Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Diam yang mengusik.
Muatan pesawat cukup padat, bahkan ada problem dari beberapa barang yang akan di bawa ke wilayah timur, malam itu pesawat terpaksa nge-round di area zona dua.
"Phia mau kamar sendiri." Pinta Phia ketus.
"Tidak ada suami istri yang tidurnya pisah kamar. Kamu istri saya, nama yang tertera adalah nama saya. Kalau kamu mau kamar sendiri, silakan cari sendiri di luar wilayah asrama dan mess transit." Kata Bang Riegan terdengar tega dan tidak peduli. Bang Riegan membuka banyak makanan di hadapannya lalu menikmatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Phia.
"Aku anak dari PATI, adik dari Kolonel senior Reigar." Ujarnya. Phia yang kesal akhirnya menarik kopernya keluar kamar.
Phia tidak tau bahwa Bang Riegan sengaja meminta mess transit tua, bangunannya pun bangunan dari jaman kolonial yang letaknya paling jauh di ujung landasan pacu, sebab saat membawa Phia tadi, Phia lebih banyak tidur.
Namun, saat Phia membuka pintu kamar mess transit itu.. Yang terdengar hanya suara jangkrik, lampu yang nyaris mangkat karena kawat wolfram nya sudah nyaris putus.
Susah payah Phia menelan ludah dengan kasar tapi dirinya yang sudah terlanjur membuka pintu kamar merasa gengsi untuk kembali lagi. Ia melangkah keluar dengan menyeret kopernya dan berusaha untuk memberanikan diri.
Tapi kemudian ada burung hantu bertengger di sebuah dahan kayu tepat di depan Phia. Kakinya pun mulai terpaku dan gemetar, sulit untuk di gerakan. Ia menyisir lokasi sekitar memang gelap gulita. Hanya ada semak belukar tebal di luar pagar besi.
Gbraaaakk..
"Aaaaaaaaaaaaaa..." Phia menjerit ketakutan, ia lari terbirit-birit semakin jauh hingga perutnya terasa nyeri.
Minimnya penerangan membuatnya bolak balik terjungkal. Kakinya pun terkilir dan akhirnya meringkuk sambil menangis.
Tak lama Bang Riegan datang, ia mengangkat tubuh mungil Phia tanpa bicara sepatah kata pun.
~
Dengan lembut Bang Riegan mengobati luka di lutut Phia, ia pun meniup lutut itu saat Phia memercing perih.
Luka kecil itu sudah di tutup perban. Bang Riegan lalu mengambil karet rambut untuk istri kecilnya lalu mengikat rambut tersebut model ekor kuda. Setelah selesai, ia mengusap perut datar Phia beberapa saat dan berjalan menuju meja kecil tak jauh darinya.
Bibir itu diam tanpa suara dan kembali membawa bungkusan nasi. Pelan tapi pasti, Bang Riegan menyuapi Phia. Awalnya Phia menolak, tapi Bang Riegan terus menyuapkan makan malam itu dengan tangannya sendiri hingga Phia tidak bisa lagi menolaknya.
"Terlalu banyak." Protes Phia dengan nada rendah.
Bang Riegan mengurangi suapan tangannya. Lagi-lagi tanpa bicara tapi wajar datar tanpa suara itu, lama kelamaan membuat Phia menjadi gelisah. Ia semakin tidak tenang saat Bang Riegan mengusap bibirnya yang kotor karena kuah kari dari bumbu nasi bungkus khas daerah setempat.
Porsinya yang banyak membuat Phia tidak sanggup menghabiskan nasi bungkus tersebut.
"Sudah kenyang." Kata Phia.
Bang Riegan tetap menyuapkan sekali lagi. Saat Phia sudah menolak, Bang Riegan mengambil teh hangat yang tadi sempat ia buat dari teko listrik.
Phia minum perlahan. Ia terus memperhatikan Bang Riegan, suaminya itu menghabiskan sisa nasi dengan cepat dan segera membuang bungkusnya dan mencuci tangan dengan sedikit pasta gigi untuk membersihkan aroma bumbu.
Tanpa suara, Bang Riegan menggosok gigi sembari menatap mata Phia dari cermin di hadapannya.
Jantung Phia berdegup kencang, ia berdiri perlahan lalu menghampiri Bang Riegan, suaminya itu menyambutnya, menuntun setiap langkahnya dan setelah Bang Riegan selesai menggosok gigi, ia pun melakukan hal yang sama.
Tapi melihat kondisi Phia yang seakan kesulitan berjalan dan menopang tubuhnya, Bang Riegan mengalah dan menemani Phia. Setelahnya, ia mengangkat Phia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur.
Suasana kamar begitu sunyi, hanya terdengar suara hewan malam bersahutan. Bahkan saat Bang Riegan memijat pergelangan kakinya, pria itu tetap tidak bersuara. Tapi jujur, dari dalam hati kecilnya, di setiap perhatian Bang Riegan padanya membuatnya mendadak terusik.
"Kenapa hanya diam??" Tanya Phia karena dirinya merasa tidak nyaman.
"Kalau suara saya hanya membuat gaduh, membuatmu tidak nyaman dan menyakiti perasaanmu, lebih baik saya diam. Lagipula apapun perkataan saya, sedikitpun tidak ada yang masuk dalam hatimu untuk kau renungkan." Jawab Bang Riegan.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