NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Garis Merah

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kamar utama setelah tim dokter pribadi Elvano meninggalkan mansion menjelang siang hari.

Dokter paruh baya itu hanya memberikan diagnosis yang normal, Alice mengalami gangguan lambung akut akibat kelelahan fisik dan stres yang ekstrem.

Elvano, yang mengawal ketat jalannya pemeriksaan, akhirnya sedikit bernapas lega setelah sang dokter menyuntikkan vitamin dan meresepkan beberapa obat lambung premium.

Namun, setelah Elvano terpaksa turun ke ruang kerja bawah tanah karena Kaiven terus-menerus meneror ponselnya terkait dokumen pelabuhan yang mendesak, Alice justru terduduk di tepi ranjang dengan pikiran yang berkecamuk hebat.

Diagnosis dokter tadi sama sekali tidak menenangkan hatinya.

Ada sebuah kecurigaan di dalam dada Alice yang menolak fakta sakit lambung tersebut.

Pikirannya melayang kembali pada memori beberapa bulan lalu, saat ia masih bekerja belasan jam sehari di sebuah bar sibuk di pusat kota.

Ia ingat betul bagaimana rekan kerja sesama pelayannya, seorang wanita muda bernama Siska, mengalami gejala yang sama persis sebelum akhirnya dinyatakan cuti hamil.

Muntah-muntah hebat hanya di pagi hari... rasa mual yang dipicu oleh aroma tertentu... dan... Alice seketika membeku saat melirik kalender digital kecil di atas nakas.

Siklus bulanannya sudah terlambat lebih dari dua minggu.

Rasa panik yang teramat dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya.

Alice meremas selimut sutranya dengan jemari yang bergetar.

Pikiran itu terasa begitu gila, begitu mustahil, namun sekaligus sangat masuk akal mengingat bagaimana buas dan intensnya Elvano menyatukan tubuh mereka setiap malam tanpa pengaman sedikit pun selama satu bulan terakhir ini.

Alice harus memastikannya.

Dan ia tidak bisa meminta bantuan Mbok Nem, karena kepala pelayan senior itu pasti akan langsung melapor kepada Elvano.

Satu jam kemudian, keberuntungan berpihak pada Alice.

Seorang pelayan muda bernama Tari masuk ke dalam kamar untuk mengantarkan semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.

Tari adalah gadis berusia awal dua puluhan yang baru bekerja dua bulan di mansion.

Wajahnya yang polos dan sifatnya yang agak kikuk membuat Alice merasa sedikit lebih aman.

"Tari... tunggu sebentar," panggil Alice pelan, suaranya nyaris berbisik saat pelayan muda itu hendak berbalik meninggalkan kamar.

Tari menghentikan langkahnya, menoleh dengan gugup. "Iya, Nona Alice? Ada yang bisa saya bantu lagi?"

Alice turun dari ranjang, melangkah mendekati Tari dengan gestur yang sangat waspada.

Ia merogoh saku gaun lavendernya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah yang sempat ia temukan di dalam dompet lamanya di laci.

"Tari, saya... saya ingin meminta bantuanmu. Tolong, ini rahasia. Jangan sampai Mbok Nem atau para pengawal di luar tahu," bisik Alice dengan sepasang mata hazel yang memancarkan permohonan yang teramat sangat.

"Saat kau keluar membelikan keperluan dapur sore nanti... bisakah kau mampir ke apotek? Tolong belikan saya... testpack. Alat tes kehamilan."

Tari seketika membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan.

Sebagai pelayan di rumah seorang mafia, ia tahu betul bahwa terlibat dalam rahasia pribadi Bosnya bisa berujung fatal.

Namun, menatap wajah pucat Alice dan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya, rasa empati sesama wanita mengalahkan rasa takutnya.

Tari dengan cepat menyambar uang tersebut dan menyembunyikannya di balik apron.

"B-Baik, Nona... saya akan usahakan. Nona tenang saja, saya tidak akan bicara pada siapa pun."

Sore harinya, saat langit di luar mulai berubah jingga kemerahan, Tari kembali ke kamar Alice dengan alasan mengantarkan teh melati hangat.

Di bawah cangkir teh tersebut, terselip sebuah kantong plastik hitam berukuran sangat kecil.

Begitu Tari keluar dan mengunci pintu dari luar, Alice langsung menyambar kantong tersebut dan berlari masuk ke dalam kamar mandi utama.

Ceklek!

