NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Musuh ketiga, seorang pria bertubuh paling besar dan kekar di antara ketiganya yang memegang sebilah kapak raksasa yang terbuat dari besi tempa tebal, memilih untuk sepenuhnya mengabaikan kedua utusan kekaisaran yang sedang sibuk bertarung. Dengan satu hentakan kaki yang kuat hingga membuat tanah di bawahnya amblas sedikit, ia langsung melompat tinggi melengkung ke arah kereta kuda yang berada di tengah jalan. Tujuannya sangat jelas dan langsung terlihat sejak awal serangan dilancarkan: menghabisi nyawa sosok yang dianggap paling lemah dan tidak berdaya di dalam kereta itu.

Melihat ancaman maut yang meluncur ke arahnya, Lin Chen langsung memasang ekspresi kepanikan yang luar biasa di balik dinding kereta. Ia berpura-pura jatuh terpeleset dari kursi karena guncangan, lalu mundur terhimpit ke sudut belakang ruangan sambil berteriak dengan nada suara yang dibuat bergetar hebat seolah ketakutan setengah mati, “Tuan Utusan! Tolong saya! Ada pembunuh yang datang ke sini!”

Namun, di balik sandiwara kepanikan yang terlihat sangat natural dan meyakinkan itu, pikiran Lin Chen justru bergerak dengan sangat dingin, tajam, dan terstruktur seolah sedang menghitung setiap detik yang berlalu. Ketika kapak raksasa milik musuh ketiga berayun turun membelah udara dengan kecepatan tinggi dan hampir menghancurkan atap kereta menjadi serpihan, Lin Chen hanya menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya secara sangat halus di balik lipatan lengan bajunya yang longgar. Sebuah pulsa energi Qi yang sangat kecil, padat, dan benar-benar tak terdeteksi meluncur keluar dari ujung jarinya tanpa suara, lalu menghantam poros salah satu roda kereta bagian bawah dengan kekuatan yang terukur. Akibat hantaman tersembunyi yang tepat sasaran itu, kereta yang tadinya diam tiba-tiba bergeser beberapa inci ke arah samping persis pada momen yang paling krusial.

BOOM!

Bilah kapak raksasa itu meleset dari sasaran utama dan menghantam permukaan tanah tepat di samping dinding samping kereta, menciptakan sebuah kawah kecil yang dalam serta membuat debu dan kerikil beterbangan ke udara dalam sekejap. Musuh bertubuh besar itu mengerutkan keningnya di balik topeng hitam, merasa heran mengapa serangan yang seharusnya akurat itu bisa meleset sejauh itu. Namun, ia sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun pada sosok yang sedang meringkuk ketakutan di dalam; ia mengira gerakan kereta itu murni akibat guncangan acak dari kuda-kuda yang panik karena suasana pertempuran yang mencekam.

Di sisi lain jalur sempit yang semakin berdebu, Xue Feng dan Lei Ming masih bertarung habis-habisan untuk menahan serangan lawan. Koreografi pertarungan mereka berlangsung sangat sengit dan epik, saling bertukar ratusan jurus yang sarat akan bahaya dan keterampilan tinggi. Xue Feng menahan gempuran dua pedang pendek dengan langkah kaki yang mengalir luwes seperti air yang terus bergerak, sementara Lei Ming menantang keluwesan cambuk beracun dengan kekuatan otot yang mampu menghancurkan batuan. Ledakan demi ledakan energi spiritual yang tumpah ruah dari pertarungan para ahli ranah Nascent Soul terus mengguncang seluruh jalur sempit tersebut, menyebabkan batu-batu besar dari dinding tebing retak, hancur, dan sesekali berjatuhan ke jalan raya di bawahnya.

Musuh ketiga yang gagal dalam serangan pertamanya kembali menggeram dengan suara yang berat dan penuh amarah, lalu kembali memfokuskan seluruh kekuatannya untuk menyerang Lin Chen. Kali ini, ia melompat tepat ke atas atap kereta yang mulai miring rusak, lalu mengayunkan kapak besarnya dari atas kepala dengan niat membunuh yang mutlak dan tak terbendung.

