NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Jejak di Balik Kabut

Setelah melewati Sungai Kabut, suasana di sepanjang jalur perjalanan terasa semakin berubah. Udara yang tadinya segar kini terasa semakin dingin dan tipis, seolah energi kehidupan perlahan tersedot keluar dari setiap sudut alam. Pepohonan yang masih berdiri tegak mulai terlihat pucat, daun-daunnya menguning meski belum masuk musim gugur, dan tanah di bawah kaki mereka terasa keras serta kering, seolah tidak pernah menerima air hujan selama berbulan-bulan.

Selama dua hari berikutnya, rombongan itu berjalan terus tanpa banyak berhenti, hanya beristirahat sebentar saat malam tiba. Kaelen, yang memimpin bagian keamanan perjalanan, selalu mengawasi sekeliling dengan waspada. Ia sering berhenti sejenak, memeriksa jejak di tanah atau mendengarkan suara angin, lalu memberikan isyarat agar semua orang tetap bergerak hati-hati.

“Semakin kita mendekati Pegunungan Utara, semakin kuat pengaruh kekuatan itu,” ujarnya suatu malam saat mereka berkumpul di sekitar api unggun yang nyala apinya terasa lebih redup dari biasanya. “Menurut cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, jalan menuju tempat persembunyian permata pertama dijaga oleh cahaya yang tidak biasa dan bayangan yang bisa bergerak sendiri. Kita harus mengandalkan akal sehat, bukan hanya penglihatan semata.”

Elara mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Sejak tadi pagi, ia menyadari bahwa ia memiliki kepekaan yang berbeda. Setiap kali ada perubahan energi di sekitarnya, hatinya berdebar lebih kencang, dan ia bisa merasakan mana bagian yang dipenuhi hawa baik dan mana yang diselimuti kegelapan. Ia mulai menyadari bahwa mungkin karena ia datang dari dunia lain, ia tidak sepenuhnya terikat pada aturan energi alam Aetheris, sehingga ia bisa menjadi semacam penunjuk arah yang alami bagi mereka.

Malam itu, setelah semua orang terlelap kecuali penjaga giliran, Valerius mendekati Elara yang sedang duduk memandang ke arah timur. Ia duduk di sampingnya, lalu meletakkan selimut tambahan di bahu gadis itu.

“Kau terlihat banyak berpikir, Elara. Apakah ada yang mengganggumu?” tanyanya lembut.

Elara menoleh dan tersenyum tipis. “Bukan rasa takut, Valerius. Saya hanya merasa ada sesuatu yang beresonansi dengan diri saya sendiri. Seolah tempat-tempat ini bukan hanya tanah dan batu biasa, tapi memiliki ingatan dan perasaan yang tersimpan di dalamnya. Saya bisa merasakan mana jalur yang aman dan mana yang harus dihindari.”

Mata Valerius sedikit melebar mendengarnya. “Jika begitu, itu adalah anugerah yang sangat berharga. Penjaga kuno sering mengatakan bahwa hanya mereka yang hatinya bersih dan tidak terikat pada ambisi semata yang bisa melihat jalan yang sebenarnya. Mungkin itulah alasan mengapa kau memiliki kepekaan itu.”

Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba api unggun di depan mereka berkedip-kedip hebat, lalu nyalanya hampir padam seketika, hanya menyisakan bara yang redup. Di kejauhan, terdengar suara desisan rendah yang datang dari arah hutan lebat, disertai gerakan bayangan panjang yang melayang-layang di antara batang pohon.

“Siaga!” seru Kaelen dengan suara rendah namun tegas. Semua prajurit segera berdiri dan mengangkat senjata mereka, siap menghadapi apa pun yang akan keluar dari kegelapan.

Namun yang muncul bukanlah makhluk buas atau pasukan musuh. Dari balik pepohonan keluar sosok-sosok yang tampak seperti kabut yang membentuk wujud manusia, namun tubuh mereka tembus pandang dan matanya memancarkan cahaya abu-abu redup. Mereka melayang mendekat tanpa mengeluarkan suara langkah, membawa hawa dingin yang membuat napas terasa membeku.

“Ini adalah roh-roh yang terperangkap di wilayah ini,” bisik Valerius sambil melindungi tubuh Elara di belakangnya. “Mereka bukan makhluk jahat, tapi kebingungan karena energi negatif yang melingkupi tempat ini. Jika kita melawan dengan kekerasan, mereka akan menjadi agresif.”

Elara mengangguk, lalu melangkah maju sedikit, melewati perlindungan Valerius. Ia merentangkan tangannya perlahan, lalu memancarkan rasa tenang dan kasih sayang dari dalam hatinya. Ia membayangkan cahaya hangat menyelimuti dirinya, dan berusaha menyampaikan pesan kedamaian kepada roh-roh itu tanpa menggunakan kata-kata.

Saat ia melakukan hal itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Cahaya samar yang memancar dari tubuh Elara perlahan menyebar ke udara, menyentuh setiap sosok kabut itu. Gerakan mereka yang tadinya gelisah melambat, dan cahaya abu-abu di mata mereka perlahan berubah menjadi warna putih keperakan yang lebih lembut. Suara desisan berubah menjadi bisikan yang lembut, seolah mereka sedang berterima kasih.

