NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Pertemuan Keluarga

Hari Minggu pagi yang cerah di pinggiran kota tidak serta-merta membawa ketenangan bagi Maya. Setelah sepekan penuh menguras energi di Aruna Kreasi untuk membangun benteng profesionalisme di depan Pak Arga, hari ini ia harus berhadapan dengan medan perang yang berbeda: acara silaturahmi keluarga besar mendiang suaminya, Andra.

Dengan menggandeng jemari kecil Dika yang sibuk mengunyah biskuit, Maya melangkah memasuki halaman rumah luas milik tante senior Andra, tempat acara arisan keluarga dua bulanan itu diadakan. Suara tawa yang riuh, denting sendok bersinggungan dengan piring porselen, dan aroma masakan opor ayam langsung menyambut indra penciumannya. Bagi Maya, atmosfer ini selalu memicu dua rasa yang bertolak belakang: kehangatan memori masa lalu, sekaligus kecemasan yang konstan.

"Eh, Maya sudah datang! Sini, Nak, langsung masuk ke ruang tengah," sapa Tante Ira, sang tuan rumah, dengan senyum ramah yang tulus.

Maya mencium tangan Tante Ira takzim, diikuti oleh Dika yang langsung menjadi pusat perhatian karena pipinya yang menggemaskan. Untuk beberapa saat, Maya merasa lega. Ia melebur dalam obrolan ringan, membantu menyusun gelas-gelas sirup di meja panjang, dan menikmati momen melihat Dika bermain riang bersama sepupu-sepupunya di karpet.

Namun, kedamaian itu—seperti halnya di kantor—hanya bertahan sampai aroma gosip mulai diembuskan.

### Sudut Ruang yang Menghakimi

Ujian sesungguhnya dimulai saat sesi makan siang usai. Ketika para pria berkumpul di teras depan membahas politik dan otomotif, para wanita paruh baya berkerumun di ruang tengah, bersandar pada bantal-bantal sofa yang empuk. Maya baru saja mendudukkan diri di sudut karpet setelah mencuci piring di dapur ketika Bude Lastri, kakak tertua dari almarhum mertuanya, menggeser duduknya mendekat.

Matanya yang tajam meneliti penampilan Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Maya hari ini tampil sederhana dengan tunik polos berwarna pastel dan jilbab senada—bersih, rapi, namun tanpa riasan yang mencolok.

"Maya, Bude dengar kamu sekarang sudah pindah kerja di perusahaan yang lebih besar ya? Siapa namanya... Aruna-Aruna itu?" Bude Lastri membuka percakapan, suaranya cukup lantang hingga memotong obrolan sepupu-sepupu yang lain.

"Iya, Bude. Aruna Kreasi. Alhamdulillah, sekarang sedang memegang proyek audit internal di sana," jawab Maya sesopan mungkin, menahan senyum formalnya agar tetap terkendali.

"Wah, hebat ya. Janda muda, punya anak satu, tapi kariernya malah makin melejit. Pasti sibuk sekali," sahut Tante Linda dari seberang sofa, nadanya terdengar seperti pujian namun memiliki intonasi yang menggantung. "Tapi, May... apa nggak repot pulang malam terus? Anak kan butuh perhatian penuh ibunya. Apalagi Dika masih sekecil itu, kasihan kalau sering ditinggal."

Dada Maya berdesir perih. Kalimat itu adalah peluru klasik yang selalu siap ditembakkan padanya. "Alhamdulillah, tempat kerja Maya sekarang cukup menghargai efisiensi waktu, Tante. Maya selalu mengusahakan pulang tenggo demi Dika. Kalaupun ada lembur, ada tempat penitipan anak yang tepercaya dekat kantor."

"Ya tetap saja beda, May," sela Bude Lastri lagi, seraya membenulkan letak gelang emasnya yang bergemerincing. "Seorang ibu itu madrasah pertama anak. Lagipula, kamu ini kan masih muda, muka juga masih segar. Apa nggak ada niatan untuk... yah, mencari pengganti Andra? Biar ada yang menafkahi, ada yang melindungi. Biar kamu nggak perlu banting tulang sendirian sampai malam seperti ini."

Pertanyaan itu seketika membuat suasana di ruang tengah hening. Beberapa pasang mata kini tertuju pada Maya, menunggu reaksi. Pertanyaan tentang "kapan menikah lagi" telah menjadi menu wajib yang selalu dihidangkan di setiap pertemuan keluarga, dan setiap kali pula, pertanyaan itu terasa seperti pisau yang mengorek luka lama yang belum sepenuhnya kering.

### Benteng yang Diuji Kembali

Maya menarik napas dalam-dalam, menganyam jemarinya di atas pangkuan untuk menyembunyikan getaran halus. Di dalam benaknya, bayangan Andra yang tersenyum hangat kembali melintas, bersanding dengan wajah tegas Pak Arga yang baru-baru ini sempat mengguncang ketetapan hatinya. Di kantor, ia difitnah karena kedekatan dengan bos; di rumah, ia dihakimi karena memilih untuk sendiri. Dunia seolah tidak pernah membiarkan seorang wanita dengan statusnya berjalan dengan tenang.