Lin Chen kembali memainkan peran ketakutannya dengan sangat meyakinkan. Dalam gerakannya yang terlihat kacau dan tidak beraturan, tangan kanannya seolah-olah secara tidak sengaja menyentuh gagang sapu tua yang kasar yang memang sengaja ia bawa dari sekte sebagai kenangan biasa. Dengan gerakan refleks yang tampak murni karena ketakutan seorang manusia lemah, ia melemparkan sapu tua itu ke atas seolah ingin menutupi wajahnya dari bahaya yang datang. Sapu tua yang terbuat dari kayu rapuh itu meluncur di udara dan bertemu langsung dengan mata kapak besar sesaat sebelum menghantamnya.

Namun, tepat pada momen keduanya bersentuhan, Lin Chen menyuntikkan seutas pulsa energi Qi yang sangat tipis namun sangat padat ke dalam serat kayu sapu tua itu. Secara instan, benda yang dianggap tidak berharga itu berubah sifat menjadi sekeras besi yang ditempa dengan kekuatan mistis, sehingga sanggup menahan beban tebasan kapak musuh selama sepersekian detik yang sangat krusial. Jeda waktu yang singkat itu ternyata cukup bagi Lei Ming yang sedang mengawasi situasi untuk menyadari bahaya maut yang mengancam, lalu dengan sigap melemparkan tombak panjangnya dari kejauhan sebagai serangan pengalih perhatian yang tepat sasaran.

TING!

Bilah kapak besar itu terhantam oleh gagang tombak yang meluncur cepat, membuat benturan nyaring yang menggetarkan. Akibat gaya dorong yang datang tiba-tiba dari arah samping, musuh ketiga terpaksa menarik senjatanya dan melompat mundur beberapa langkah ke belakang demi menstabilkan keseimbangan tubuhnya yang besar.

“Brengsek! Pengganggu sialan!” umpat musuh ketiga dengan suara berat yang terdengar frustrasi, lalu menatap sapu tua yang kini telah jatuh ke tanah dan patah menjadi dua bagian—ia tetap mengira bahwa kayu itu kebetulan saja memiliki kualitas yang sangat keras dan tidak menyangka ada campur tangan kekuatan tersembunyi di baliknya.

Pertarungan berlangsung semakin sengit dan melelahkan hingga melewati hampir seratus jurus yang saling bertukar. Ketiga pembunuh bayaran itu terbukti sangat terlatih, memiliki koordinasi yang sangat kompak, dan pola serangan yang disusun dengan matang serta mematikan. Namun, Xue Feng dan Lei Ming bukanlah sekadar utusan kekaisaran biasa; mereka adalah petarung berpengalaman yang telah sering menghadapi situasi hidup dan mati di medan perang yang sesungguhnya. Perlahan tapi pasti, dengan memanfaatkan celah ritme serangan musuh yang sempat terganggu oleh kejadian tak terduga di sekitar kereta, kedua utusan mulai menguasai irama dan mendominasi jalannya pertempuran.

Selama sisa pertempuran yang menegangkan itu, Lin Chen terus berpura-pura bersembunyi di balik reruntuhan dinding kereta yang sudah rusak parah. Sesekali, ia melakukan gerakan kecil yang terlihat seperti tindakan tidak sengaja akibat rasa takut yang melumpuhkan—seperti menendang batu kecil dengan kaki yang gemetar, menggeser berat badan untuk merubah posisi kemiringan kereta, atau membuat kepulan debu bertambah pekat di area tertentu. Semua tindakan yang tampak acak itu secara diam-diam merusak akurasi posisi kaki dan ritme serangan dari ketiga pembunuh tersebut tanpa mereka sadari.

Tidak ada satu pun orang di tempat itu yang memiliki alasan untuk curiga. Bagi semua mata yang melihat kejadian itu, Lin Chen hanyalah seorang pangeran yang lemah, tak berdaya, dan bernasib malang yang sedang ketakutan setengah mati di tengah pertempuran para monster kultivator.

Akhirnya, setelah pertarungan panjang yang menguras banyak energi spiritual dari kedua belah pihak, Xue Feng menemukan celah kecil pada pertahanan musuh pertama dan berhasil menusuk tepat di dada dengan ujung pedangnya. Di saat yang sama, Lei Ming mengumpulkan seluruh sisa tenaga murninya ke ujung tombak, lalu menghantamkan serangan yang kuat hingga menghancurkan pertahanan wanita bercambuk dan membuat tubuhnya terpental jauh hingga menabrak dinding tebing. Musuh ketiga yang bertubuh besar melihat kedua rekannya telah tumbang tewas, segera mengambil keputusan taktis untuk mundur dengan cepat, melompat ke atas tebing dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan sebelum kehabisan tenaga.

