NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 23 Petunjuk Cangkang Telur

Drap drap drap…!

Mendengar suara lari kuda itu, Purwasaga hanya berdiri menunggu.

Dari tikungan jalan akhirnya muncul kuda besar yang ditunggangi oleh gadis cantik jelita berbadan besar dan berambut biru terang.

Terkejut Purwasaga melihat kemunculan gadis beralis biru tersebut.

Lintha pun terkejut melihat suaminya yang dalam kondisi lebih mengenaskan dari sebelumnya karena tidak ada lagi sedikit pun ketampanannya yang tersisa.

“Lintha!” Purwasaga cepat memanggil.

“Suamiku! Hiuuup!” sebut Lintha pula sambil cepat menarik kencang tali kendali kudanya agar mau mengerem.

Sebelum kudanya benar-benar berhenti, Lintha telah melompat turun. Kuda yang ia tinggalkan tidak memilih kabur. Memang seperti itu karakter kuda di Negeri Elindra.

Puk!

Tanpa sungkan-sungkan Lintha langsung merentangkan kedua tangannya, lalu meraup kepala suaminya dengan kedua lengannya yang membuat wajah kumal, bau dan berdebu itu tertarik menabrak dua gunung besar yang bersungai oleh aliran keringat.

Seperti biasanya, Lintha begitu antusias memeluk kuat suaminya. Namun, tiba-tiba dia melepas dan mendorong kedua bahu Purwasaga, tetapi tidak sampai lepas. Dia memandang heran wajah lelaki manusia itu.

“Kenapa baumu berubah, Suamiku? Apakah benar kau Purwasaga yang manusia?” tanya Lintha dengan tatapan serius.

“Iya, aku suamimu, istri cantikku,” jawab Purwasaga. “Aromaku semakin wangi karena aku tercebur di air kencing lolot.”

“Oooh, perjuanganmu sungguh luar biasa, Suamiku,” puji Lintha lalu kembali menarik kepala suaminya masuk terbenam di dalam himpitan pelukan yang menyesakkan napas.

Pak pak pak!

Purwasaga lalu menepak-nepak bokong istrinya sebagai tanda bahwa dia telah menyerah karena nyaris kehabisan napas.

Lintha segera melepas pelukannya. Purwasaga segera pula menghirup udara yang banyak.

“Suamiku, kau telah melanggar lagi,” tukas Lintha.

Terkejut Purwasaga mendengar tudingan tersebut.

“Melanggar apa?” tanya Purwasaga agak sewot. Dia tidak mau menjalani hukuman yang penuh derita lagi.

“Bukankah kau telah mengambil telur emas lolot?” terka Lintha.

“Tidak!” sangkal Purwasaga cepat.

“Prajurit penjaga makam terlarang ada yang melapor kepadaku bahwa pengaman pertama segel Makam Pasukan Penghancur telah terbuka. Hanya kau yang berada di Bukit Telur Lolot, Suamiku. Kau tidak bisa menyangkal,” kata Lintha.

Terkejut Purwasaga mendengar itu. Dia tidak bisa berdusta lagi. Akhirnya ia pun mengaku.

“Iya. Aku mengambilnya, tetapi….”

Kata-kata Purwasaga seketika terputus karena bibirnya dijepit oleh jari tangan istrinya.

“Sudah, tidak lama lagi Pasukan Penjaga Makam Terlarang akan datang ke sini mencari orang yang mengambil telur emas. Kita harus segera pergi,” kata Lintha.

“Lalu bagaimana dengan telur lolot yang aku ambil?” tanya Purwasaga jadi setengah panik.

“Tinggalkan saja. Nyawamu lebih penting,” kata Lintha. “Ayo, naik ke kuda!”

Maka, tanpa menunggu langkah pincang Purwasaga, Lintha segera mengangkat tubuh suaminya untuk naik ke punggung kuda. Dengan cekatan pula, Lintha naik dan duduk di belakang suaminya.

“Hae hae!” gebah Lintha.

Purwasaga tampak seperti anak kecil yang didudukkan di depan dan berada dalam kungkungan pelukan sang istri.

“Seingatku, kau mengatakan bahwa Pasukan Penjaga Makam Terlarang tidak akan merasakan jika pengaman pertama segel hilang,” kata Purwasaga.

“Benar, tetapi sepertinya aku telah salah. Yang benar adalah Pasukan Penjaga Makam Terlarang akan tahu jika pengaman pertama dibuka, tetapi mereka tidak bisa langsung tahu apa penyebabnya. Bahkan Istana pun tidak tahu. Mereka akan tahu penyebabnya setelah melakukan penyelidikan. Karena itulah, kau masih memiliki waktu untuk kabur dan bersembunyi jauh,” jawab Lintha.

“Jauh? Kau mau membawaku ke mana, Lintha?” tanya Purwasaga.

“Keluar dari daratan ini. Aku akan membawamu ke sebuah pulau dan bersembunyi di sana sampai Gerbang Buana terbuka agar kau bisa pulang, Suamiku,” jawab Lintha.

“Pulang? Syukurlah,” ucap Purwasaga lega. Ia seperti melihat secercah harapan.

“Hae hae!” gebah Lintha.

