NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian di Balik Sikap Dingin

Alis tegas Devan berkerut tajam. Ia meraih amplop itu, membalik bagian belakangnya yang terbuka, lalu menatap Alina kembali. "Apa yang dia lihat?"

"Dia ... dia melihat status perkawinan saya yang sudah berubah menjadi Kawin," terang Alina dengan mata berkaca-kaca.

"Mbak Clara menuduh saya memalsukan data diri di formulir HRD karena saat melamar saya mencantumkan status lajang. Dia mengancam akan melaporkan saya ke bagian Personalia."

Devan diam menyimak. Pria itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia hanya menarik napas pendek, meremas amplop cokelat itu di tangannya, lalu melemparnya santai ke dalam mesin penghancur kertas yang ada di samping mejanya. Suara gemeretak mesin yang memotong kertas menjadi serpihan halus memenuhi ruangan selama beberapa detik.

Alina membelalakkan matanya. "Pak Devan? Kenapa dihancurkan?"

"Surat itu sudah tidak berguna," jawab Devan tenang. Pria itu melangkah mendekati Alina, menghentikan langkahnya tepat di depan gadis yang sedang ketakutan itu. Devan menundukkan pandangannya, menatap lurus ke dalam mata Alina. "Apakah dia melihat namaku di dalam dokumen itu?"

Alina menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Pak. Lampiran lembar data pasangan ada di dalam lipatan bawah yang belum sempat dia buka. Dia cuma lihat lembar depan status kependudukan."

Sebuah hembusan napas lega yang sangat tipis terlepas dari bibir Devan. Wajahnya yang semula tegang kembali rileks.

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Devan datar.

"Tapi Pak ... Mbak Clara berniat melaporkan saya ke HRD!" seru Alina bingung melihat ketenangan suaminya.

"Kalau HRD melakukan verifikasi data tingkat lanjut ke sistem kependudukan pusat, nama Anda sebagai suami sah saya akan muncul di layar monitor mereka! Semua orang di kantor ini akan tahu!"

Devan menatap Alina lama. Ada kilatan aneh di matanya, perpaduan antara ketegasan seorang penguasa dan kelembutan seorang pria yang ingin melindungi miliknya.

"Siapa yang memberi tahu kamu kalau HRD punya akses bebas membongkar data pribadi yang dikunci oleh jajaran direksi?" tanya Devan dengan nada bicara yang penuh wibawa.

Alina terpaku. "Maksud ... Pak Devan?"

"Sistem basis data kependudukan seluruh karyawan di PT Dirgantara terhubung langsung melalui enkripsi khusus keamanan korporat," Devan menjelaskan dengan tenang, melipat kedua tangannya di dada. "Sejak hari pertama kamu menandatangani perjanjian pernikahan kita, status datamu di sistem HRD kantor ini sudah kukunci di bawah otoritas tertinggi CEO. Tidak ada staf HRD, manajer, atau siapa pun yang bisa membuka lembar lampiran keluargamu tanpa persetujuan digital dariku."

Alina menganga kecil. Ia terpana. Pria di depannya ini telah memperhitungkan segalanya jauh sebelum masalah ini bahkan terjadi. Devan telah membangun benteng perlindungan digital yang tak tertembus untuk menjaga rahasia pernikahan mereka dan melindungi Alina dari bahaya pembongkaran status.

"Jadi ... Mbak Clara tidak akan bisa membuktikannya?" bisik Alina, rasa lega yang luar biasa mendadak membanjiri dadanya.

"Dia tidak punya akses apa pun," sahut Devan tegas. "Besok pagi, tim hukumku akan mengirimkan surat pembaruan data status pernikahanmu ke HRD dengan keterangan resmi bahwa pernikahanmu berlangsung setelah proses perekrutan selesai. Soal siapa suamimu ... kolom itu akan tertulis sebagai Informasi Terproteksi Dirgantara."

Alina menatap Devan dengan pandangan tak percaya campur haru yang membuncah. Pria ini begitu dingin di luar, tetapi di balik layar, ia selalu memasang perisai tak kasat mata di sekeliling hidup Alina.

"Pak Devan ..." air mata yang sejak tadi ditahan Alina akhirnya menetes di pipinya. Kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur dan haru yang tak terbendung. "Terima kasih ... Saya benar-benar minta maaf karena sudah membuat Anda repot dan cemas."

Devan menghela napas pelan melihat air mata di wajah cantik itu. Tangannya terangkat perlahan. Ibu jarinya yang hangat dan kokoh mengusap lembut air mata di pipi Alina, sebuah sentuhan personal yang teramat intim dan mengejutkan bagi mereka berdua.

Alina membeku, merasakan kehangatan jemari Devan di kulit wajahnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Devan bisa mendengarnya.

"Jangan menangis untuk hal-hal kecil seperti ini, Alina," ujar Devan dengan suara rendah yang sangat lembut, matanya menatap lekat bibir dan mata Alina. "Aku sudah berjanji akan melindungimu dari dampak pernikahan ini. Selama kamu berdiri di bawah naunganku, tidak ada satu orang pun di gedung ini yang boleh menyulitkanmu."

Atmosfer di ruangan kerja luas itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan hangat. Jarak di antara mereka kian terkikis, memancarkan getaran emosi terselubung yang telah lama tertahan di balik topeng kesepakatan dingin mereka.

