NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Tangisan Siti (part 2)

Flashback On

Siti duduk dengan kepala menunduk di hadapan Bapak dan Ibunya.

Dia baru saja menyampaikan obrolannya dengan Paino sewaktu di Danau Widuri Asri.

"Lha terus piye, Nduk? Kamu mau kalau dilamar tenanan sama Paino?" tanya ibunya dengan nada lebih lembut.

Siti diam.

"Bapak karo ibu ora mekso lho, Nduk. Yang mau menjalani hidup itu kamu. Hidup berdua sama Paino selamanya. Bukan sedilut, coba-coba, ra cocok, bubar. Bukan seperti itu." Lelaki renta di depan Siti mencoba memberikan wawasannya.

Siti mulai mengangkat kepalanya, "Inggih. Siti sampun paham. Siti sudah pertimbangkan semua. Bukan untuk pernikahan sesaat. Tapi sekali untuk seumur hidup. Insya Allah."

"Dadi, kowe gelem dilamar Paino?" Ibu Siti kembali memastikan.

Siti mengangguk. Kedua orang tua Siti tersenyum lega.

Dan di hari Sabtu, bertepatan dengan pernikahan Dokter Wita, Paino datang melamar ke rumah Siti bersama kedua orang tuanya.

Prosesi lamaran dilakukan dengan sederhana, karena tanpa rencana yang matang sebelumnya.

Di ruang tamu ukuran 4x4 meter itulah kedua orang tua Siti dan Paino saling bertukar omongan.

"Lha nggih, Pak. Saya sudah stress mikir anak lanang satu-satunya ini. Disuruh cepat menikah, jawabnya nanti terus." Pak Harjo ayah Paino menyalakan sebatang rokok yang ditawarkan bapaknya Siti.

"Saya kira, dia nggak suka sama yang namanya perempuan. Ternyata, cinta nya sudah terikat sama Siti sedari kecil," kalimat terakhir Pak Harjo mengundang tawa orang yang ada di ruangan.

"Lha nggih sami toh, Pak. Siti berapa kali diminta orang, nolak terus. Ya nggak cerita maunya sama siapa. Sekalinya diajak nikah sama Paino, langsung mengiyakan. Ya Allah anak dua ini, benar-benar bikin orang tua bingung." Bapaknya Siti tersenyum melihat Siti yang duduk tertunduk di sudut ruangan. Sementara Paino senyum-senyum di sebelah ibunya.

Flashback Off

"Alhamdulillah, akhirnya." Azra tersenyum bahagia mendengar penuturan Siti tentang lamaran Paino.

"Jadi, kapan pelaksanaan pernikahannya, Mbak?" tanya Azra.

"Satu bulan setelah lamaran kemarin, Dok," jawab Siti sambil malu-malu. "Mas Paino disuruh bekerja dulu, biar nanti kalau sudah berkeluarga tidak bingung kalau bekerja."

"Iya betul itu, Mbak. Meskipun dia punya harta, tapi tetap harus bekerja. Biar punya tanggung jawab nantinya." Azra mengambil pisang di meja, dan menyodorkan pada Linda, "Ayo makan!"

"Hatchu!"

Siti menyerahkan tissue yang ada di sebelahnya kepada Linda. "Ya Allah, Mbak. Sampeyan lek sakit kayak bocah cilik. Harus dilayani semua."

Linda nyengir sambil mengangkat kedua jarinya.

"Lalu kenapa tadi Mbak Siti nangis?"

Pertanyaan Azra membuat Siti gelagapan. Dia tersenyum sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Anu, Bu Dokter. Saya minta maaf. Karena saya tidak bisa ikut menjaga Bu Dokter di pernikahan Dokter Wita," Siti melirik ke arah Linda. Linda mendelik.

Alis Azra kembali bertaut, mencoba menangkap arah pembicaraan Siti.

"Itu lho, Kak. Sewaktu kakak nginap di omah ndalem, Mbak Siti yang nemeni aku di sini. Lha nanya, kakak kenapa, ya aku jelasin kalau kakak sakit." Jelas Linda.

"Aku juga cerita ke Mbak Siti, kalau kakak dimarahi orang-orang karena belain aku yang bertengkar sama cewek rambut jagung itu." Lanjut Linda dengan muka kesal, seakan-akan kejadian itu terpampang lagi di depan matanya.

"Astagfirullah, nggak seperti itu situasinya, Linda." Pangkas Azra cepat.

"Jadi, Linda dan Mbak Siti, dengar ya, kejadian saya di pesta dr. Wita tidak ada kaitannya dengan kalian berdua. So, nggak usah merasa bersalah atau apapun itu."

