Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain Api
Dimas sudah sampai di tempat yang sudah dia janjikan dengan seseorang. Terlihat orang itu juga sudah ada di dalam sana, dengan melambaikan tangannya Dimas berjalan cepat menghampiri orang yang hendak makan siang dengannya.
" Mbak sudah lama? Maaf ya tadi masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi agak telat."Seru Dimas lalu duduk saling berhadapan.
" Tidak apa‑apa Dim, aku juga baru kok. Kamu sudah aku pesanin makanan kesukaan kamu, tunggu ya sebentar lagi pasti datang."Ucap sang teman wanita Dimas dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
" Waah terima kasih mbak Sintia. Mbak sudah tahu betul ya makanan kesukaan ku. Siang ini mbak cantik banget, beruntung sekali mas Bayu mempunyai istri secantik mbak."Ucap Dimas memuji dan merayu Sintia.
Seseorang yang saat ini ada di hadapan Dimas adalah Sintia, istri dari kakaknya sendiri. Mereka secara sengaja membuat janji untuk makan siang bersama. Baik Sintia maupun Dimas tidak ada yang memberitahu orang rumah kalau mereka ada janji makan berdua.
" Kamu bisa saja, Dim. Kamu juga semakin hari semakin tampan. Aku jadi gimana gitu, kamu sangat jauh beda sama mas Bayu. Kamu tampan, gagah, pekerjaan bagus dan kamu juga selalu ada di dekat istriku. Tidak seperti mas Bayu, dia pulang 2 minggu sekali dan di rumah paling lama cuma 3 hari, aku kan jadi kesepian. Tidur tidak ada yang nemenin, kadang juga ingin loh tidur di peluk setiap malam."Seru Sintia dengan sengaja dia bicara seperti itu agar mendapat perhatian dari Dimas.
Sebenarnya sejak pertama Sintia di bawa Bayu ke rumah orang tuanya untuk dikenalkan dengan keluarga. Mata Sintia tidak berhenti mencuri‑curi pandang dengan Dimas, Sintia jatuh cinta dengan Dimas saat pandangan pertama. Sampai 5 tahun pernikahannya dengan Bayu, Sintia masih mengagumi Dimas.
Dan ide untuk ikut tinggal dengan Dimas dan Hana sebenarnya adalah ide Sintia. Dia ingin selalu berdekatan dengan Dimas, agar bisa terus mencuri pandang dengan sang adik ipar.
" Jangan sedih ya mbak, mas Bayu kan kerjanya memang di luar kota. Itu semua demi mbak Sintia juga kan."Seru Dimas mencoba menghibur Sintia.
" Iya sih, Dim. Oh iya, kalau lagi berdua begini jangan panggil mbak dong. Panggil Sintia saja, lagian kita ini seumuran loh Dim, selisih 3 bulan saja kok."Ucap Sintia dengan berani dia meraih tangan Dimas dan menggenggamnya.
Dimas terkejut dengan keberanian Sintia, tidak tahu kenapa detak jantungnya berdegup semakin kencang. Namun Dimas tetap membiarkannnya, dia hanya bisa tersenyum dengan canggung.
Kenapa mbak Sintia jadi begini? Dari sorot matanya sepertinya dia menyukaiku. Kalau bukan istri kakakku, pasti sudah aku sikat. Sayang dia istri dari kakakku sendiri. Tapi kasihan juga dia, setiap malam tidur sendirian. Sebagai seorang istri pastinya dia merasa kesepian.*Gumam Dimas dalam batinnya.
Makanan dan minuman yang di pesan oleh Sintia kini sudah tersaji di atas meja. Benar saja, makanan yang di pesan Sintia memang makanan kesukaannya semua. Mata Dimas tentunya berbinar, tanpa malu dan sungkan dia pun mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Aaaaa....
Tiba‑tiba Sintia mengulurkan sendok di depan mulut Dimas, dia ingin menyuapi Dimas dengan sendoknya. Tanpa menolak, Dimas pun membuka mulutnya.
" Terima kasih ya, Sintia. Kamu perhatian banget sama Dimas, Hana akhir‑akhir ini tidak memperdulikanku. Bahkan untuk makan pun dia sudah tidak menyiapkan lagi."Ucap Dimas dengan memasang wajah sedih.
" Kamu tenang saja, Dim. Sekarang ada aku yang akan perhatian sama kamu dan perduli sama kamu. Dim, aku menyukaimu."Seru Sintia tanpa malu dia mengakui perasaannya.
Uhhukkk Uhhukkk
Dimas tersedak dan batuk‑batuk, dengan cepat Sintia menyambar minuman yang ada di hadapannya dan memberikannya kepada Dimas.
" Pelan‑pelan, Dim."Seru Sintia dengan lembut.
" Terima kasih, mbak. Ehh Sintia. Emm.. soal yang tadi apa kamu serius? Bagaimanapun kamu itu istri dari mas Bayu, kamu kakak ipar ku Sintia. "Tanya Dimas serius.
