Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap disini, Dokter Azra
Suasana hiruk-pikuk di Pustu Dusun Teduh sudah berlangsung dari jam 7 pagi. Pelayanan buka jam 8, bila sesuai aturan. Namun, semenjak Dokter Azra tinggal di dusun ini, menggantikan sementara bidan yang menempuh pendidikan, dia menyarankan petugas Pustu, untuk membuka loket pada pukul 7 pagi.
Supaya makin banyak orang sakit yang tertolong, itu saja alasan yang disampaikan saat timbul protes dari beberapa petugas. Seiring berjalannya waktu, petugas Pustu pun akhirnya terbiasa buka jam 7 pagi.
Jam dinding menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat.
Dokter Azra sudah berada di ruangan dua jam yang lalu, memeriksa beberapa pasien yang datang silih berganti sesuai antrean.
Dengan teliti, Dokter Azra menuliskan resep untuk ibu muda di depannya, "Ibu, jangan lupa meminum obatnya secara rutin, ya. Ibu sedang menjalani 6 bulan perawatan TBC. Pastikan untuk meminum paket obat ini tepat waktu selama 1 minggu. Minggu depan, di hari yang sama dengan hari ini, Ibu harus kontrol kembali kemari. Jangan sampai putus pengobatannya."
"Kalau kelupaan tidak minum obatnya bagaimana, Dok?" tanya pasien
"Bakal mengulangi lagi dari awal. Karena proses pengobatan sempat terhenti. Bila Ibu mengikuti anjuran kami untuk rutin minum obatnya, selalu memakai masker, berusaha hidup sehat, insya Allah penyakit TBC Ibu bisa sembuh. Dengan izin Allah," jelas Dokter Azra tegas.
"Baik, Dokter, insya Allah saya nurut anjuran Dokter Azra. Saya ingin sembuh. Capek saya, setiap batuk sampai susah bernapas, kadang sampai demam dan susah tidur..." keluh pasien dengan wajah sedih.
Dokter Azra tersenyum lembut sambil mengusap tangan ibu itu. "Yang sabar ya, Bu. Pastikan keluarga ada yang membantu Ibu untuk selalu minum obat tepat waktu," diserahkannya resep obat ke tangan pasien.
"Terimakasih, Dokter."
"Sama-sama. Nomer antrean selanjutnya..." panggil Dokter Azra kepada pasien antrean berikutnya.
Sementara itu, di ruang loket yang jadi satu dengan ruang obat, petugas Pustu sedang sibuk dengan aktivitas hariannya.
"Mas Yanto, beneran tah, Dokter Azra mau dipindah tugasnya?"
"Lha, aku ya nggak tahu lho, Ti. Dengar-dengarnya sih begitu. Eman ya, Ti, padahal masyarakat sini sudah kadung sayang dan dekat sama Dokter Azra," jawab Yanto sambil mencari data pasien yang hendak berobat.
"Kalau jadi pindah, terus piye kita, Mas. Dokter penggantinya, baik juga pora?" tanya Siti -petugas Obat- di Pustu sambil menyerahkan obat pada pasien.
"Tidak tahu juga, Ti. Dokter Azra kan memang juga sementara disini, menggantikan bidan Dewi yang sedang menempuh pendidikan lanjutan. Jadi sewaktu-waktu bisa ditarik lagi ke Puskesmas kecamatan."
"Oala gitu tah, Mas Yanto. Gimana kalau kita minta Pak Kades buat membujuk Bu Dokter biar tidak pindah. Biar tetap disini sama bidan Dewi, kalau sudah selesai pendidikan. Gimana Yu Siti, setuju toh dengan usulku?" Pak Tejo yang biasa membersihkan Pustu tiba-tiba masuk ruangan dan ikut nimbrung dalam obrolan.
"Walah, Pak Tejo. Kita ini wong cilik, bisanya ya manut dengan atasan... Pak Darmo, ini obatnya. Diminum tiga kali sehari ya, Pak, sesudah makan. Dihabiskan, biar cepat sembuh dan segera nggarap sawah lagi..." ujar Siti
"Iyo, Ti, terima kasih ya... doakan aku cepat sembuh, Nduk."
"Aamiin..." kompak mereka bertiga mengaminkan doa Pak Darmo yang berlalu sambil terbatuk-batuk.
"Eh... tenan yoo, Dokter Azra mau pindah?" tanya ibu berdaster kuning, yang menggendong bayi laki-laki umur 3 bulanan.
"Kalau jadi pindah, gimana dusun kita. Yo lék dapat dokter yang baik lagi kayak dia, kalau dokter penggantinya judes kayak Dokter Wita, wah, alamat malas berobat lagi warga dusun kita," timpal seorang pemuda sambil mematikan rokok di tangan.
"Mulutmu lho, No. Kalau ngomong kok nggak ditata yaa. Kalau Dokter Wita dengar, nesu, terus tidak mau ngobati gigimu yang penuh lubang kayak jalan di ujung dusun itu, rasain!" sergah Mas Yanto dari dalam loket dengan mata melotot.
Bukan tanpa alasan, mereka paling takut dengan Dokter Wita, galak katanya. Meskipun ke Pustu hanya dua kali dalam seminggu, tapi mereka masih butuh bantuannya saat gigi mereka sakit. Karena baru tiga bulan ini, dusun mereka diberi dokter gigi tetap oleh pemerintah. Itu pun, setelah Dokter Azra dan Kepala Desa mengajukan proposal berkali-kali ke Dinas Kesehatan.
"Wis, jangan ramai di depan loket. Cepat pulang, doain saja, Dokter Azra dan Dokter Wita mau tetap disini. Nanti kita sama-sama menemui pak Kades, biar diomongkan lagi keinginan warga."
"Hehehe... Baik, yu Siti yang manis kayak gulali. Kangmas mu Paino pulang dulu yo," ujar Paino berlalu sambil tertawa lebar.
"Wong edan !" sungut yu Siti.
Mas Yanto dan beberapa pasien yang masih antre tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.
Sementara itu, di ruang praktik, yang terhubung tidak jauh dengan ruang obat dan loket pendaftaran, Dokter Azra tercenung mendengar obrolan warga di luar ruangan. Berita mengenai pemindahannya memang belum turun secara resmi. Tetapi banyak warga yang menyebarkan desas desus ini. Dia sendiri bingung, dari mana sumber berita itu bocor.
Dokter Azra menggelengkan kepala mengusir keheranannya.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Saat Dokter Azra mengangkat kepala, bola mata hazelnut nya terbelalak kaget.