NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3.

Perjalanan menuju mansion terasa seperti iringan jenazah bagi Freya. Di dalam mobil yang senyap, tak ada suara selain deru mesin dan helaan napas berat Sean yang duduk angkuh di balik kemudi. Freya hanya bisa menyandarkan kepalanya yang pening pada kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang mengabur karena air mata yang tak kunjung surut.

​Ketika gerbang besi menjulang tinggi itu terbuka secara otomatis, dada Freya kembali didera sesak. Rumah megah bak istana ini kini tak lebih dari sebuah penjara bawah tanah yang siap menguburnya hidup-hidup.

​Mobil berhenti dengan mulus di lobby depan. Sean turun terlebih dahulu tanpa memedulikan Freya. Sadar akan posisinya, Freya melangkah turun dengan tubuh lemas, berjalan mengekor di belakang suaminya seperti bayangan yang tak bernyawa.

​Begitu pintu utama mansion diketuk dan dibuka oleh kepala pelayan, Sean mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Freya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan penghinaan.

​"Dengar baik-baik, Freya," ucap Sean, suaranya terdengar dingin dan bergema di langit-langit ruang tamu yang luas. "Mulai detik ini, kau harus tahu diri. Di depan pengacara Papaku, di depan kolega bisnisku, atau di depan siapa pun orang luar yang datang ke rumah ini, kau adalah istriku. Kau harus tersenyum, bersikap manis, dan menjadi istri yang penurut. Jika aku mendengarmu mengeluh atau melihat wajah bertekukmu itu di depan mereka... kau tahu sendiri akibatnya."

​Freya hanya menunduk dalam, meremas jemarinya yang dingin. "I-iya, Sean..."

​Sean menyeringai sinis melihat ketundukan istrinya. "Tapi jangan harap kau bisa bersantai menikmati fasilitas di mansion ini. Statusmu sebagai Nyonya rumah hanya berlaku saat ada orang luar. Di dalam rumah ini, mulai hari ini, kau adalah bagian dari para pelayan."

​Freya mendongak seketika, matanya membelalak tak percaya. "Apa...?"

​"Tugasmu adalah menyiapkan seluruh keperluanku. Kau yang harus mencuci dan menyiapkan pakaianku setiap pagi, dan kau juga yang harus memasak semua makananku. Aku tidak mau makanan dari pelayan lain. Mengerti?" Sean mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan mengancam yang membuat Freya menciut. "Jika ada satu saja pekerjaanku yang tidak beres, aku tidak akan segan-segan menghukummu lebih keras dari malam ini."

​"Tapi, Sean... aku ini istrimu..." lirih Freya dengan suara yang bergetar hebat. Dadanya terasa perih, mengemis sedikit saja sisa kemanusiaan dari pria itu.

​"Istri?"

​Sebuah suara feminin yang sangat familiar memotong ucapan Freya. Dari arah tangga spiral yang megah, sesosok wanita berjalan turun dengan anggun. Dia mengenakan gaun tidur sutra yang teramat seksi, dengan jubah yang sengaja dibiarkan terbuka setengah dada.

​Itu Bianca.

​Freya membeku. Bagaimana bisa adik tirinya sudah berada di mansion ini?

​Bianca berjalan mendekat, lalu tanpa tahu malu langsung menggelayut manja di lengan Sean, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu. "Kau terlalu baik padanya, Sayang. Pelayan baru kita ini harus diberi pelajaran agar tahu posisinya."

​Sean mengusap rambut Bianca dengan lembut—sebuah perlakuan manis yang belum pernah sekalipun Freya rasakan semenjak malam pernikahan mereka. "Tentu, Sayang. Mulai sekarang, dia juga akan melayanimu."

​Sean kembali menatap Freya dengan pandangan kejamnya. "Satu hal lagi, Freya. Tugasmu bukan hanya melayaniku. Kau juga harus melayani semua kebutuhan Bianca di rumah ini. Apa pun yang dia minta, kau harus menumpahkannya. Bersihkan kamarnya, cuci pakaiannya, dan buatkan makanan untuknya."

​"T-tidak... Sean, kumohon jangan lakukan ini..." Freya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya menetes lagi. Menjadi pelayan suaminya sendiri sudah cukup menghancurkan harga dirinya, namun harus melayani adik tirinya yang merupakan selingkuhan suaminya? Itu benar-benar sebuah penghinaan yang tak tertahankan.

​"Kenapa? Kau keberatan?" Bianca melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Freya yang tampak begitu rapuh dan kurus. Bianca melipat tangannya di dada, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Ingat posisimu, Kak. Kalau bukan karena aku yang meminta Sean menikahimu, kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di mansion mewah ini. Jadi, anggap saja ini adalah cara mudarmu untuk membalas budi padaku."

​"Kau... kau keterlaluan, Bianca..." bisik Freya, menatap adik tirinya dengan sisa keberanian yang ia miliki.

​Plak!

​Bukan Bianca yang bergerak, melainkan tangan Sean yang kembali melayang, menepis wajah Freya hingga wanita itu terhuyung dan menabrak pilar marmer.

​"Sudah kukatakan jangan pernah menatap atau berbicara kasar pada Bianca!" bentak Sean, napasnya memburu kasar. Ia menunjuk wajah Freya dengan penuh intimidasi. "Masuk ke dapur sekarang! Siapkan teh hangat untuk Bianca dan antarkan ke kamarnya. Jika dalam sepuluh menit aku tidak melihatmu bergerak, aku bersumpah besok pagi ayahmu akan langsung diseret ke sel tahanan!"

