Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Langkah Awal di Tanah Rantau
Uap panas kendaraan umum yang mengangkut mereka dari Jakarta akhirnya mereda saat berhenti di terminal besar kota industri di Jawa Tengah itu. Debu jalanan berterbangan, bercampur dengan suara bising klakson dan deru mesin pabrik yang terdengar tiada henti. Di sini, segala sesuatu terasa lebih keras, lebih cepat, dan lebih padat dibandingkan kota asalnya. Bagas turun sambil memikul dua buah tas besar berisi seluruh harta benda yang mereka miliki. Di belakangnya, berjalan perlahan Ibu yang sudah tua, langkahnya sedikit gontai, napasnya memendek menahan rasa lelah dan sesak yang belakangan ini sering menyerang.
"Kuat ya, Bu. Kita sudah sampai," ucap Bagas lembut sambil merangkul bahu ibunya, berusaha memberi kekuatan meski hatinya sendiri pun sebenarnya penuh kekhawatiran.
Ibu tersenyum tipis, mengusap lengan anaknya. "Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir. Di mana pun kita berada, asal ada kamu di samping Ibu, rasanya sudah seperti rumah sendiri."
Mereka menyewa sebuah rumah kontrakan kecil di gang sempit kawasan padat penduduk. Bangunannya sederhana, berdinding papan dan bata yang mulai kusam, dengan satu kamar tidur dan dapur kecil. Sewanya murah, pas sekali dengan sisa uang yang dibawa Bagas—uang hasil tabungan dan sedikit pesangon yang ia kumpulkan sebelum meninggalkan Jakarta. Uang itu sangat terbatas, harus cukup untuk makan, obat-obatan Ibu, dan kebutuhan hidup sampai Bagas mendapatkan penghasilan tetap. Tidak ada jaminan, tidak ada sandaran, hanya keberanian dan tekad baja yang mereka bawa.
Sehari setelah beres menata tempat tinggal seadanya, Bagas langsung bergerak. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Demi memenuhi kebutuhan dan biaya pengobatan ibunya yang kesehatannya makin menurun, Bagas melakukan hal yang tak biasa bagi orang lain: bekerja ganda.
Pagi-pagi buta, saat matahari belum terbit, ia sudah berangkat ke sebuah bengkel mesin besar di pinggiran kota. Di sana, ia bekerja sebagai buruh harian lepas. Tugasnya berat: mengangkat besi berat, membersihkan sisa pemotongan logam, membantu perakitan, hingga mengangkut barang masuk dan keluar gudang. Tubuhnya yang kekar dan tenaganya yang kuat membuatnya mampu mengerjakan pekerjaan fisik itu dengan cepat. Namun, apa yang paling membuat orang lain kagum dan juga iri adalah kecerdasan dan ketelitiannya.
Sementara buruh lain hanya mengerjakan apa yang disuruh tanpa bertanya, Bagas diam-diam mempelajari cara kerja mesin, mencatat jadwal perawatan, dan bahkan mampu mendeteksi kerusakan kecil yang sering terlewatkan oleh mekanik biasa. Dalam waktu singkat, namanya mulai dikenal di bengkel itu sebagai buruh yang paling rajin, paling cerdas, dan paling bisa diandalkan.
Namun, kelebihan itulah yang justru menjadi awal masalah.
Pak Slamet, mandor bengkel yang bertubuh gemuk dan berwatak kasar, merasa posisinya terancam. Ia yang selama ini berkuasa dengan cara memeras dan memerintah semena-mena, merasa tidak suka ada pendatang baru yang jauh lebih pintar dan disukai pemilik bengkel. Begitu pula dengan rekan kerja Bagas yang lain. Banyak dari mereka yang sudah bertahun-tahun bekerja namun tetap saja tidak paham seluk-beluk teknis. Melihat Bagas yang dalam hitungan minggu sudah menguasai segalanya, rasa iri dan dengki mulai tumbuh subur di hati mereka.
"Eh, anak baru! Apa kau pikir kau paling pintar, hah?" bentak Pak Slamet suatu hari, saat Bagas mengingatkan bahwa ada prosedur keamanan yang terlewatkan. "Kerjakan saja bagianmu, jangan banyak mulut! Kau cuma buruh kasar, ingat tempatmu!"
Bagas hanya diam, menundukkan kepala sedikit, lalu kembali bekerja. Ia sadar, melawan mandor berarti risiko kehilangan pekerjaan. Dan pekerjaan ini adalah nyawa bagi dirinya dan ibunya.
