NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23_Edgar turun tangan.

"Hallo, Kak... lagi sibuk nggak?" tanya Elvara dengan suara pelan. Jemarinya menggenggam ponsel erat, sementara tatapannya kosong menembus jendela.

Di seberang sana terdengar suara Edgar yang terdengar tenang, namun tetap berwibawa.

"Untuk adikku, sesibuk apa pun aku pasti punya waktu. Ada apa, El?" jawab Edgar sambil menghentikan aktivitasnya. Keningnya sedikit berkerut karena merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Elvara menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, sekali saja Edgar mengetahui apa yang dilakukan Arsenio, pria itu tidak akan tinggal diam.

"Kak... aku butuh bantuan." ucapannya lirih. Matanya mulai berkaca kaca, sementara napasnya terdengar berat karena menahan beban yang selama ini dipendam sendiri.

"Bantuan apa?" Nada suara Edgar langsung berubah serius. Senyum di wajahnya menghilang seketika.

Elvara terdiam beberapa detik. Ia mengatur napas sebelum akhirnya memberanikan diri.

"Kak... Arsenio mulai bergerak lagi." Suaranya terdengar pelan, namun jelas menyimpan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.

"Apa maksudmu?" tanya Edgar dengan suara yang semakin dingin. Rahangnya mulai mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal di atas meja.

"Dia mencoba merusak nama baik perusahaan kita. Bahkan dia juga membobol sistem perusahaan dan mencuri beberapa data penting. Untung tim IT cepat mengatasinya, jadi kerugiannya tidak terlalu besar." jelas Elvara. Ia menghembuskan napas panjang setelah mengatakannya.

Rahang Edgar mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya berubah tajam, menahan amarah yang perlahan mulai membara.

"Kenapa baru sekarang kamu bilang?" tanyanya dengan nada rendah yang justru terdengar lebih mengintimidasi.

"Aku... aku nggak mau Kakak marah." Jawab Elvara pelan.

"Elvara!" suara Edgar meninggi. "Berapa kali Kakak bilang, jangan pernah menghadapi orang seperti Arsenio sendirian."

Elvara langsung memejamkan mata.

"Aku tahu, Kak." suaranya nyaris berbisik. Bahunya turun pelan di penuhi penyesalan.

"Nggak, kamu nggak tahu. Kalau tahu, kamu pasti langsung menghubungiku." Edgar menggeleng pelan. Tatapannya dipenuhi rasa kecewa sekaligus kekhawatiran yang mendalam.

"Aku cuma ingin menyelesaikannya sendiri." Elvara tersenyum pahit.

"Dan hasilnya? Dia malah semakin berani." Nada suara Edgar terdengar tegas.

Ucapan Edgar membuat Elvara terdiam. Ia tidak bisa membantah sedikit pun.

"Aku sebenarnya mampu menghadapinya, Kak." ucap Elvara lirih.

"Aku tahu kamu mampu." Edgar menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Tapi kamu bukan sendirian lagi. Kamu punya aku. Jangan biasakan memikul semuanya sendiri."

Mata Elvara mulai berkaca-kaca mendengar kalimat itu.

"Itulah kenapa aku menelepon Kakak sekarang." suaranya terdengar lebih tenang. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya hampir jatuh.

Edgar kembali duduk di kursinya.

"Ceritakan semuanya. Jangan ada yang ditutupi." nada suaranya kini lebih lembut, namun tetap tegas.

Elvara pun menjelaskan satu per satu semua perbuatan Arsenio. Mulai dari sabotase proyek, percobaan merusak reputasi perusahaan, hingga aksi pembobolan sistem yang hampir membuat perusahaan mengalami kerugian besar.

Semakin lama mendengar penjelasan itu, wajah Edgar semakin gelap.

"Kurang ajar..." gumamnya pelan.

"Aku tahu Kakak pasti marah." jawab Elvara.

"Marah? Ini sudah lebih dari sekadar marah." balas Edgar dengan senyum sinis.

Elvara kembali berbicara dengan hati-hati.

"Aku ingin memberi pelajaran pada Arsenio." ujarnya

Edgar menyipitkan matanya.