Keheningan yang hangat itu bertahan beberapa detik. Alina masih terpaku, sementara Devan perlahan menarik kembali tangannya dari pipi wanita itu. Ia berdeham pelan, seolah menyadari bahwa mereka baru saja melewati batas yang selama ini dijaga.

Tatapan Devan beralih ke jam dinding yang menunjukkan waktu makan siang.

"Kamu sudah makan?" tanyanya singkat.

Alina tersentak dari lamunannya. Ia menggeleng pelan. "Belum, Pak. Tadi saya kehilangan selera makan setelah kejadian dengan Mbak Clara."

Devan menghela napas tipis.

"Pantas wajahmu pucat."

Belum sempat Alina menjawab, terdengar ketukan sopan dari balik pintu.

Tok ... tok ... tok...

"Masuk," ucap Devan.

Pintu terbuka perlahan. Bastian, sekretaris pribadi Devan yang selalu tampil rapi dengan setelan jas abu-abu, melangkah masuk sambil membawa sebuah troli kecil berisi beberapa kotak makanan premium.

"Selamat siang, Pak Devan," sapanya hormat. "Makan siang yang Bapak pesan sudah datang."

Bastian sempat melirik Alina yang masih berdiri canggung di depan meja kerja. Namun, sebagai sekretaris profesional, ia tidak menunjukkan rasa ingin tahunya sedikit pun.

"Taruh di meja tamu," perintah Devan.

"Baik, Pak."

Dengan cekatan Bastian menata semua hidangan. Aroma sup hangat, ikan panggang, sayuran segar, buah potong, dan nasi hangat segera memenuhi ruangan. Setelah semuanya rapi, Bastian menoleh kepada atasannya.

"Apakah ada keperluan lain, Pak?"

"Tidak. Terima kasih."

"Baik, Pak."

Bastian mengangguk hormat sebelum meninggalkan ruangan dan menutup pintu kembali.

Alina menatap aneka makanan itu dengan mata membulat. Semuanya tampak mewah, bahkan jauh lebih baik daripada menu kantin karyawan.

"Sekarang duduk," ujar Devan sambil menunjuk sofa.

Alina justru menggeleng gugup.

"Tidak usah, Pak. Saya bisa makan di kantin nanti."

"Bukankah tadi kamu bilang belum makan?"

"Iya ... tapi saya tidak enak."

Devan mengangkat sebelah alisnya.

"Alina."

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Alina spontan menegakkan punggung.

"Duduk."

Alina akhirnya menurut. Ia duduk di tepi sofa dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan.

Devan ikut duduk di seberangnya. Ia membuka salah satu kotak makanan, lalu mendorongnya ke arah Alina.

"Makan."

"Tapi ini pasti makan siang Bapak."

"Aku memesannya untuk dua orang."

Alina mengangkat kepala. "Untuk ... dua orang?"

Devan mengangguk santai.

"Sejak tadi pagi aku sudah menduga kamu tidak akan sempat makan dengan tenang. Jadi aku meminta Bastian menyiapkan porsi tambahan."

Mata Alina kembali memanas. Pria ini selalu terlihat dingin, tetapi perhatian-perhatian kecilnya justru membuat hati Alina semakin sulit untuk tetap biasa saja.

"Pak Devan ... Bapak terlalu baik."

"Bukan baik."

"Lalu?"

"Aku hanya tidak suka melihat orang yang bekerja di bawah tanggung jawabku mengabaikan kesehatan."

Jawaban itu terdengar formal, tetapi entah mengapa tetap membuat sudut bibir Alina tersenyum tipis.

Devan mengambil sepasang sumpit, lalu meletakkannya di depan Alina.

"Kalau kamu terus menatap makanannya tanpa menyentuhnya, nanti keburu dingin."

Alina terkekeh pelan.

"Iya, Pak."

Ia mulai menyuapkan sesendok nasi dan sayur ke mulutnya. Baru beberapa gigitan, wajahnya berubah sedikit cerah.

"Enak sekali."

Devan hanya mengangguk kecil sambil menikmati makan siangnya sendiri.

Ruangan yang biasanya dipenuhi pembahasan laporan dan kontrak bisnis kini terasa jauh lebih hangat. Tidak ada percakapan penting, hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Beberapa menit kemudian, Devan memandang Alina yang mulai menghabiskan makanannya dengan lahap.

"Nah, begitu lebih baik."

Alina tersipu malu karena sadar dirinya makan terlalu cepat.

"Maaf ... sepertinya saya memang terlalu lapar."

"Syukurlah seleramu kembali."

Alina tersenyum kecil.

"Terima kasih, Pak."

"Setelah ini, kamu kembali bekerja seperti biasa. Jangan pikirkan Clara. Biarkan aku yang mengurus semuanya."

Ucapan itu begitu mantap hingga Alina merasakan seluruh kecemasannya perlahan menghilang.

Ia menatap Devan dengan penuh keyakinan.

"Baik, Pak. Saya percaya pada Bapak."

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan rahasia mereka dimulai, Alina benar-benar merasa tidak sedang menghadapi semuanya sendirian. Di balik sikap dingin dan wajah tanpa ekspresi itu, Devan selalu hadir sebagai tempat berlindung yang kokoh, membuat hati Alina perlahan dipenuhi rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!