Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Jejak di Kota Fengyu
Setelah selesai makan dan membayar, Wang Hao bangkit dari mejanya.
Ia melangkah keluar dari rumah makan Masuk Lemas, Keluar Bugar, meninggalkan sisa-sisa kambing bakar yang tinggal tulang dan secangkir teh harum manis yang sudah kosong.
Udara malam Kota Fengyu menyambutnya dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Lampion-lampion merah di sepanjang jalan batu bergoyang pelan diterpa angin, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding bangunan tua.
Wang Hao tidak langsung menjauh dari rumah makan. Ia berdiri di depan rumah makan selama beberapa tarikan napas, kedua tangannya di belakang tubuh, matanya menatap ke atas. Langit malam dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip di balik kabut tipis yang melayang di atas kota.
"Menarik..."
Di langit, tiga burung roh hitam terbang berputar-putar tepat di atas rumah makan. Gerakan mereka teratur dan terukur, sama seperti burung-burung yang ia tembak jatuh di perjalanan dua minggu lalu. Mata mereka memantulkan cahaya lampion dengan kilau yang tidak alami.
Burung-burung itu adalah Mata Langit, teknik pelacakan yang menggunakan burung roh sebagai perpanjangan indra penglihatan.
Wang Hao menurunkan pandangannya. Ia tidak mengangkat tangan untuk menembak jatuh burung-burung itu, tidak juga mempercepat langkahnya untuk menghindar. Ia hanya berjalan santai menyusuri jalan utama Kota Fengyu, melewati para pejalan kaki yang semakin jarang, melewati kios-kios yang sebagian sudah mulai tutup.
Langkahnya membawanya ke sebuah penginapan kecil di pinggir jalan. Papan namanya bertuliskan Penginapan Bulan Tenang dengan karakter yang sudah mulai pudar. Bangunannya dua lantai, terbuat dari kayu jati tua yang sudah menghitam dimakan usia.
Wang Hao mendorong pintu dan melangkah masuk.
Di dalam, seorang pria tua berjubah cokelat sedang tertidur di belakang meja penerimaan. Kepalanya terkulai ke samping, dan suara dengkuran pelan keluar dari mulutnya yang setengah terbuka. Wang Hao mendekati meja, lalu mengetuk permukaannya dengan buku jari.
Pria tua itu tersentak bangun. "Ah! Maaf, maaf... Ada yang bisa kubantu, Tuan Muda?"
"Satu kamar untuk semalam."
Pria tua itu mengucek matanya, lalu mengangguk cepat. Ia meraih sebuah kunci kayu dari rak di belakangnya, lalu menyerahkannya ke Wang Hao. "Kamar nomor tiga, lantai atas. Semalam dua koin emas."
Wang Hao melemparkan satu batu roh tingkat rendah ke atas meja. Pria tua itu menangkapnya dengan cekatan, lalu tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan Muda! Jika butuh apa-apa, panggil saja aku."
Wang Hao mengangguk, lalu berjalan menaiki tangga kayu yang berderit di setiap langkahnya. Di ujung tangga, ia berbelok ke lorong pendek dan berhenti di depan pintu kamar nomor tiga. Ia memasukkan kunci ke lubangnya. Satu putaran, dan pintu itu terbuka. Wang Hao segera melangkah masuk.
Di dalam...
Ruangan kecil itu hanya berisi satu dipan kayu, satu meja rendah, dan satu jendela yang menghadap ke jalan. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati jendela.
Ia membuka sedikit tirai bambu dan menatap ke luar.
Di atap bangunan seberang jalan, kini dua burung hitam bertengger diam. Mata mereka menyala redup, menatap langsung ke jendela kamarnya.
Wang Hao menutup tirai.
Ia berjalan ke dipan kayu, lalu mengeluarkan Ruo Li dari dalam cincin ruang. Benang cahaya putih meliuk keluar, lalu mengembang menjadi sosok wanita transparan yang melayang di atas lantai.
"Tuan..." Ruo Li memiringkan kepalanya, "kenapa tuan simpan Ruo Li begitu lama? Aku bosan di dalam sana. Gelap sekali."
"Maaf," kata Wang Hao singkat.
Ruo Li mengerutkan keningnya. "Tuan minta maaf? Untuk apa?"
"Kota ini memiliki sesuatu yang membuatku harus berhati-hati."
"Apa itu?"
Wang Hao tidak menjawab langsung. Ia duduk bersila di atas dipan kayu, lalu menutup matanya. "Kau bisa keluar. Tapi jangan pergi jauh-jauh dari kamar ini."
Ruo Li mengangguk patuh, lalu melayang ke arah jendela. Ia membuka sedikit tirai bambu dan menatap ke luar, mengamati jalanan malam yang sepi. "Tuan, ada burung hitam di atap sana. Matanya aneh sekali."
"Aku tahu."
"Tuan tidak takut?"
Wang Hao membuka satu matanya. "Takut pada burung?"
"Hehehe..." Ruo Li terkekeh pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Wang Hao menutup matanya lagi dan mulai bermeditasi.
Energi spiritual di Kota Fengyu sedikit lebih tebal dibandingkan di Kota Lanyu. Wang Hao menarik energi itu dengan Teknik Napas Langit Mendalam, memadatkannya setetes demi setetes, memperkuat fondasi lapis ketujuhnya.