"Bude, Tante... terima kasih atas perhatiannya," kata Maya, suaranya tenang, diatur dengan ritme yang stabil agar tidak terdengar defensif.

"Bagi Maya, fokus utama saat ini adalah memastikan masa depan Dika terjamin. Banting tulang yang Maya lakukan sekarang adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai orang tua tunggal. Mengenai jodoh atau pengganti... Maya menyerahkan semuanya kepada ketetapan Allah. Saya tidak ingin terburu-buru hanya karena ingin menghindari lelahnya bekerja."

"Bukannya begitu, Maya," potong Tante Linda dengan nada mendesak. "Kami ini cuma khawatir. Zaman sekarang, perempuan sendiri di luar sana itu rawan jadi omongan orang. Katanya kalau di kantor-kantor besar begitu, godaannya banyak. Apalagi kalau atasannya laki-laki. Kamu harus pintar-pintar jaga diri, jangan sampai ada gosip yang mencoreng nama baik mendiang suamimu."

Deg. Kata-kata Tante Linda menghantam tepat pada ketakutan terdalam Maya. Kejadian di pantri minggu lalu, tatapan sinis Bu Ratna di ruang rapat, dan desas-desus yang sempat merayap di koridor Aruna Kreasi seolah mendadak diputar kembali di depan matanya. Rasa bersalah dan malu yang sempat ia redam di kantor kini bangkit lagi, memicu rasa sesak di dadanya.

*Apakah mereka tahu sesuatu?* batin Maya panik sejenak. Namun, ia segera menepis pikiran buruk itu. Ini hanyalah prasangka umum masyarakat terhadap statusnya, bukan karena mereka tahu tentang Pak Arga.

"Nama baik Mas Andra akan selalu saya jaga dengan segenap jiwa saya, Tante," jawab Maya, kali ini dengan penekanan yang lebih dalam dan mata yang menatap lurus.

"Di kantor, saya bekerja murni secara profesional menggunakan kapabilitas saya sebagai auditor. Tidak kurang dan tidak lebih. Saya harap keluarga besar di sini bisa terus memberikan doa dan dukungan, bukan justru mencurigai langkah saya dalam mencari rezeki halal untuk cucu keluarga ini."

Mendengar ketegasan Maya, Tante Linda tampak agak kikuk. Ia berdeham kecil lalu pura-pura meraih toples kue di meja. Bude Lastri pun tidak melanjutkan cecarannya, menyadari bahwa Maya yang sekarang bukan lagi Maya yang hanya bisa menangis tersedu-sedu di sudut kamar seperti beberapa tahun lalu saat awal kepergian Andra. Maya telah menjelma menjadi wanita yang memiliki prinsip dan tameng yang kuat.

### Pelukan di Balik Pintu

Ketika azan asar berkumandang, Maya memutuskan untuk pamit lebih awal dengan alasan Dika yang sudah mulai rewel karena mengantuk. Saat ia menggendong Dika menuju gerbang depan, Tante Ira—sang pemilik rumah—menyusulnya dan menepuk bahunya lembut.

"May, tolong maafkan ucapan Bude dan Tantemu tadi, ya," bisik Tante Ira penuh simpati. "Mereka itu orang tua zaman dulu yang berpikir kebahagiaan perempuan itu cuma kalau ada laki-laki di sampingnya. Tante tahu kamu wanita hebat. Andra pasti sangat bangga melihat bagaimana kamu membesarkan Dika dan menjaga kehormatan dirimu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Maya hampir saja tumpah mendengar ketulusan Tante Ira. Ia mengangguk, mencium tangan tantenya itu. "Terima kasih, Tante. Ucapan Tante sangat berarti buat Maya."

Di dalam taksi perjalanan pulang, Dika tertidur pulas di pangkuannya. Maya menatap keluar jendela, melihat rintik gerimis yang mulai membasahi jalanan kota Jakarta. Pertemuan keluarga hari ini kembali menegaskan satu hal penting dalam hidupnya: dunia tidak akan pernah berhenti menuntut dan mempertanyakan statusnya. Jika di kantor ia harus menjaga jarak dengan Arga demi profesionalisme, maka di lingkungan sosial ia harus menjaga jarak dari opini-opini yang menjatuhkan mentalnya.

Ia mengeratkan pelukannya pada Dika. Apapun yang dikatakan orang di kantor, ataupun yang dipertanyakan oleh keluarga besar, garis batas yang telah ia tarik tidak akan pernah bergeser. Demi Dika, demi Andra yang suci di ingatannya, dan demi harga dirinya sendiri, Maya akan tetap berdiri tegak membelah badai prasangka.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!