Mereka berputar mengelilingi rombongan itu sebentar, lalu melayang ke depan seolah memberi isyarat untuk mengikuti.

“Mereka menunjukkan jalan,” kata Elara dengan mata berbinar. “Mereka ingin menuntun kita melewati bagian hutan yang paling berbahaya.”

Dengan rasa heran sekaligus lega, Valerius memberi isyarat agar rombongan bergerak mengikuti roh-roh itu. Selama beberapa jam perjalanan dalam kegelapan malam, sosok-sosok cahaya itu berjalan di depan, menerangi jalur yang aman dan menghindarkan mereka dari celah tersembunyi, tanah longsor, serta semak berduri beracun yang tidak terlihat oleh mata biasa. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat yang terbuka, dikelilingi oleh dinding batu alami yang tinggi, dan di tengahnya berdiri sebuah bangunan kuno yang terbuat dari batu hitam yang telah lapuk dimakan waktu.

“Ini dia,” kata Valerius sambil menunjuk ke arah bangunan itu, matanya bersinar mengenali bentuk arsitektur yang tergambar di peta kuno. “Ini adalah Kuil Pertama, tempat disimpannya Permata Bumi — salah satu dari tujuh permata pelindung itu.”

Roh-roh penunjuk jalan itu berhenti di depan pintu masuk kuil, lalu melambung ke udara dan menghilang perlahan, seolah telah menyelesaikan tugas mereka. Cahaya bulan yang menerobos celah di atas dinding batu jatuh tepat di atas pintu masuk yang tertutup rapat, dihiasi ukiran simbol lingkaran dengan tiga garis silang di tengahnya.

Namun saat mereka melangkah mendekat, pintu itu tiba-tiba memancarkan getaran energi yang kuat. Udara di sekitarnya berputar membentuk angin kencang, dan suara berat bergema keluar dari dalam kuil, seolah berasal dari ribuan tahun yang lalu.

“Hanya mereka yang membawa niat suci dan hati yang setia yang boleh melangkah masuk. Siapa yang datang mengganggu tempat peristirahatan ini?”

Suara itu terdengar menggelegar, membuat tanah di bawah kaki mereka sedikit bergetar. Kaelen dan para prajurit segera bersiap, namun Valerius mengangkat tangannya menahan mereka. Ia melangkah maju sendiri, lalu membungkuk dengan penuh rasa hormat.

“Kami datang bukan untuk merampas atau menghancurkan, Penjaga Kuil. Kami datang atas nama Kerajaan Aetheris. Kekuatan kegelapan yang pernah dikurung oleh leluhur kami mulai bangkit kembali dan mengancam seluruh kehidupan di negeri ini. Kami memohon izin untuk mengambil kembali Permata Bumi, agar kami bisa memperkuat kurungan itu dan mengembalikan keseimbangan alam.”

Suara itu terdiam sejenak, seolah sedang memeriksa kebenaran kata-kata mereka. Kemudian, sorotan cahaya putih terang menyapu seluruh tubuh Valerius, lalu bergerak ke arah Elara dan anggota rombongan lainnya. Saat cahaya itu menyentuh Elara, ia merasakan rasa damai yang luar biasa menyelimuti dirinya, seolah ia sedang dipeluk oleh kehangatan matahari pagi.

Setelah pemeriksaan itu selesai, suara berat itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“Kalian membawa niat yang benar, namun jalan ke depan tidak akan mudah. Permata ini tidak akan menyerah hanya karena diminta. Ia akan menguji seberapa dalam tekad kalian dan seberapa besar kekuatan yang kalian miliki untuk melindungi apa yang berharga.”

Seiring ucapan itu, pintu batu yang berat itu perlahan terbuka dengan suara gesekan yang panjang, mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan dari dalam ruangan kuil yang gelap. Bau debu dan udara kuno tercium keluar, bercampur dengan aroma tanah yang subur dan segar — tanda bahwa energi di dalamnya masih terjaga dengan baik.

Mereka melangkah masuk satu per satu dengan hati-hati. Di tengah ruangan utama yang luas, berdiri sebuah alas dari batu pualam, dan di atasnya tergeletak sebuah batu bundar sebesar kepalan tangan, berwarna hijau tua yang berkilau, memancarkan denyut energi yang terasa hingga ke tulang sumsum. Itulah Permata Bumi, benda yang menjadi sumber kekuatan untuk menjaga kesuburan dan kestabilan tanah di seluruh kerajaan.

Namun begitu untuk mendekatinya, sebuah bayangan muncul di udara di atas permata itu — wujud raksasa dari cahaya hijau yang membentuk sosok prajurit kuno dengan perisai dan tombak.

“Jika kalian ingin memiliki kekuatan ini, buktikan bahwa kalian mampu mengendalikannya. Jika hati kalian goyah, kekuatan ini akan menghancurkan kalian sendiri,” ujar wujud itu, lalu bersiap untuk memberikan ujian pertama.

Valerius dan Elara saling berpandangan, lalu menggenggam tangan satu sama lain erat-erat. Mereka tahu bahwa ujian ini bukan untuk mengadu kekuatan fisik semata, melainkan untuk menguji kekuatan hati dan keyakinan yang mereka miliki bersama. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, mereka melangkah maju, siap menghadapi tantangan yang akan menentukan nasib seluruh kerajaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!