"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 28
Langit sore mulai berubah jingga ketika Dinda masih duduk di taman bersama Glenka.
Bayi kecil itu kini duduk manis di atas pangkuannya sambil sibuk memainkan gelembung sabun yang pecah satu per satu di udara.
Sesekali tawanya terdengar kecil dan renyah, membuat siapa pun yang melihatnya ikut gemas sendiri. Sedangkan Dinda—wanita itu tanpa sadar terus tersenyum sejak tadi.
“Kayaknya dia emang betah sama lo.” Suara lembut Raka, membuat Dinda menoleh pelan.
Pria itu berdiri tak jauh dari bangku taman, sambil membawa dua botol kaleng minuman dingin di tangannya. Setelah menyerahkan salah satunya pada Dinda, Raka ikut duduk di sebelah wanita tersebut.
“Makasih,” ujar Dinda pelan.
“Hm, with my pleasure."
Untuk beberapa saat, keduanya hanya memperhatikan Glenka yang terus mengoceh sendiri dengan bahasa bayi yang tidak jelas.
Namun justru suasana sederhana itu terasa sangat nyaman. Tidak berat, tidak melelahkan. Berbeda sekali dengan hidup Dinda beberapa bulan terakhir yang selalu dipenuhi tangis dan tekanan.
“Raka," cicit Dinda dengan suara lirih.
“Hm?” Raka menoleh dengan wajah teduh.
“Kenapa dulu kamu milih nitipin Glenka ke aku?” Pertanyaan dari wanita itu membuat pria tersebut diam sejenak. Tatapannya lurus ke arah danau kecil di depan mereka.
“Aku juga nggak tahu.” Jawaban jujur itu membuat Dinda mengernyit kecil.
“Awalnya cuma kepikiran nama lo aja,” lanjut Raka sambil tertawa kecil hambar. “Padahal kita udah lama nggak ketemu.”
“Tapi entah kenapa...” pria itu menoleh pelan ke arah Dinda. “Aku yakin lo bakal jagain dia dengan baik.”
Deg.
Jantung Dinda berdetak pelan.
Sedangkan Glenka, tiba-tiba memeluk pinggangnya sambil menyandarkan kepala kecilnya nyaman. Dan lagi-lagi, hati wanita itu terasa hangat luar biasa.
“Aku juga nggak ngerti,” gumam Dinda lirih. “Kenapa aku bisa sedeket ini sama dia.”
Raka tersenyum kecil. “Mungkin karena kalian sama-sama lagi nyari tempat pulang.”
Kalimat itu sukses membuat Dinda langsung terdiam. Karena tanpa sadar—itulah yang sedang ia rasakan akhir-akhir ini.
*****
Malam harinya, Dinda pulang ke rumah dengan tubuh yang jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir.
Namun begitu membuka pintu rumah—langkahnya langsung terhenti. Ervin duduk di ruang tamu bersama ayahnya.
Deg.
Jantung Dinda langsung berdetak tidak nyaman. Sedangkan pria itu langsung berdiri begitu melihat dirinya pulang.
“Kamu dari mana?” Nada suaranya terdengar pelan. Namun entah kenapa—tetap membuat Dinda lelah.
“Tadi keluar bentar," Dinda mengalihkan pandangannya saat Ervin menatapnya lekat.
“Bareng Raka?” tebak Ervin .
Wanita itu langsung mengangkat wajahnya. Sedangkan Ervin tertawa kecil hambar.
“Aku lihat story butik tadi.”
Suasana langsung berubah canggung. Ayah Dinda yang menyadari ketegangan itu akhirnya memilih berdiri perlahan.
“Kalian ngobrol aja dulu.”
Setelah pria paruh baya tersebut masuk ke kamar, kini hanya tersisa mereka berdua di ruang tamu.
Dan seperti biasa—udara terasa sesak.
“Aku cuma nemenin Glenka main,” jelas Dinda pelan.
“Aku nggak marah.”
