Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 25
"Itu motor siapa?" tanya Lady.
Ace mengangkat sebelah alisnya. "Lo amnesia? Motor kakak sendiri sampai lupa?"
Selagi tangannya sibuk membuka bungkusan kopi, Saat ini, Lady yang sedang berdiri di dapur lantas mencoba mencuri dengar apa yang kedua cowok itu bahas di ruang tamu.
"Lady, kopinya jangan pada lo kasih gula!" sahut Ace dari ruang tamu.
Lady mengernyit bingung. Apa rasanya kopi hitam tanpa gula? Bukannya akan pahit, ya?
Hingga saat Lady berkaca di cermin dapur, barulah ia sadar mengapa Ace dan Leon sama-sama tidak butuh gula. Hal itu karena rasa manisnya sudah ada pada dirinya. Jadi, mereka berdua hanya perlu menatap Lady saja sambil minum kopi, maka pasti rasa kopinya akan manis.
"Oh my god. Gue emang manis banget, sih," gumam Lady dengan pedenya.
Saat airnya sudah mendidih di atas kompor, Lady buru-buru menuangkan air panas itu ke gelas Ace dan Leon.
Tadinya, Lady berfikir untuk mencampurkan ludah sebagai opsional ke gelas Ace agar suaminya itu jinak kepadanya. Tapi, kalau difikir-fikir sepertinya tidak usah. Bisa tewas dia kalau Ace sampai tau.
Nih kopinya," ujar Lady seraya meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja.
Leon menatap Lady sejenak sebelum kembali fokus menatap kopinya yang terlihat mencurigakan.
"Lo nggak nyampurin kopi gue pakai bubuk mesiu, kan?" tanya Leon yang sedang duduk berhadapan dengan Ace.
Lady menggeleng. "Nggak Kok, cuman sianida doang."
"Ngapain lo ngebawa Yuna juga ke sini?" tanya Ace sambil menatap Ace dengan serius. Masalahnya, Leon membawa orang lain ke rumah ini. Bisa bahaya jika gadis itu malah buka mulut dan ngomong sama orang-orang tentang dia dan Lady.
Leon menghela nafasnya. "Tenang aja. Gue jamin kalau babu gue itu bakal tutup mulut."
Lady kemudian menghampiri seorang gadis berambut panjang yang sedang berjongkok di pinggir kolam sambil memberi makan ikan-ikannya. Tadi, gadis itu datang bersama Leon.
"Aku juga pengen melihara ikan kayak gini," ucap gadis berjaket pink itu.
"Lo nggak bakal mampu," balas Lady. Entah mengapa, namun Yuna merasa bahwa mulut Lady sangat jujur.
"Kamu jujur banget, sih," ucap Yuna dengan tersenyum manis.
Lady menghela nafas melihat gadis di depannya ini yang terlihat sangat lusuh dan seperti orang susah. Jadi ini toh Yuna yang selalu disebut-sebut sama kakaknya dan anak Thunder yang lain.
"Jujur sama gue. Lo itu siapanya abang gue, sih? Ceweknya?" tanya Lady.
Yuna menggeleng. "Aku cuman babunya kakak kamu doang kok."
Lady menganggukkan kepalanya. Kakaknya itu beneran lumayan sarap deh kayaknya. Masa iya cewek seimut ini malah dijadiin babu? Eh, tapi masih imut, lucu, gemesin, sama cantikan Lady sih.
Apa? Kalian ngeharapin Sang Lady muji orang lain lebih perfect daripada dirinya? Nggak mungkin, Sayy.
"Ikan yang ini lucu banget." Yuna menunjuk salah satu ikan gempal yang berbeda dari ikan lainnya.
Lady melirik ikan tersebut. "Oh, itu Good. Ikan kesayangannya Ace."
"Ihhh lucu-lucu banget, sih, ikannya. Jadi pengen punya juga."
"Ini ikan harganya mahal banget. Si Leon, kan, duitnya banyak tuh, jadi lo suruh beliin aja sama dia," ucap Lady lagi yang kali ini membuat Yuna mengangguk mengerti.
"Emang Leon mau beliin buat aku?"
Lady mengangguk yakin. "Emang lo pernah minta sesuatu sama dia, tapi nggak diturutin?"
Yuna terlihat mengusap-usap dagunya sebentar sebelum menjawab. "Pernah. Dulu aku minta sama dia buat berhenti ngebully aku, tapi dianya nggak mau."
"Kapan balapannya dimulai?" tanya Ace yang kembali melanjutkan obrolannya tadi dengan Leom.