Alice mengunci pintu kaca buram itu, menyandarkan punggungnya di sana sejenak sembari mencoba mengatur napasnya yang memburu tidak teratur.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan suara berdengung di kedua telinganya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka kemasan plastik perak di dalamnya, mengeluarkan sebuah alat batangan plastik putih yang tipis.

Proses itu hanya memakan waktu beberapa menit, namun bagi Alice, setiap detiknya terasa seperti siksaan di dalam neraka penantian.

Alice meletakkan alat tes tersebut di atas meja marmer wastafel, lalu berbalik membelakanginya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menempelkan kedua telapak tangannya di dada, berdoa dengan seluruh sisa kekuatan jiwa yang ia miliki agar dugaannya salah.

Menjadi hamil di dalam mansion emas seorang mafia bukanlah sebuah berkah, melainkan sebuah kutukan yang rumit.

Setelah lima menit yang terasa seperti lima abad berlalu, Alice memutar tubuhnya perlahan.

Ia melangkah mendekati wastafel, sepasang manik hazelnya menatap ke bawah, fokus pada jendela kecil di alat penunjuk tersebut.

Di sana, di bawah cahaya lampu LED kamar mandi yang putih terang, dua garis merah tebal muncul dengan sangat jelas.

Dua garis merah.

Dunia di sekitar Alice seolah-olah runtuh berantakan saat itu juga.

Lututnya mendadak kehilangan seluruh kekuatan pertahanannya, membuatnya jatuh terduduk di atas lantai yang dingin.

Alice membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan sebuah jeritan histeris yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Air mata seketika tumpah membasahi pipi putihnya yang kembali memucat pasi.

"Tidak... tidak mungkin... tuhan, tolong jangan sekarang..." bisik Alice di sela-sela tangisnya yang mulai pecah berkeping-keping.

Di satu sisi, ada sebuah getaran naluri keibuan yang asing yang mendadak muncul di dasar rahimnya, sebuah kenyataan bahwa ada sebuah nyawa, sebuah kehidupan baru, sedang tumbuh di dalam dirinya.

Namun, di sisi lain, rasa takut yang luar biasa melumpuhkan seluruh perasaan tersebut.

Ketakutan itu bersumber dari satu nama yaitu, Elvano.

Alice ingat betul setiap detail rumor, cerita dari Mbok Nem, hingga konfirmasi dingin dari mulut Elvano sendiri pada malam-malam awal penahanannya.

Elvano Lucane Salvatore adalah pria yang telah di diagnosa mandul secara medis akibat komplikasi cedera masa lalu.

Itu adalah fakta yang diyakini oleh seluruh klan dunia bawah, sebuah kelemahan yang membuat posisi Elvano sebagai pewaris tunggal sempat digoyang oleh sepupunya, Matteo.

Pikiran Alice langsung membayangkan skenario terburuk yang mengerikan.

Jika ia menunjukkan dua garis merah ini kepada Elvano, pria itu tidak akan percaya bahwa itu adalah darah dagingnya sendiri.

Pikiran Elvano yang dingin dan penuh kecurigaan pasti akan langsung menyimpulkan sebuah pengkhianatan.

Elvano akan menuduhnya telah berselingkuh, telah membuka paha untuk salah satu dari puluhan pengawal bertubuh kekar yang setiap hari mengawasinya di taman atau di koridor mansion.

“Dia akan membunuhku... atau dia akan membunuh bayi ini,” batin Alice berteriak histeris dalam hati.

Kekejaman Elvano saat menghajar pengawal bertato ular di taman beberapa hari lalu berputar kembali di kepalanya seperti film horor.

Jika untuk sebuah tatapan kurang ajar saja Elvano bisa menghancurkan wajah manusia hingga sekarat, apa yang akan dilakukan pria itu jika ia mengira tawanannya telah mengandung anak dari pria lain?

Elvano akan menganggapnya sebagai aib terbesar, sebuah penghinaan terhadap harga dirinya yang berkuasa.

Alice meremas alat tes kehamilan itu di dalam genggamannya, menangis tersedu-sedu di sudut kamar mandi yang sunyi.

Getaran cinta yang sempat membuatnya merasa hangat atas perlindungan Elvano kini hilang tergantikan oleh realitas ketakutan yang begitu nyata.

Ia terjebak di dalam sebuah takdir yang teramat kejam.

Mengandung benih keajaiban yang nyata dari seorang pria yang percaya dirinya mandul, di dalam sebuah mansion yang dijaga ketat oleh monster yang siap mencabik-cabiknya kapan saja.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!