Tanpa direncanakan, Purwasaga tertidur dengan bersandar pada badan besar istrinya. Lintha hanya tersenyum saat mengetahui suaminya terlelap. Ia paham bahwa suaminya itu sangat kelelahan dan menderita dengan bengkak-bengkak yang dialaminya. Namun, ia belum tahu bahwa azimat suaminya juga bengkak besar.

Drap drap drap…!

Lintha terus berkuda keluar dari kawasan Bukit Seratus Lubang, meski ia sempat melihat keberadaan Azhmar yang berdiri di salah satu puncak bukit. Dia tidak berhenti dan terus pergi meninggalkan wilayah tersebut.

Tidak berapa lama….

Drap drap drap…!

Dari arah dalam kawasan Bukit Seratus Lubang muncul dua ekor kuda yang berlari sedang. Kedua penunggangnya adalah Dhodor dan Cukur. Mereka masing-masing membawa dua butir telur lolot. Salah satunya adalah telur lolot yang warna emas.

Melihat kedatangan kedua pengawalnya, Azhmar segera turun dari puncak bukit. Cara turunnya tidak seperti Lintha yang langsung lompat-lompat, tetapi gadis cantik itu berlari turun dengan cepat tapi terlihat ringan. Sentuhan kakinya pada tanah tidak sampai membuat tanah bukit terlempar jauh, hanya tergerak halus.

“Hiuuup!” pekik Cukur sambil menghentikan lari kudanya agak tajam saat melihat sosok majikannya.

“Turunkan telur emasnya!” perintah Azhmar.

“Baik, Noni,” ucap Cukur.

Ia lalu turun lebih dulu dari punggung kudanya untuk menurunkan telur emas yang diikat kuat di pinggang kuda.

Drap drap drap!

“Hiuuup!” Dhodor juga tiba bersama kuda dan dua telurnya.

Cukur meletakkan telur emas di tanah, di depan Azhmar. Putri Rungga Zamar itu memerhatikan telur tersebut dengan seksama, seolah-olah memerhatikan sesuatu pada cangkang yang warnanya kuning emas polos. Ia membungkuk, mendekatkan pandangannya, bahkan melangkah perlahan memutari telur sambil tetap membungkuk.

Azhmar seolah-olah sedang mencari sesuatu yang kedua pengawalnya pun tidak tahu, tapi tidak mau bertanya.

Tiba-tiba tangan kanan ungu Azhmar menyala seperti lampu, agak menyilaukan.

Ujung kuku telunjuknya yang agak panjang lalu disentuhkan pada satu titik di cangkang tersebut.

Tanpa menimbulkan suara, dari ujung kuku itu kemudian menjalar garis sinar ungu yang menyebar ke bidang cangkang emas. Sebaran garis sinar ungu membentuk sebuah pola gambar yang cukup rumit.

Dhodor dan Cukur hanya memandangi apa yang terjadi.

Azhmar kemudian menarik jarinya lepas dari cangkang telur, tetapi gambar yang terbentuk oleh sinar ungu tetap menyala. Gambar itu seperti kumpulan daun-daun yang banyak.

Azhmar tetap memerhatikan dengan serius seolah-olah itu juga perkara yang sangat serius.

“Kalian tahu ini gambar daun apa?” tanya Azhmar kepada kedua pengawalnya tanpa mengalihkan pandangannya dari telur emas.

“Tidak tahu, Noni,” jawa Cukur.

“Daun kepingin, Noni,” jawab Dhodor.

“Memang mirip daun kepingin, tapi bukan. Daun kepingin memiliki ujung lancip bercabang dua, sedangkan daun ini berujung lancip satu saja,” kata Azhmar.

“Benar, Noni. Semua gambar daunnya berujung lancip satu,” kata Dhodor.

“Ini namanya daun taring tunggal yang hanya tumbuh di Pulau Kurayu,” kata Azhmar. Lalu perintahnya, “Hancurkan telur emas ini dan bawa ketiga telur itu ke Kandang Jurang!”

“Baik, Noni,” ucap Cukur.

Azhmar lalu pergi mendatangi kudanya. Urusannya sudah selesai.

Begk! Prakr!

Sementara itu, Cukur menonjok telur emas dengan tinju yang berapi biru. Terlihat hebat. Tinjunya itu tidak menghancurkan cangkang telur, tetapi tetap membuatnya retak ke mana-mana. Dua detik kemudian, cangkang telur itu pecah berantakan.

Ternyata, cangkang telur lolot tidak tipis seperti telur binatang pada umumnya, tetapi tebal selebar satu jengkal. Dengan hancurnya cangkang tersebut, menunjukkan tinju Cukur tidak main-main kekuatannya.

Selain cangkang yang hancur, ada cairan yang tumpah dan ada bayi lolot yang meringkuk dalam lapisan selaput transparan tapi buram.

Setelah hancur, pola sinar ungu pada cangkang tersebut lenyap tanpa bekas.

Cukur dan Dhodor segera meninggalkan tempat itu dengan menunggangi kudanya masing-masing.

“Hae hae!”

“Hae hae!” (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
Om Rudi: 🤣🤣🤣🤣sing sabar Mbak Ayu
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!