"Hah?! Beneran?" Linda langsung terduduk menatap Azra dengan mata membulat.

Azra mengangguk.

"Lha piye toh, Mbak Linda. Cerita sampeyan nggak bener tibak e. Ketiwasan kita nangis-nangis malam itu denger cerita Dokter Azra yang sampai pingsan, terus Pak Kades dan Ibu yang panik ..." ujar Siti sambil cemberut.

Azra tertawa kecil melihat tingkah kedua rekannya, sementara Linda tersenyum kecut.

Terdengar suara deru mesin motor dimatikan di depan rumdin.

Mereka bertiga saling pandang. Siti bergegas mengintip lewat tirai yang menutup jendela kaca.

"Eh, saya sudah dijemput, Mas Paino. Saya pamit pulang ya, Bu Dokter."

"Cie ... cie ... sudah ada Arjuna yang antar jemput nih ..." goda Linda.

Azra tertawa melihat Siti malu dan melarikan diri.

_______

Aldo dan Wita sudah mendarat di Bandara Internasional Urumqi, Diwopu, Xinjiang. Setelah singgah sebentar di Gangzhou sehari yang lalu.

Tujuan pertama Aldo dan Wita setelah mendarat adalah mengunjungi Bibi Mika yang tinggal di Distrik Shuimogou, tepatnya di kawasan asri dekat lereng perbukitan.

Rumah Bibi Mika bergaya semi-tradisional dengan halaman yang dipenuhi rambatan pohon anggur hijau.

Aroma harum teh susu hangat khas Xinjiang --suutei tsai-- dan sepiring roti nang segar langsung menyambut mereka di meja makan, memberikan rasa nyaman yang luar biasa setelah penerbangan panjang.

Namun, di tengah suasana santai melepas rindu itu, gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajah sang bibi.

"Apakah paman masih di kantor, Bi? Anak-anak masih di sekolah ya?" tanya Wita heran dengan suasana rumah yang nampak sepi.

Bahkan dia tidak melihat keberadaan Oma nya.

"Iya, pamanmu masih di kantor. Adik-adikmu masih di sekolah. Sore nanti baru pulang." jelas Bibi Mika.

"Wita, maaf ya. Kami kemarin tidak bisa hadir di pernikahanmu. Tapi sungguh, kami turut bahagia dengan pernikahan kalian. Semoga bahagia dan langgeng ya pernikahan kalian." Ujar Bibi Mika sambil menggenggam tangan Wita erat.

Wita tersenyum, "Amin. Terimakasih, Bibi. Tidak apa-apa, kami maklum kok, Bibi dan keluarga tidak bisa hadir."

Aldo menangkap kegelisahan di mata wanita yang duduk di hadapannya.

"Bibi, maaf. Apakah Oma sedang istirahat?" Aldo memberanikan diri bertanya tentang Oma Wita.

"Oma saat ini tidak ada di rumah. Sejak tiga hari yang lalu, Oma harus dirawat di rumah sakit."

Wita terkejut, menghentikan cangkir teh yang baru saja hendak didekatkan ke bibirnya.

"Oma sakit apa, Bi? Di mana Oma dirawat?"

"Oma hanya kelelahan karena faktor usia dan sempat mengalami sesak napas akibat perubahan cuaca ekstrem belakangan ini. Tapi kalian tidak perlu panik, kondisinya sudah jauh lebih stabil sekarang."

Bibi kemudian menjelaskan bahwa Nenek mereka dirawat di Rumah Sakit Umum Distrik Shuimogou; Shuimogou District People's Hospital yang letaknya tidak terlalu jauh dari lingkungan perumahan mereka.

Aldo dan Wita saling pandang. Digenggamnya tangan Wita lembut, gadis ini tidak menolak. Pikirannya sudah rusuh, mendengar Omanya sakit.

"Aku mau ketemu Oma, Bi." Wita tiba-tiba berdiri.

"Istirahatlah dulu. Oma dijaga Dilnur. Nanti sore, kita baru menggantikannya menjaga Oma." Bibi Mika menahan Wita, dan menyuruhnya duduk kembali.

"Sebaiknya dengarkan saran Bibi. Kita istirahat dulu. Nanti sore, kita menjenguk Oma dengan kondisi yang lebih segar." Aldo ikut menenangkan hati istrinya.

Setelah perdebatan beberapa saat, akhirnya Wita menuruti saran Bibi dan suaminya. Beristirahat di rumah Bibi yang sejuk dan asri, untuk memulihkan lagi energi yang terkuras habis selama perjalanan Indonesia - Xinjiang, China.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!