Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35
Malam semakin larut. Setelah menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang sempat tertunda, Riven
akhirnya memilih untuk kembali ke apartemennya.
Oakley yang sedang berdiskusi dengan sekretaris Riven menoleh ke arah dimana pintu di buka.
“Tuan muda anda akan pulang ke rumah utama?”
“Tidak, mulai sekarang aku akan pulang ke apartmen.”
“Saya mengerti. Tapi izinkan saya memberitahu bahwa mulai hari ini semua keperluan anda akan di tangani oleh sekretaris anda, Olivia Harrison, dan Tuan Thomas menugaskan bahwa Olivia akan mengikuti dan menemani anda selama di Jepang.”
“Terserah saja.” Kata Riven tak ambil pusing.
Oakley kemudian mengangguk pelan pada Olivia, lalu membungkukkan sedikit badannya pada Riven yang melangkah pergi.
————
Mobil sport milik Riven menembus jalanan malam, dan kemudian melesat dengan kecepatan penuh. Riven hanya ingin segera pulang.
Dan begitu sampai di Apartmennya, setelah bunyi suara biometrik yang tak asing bagi Riven lalu begitu pintu tertutup, keheningan total langsung menyambut. Riven pikir Angie akan kembali ke apartmennya. Namun ternyata apartmennya kosong.
Pria itu pun menaiki tangga selangkah demi selangkah, lampu tangga menyala secara bergantian saat pijakan kaki Riven menekan anak tangga.
Sesampainya di kamar, Riven menanggalkan jasnya dengan gerakan lambat. Saat kemejanya ikut dilepas, pantulan tubuhnya di cermin besar dekat lemari memperlihatkan realitas yang kontras. Bekas hantaman tongkat golf itu kini telah matang menjadi memar keunguan yang kontras di atas kulitnya, membentang mengerikan di punggung dan lengan kanan.
Riven hanya menatap luka itu selama beberapa detik tanpa ekspresi, lalu mengenakan kaus tipisnya kembali seolah cedera itu bukan sesuatu yang layak diratapi. Yang memenuhi benaknya saat ini justru hal lain. Angie.
Sebelum terbang ke Jepang, ia harus menemuinya. Riven tidak tahu berapa lama urusannya di Tokyo akan berlangsung, bisa dua hari, seminggu, atau bahkan lebih lama. Karena itu, ia ingin mengais sedikit waktu bersama Angie sebagai bahan bakar kekuatannya.
Memikirkan gadis itu perlahan menerbitkan senyum tipis di sudut bibir Riven. Rasa nyeri di punggungnya seolah memudar begitu saja. Tanpa sadar, ia merogoh ponsel, membuka sebuah foto yang diam-diam sempat ia ambil saat Angie tertidur di sampingnya.
“Cantiknya…” ucap Riven lirih.
Tatapannya melembut seketika. “Besok… aku akan menemuimu dulu,” gumamnya lirih pada layar ponsel.
Tatapan Riven masih tertambat pada potret Angie. Lengkung senyum yang semula menghiasi bibirnya belum sepenuhnya pudar ketika layar ponsel di genggamannya tiba-tiba berpendar, memecah keheningan.
Sebuah nama yang tertera di sana seketika mengalirkan kehangatan di netranya.
‘Sayang A’ Calling…
Tanpa ragu, jemarinya menggeser ikon hijau di layar.
“Sayang?”
Namun, alih-alih sambutan hangat, keheningan yang janggal menyergap. Hanya ada suara isak lirih yang tertahan, bergetar di balik pengeras suara.
Raut wajah Riven mengeras seketika.
“Angie?” panggilnya lagi, kini dengan nada yang lebih menuntut. “Ada apa? Kau menangis?”
Napas di seberang sana terdengar payah dan patah-patah. Gadis itu mencoba merangkai kata, namun pertahanannya runtuh lebih dulu. Isak tangisnya pecah.
“R-Riv…”
“Aku di sini. Tenanglah. Katakan padaku, ada apa?”
Butuh waktu beberapa detik yang menyiksa sebelum Angie berhasil menguasai suaranya yang bergetar hebat.
“Ayah… Ayah menguras semuanya…”
Alis Riven bertaut rapat. “Apa maksudmu?”
“Semua tas… sepatu… perhiasan… segala benda yang mereka berikan padaku… Bahkan semua barang-barang milik temanku yang di titipkan padaku untuk membantuku…” Suara Angie kembali tenggelam dalam tangis yang menyayat hati. “Ayah mengambil semuanya, dia menjualnya tanpa memedulikanku.”
Sepasang netra Riven seketika menggelap, menyiratkan kemarahan yang tertahan. “Kenapa dia sampai melakukan itu?”
“Kata Ayah, semua itu hanya kemewahan yang sia-sia. Dia bilang aku tak lagi berhak atas barang-barang mahal karena kami miskin. Uangnya… uangnya dipakai untuk melunasi utangnya dan untuk mabuk-mabukan.”