“Jangan biarkan dia lari! Ayo kejar!” teriak Lei Ming dengan napas terengah-engah, bersiap untuk melompat naik mengejar pembunuh yang tersisa itu.

“Tahan langkahmu, Lei Ming!” Xue Feng segera berteriak tegas untuk menghentikannya. “Prioritas utama dan satu-satunya tugas kita adalah keselamatan Yang Mulia Pangeran Kesembilan. Kita tidak tahu apakah ini jebakan yang lebih luas atau masih ada gelombang kedua musuh yang bersembunyi di sekitar sini.”

Mendengar perintah itu, Lei Ming mengurungkan niatnya dengan berat hati. Mereka berdua segera berbalik dan berjalan cepat mendekati kereta kuda yang sudah rusak parah. Di dalam sana, Lin Chen tampak sedang duduk gemetar di atas lantai kereta yang dipenuhi serpihan kayu, wajahnya dibuat pucat pasi dengan napas yang tersengal-sengal, menampilkan akting trauma berat yang terlihat sangat meyakinkan.

“Apakah… Tuan Utusan… keduanya baik-baik saja? Apakah pembunuh-pembunuh itu sudah pergi?” tanya Lin Chen dengan nada suara yang gemetar dan tatapan mata yang dibuat penuh ketakutan.

Xue Feng menghela napas panjang untuk melepaskan sisa ketegangan, lalu mengangguk pelan sambil merapikan jubah kekaisarannya yang sedikit robek dan kotor. “Kami selamat, Yang Mulia. Dan kau tidak terluka sedikit pun, itulah hal yang paling penting saat ini.”

Lei Ming membersihkan sisa noda darah musuh yang menempel di mata tombaknya menggunakan selembar kain kasar, lalu tertawa keras dengan gaya kasarnya yang khas. “Hahaha! Untung saja Yang Mulia memiliki keberuntungan yang sangat besar. Jika kau sampai tewas di tempat terpencil ini, kami berdua pasti akan menanggung masalah besar dan hukuman yang sangat berat begitu tiba di istana nanti.”

Lin Chen tidak membalas dengan kata-kata apa pun; ia hanya memberikan senyuman lemah yang tampak dipaksakan, lalu mengangguk berulang kali seolah penuh rasa syukur yang mendalam.

Malam harinya, setelah berhasil melewati sisa jalur tebing yang terasa menegangkan, rombongan kecil itu memutuskan untuk beristirahat di sebuah pos persinggahan kecil yang sudah lama terbengkalai di tepi jalan raya. Setelah memastikan bahwa Xue Feng dan Lei Ming sedang sibuk memulihkan kondisi Qi mereka di dalam tenda utama, Lin Chen berjalan perlahan menjauh dan duduk sendirian di area belakang bangunan yang gelap dan sepi.

Begitu terlepas dari pandangan orang lain, ekspresi ketakutan dan wajah pucatnya seketika lenyap tanpa bekas sama sekali. Wajahnya kembali berubah menjadi sangat dingin, tenang, dan tajam—memancarkan aura misterius seorang penguasa sejati yang mengendalikan situasi dari balik bayangan tanpa diketahui siapa pun. Ia menatap ke arah potongan sapu tua yang ia letakkan di samping tempat duduknya.

1
Ilham Yono
terbaik
Hadi Hadi
semangat😍💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
Ilham Yono
beuh /Determined/
Zahira Valen
Alkemia
Ilham Yono
hihihi/Facepalm/
Ilham Yono
coool🆒
Ilham Yono
kereeen thor/Angry/
Ilham Yono
terbaik Thor...bantai bantai gambatheeeee
Ilham Yono
mulai curiga kayaknya sih sudah tau pangeran 9 bukan kaleng kaleng
Ilham Yono
hem/Facepalm/
Ilham Yono
beuh berat berat ini guys
Ilham Yono
misteri/Shy/
Ilham Yono
hihi mau maen maen ma kita /Facepalm/
Ilham Yono
beuh kaga nyadr
Hadi Hadi
bantai💪
Ihya Ilmi
Terus ditunggu lanjutannya thor
Ihya Ilmi
Kata-katanya mantap poooollll
Ilham Yono
hihihi /Facepalm/
zerotwo
Tanpa ampun MC nya 👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!