Malam berlalu tanpa gangguan berarti. Kedua pria berjubah hitam yang tadi berada di rumah makan tidak muncul lagi, dan burung-burung hitam di atap seberang jalan tetap bertengger diam tanpa bergerak.
Fajar berikutnya, Wang Hao membuka matanya. Ia bangkit dari dipan kayu, meregangkan tubuhnya, lalu berjalan ke jendela. Burung-burung hitam itu sudah pergi, digantikan oleh cahaya matahari pagi yang mulai menyinari atap-atap rumah.
Ruo Li berdiri di sampingnya. "Tuan, apa kita akan pergi sekarang?"
"Ya," jawab Wang Hao. "Tapi sebelum itu, kau harus kembali ke dalam cincin."
Ruo Li mengangguk tanpa membantah. Tubuhnya mengecil menjadi seutas benang cahaya, lalu masuk ke dalam cincin ruang Wang Hao.
Setelah itu, Wang Hao melangkah keluar dari kamar, menuruni tangga kayu yang berderit, lalu melewati pria tua di meja penerimaan yang masih tertidur dengan dengkuran yang sama seperti semalam. Ia mengembalikan kunci, lalu mendorong pintu penginapan dan melangkah keluar.
Begitu kakinya menginjak jalanan batu, semuanya berubah.
Pagi di Kota Fengyu jauh lebih ramai dibandingkan malam. Para pedagang sudah membuka kios mereka, kultivator berjalan dengan pedang di pinggang, dan penduduk biasa berlalu-lalang di sepanjang jalan batu. Aroma daging panggang dan roti kukus memenuhi udara dari kedai-kedai makanan yang baru buka.
Wang Hao berjalan menyusuri jalan utama, menuju ke arah gerbang utara. Kedua pria berjubah hitam dari tadi malam sudah tidak terlihat. Burung-burung hitam juga tidak ada. Kota ini kembali normal seperti biasa, setidaknya di permukaan.
Ketika ia melewati papan pengumuman di persimpangan utama, kerumunan kecil menarik perhatiannya. Sekitar dua puluh orang berkerumun di depan papan itu, membaca sesuatu yang baru ditempel.
Wang Hao tidak berhenti, hanya memperlambat langkahnya sedikit untuk mendengar potongan percakapan mereka.
"Klan Murong sudah putus asa rupanya..."
"Hadiahnya lima ribu batu roh tingkat menengah... gila, itu setara dengan lima ratus ribu batu roh tingkat rendah!"
"Siapa pun yang bisa menyembuhkan putri kecil mereka akan mendapatkannya. Tapi buat apa? Tidak ada yang bisa menyembuhkan kelumpuhan sejak lahir."
"Katanya mereka sudah memanggil tabib dari ibu kota kerajaan. Tapi tetap saja tidak bisa."
Wang Hao terus berjalan. Lima ribu batu roh tingkat menengah adalah jumlah yang sangat besar untuknya saat ini. Tapi ia tidak tertarik. Ia tidak ingin terlibat dengan Klan Murong, tidak ingin terlibat dengan Nalan Yehuan, dan tidak ingin terlibat dengan urusan yang tidak memberinya keuntungan langsung.
Setelah cukup lama berjalan...
Ia tiba di gerbang utara.
Dua penjaga berjubah merah yang sama seperti semalam berdiri di kedua sisi.
Wang Hao melangkah keluar dari Kota Fengyu, tanpa diperhatikan, meninggalkan bangunan-bangunan batu tua, tanpa menoleh kebelakang sekalipun.
Jalan setapak di depan gerbang membentang lurus ke arah utara, melewati padang rumput yang luas dan pepohonan yang semakin jarang.
Begitu jarak sudah jauh, Wang Hao mengeluarkan Ruo Li dari cincin ruangnya. Benang cahaya putih meliuk keluar, lalu mengembang menjadi sosok wanita transparan.
"Akhirnya keluar juga." Ruo Li meregangkan tubuhnya, meskipun tubuhnya tidak memiliki otot untuk diregangkan. "Tuan, kenapa kita buru-buru sekali? Kota itu bagus. Aku ingin lihat lebih lama."
"Aku tidak terburu-buru," kata Wang Hao sambil melangkah. "Hanya saja tidak ingin berlama-lama di sana."
Ruo Li mengangguk pelan, lalu melayang di samping Wang Hao. "Tuan, tadi aku dengar orang-orang membicarakan tentang seorang putri kecil yang sakit. Kenapa Tuan tidak mau membantu?"
"Karena aku tidak perlu."
"Tapi kan Tuan bisa menyembuhkan..."
"Bisa bukan berarti harus."
Ruo Li terdiam, mencoba memahami logika itu. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk lagi. "Jadi Tuan hanya membantu orang yang Tuan pilih sendiri?"
"Kurang lebih."
Mereka terus berjalan ke arah utara, meninggalkan Kota Fengyu semakin jauh di belakang. Perjalanan mereka selanjutnya adalah pusat wilayah barat Benua Dongxu, tempat di mana rute menuju pusat benua dimulai.
lanjut dengan pertarungan.