NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kayu yang Menyembunyikan Daunnya

​Balai Ujian mendadak hening. Ribuan pasang mata menatap Lin Tian seolah ia baru saja kehilangan akal sehatnya. Seorang murid pelayan mendaftarkan diri? Ujian ini bukan sekadar pamer kekuatan; Boneka Perunggu yang digunakan dirancang untuk mematahkan tulang siapa pun yang tidak memiliki fondasi ranah Mortal tingkat tiga yang solid.

​Penatua Penilai yang duduk di kursi kehormatan mengerutkan kening. Ia mengelus jenggot putihnya dan menatap Lin Tian dengan tatapan tajam.

​"Nak, aturan sekte tidak bisa dibuat main-main. Siapa pun yang berani mengacaukan balai ujian akan menerima hukuman cambuk seratus kali. Majulah, biarkan aku memeriksa meridianmu," perintah sang Penatua.

​Lin Tian melangkah maju dengan tenang. Di dalam tubuhnya, ia segera memerintahkan Qi naga astralnya untuk tenggelam ke dasar lautan meridiannya, hanya menyisakan lapisan tipis Qi biasa di permukaan. Untuk bertahan hidup lama di dunia kultivasi dan menghindari incaran tokoh-tokoh kuat, seseorang harus tahu kapan menyembunyikan taringnya. Memperlihatkan fondasi mutlak yang ia bangun dari inti binatang buas tingkat tiga hanya akan mengundang pembunuhan, bukan kekaguman.

​Sang Penatua meraih pergelangan tangan Lin Tian dan mengalirkan sedikit energinya. Sedetik kemudian, alis sang Penatua terangkat.

​"Benar-benar tingkat tiga," gumam Penatua itu dengan nada terkejut, namun kemudian ia menggeleng pelan. "Tapi Qi-mu terasa sangat dangkal dan tidak stabil. Kau pasti memaksa diri menelan semacam herbal tingkat rendah hingga fondasimu rapuh. Pelayan sepertimu terlalu terburu-buru."

​Di sudut balai, Zhao Hai tertawa sinis, rasa sakit di lengannya seolah sedikit berkurang. "Mendengar itu, Kakak Kuang? Dia hanya sampah yang memaksakan diri menerobos dengan keberuntungan."

​Zhao Kuang melipat lengannya di depan dada, tersenyum meremehkan. "Orang dengan fondasi rapuh tidak akan bertahan melewati serangan kelima Boneka Perunggu. Dia datang ke sini hanya untuk mengantarkan nyawanya."

​Lin Tian mengabaikan cemoohan di sekitarnya. Ia menoleh pada sang Penatua. "Penatua, jika saya lulus ujian ini, saya berhak membawa satu anggota keluarga ke pelataran murid luar sebagai asisten pribadi, bukan? Adik saya, Lin Chen, belum mencapai tingkat tiga, jadi ia hanya akan ikut dengan hak tersebut."

​"Jika kau selamat dari panggung ini, kau bebas membawa siapa pun untuk menyapu halamanmu," jawab Penatua itu datar. "Naiklah ke panggung!"

​Lin Tian melangkah menaiki tangga batu menuju arena utama. Di depannya, sepuluh Boneka Perunggu mekanis setinggi dua meter berjejer membentuk lingkaran. Mata merah dari batu roh menyala di kepala mereka, menandakan mekanisme pertahanan telah aktif.

​"Mulai!" teriak Penatua.

​TRANG! WUSH!

​Tiga Boneka Perunggu langsung melesat ke arah Lin Tian dari arah depan, kiri, dan kanan secara bersamaan. Tinju tembaga mereka membelah udara dengan kekuatan setara puncak tingkat tiga ranah Mortal. Angin dari pukulan itu bahkan membuat pakaian Lin Tian berkibar keras.

​Alih-alih membalas dengan tinju berkekuatan penuh yang bisa menghancurkan boneka itu berkeping-keping, Lin Tian memiringkan bahunya di detik terakhir. Ia melangkah ke belakang dengan gerakan yang terlihat kikuk namun anehnya sangat akurat.

​Tinju perunggu itu meleset hanya selebar satu inci dari wajahnya. Lin Tian memutar tubuhnya, menggunakan momentum serangan boneka itu, dan memukulkan telapak tangannya ke sendi siku boneka di sebelah kirinya dengan tenaga yang sangat terukur.

​Trak!

​Boneka itu kehilangan keseimbangan dan menabrak boneka lainnya.

​"Dia menghindar?" teriak seorang pelayan dengan takjub.

​Serangan terus berlanjut. Empat, enam, hingga delapan pukulan dilayangkan secara brutal. Lin Tian terus bergerak mundur, berguling, dan sesekali menangkis dengan susah payah. Di mata murid luar seperti Zhao Kuang dan Zhao Hai, Lin Tian tampak seperti daun kering yang dipermainkan angin—terlihat menyedihkan dan hampir hancur di setiap detiknya.

​Namun, di kursi kehormatan, mata sang Penatua Penilai perlahan menyipit.

​Orang awam mungkin melihat Lin Tian terdesak, tetapi sang Penatua menyadari satu hal yang janggal: napas pemuda itu tidak berubah sama sekali. Setiap langkah mundurnya, setiap tangkisannya yang terlihat nyaris patah, dihitung dengan sangat presisi. Pemuda itu tidak membuang setetes Qi pun secara percuma.

​BAM!

​Serangan kesepuluh, yang merupakan serangan gabungan dari dua boneka tercepat, meluncur ke dada Lin Tian. Kali ini, Lin Tian tidak menghindar. Ia menyilangkan kedua lengannya, membiarkan tubuhnya terpental mundur hingga nyaris jatuh dari panggung batu. Ia berpura-pura terbatuk, mengusap debu di sudut bibirnya seolah menahan luka dalam.

​"Waktu habis!" seru asisten balai ujian sambil memukul gong perunggu. Sepuluh boneka mekanis itu seketika berhenti bergerak dan kembali ke posisi semula.

​Balai Ujian diliputi keheningan sesaat, sebelum akhirnya para murid pelayan bersorak tertahan. Tidak ada yang peduli bagaimana cara Lin Tian bertahan; faktanya, ia tidak pingsan dan tidak terlempar keluar dari arena.

​Lin Tian berdiri sambil menepuk pakaiannya yang berdebu. Ia melirik ke arah Zhao Kuang dengan tatapan yang sangat tenang. Di seberang sana, senyum meremehkan di wajah Zhao Kuang lenyap, digantikan oleh kerutan tajam di dahinya. Rencananya untuk melihat Lin Tian diangkut dalam keadaan lumpuh gagal total.

​"Beruntung sekali," geram Zhao Hai, menggertakkan giginya.

​Sang Penatua berdiri, menatap Lin Tian dengan pandangan penuh makna sebelum melemparkan sebuah plakat kayu berukir pedang perak. Lin Tian menangkapnya dengan mantap.

​"Lin Tian, Ujian Lulus. Mulai hari ini, kau adalah Murid Luar Sekte Pedang Langit. Pergilah ke Paviliun Keperluan untuk mengambil jubahmu dan mengklaim pelataran luar nomor 404," umum sang Penatua.

​Lin Tian menangkupkan kedua tangannya memberi hormat. Ia turun dari panggung dan menghampiri Lin Chen yang matanya berkaca-kaca menahan haru.

​"Ayo, Chen'er. Kita tinggalkan tempat ini," ucap Lin Tian pelan.

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!