Tak hanya lewat kata-kata kasar, mereka pun mulai mencari-cari kesalahan Bagas, bahkan sering menjegalnya secara diam-diam. Pernah suatu kali, alat kerja Bagas disembunyikan sehingga ia terlambat menyelesaikan tugas. Di lain kesempatan, catatan stok barang yang ditulis Bagas dihapus dan diubah angkanya, seolah-olah Bagas yang ceroboh.
"Dasar anak kampung, sok tahu," bisik salah satu rekan kerja sambil tertawa mengejek saat Bagas sibuk memperbaiki kekacauan yang dibuat orang lain.
Bagas mendengarnya dengan jelas. Jemarinya mengepal kuat menahan amarah yang meluap di dada. Ia ingin sekali membalas, ingin sekali membuktikan bahwa ia jauh lebih hebat dari mereka semua. Tapi bayangan wajah ibunya yang lemah dan sering sesak napas melintas di benaknya. Kalau aku bertengkar, aku bisa dipecat. Kalau aku dipecat, dari mana aku dapat uang beli obat Bu?
Demi Ibu, Bagas menelan ludah pahit itu. Ia memilih diam. Ia memilih bekerja dua kali lebih teliti, dua kali lebih cepat, dan dua kali lebih rajin. Ia membiarkan kehebatan kerjanya sendiri yang berbicara, bukan mulutnya.
Siang berganti sore. Saat rekan-rekannya pulang dengan wajah lelah dan santai, Bagas justru bergegas pergi. Ia tidak pulang ke kontrakan. Ia langsung menuju sebuah toko suku cadang besar yang letaknya tidak jauh dari situ. Di sana, ia bekerja sebagai staf administrasi dan pengecekan barang. Pekerjaannya lebih ringan, tidak seberat di bengkel, tapi membutuhkan ketelitian hitungan dan pengetahuan barang.
Di sini pun, kecerdasan Bagas kembali terlihat. Ia mampu mengingat ribuan nama barang dan kodenya tanpa perlu melihat buku catatan. Ia mampu merapikan pembukuan yang selama ini berantakan hingga pemilik toko takjub. Tapi lagi-lagi, nasibnya sama. Karyawan lama yang merasa tersaingi mulai bersikap dingin dan sengaja memberikan data yang tidak lengkap agar Bagas kesulitan bekerja.
Malam hari, saat langit sudah gelap gulita, barulah Bagas berjalan pulang menuju kontrakan. Kakinya terasa berat seolah ada timah yang mengikatnya, punggungnya sakit luar biasa karena mengangkat beban berat seharian, dan otaknya terasa penat. Namun, begitu ia membuka pintu rumah kecil itu dan mencium aroma masakan sederhana yang dimasak ibunya, melihat wajah rindu wanita yang melahirkannya itu, segala rasa lelah dan sakit seolah hilang seketika.
Ibu menyambutnya dengan wajah khawatir. Ia tahu anaknya bekerja terlalu keras. Ia melihat luka lecet di tangan Bagas, debu minyak yang menempel di wajah, dan mata lelah yang berusaha tersenyum.
"Makan dulu, Nak. Sudah Ibu siapkan. Maaf ya, cuma ada sayur bening," ucap Ibu lirih, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan makanan enak.
Bagas duduk di samping ibunya, menggenggam tangan keriput itu dengan penuh kasih sayang. "Jangan bicara begitu, Bu. Ini makanan paling enak sedunia. Asalkan Ibu sehat, asalkan kita bisa makan bersama, Bagas sudah bahagia sekali."
Saat makan malam itu, napas Ibu kembali memendek. Ia terbatuk pelan, dadanya naik turun berusaha mencari udara. Bagas langsung sigap mengambilkan obat dan air hangat. Ia mengusap punggung ibunya pelan, hatinya terasa diremas perih.
"Aku harus kuat," batin Bagas bersumpah dalam hati sambil menatap lampu bohlam yang remang-remang. "Aku harus tahan dihina, harus tahan dijegal, harus tahan lelah dan sakit. Aku tidak boleh mundur. Di sini, di kota asing ini, aku akan bangkit. Aku akan cari celah. Aku akan cari jalan. Demi Ibu, demi Naya, demi janji yang sudah kuucapkan... aku akan mengubah nasib ini, apa pun rintangannya."