memang harus menunggu waktunya.”
Husnan mengangguk.
“Baik, Om.”
“Ya sudah kalau kamu baik-baik saja,om pergi dulu”
Hendra kemudian meninggalkan kamar Husnan.
Namun setelah pintu tertutup, Husnan kembali mengambil buku catatannya.
Ia menulis satu kalimat terakhir.
“Besok kalau aku bertemu pak Arman akan bertanya kepadanya tidak akan aku sia siakan kesempatan.”
Di tempat lain, pria yang tadi menunggu di depan sekolah sudah sampai di sebuah tempat.
Ia turun dari mobil kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan.
Seseorang sedang duduk di kursinya dan sudah menunggunya.
“Bagaimana?”
“Sudah ketemu.”
“Yakin?”
Pria itu mengangguk.
“Namanya benar Husnan. Aku juga sudah memastikan mobil yang menjemputnya.”
Orang itu terdiam beberapa saat.
“Jangan lakukan apa pun dulu.”
“Kenapa?”
“Kita masih harus memastikan satu hal.”
“Apa?”
Ia menatap pria tersebut dengan serius.
“Pastikan Hendra itu memang benar-benar orang yang mengadopsi anak itu.”
Pria itu mengangguk.
“Baik, tapi kenapa bos tidak menemui Husnan, biar langsung tahu,itu memang anak yang di cari atau bukan?”
“Aku takut dia kaget, kalau memang dia anak itu, karena selama ini aku meninggalkan keluarga tanpa pamit.”
“Memangnya alasannya apa?”
Bos itu langsung memukul mejanya.
“Sudah jangan banyak tanya, siapa pun tidak akan ku ceritakan kepada orang lain.”
Pria itu gemetar sambil mengangguk.
“Baik bos , aku minta maaf.”
Sementara itu, di rumah Hendra, malam semakin larut.
Husnan mulai tidur, tetapi pikirannya masih di penuhi bayangan seseorang yang ada di balik kaca mobil yang tadi pagi ia melihatnya.
Dan Tidak seorang pun menyadari bahwa pencarian terhadap Husnan baru saja dimulai.