"Pelajaran seperti apa?" tanyanya penuh perhatian.

"Aku ingin semua perbuatannya terbongkar. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan, kehilangan relasi bisnis, dan kehilangan semua yang selama ini dia banggakan." jelas Elvara dengan tatapan penuh keyakinan.

Edgar tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.

"Itu baru adikku." balasnya dengan rasa bangga.

"Tapi..." Elvara kembali ragu.

"Tapi apa?" tanya Edgar menatap lurus kedepan, wajahnya kembali serius.

"Aku nggak mau Kakak bertindak terlalu jauh." lanjutnya

Edgar tertawa pelan.

"Kamu masih mengkhawatirkanku di saat seperti ini?" ujarnya sambil menggeleng.

"Aku tahu sifat Kakak." jawab Elvara

"Kamu benar. Kalau ini urusanku sendiri, mungkin Arsenio sudah menyesal seumur hidup." jawab Edgar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Itu yang aku takutkan." lanjutnya lagi

Edgar mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya berkata dengan nada lebih tenang.

"Baiklah. Karena ini permintaanmu, Kakak akan melakukannya dengan cara yang bersih." ujar Edgar. Kemarahannya kini berubah menjadi tekad.

"Benarkah?" tanya Elvara memastikan

"Iya. Kita balas dia lewat jalur hukum dan bisnis. Semua bukti yang dia tinggalkan akan kita kumpulkan. Setelah itu, kita buat semua kliennya tahu siapa Arsenio sebenarnya." jelas Edgar penuh keyakinan.

Elvara mengembuskan napas lega.

"Terima kasih, Kak." balas Elvara tulus.

"Tapi ada syaratnya." ujar Edgar memberi penawaran.

"Apa?" tanya Elvara

"Mulai hari ini, jangan pernah menyembunyikan masalah dariku lagi." lanjutnya

Elvara tersenyum kecil.

"Aku janji." Elvara mengangguk pelan sebagai penegasan.

"Janji?" ulang Edgar.

"Iya, aku janji." sahut Elvara

Edgar mengangguk pelan meski Elvara tidak bisa melihatnya.

"Bagus. Sekarang kirim semua data yang kamu punya. Timku akan mulai bekerja malam ini juga." Ujar Edgar.

"Baik, Kak." jawab Elvara mantap

"Oh ya, El." panggil Edgar pelan.

"Iya?" jawab Elvara cepat

"Kamu jangan takut lagi." ucap Edgar terdengar hangat.

"Aku nggak takut." balas Elvara mencoba kuat.

"Bohong." Canda Edgar terkekeh pelan.

Elvara tertawa kecil.

"Sedikit." jawab Elvara memerah karena ketauan bohong.

"Sekarang nggak perlu takut lagi. Kakak yang akan berdiri di depanmu." ucap Edgar penuh ketegasan.

Air mata Elvara akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Terima kasih... sudah selalu melindungiku." ujar Elvara

"Selama Kakak masih hidup, nggak akan ada yang berani menyakitimu lagi." jawab Edgar dengan tulus.

Sambungan telepon pun berakhir.

Elvara menatap layar ponselnya beberapa saat. Hatinya terasa jauh lebih tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Di sisi lain, Edgar berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tatapannya lurus ke arah langit sore yang mulai menggelap. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Mulai malam ini, awasi semua pergerakan Arsenio. Kumpulkan seluruh bukti transaksi, komunikasi, dan aktivitas ilegalnya. Aku ingin semuanya lengkap." nada suaranya terdengar datar, namun penuh tekanan.

"Baik, Tuan Edgar." jawaban itu terdengar mantap.

Edgar menutup telepon dengan wajah datar.

"Arsenio..." gumamnya pelan. "Kamu sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu. Kali ini, bukan hanya Elvara yang akan berhadapan denganmu. Tapi aku."

Sudut bibir Edgar terangkat membentuk senyum tipis yang penuh ancaman. Permainan yang selama ini dinikmati Arsenio akhirnya memasuki babak terakhir, dan kali ini, Edgar memastikan adiknya akan menjadi pihak yang keluar sebagai pemenang.

1
Lee Mba Young
nasib selingkuh an nya gimana itu.
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!