"Besok malam," jawab Leon yang kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
Leon lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya seraya mengambil korek Ace di atas meja.
"Lawan lo nanti ada Rexan sama Gavin. Hadiahnya lumayan kalau lo bisa menang. Duitnya bisa lo pakai buat tambah-tambah beli motor baru," imbuh Leon.
"Tapi, lo juga harus hati-hati, sih, kalau saran gue. Gue udah sering ngeliat Rexan balapan di sirkuit. Mustahil kalau dia main, tapi nggak ngerusuh," ujar Leon.
"Santai aja kalau cuman masalah itu," balas Ace dengan santainya.
Ace sudah bisa menebak cara bermain Rexan yang selalu seperti cacing kepanasan di arena balap. Atau lebih tepatnya, amburadul. Sementara Gavin, cowok itulah yang justru harus mereka waspadai. Mereka tidak tau siapa itu Gavin serta asal-usulnya. Yang mereka tau, Gavin adalah seorang pemuda yang suka datang ke sirkuit tersebut untuk ikut balapan.
"Ngomong-ngomong, rumah lo gede juga, padahal yang nempatin cuman kalian berdua," ujar Leon. Manik coklatnya kini meneliti seisi rumah yang menurutnya sangat luas itu.
Ace mengangkat acuh bahunya. "Lagian yang nempatin nanti bukan cuman gue doang sama adek lo."
Leon mengernyit bingung. "Sama siapa lagi? Bini lo yang kedua?"
Ace mengangguk mantap. "Yoi. Istri kedua gue yang namanya Yuna Marsheya."
"Itu mah babu gue, tolol." Leon melemparkan bantal sofa kepada Ace, namun segera ditangkap oleh cowok itu.
Ace terkekeh. "Lagian lo ngomongnya ada-ada aja. Udah jelas nih rumah juga bakal diisi sama anak-anak gue, makanya papa gue sengaja beli yang luas kayak gini. Katanya, biar nanti anak-anak gue bisa bebas berkeliaran atau main-main di dalam rumah."
*
*
Where are you going?" tanya Lady yang sedang duduk di depan kaca riasnya sambil memakai skincare-nya.
"Sirkuit," jawab Ace sembari memakai jaket kulitnya. Cowok itu beranjak ke samping Lady dan ikut merapikan rambut ikalnya di depan cermin.
"Kella, Gaidan, Atan, sama Leon ikut juga?" tanya Lady. Lagi-lagi Ace menganggukan kepalanya.
"Gue mau ikut, ya?" Seketika Ace menoleh kepada Lady saat mendengar permintaan gadis itu.
"Mau ngapain lo ikut? Di sana banyak anak-anak bandel," jawab Ace kembali fokus menyisiri rambutnya.
Saat Ace hendak mengambil kunci motornya di atas nakas, tiba-tiba saja Lady menarik jaketnya.
"Ikut, dong, Ace. Gue bosan di rumah mulu sendirian." Jika Ace tetap tidak mau mengajaknya, maka Lady berjanji tidak akan pernah melepaskan jaket cowok itu.
Ace memutar malas bola matanya. " Nggak.
"Please. Gue nggak pernah datang ketempat gituan. Anggap aja lah kalau lo lagi ngebawa istri lo yang paling cantik ini liburan." Lady menatap memelas kepada Ace dengan wajahnya yang dibuat seimut mungkin.
"Di sana banyak anak-anak brandal. Gue nggak bisa ngebawa lo sembarangan Ketempat gituan," jawab Ace menepis tangan Lady dari jaketnya.
"Ayo, dong, suami gue yang paling ganteng sedunia, paling wangi duit, paling sensian, sama paling segala-galanya," mohon Lady yang kali ini menggenggam tangan Ace.
Ace berdecak malas. Entah mengapa, namun wajah Lady yang seperti itu malah membuatnya merasa geli. "Terserah."
Kini mata hazel Ace dapat melihat Lady yang bersorak kegirangan.
Lady buru-buru mengambil handphonenya di atas kasur dan kemudian mencari nomor kontak Zena. Lumayanlah, sahabatnya itu sangat cocok jika dibawa ke tempat seperti ini.
Lady : Ace ngajakin gue ke sirkuit
Zena : Dia yang ngajak atau lo yang maksa?
Lady : Dia yang ngajak. Nggak mungkin kalau cewek cantik kayak gue malah maksa-maksa pengen ikut sama cowok
Zena: Ah... masa le jek?
Lady : Terserah. Ngomong-ngomong lo mau ikut nggak? Kata Ace, di sana juga ada Kellan sama anak-anak yang lain.
Zena : Gass, ngengg.