" Aku serius Dim, dari pertama kali aku ketemu kamu sebenarnya aku sudah mengagumi mu. Tapi sayang, saat itu aku sudah berpacaran dengan mas Bayu dan tidak mungkin aku memutuskannya dan aku mengejar cintamu. Kita bisa menjalin hubungan secara diam‑diam dan hanya kita yang tahu. Bagaimana?."Tanya Sintia terus mendesak Dimas.
Bagai kucing di kasih umpan ikan yang besar, Dimas tidak akan menyia‑nyiakan kesempatan yang langka. Terlebih dia sering membayangkan tubuh Sintia yang memang terlihat seksi di matanya. Itu karena Sintia sering memakai baju yang tidak sopan saat Dimas ada di rumah.
" Aku setuju, mulai sekarang kita pacaran. Tapi hanya kita berdua yang tahu."Ucap Dimas setuju dengan Sintia
" Terima kasih Dimas, Sayang."Seru Sintia memanggil sayang kepada Dimas.
" Sama‑sama Sintia, Sayang."Jawab Dimas balik
Sepasang kekasih baru itupun kembali melanjutkan makan siangnya. Mereka sudah tidak malu‑malu lagi saling suap‑suapan. Mereka tidak pernah tahu bagaimana akibat dari perbuatannya jika diketahui oleh pasangan masing‑masing.
Di tempat lain, Lastri sedang membicarakan soal kampus yang akan menjadi tempatnya kuliah. Lastri sudah memilih universitas yang bergengsi, yang mana bayarannya juga tidaklah sedikit.
" Bu, aku sudah memutuskan untuk kuliah di Universitas Mega Budi bu. Tiga hari lagi harus ada uang 10 juta untuk pendaftaran dan biaya yang lainnya."Ucap Lastri seenaknya tanpa tahu akan dapat uang darimana.
" Ya sudah sih, tinggal daftar saja Las. Nanti soal uang tinggal minta sama si Hana itu."Jawab ibu Sundari dengan santai dengan pandangan tetap ke arah Televisi.
" Ibu yakin mbak Hana masih mau kasih uang?."Tanya Lastri kurang yakin jika Hana masih mau membiayai sekolahnya.
" Kalau dia tidak mau, kita suruh mas kamu untuk mengancam menceraikan nya. Lagian mas kamu itu suaminya, dia berhak juga atas rumah ini dan uang Hana. Bagaimanapun harta istri itu milik suaminya juga."Ucap ibu Sundari entah dapat pemahaman dari mana bisa bicara seperti itu.
Heeemmm...
Lastri mengangguk setuju, apa yang dikatakan ibunya menurutnya memang ada betulnya juga. Untuk apa dia bingung soal uang, Dimas kakaknya seorang menejer dengan gaji besar dan kakak iparnya juga pasti mau membantu biaya kuliahnya.
" Bu, mas Bayu kapan pulang?."Tanya Lastri mengganti topik pembicaraan.
" Besok dia pulang, kenapa?."Tanya Ibu Sundari.
" Biasalah bu, kalau mas Bayu pulang pasti bawa oleh‑oleh dan tentunya dia juga kasih aku uang. Yah meskipun itu sedikit, kadang cuma 200 atau 300 ribu tapi kan lumayan bu."Seru Lastri tertawa kecil.
" Jangan sering‑sering minta uang sama Bayu, dia itu lagi nabung untuk beli rumah. Minta saja sama Hana, kita di rumah ini kan tanggung jawab dia. Apa lagi katanya rumah ini milik dia, jadi dia lebih wajib lagi menanggung biaya hidup kita, kita kan tinggal di rumahnya."Ucap ibu Sundari memberikan ajaran tidak baik kepada Lastri.
Gadis remaja yang baru berusia 18 tahun itu pun nampak setuju saja dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Lastri sudah memberitahu teman‑temannya jika dia akan berkuliah di universitas elite yang ada di kota itu. Lastri selalu memamerkan apa yang dia punya, padahal terkadang barang‑barang yang dia pamerkan adalah milik Hana. Tanpa sepengetahuan Hana, saat berkumpul dengan teman‑temannya Lastri sering memakai tas dan sepatu Hana. Hana yang kerja berangkat pagi pulang sore tidak menyadarinya. Apa lagi saat dia pulang, Lastri sudah lebih dulu pulang dan mengembalikan barang‑barang itu ke dalam lemari yang memang kuncinya tidak Hana lepas. Hanya lemari pakaian dan barang‑barang berharga seperti perhiasan dan jam mahalnya yang dia kunci dan dia lepas.
Hana mengira tas dan sepatunya akan aman, sebab pintu kamarnya memang selalu terkunci. Namun siapa sangka, kunci kamar yang biasa dipegang Dimas sudah ada sama ibunya. Dimas sendiri yang telah memberikan kunci itu kepada ibunya.