NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Tamparan untuk ular.

Di dalam kamarnya, Prisha berdiri di depan cermin besar, menatap penampilannya sendiri dengan senyum kepuasan yang merekah. Hari ini adalah hari pertamanya kembali menginjakkan kaki di dunia luar setelah sekian lama terkurung.

Untuk merayakan kebebasannya, ia sengaja memilih setelan yang berani dan memikat. Prisha mengenakan rok di atas lutut berwarna merah menyala yang dipadukan dengan baju blus berwarna krim bermotif polkadot coklat muda.

Sepasang heels berwarna merah gelap membungkus indah kedua kakinya yang kini sudah bisa melangkah dengan tegap. Rambut panjangnya yang hitam berkilau diikat rapi ke belakang, menyisakan poni tipis yang tertata manis tepat di atas alisnya. Penampilannya benar-benar segar, memancarkan aura seorang dewi yang siap merebut kembali takhtanya.

Dengan langkah kaki yang beritme ketukan anggun, Prisha turun ke lantai bawah dan langsung mendudukkan diri di meja makan untuk sarapan. Namun, matanya yang jeli menyadari kursi di seberang mejanya tampak kosong melongpong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik rumah di sana.

Prisha meletakkan serbetnya, lalu menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. "Pak Malik, apakah Kak Saka melarikan diri lagi dariku?"

Pak Malik berdeham pelan, tampak agak serba salah sebelum menjawab dengan sopan. "Tuan Muda Saka tidak pulang semalam, Nona Prisha."

Prisha mengangkat sebelah alisnya, merasa geli sekaligus heran. "Jadi dia tidur di mana?"

Mendengar pertanyaan itu, keheningan mendadak menyergap ruang makan. Pak Malik, Bora, dan beberapa pelayan lainnya yang berada di sana kompak mengunci mulut mereka rapat-rapat. Mereka semua menundukkan kepala, memandang lantai seolah-olah ubin di bawah mereka jauh lebih menarik daripada wajah Prisha.

Dari gelagat kaku itu, Prisha langsung tahu bahwa seluruh orang di rumah ini pasti sudah diperintahkan dengan tegas oleh Saka untuk tidak membocorkan keberadaannya.

Sebuah kekehan kecil lolos dari bibir ranum Prisha. "Hm, biarlah. Aku akan mengunjunginya ke kantor sehabis pulang kampus nanti."

Prisha kembali menyuap sarapannya dengan santai, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan merapikan rok merahnya. "Oh, hari ini aku mau naik taksi saja ke kampus. Tolong pesankan, Pak Malik."

Pak Malik sedikit terkejut, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Nona. Segera saya pesankan."

"Tapi pulangnya jemput aku, ya. Kita akan langsung pergi ke kantor Kak Saka dari kampus," lanjut Prisha memberikan instruksi tambahan sambil menyampirkan tas branded-nya di bahu.

"Dimengerti, Nona," jawab Pak Malik dengan bungkukan hormat.

Setengah jam kemudian, taksi yang membawa Prisha berhenti tepat di depan gerbang utama universitas. Begitu pintu mobil terbuka dan sepasang kaki jenjang yang mengenakan heels merah gelap itu menapak di aspal koridor luar, Prisha langsung menjadi pusat perhatian.

Seperti biasa, ke mana pun seorang Prisha Kaelen melangkah, pasang mata di sekitarnya pasti akan otomatis tertuju padanya. Meskipun hari ini ia datang menggunakan taksi biasa dan bukan mobil sport mewah seperti dahulu, tetap saja penampilannya tampak teramat mahal dalam balutan gaya yang sederhana namun mahal.

Langkah kaki Prisha yang tegas terdengar bergaung di sepanjang koridor menuju gedung utama. Mahasiswa-mahasiswa yang sedang nongkrong di selasar langsung menghentikan obrolan mereka, menatap Prisha dengan pandangan campur aduk antara syok, kagum, dan curiga. Bisik-bisik miring pun mulai berdengung di kanan-kirinya seperti kawanan lebah.

"Eh, lihat deh! Itu bukannya Prisha? Dia kuliah lagi?" bisik seorang mahasiswi berambut pendek pada temannya.

"Iya, gila! Kok penampilannya masih secantik dan semahal itu, sih? Bukannya keluarganya sudah bangkrut total ya?" sahut yang lain dengan nada sinis yang kentara.

"Dengar-dengar sih ... dia bisa tetap kaya karena jadi simpanan om-om kaya. Makanya dua bulan kemarin sempat menghilang, mungkin lagi sibuk melayani," timpal mahasiswa lain dengan tawa meremehkan yang tertahan.

Prisha mendengar setiap kata, setiap gunjingan, dan setiap tawa sinis yang diarahkan kepadanya. Namun, alih-alih menunduk malu atau menangis, ia justru melempar pandangan dingin yang membuat beberapa orang yang menatapnya langsung membuang muka ketakutan.

Prisha terus melangkah hingga matanya menangkap sosok seorang mahasiswa tingkat dua yang dulu sering membantunya. Ia langsung menghampiri juniornya itu tanpa ragu.

"Apakah kau melihat Yunha?" tanya Prisha tanpa basa-basi, menatap langsung ke dalam mata si mahasiswa.

Mahasiswa itu menelan ludah dengan gugup, wajahnya memerah karena terpesona sekaligus terintimidasi oleh kedekatan jarak mereka. "D-dia ... dia di kantin tadi, Kak Prisha."

