NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kopi

Hal pertama yang dilihat Arsen saat membuka matanya pagi itu adalah langit-langit penthouse-nya yang berdesain minimalis. Rasa nyeri yang luar biasa di pinggang kirinya langsung menyengat kesadaran, tapi rasa sakit itu jauh lebih mendingan dibanding semalam. Napasnya sudah kembali teratur.

​Arsen perlahan menegakkan tubuhnya, duduk di tepi sofa sambil memegangi perutnya. Saat matanya beralih ke lantai di bawahnya, gerakan Arsen mendadak terkunci.

​Di atas karpet bulu tebal tepat di samping kakinya, Senja sedang meringkuk tertidur lelap.

​Perempuan itu tampaknya benar-benar kelelahan setelah semalam harus menyetir ugal-ugalan dan menjahit lukanya secara manual. Senja tidur dengan posisi memeluk kedua lututnya sendiri demi menahan dinginnya AC ruangan. Gaun satin hitam yang melekat di tubuhnya sudah tampak sangat lecek, dengan beberapa noda darah kering yang tercetak jelas di bagian lengan dan roknya. Rambutnya yang semalam terurai rapi sekarang berantakan, menutupi sebagian wajah pucatnya.

​Arsen terdiam cukup lama, menatap asisten kreatifnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada secercah rasa bersalah yang mendadak menyelinap di dada bidangnya. Perempuan sipil ini harusnya malam ini tidur nyenyak di rumahnya, bukan malah mendekam di lantai apartemen seorang pria penuh masalah sambil berlumuran darah.

​Dengan gerakan sepelan mungkin agar jahitannya tidak robek lagi, Arsen membungkuk. Dia mengambil selimut tebal yang tadinya menutupi tubuhnya, lalu membentangkannya dengan sangat hati-hati di atas tubuh Senja.

​Jemari Arsen sempat tertahan di dekat wajah Senja. Dia menyisipkan beberapa helai rambut yang menghalangi pipi perempuan itu ke belakang telinga. Kulit Senja terasa dingin.

​"Maaf sudah menyeret kamu terlalu jauh," bisik Arsen sangat pelan, nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya dia berdiri dan melangkah menuju dapur untuk membuat kopi.

​Satu jam kemudian, suara lenguhan pelan dari arah sofa membuat Arsen menoleh. Senja terbangun, mengerjapkan matanya bingung sambil memegangi lehernya yang encok karena salah posisi tidur. Selimut tebal milik Arsen merosot dari bahunya.

​Begitu kesadarannya pulih seratus persen dan melihat noda darah kering di gaun pestanya, memori kejadian semalam langsung berputar di kepala Senja. Kejadian basemen, darah, jarum jahit... semuanya.

​Senja buru-buru berdiri, membuat selimut Arsen jatuh ke lantai. Kepalanya agak pening, tapi insting utamanya cuma satu: dia harus keluar dari tempat ini sekarang juga.

​"Sudah bangun?"

​Suara bariton yang berat itu terdengar dari arah dapur bersih. Arsen sedang berdiri di sana, membelakangi konter sambil memegang sebuah cangkir keramik hitam. Cowok itu cuma memakai celana training hitam panjang dan kaos oblong abu-abu yang longgar. Wajahnya masih agak pucat, tapi dia sudah bisa berdiri tegap seolah semalam tidak baru saja sekarat.

​"Pak Arsen..." Senja mundur satu langkah, memeluk tas kerjanya erat-erat ke dada seolah itu adalah tameng pelindung. "Lo... lo udah nggak apa-apa, kan? Kalau udah, gue... gue mau pulang sekarang."

​Arsen melirik secangkir teh manis hangat dan sepiring roti bakar yang baru dia buat di atas meja konter. "Duduk dulu. Minum tehnya, wajah kamu pucat."

​"Nggak usah, Pak. Terima kasih," tolak Senja cepat, suaranya agak bergetar. Dia bener-bener nggak mau terlibat lebih jauh lagi. Tatapan matanya sengaja menghindari luka di pinggang Arsen maupun deretan Hp satelit yang tergeletak di meja depan. Senja memilih menutup mata dan berpura-pura nggak tahu apa-apa demi keselamatannya sendiri. "Gue mau langsung pesen taksi aja."

​Arsen menurunkan cangkir kopinya perlahan. Mata elangnya mengunci pergerakan Senja yang tampak ketakutan dan defensif. Menyadari asistennya sedang dalam mode shock, Arsen memutuskan untuk tidak mendesak, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Senja pergi begitu saja.

​"Kamu nggak bisa pulang naik taksi dengan gaun penuh noda darah seperti itu, Senja. Orang-orang akan curiga," ucap Arsen tenang, suaranya rendah tapi mutlak. Pria itu berjalan memutari meja konter, mendekati Senja yang langsung menegang di tempatnya.

​Arsen berhenti tepat dua langkah di depan Senja. Dia mengulurkan sebuah tas belanja kertas (paper bag) berlogo butik ternama yang entah sejak kapan sudah ada di sana.

​"Ada baju ganti dan kemeja bersih di dalam sana. Ganti pakaian kamu di kamar mandi depan," perintah Arsen datar. "Setelah itu, saya sendiri yang akan antar kamu pulang."

​Senja menatap tas kertas itu, lalu beralih menatap wajah lempeng Arsen. "Nggak usah repot-repot, Pak. Gue bisa—"

​"Jangan membantah untuk yang satu ini, Senja Naura," potong Arsen, nadanya mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin, memancarkan aura intimidasi yang bikin Senja langsung bungkam. "Kejadian di basemen semalam membuktikan kalau situasi di sekitar saya sedang tidak aman. Dan sialnya, mereka sudah melihat kamu bersama saya."

​Senja menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang.

​Arsen maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga Senja bisa mencium aroma kopi hitam yang pekat dari napas pria itu. Arsen menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata Senja yang gelisah.

​"Saya nggak akan menjelaskan apa pun kepada kamu sekarang karena kamu belum siap mendengarnya. Tapi ingat satu hal..." bisik Arsen, suaranya terdengar sangat dalam di keheningan apartemen. "...mulai hari ini, patuhi semua ucapan saya. Tetap berada di jangkauan saya, baik di kantor maupun di luar. Itu satu-satunya cara agar kamu tetap aman. Paham?"

​Senja tidak menjawab. Dia cuma bisa menyambar tas kertas dari tangan Arsen dengan gerakan kaku, lalu berbalik cepat menuju kamar mandi tanpa berani menengok ke belakang lagi.

​Sialan. Senja merapat ke pintu kamar mandi yang sudah dia kunci, napasnya memburu. Dia berniat mengubur rapat-rapat rasa penasarannya soal siapa Arsen sebenarnya. Tapi dari ucapan bosnya barusan, Senja sadar satu hal: mau dia bertanya atau tidak, hidupnya yang tenang kini sudah resmi berakhir sejak dia terlibat dengan seorang Arsen Malik.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!