​Freya memegangi pipinya yang kembali berdenyut sakit. Rasa takut yang amat sangat pada ancaman Sean mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Dengan langkah terseok-seok dan kepala yang menunduk dalam demi menyembunyikan isak tangisnya, Freya berjalan menuju area dapur.

​Di belakangnya, ia bisa mendengar suara tawa manja Bianca yang dihadiahi kecupan mesra dari Sean. Di atas lantai dapur yang dingin, Freya merosot memegang dadanya yang luar biasa ngilu.

*

Dengan tangan yang masih gemetar, Freya membawa nampan berisi teh hangat menuju kamar Bianca.

Setelah meletakkan nampan itu di bawah tatapan tajam dan senyum mengejek adik tirinya, Freya bergegas keluar. Tubuhnya sudah mencapai batas.

Kepalanya berdenyut hebat akibat tamparan Sean, dan seluruh raganya terasa remuk. Yang ia inginkan saat ini hanyalah merebahkan diri dan menangis dalam kegelapan.

​Freya melangkah perlahan menuju lantai atas, tempat kamar utama berada. Kamar pengantin yang selama dua minggu ini ia tempati sendirian. Kamar yang luas, megah, namun selalu terasa dingin.

​Namun, baru saja tangan Freya menyentuh knop pintu kamar utama, sebuah cengkeraman kasar di pergelangan tangannya membuat wanita itu terpekik.

​“Mau apa kau di sini?” suara berat dan dingin Sean menginterupsi, memutus harapan Freya untuk mendapatkan sedikit ketenangan.

​Freya menoleh dengan tatapan sayu. “S-Sean... aku lelah. Aku ingin istirahat di kamar...”

​Sean menatap Freya dengan pandangan yang sarat akan kejijikan. Seringai kejam terukir di wajah tampannya saat ia menyentak tangan Freya hingga wanita itu mundur beberapa langkah dari pintu.

​“Istirahat? Di kamar ini?” Sean tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar begitu menghina di telinga Freya. “Kau pikir kau masih pantas tidur di kamar utama ini? Sudah kukatakan, statusmu di mansion ini hanyalah seorang pelayan. Dan seorang pelayan tidak punya hak untuk tidur di atas ranjang mewah.”

​“Tapi, Sean... ini kamar kita... aku ini istrimu,” lirih Freya, air matanya kembali meluncur melewati pipinya yang masih membengkak keunguan. Suaranya terdengar begitu rapuh, memohon belas kasihan yang tak akan pernah ada.

​“Jangan pernah mendikteku, Freya! Tempatmu bukan di sini lagi,” bentak Sean kasar. Ia membuka pintu kamar utama, mengambil tas kecil berisi pakaian-pakaian Freya yang sudah dikemas secara asal, lalu melemparkannya ke lantai di depan kaki Freya.

​Brak!

​“Keluar dari sini! Kamar ini terlalu bagus untuk wanita tidak berguna seperti kau. Mulai malam ini, kau tidur di lantai bawah, di paviliun belakang bersama para pelayan lainnya!” Sean menunjuk ke arah tangga dengan tatapan mata yang menghunus tajam. “Pergi sebelum aku menyeretmu keluar dengan cara yang lebih kasar!”

​Freya menatap tas pakaiannya yang tergeletak di lantai, lalu menatap suaminya yang berdiri tegak bak monster tanpa hati. Tak ada ruang untuk membantah.

Di mata Sean, dirinya benar-benar telah kotor dan tak berharga.Dengan tubuh yang lemas dan air mata yang terus mengalir membasahi wajah pucatnya, Freya berlutut untuk mengambil tasnya.

Sambil memeluk tas itu erat-erat di dadanya, ia melangkah mundur, menjauh dari kamar utama yang kini telah tertutup rapat untuknya.

​Dengan langkah terseok-seok di dalam kegelapan mansion, Freya berjalan menuju paviliun belakang di lantai bawah. Kamar-kamar kecil yang diperuntukkan bagi para pekerja domestik.

​Freya mengetuk salah satu pintu kayu yang sudah usang dengan pelan. Tak lama, pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya berwajah hangat. Itu Bi Tina, kepala asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di mansion tersebut.

​Bi Tina terkesiap, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat kondisi Freya yang begitu memprihatinkan. Rambutnya berantakan, sudut bibirnya pecah berdarah, dan pipinya merah padam akibat hantaman keras.

​“N-Nyonya Freya? Astaga, apa yang terjadi dengan Anda?” bisik Bi Tina dengan nada panik sekaligus iba yang teramat dalam.

​Mendengar sapaan lembut dan tatapan penuh rasa peduli dari Bi Tina, pertahanan Freya yang tersisa runtuh seketika. Tubuhnya melorot ke lantai, menangis tersedu-sedu di depan pintu kamar pelayan.

​“Bi... bolehkah aku tidur di sini bersamamu?” tanya Freya di sela isak tangisnya yang pilu, mendongak menatap Bi Tina dengan pandangan memohon yang amat lemah. “Sean... Sean mengusirku dari kamar atas...”

​Bi Tina merasakan dadanya sesak melihat penderitaan wanita muda di hadapannya. Tanpa memedulikan status, Bi Tina langsung berlutut, memeluk tubuh Freya yang bergetar hebat, dan membimbingnya masuk ke dalam kamar pelayan yang sempit.

*

*

*

🌺🌺🌺

JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏

1
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!