Sebuah senyuman manis terbit di wajah Prisha. "Good boy," ucap Prisha lembut sambil menepuk-nepuk pundak juniornya itu dengan santai, lalu memutar tubuhnya menuju arah kantin pusat.

Atmosfer di kantin kampus pagi itu cukup ramai oleh mahasiswa yang sedang sarapan atau sekadar mengobrol sebelum kelas dimulai. Di salah satu sudut meja yang agak lengang, Yunha tampak sedang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya, sesekali menyeruput es teh manis di hadapannya dengan ekspresi wajah yang tampak puas dan santai. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa Prisha tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Prisha berjalan cepat memotong kerumunan kantin. Begitu posisinya berada tepat di belakang punggung Yunha, Prisha tidak membuang waktu untuk menyapa. Tangan kanannya bergerak secepat kilat, mencengkeram kuat-kuat rambut panjang Yunha lalu menariknya ke belakang dengan sentakan kasar yang bertenaga.

"Aaakh! Apa-apaan—" Pemicu rasa sakit yang mendadak itu membuat Yunha menjerit histeris, terpaksa mendongakkan kepalanya ke atas hingga memperlihatkan wajahnya yang penuh keterkejutan.

Plak!

Plak!

Plak!

Plak!

Suara tamparan yang mendarat berturut-turut itu menggema begitu nyaring dan mengerikan di dalam area kantin yang luas. Prisha menampar wajah Yunha masing-masing dua kali di pipi kiri dan dua kali di pipi kanan dengan kekuatan penuh, hingga kepala Yunha terombang-ambing kasar.

Beberapa mahasiswa yang sedang makan di dekat sana langsung tersedak, sementara yang lain spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata melotot syok. Kantin yang tadinya bising seketika berubah menjadi sunyi senyap seketika, menyisakan deru napas Yunha yang memburu.

Prisha melepaskan jambakannya dengan kasar, membuat Yunha terjerembap sedikit ke depan meja. "Kau menyebarkan omong kosong bahwa aku menjadi simpanan om-om di kampus ini, kan? Inilah akibatnya kalau kau berani mengusikku, Yunha!" desis Prisha dengan tatapan mata yang berkilat kejam.

Yunha memegangi kedua pipinya yang kini sudah berubah warna menjadi merah padam dan terasa panas menyengat. Dengan air mata yang mulai mengenang akibat rasa sakit dan malu yang luar biasa, ia menoleh dan menatap Prisha dengan pandangan penuh amarah yang meluap-luap.

"Kenapa kau langsung menuduhku, Prisha?! Bisa saja orang lain yang menyebarkannya! Yang membencimu di kampus ini itu banyak, bukan cuma aku!" teriak Yunha histeris, mencoba membela diri di depan puluhan pasang mata mahasiswa yang kini tengah menonton mereka.

Prisha bersedekap dada, menatap Yunha dari atas dengan pandangan merendahkan yang mutlak. "Ayu yang bilang sendiri kepadaku kalau kau yang membuat pengumuman dan menyebarkan pamflet gosip murah itu di sini!"

Wajah Yunha seketika berubah tegang mendengarkan nama itu disebut. "Aku tidak melakukan itu! Ayu berbohong kepadamu!"

Plak!

Satu tamparan tambahan kembali mendarat telak di pipi Yunha yang sudah membengkak, membuat wajah gadis itu tertoreh ke samping sekali lagi.

"Pembohong!" bentak Prisha, tidak memberi ampun sedikit pun.

Tepat pada saat situasi semakin memanas, Ayu tiba-tiba muncul dari balik kerumunan mahasiswa. Dengan wajah yang tampak panik dan cemas, ia langsung berlari maju dan mencengkeram kedua lengan Prisha, mencoba menarik tubuh sahabatnya itu agar menjauh dari Yunha.

"Prisha, sudahlah! Cukup!" seru Ayu dengan nada suara yang bergetar panik, berusaha menahan gerakan Prisha. "Kau bisa masuk ruang Dekanat dan berurusan dengan Komisi Disiplin kampus nanti kalau meneruskannya! Ayo kita pergi dari sini sekarang!"

Ayu setengah menyeret Prisha untuk melangkah mundur, menjauh dari meja kantin. Sementara itu, Yunha yang masih terduduk di kursinya sambil memegangi wajahnya yang babak belur, menatap lurus ke arah punggung Ayu yang sedang membawa Prisha pergi.

Sepasang mata Yunha memancarkan tatapan yang penuh dengan rasa jijik, kemarahan yang mendalam, sekaligus kebencian yang tertuju bukan kepada Prisha, melainkan tepat kepada Ayu.

Ayu terus membawa Prisha berjalan cepat keluar dari area kantin menuju lorong taman yang lebih sepi. Sepanjang jalan, mahasiswa-mahasiswa yang mereka lewati terus memberikan tatapan sinis sambil berbisik-bisik di belakang punggung mereka.

"Lihat, orang-orang mulai berkumpul dan membicarakanmu lagi, Prisha," ucap Ayu dengan nada khawatir yang terdengar sangat tulus saat mereka akhirnya berhenti di sudut taman.

Prisha mengibaskan tangannya yang sedikit memerah akibat menampar Yunha tadi, lalu mendengus kasar dengan ekspresi wajah yang merengut kesal. "Cih, pasti mereka benaran berpikir aku ini simpanan om-om kaya gara-gara hasutan si ular itu."

Ayu menghela napas panjang, mengusap bahu Prisha dengan lembut seolah mencoba menenangkannya.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!