Suara Angie kian melirih, nyaris menyerupai bisikan yang rapuh.
“Aku sudah mencoba menghentikannya. Aku memohon. Karena… karena itu semua bukan sepenuhnya milikku. Itu bukan barang milikku…”
Kalimat terakhir itu laksana hantaman telak yang membuat dada Riven mendadak sesak.
Riven mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang membakar dada. “Lalu, apa yang terjadi?”
“Aku mencoba mempertahankannya… dan kami bertengkar hebat… Dia memukulku…” suara tangis Angie mulai terdengar tersiksa.
Beberapa menit sebelumnya.
Di pelataran rumah sederhana keluarga Angie, sebuah mobil bak terbuka terparkir angkuh.
Beberapa kardus besar ber merk dan paper bag besar ber merk telah berpindah muatan; tas-tas rancangan desainer ternama, koper-koper eksklusif, hingga kotak-kotak beludru berisi aksesori mewah kini berpindah tangan satu per satu.
“Ayah! Jangan bawa yang itu! Tidak semuanya milikku!!” pekik Angie, jemarinya mencengkeram erat salah satu koper, mencoba merebutnya kembali dari tangan pria paruh baya di hadapannya.
Alih-alih luluh, sang ayah justru menyentak koper itu kasar dan melemparkannya ke arah seorang pengepul.
“Lepaskan! Anak tak tahu diri! Sudah mending ku rawat hingga besar! Begini caramu berterimakasih pada orang tuamu!”
“Bukan!” Angie menggeleng sekuat tenaga, air mata mulai mengaburkan pandangannya. “Itu pemberian orang, dan tidak semuanya milikku, ini barang-barang milik orang! Kau tidak punya hak sedikit pun untuk menjualnya!”
“Hak atau tidak, rumah yang kau tinggali ini atas namaku! Jika aku tidak menikahi ibumu kalian masih hidup di jalanan!” Suara sang ayah menggelegar, membelah udara siang dan memantul di dinding-dinding gang sempit.
Riuh pertengkaran itu tak pelak mengundang atensi. Satu per satu tetangga mulai menyembul dari balik pintu. Beberapa wanita paruh baya berdiri menyandar di pagar sambil berbisik penuh selidik, sementara para pemuda yang melintas sengaja memperlambat langkah, terpaku pada drama yang tersaji.
“Astaga… bukankah itu Angie?”
“Benar. Tampaknya dia mencari masalah lagi dengan ayahnya, kekacauan besar sepertinya sedang terjadi.”
“Kasihan sekali nasibnya…”
”Siapa yang sedang kau kasihani? Mereka keluarga problematik.”
Namun, ironisnya, guncangan gosip itu hanya tertahan di bibir. Tak satu pun dari mereka yang bergerak untuk mengulurkan tangan.
Di ambang keputusasaan, Angie kembali merangsek maju, mencoba menyelamatkan sebuah kotak perhiasan kecil. “Tolong… jangan yang ini. Ini benar-benar bukan milikku! Ini milik temanku!!”
Dengan kasar, sang ayah merenggutnya tanpa belas kasih. “Diam kau!”
Brak!
Kotak beledu itu terlepas, menghantam aspal yang keras. Tutupnya menganga, membiarkan isinya berhamburan tak keruan di atas tanah berdebu.
Pertahanan Angie runtuh total. Air matanya mengalir kian deras. “Tega sekali… Kau… Kau bahkan bukan ayah kandungku…”
“Aku tidak peduli dengan drama remajamu! Daripada benda-benda ini membusuk menjadi rongsokan, lebih baik diubah jadi uang!”
“KAU BUKAN AYAH KANDUNGKU!!! KAU TIDAK BERHAK ATAS HIDUPKU!!” Teriak Angie.
”PLAKK!!!” Suara tamparan begitu keras hingga membuat tubuh mungil Angie terjungkal di atas tanah berdebu.
Semua orang yang menonton hanya saling pandang dan terkejut tak ada yang berani ikut campur.
“Aku benar-benar membencimu!” teriak Angie dengan suara yang nyaris habis, parau oleh kepedihan.
“Semua barang ini tidak bisa mengenyangkan perutmu yang lapar!”
Kalimat telak itu seketika membuat Angie membeku. Dadanya terasa dihantam batu besar, menyisakan sesak yang menghimpit sisa napasnya.
Di bawah penghakiman puluhan pasang mata yang menonton dengan dingin, Angie perlahan berdiri dan mematung. Tubuhnya bergetar hebat didera tangis, dan rasa sakit di pipinya, lalu perih di dadanya begitu menyayat kala menyaksikan satu per satu serpihan berharga dari masa lalunya dilempar ke atas bak mobil, dan mobil pun perlahan menjauh dan hilang di kelokan jalan.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Angie meraih ponselnya, mencari satu-satunya tempat bersandar yang tersisa di benaknya.
Riven.
Bersambung
Awal perselingkuhan