“Terus?”
Ervin memandang wanita itu cukup lama. Matanya lelah sekali. “Aku cuma iri.”
Deg.
“Aku iri karena sekarang ada orang lain yang bisa bikin kamu senyum lagi.” Kalimat itu membuat dada Dinda langsung terasa nyeri.
Karena pria di hadapannya terdengar benar-benar hancur. Dan lagi-lagi, itu membuatnya ikut sakit.
“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Raka.” Entah mengapa, Dinda tiba-tiba berucap demikian. Padahal, itu tidak perlu.
“Aku tahu.” Ervin mengangguk paham.
“Terus kenapa ngomong kayak gitu?”
Ervin mengusap wajahnya kasar. Karena sejujurnya—ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi.
Setelah Dinda meminta pisah, pria itu seperti kehilangan arah sepenuhnya. Ia tidak bisa tidur. Tidak bisa fokus bekerja. Bahkan pulang ke apartemen terasa seperti hukuman baginya.
“Aku takut,” bisik Ervin akhirnya.
“Takut apa?”
“Takut kamu pelan-pelan bisa hidup tanpa aku.” Dan pengakuan itu sukses membuat suasana kembali hening.
Karena Dinda tahu—perlahan, hal itu memang sedang terjadi.
“Aku udah tanda tangan suratnya.”
Ucapan Ervin beberapa menit kemudian sukses membuat tubuh Dinda membeku.
“Apa?” Dinda merasakan jantungnya berdegup sangat cepat saat melihat pria itu mengeluarkan map cokelat dari tas kerjanya. Tangannya gemetar.
“Syarat cerai yang kemarin.”
Napas Dinda langsung terasa berat. Ia tidak menyangka semuanya akan bergerak secepat ini. Padahal beberapa hari lalu—dirinya masih berharap bisa kuat mempertahankan rumah tangganya.
Namun sekarang—surat itu benar-benar ada di depan mata. Dan semuanya terasa nyata.
“Aku nggak mau maksa kamu bertahan lagi,” lanjut Ervin dengan suara serak. “Kalau ini yang bikin kamu lebih tenang... aku bakal lepasin.”
Air mata Dinda langsung menggenang.
Sedangkan pria itu tertawa kecil penuh luka. “Walaupun sebenernya aku pengen egois dan nyuruh kamu tetap tinggal.”
Deg.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Dinda berkata sangat pelan—“Mas nyesel?”
Pertanyaan itu membuat Ervin langsung mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya—air mata pria itu jatuh tanpa ditahan.
“Setiap hari.” Suara Ervin bergetar hebat. “Aku nyesel tiap detik.” Tangannya mengepal kuat di atas paha.
“Aku nyesel karena udah bikin perempuan yang paling aku sayang nangis tiap malam. Aku nyesel karena baru sadar harga kamu setelah semuanya rusak," isak tangisnya mulai terdengar hebat.
“Aku nyesel...” napasnya tercekat. “Karena ternyata nggak ada satu pun orang yang bisa gantiin posisi kamu.”
Tangisan Dinda pecah lagi.
Karena penyesalan Ervin terasa begitu tulus. Begitu nyata. Namun tetap tidak mampu menghapus luka yang ada.
“Empat tahun menikah...” suara pria itu semakin lirih. “Harusnya aku jadi rumah paling aman buat kamu.”
“Tapi aku malah jadi alasan terbesar kenapa kamu hancur.”
Dan kalimat itu terasa seperti pisau yang memutar di dada Dinda. Karena semua cinta mereka memang nyata. Hanya saja—kenyataan hidup menghancurkan semuanya terlalu jauh.
Malam semakin larut ketika Ervin akhirnya berdiri untuk pulang. Namun sebelum pergi, pria itu berhenti tepat di depan Dinda.
Tatapannya penuh luka. Penuh cinta. Dan penuh penyesalan yang terlambat.
“Kalau suatu hari nanti...” suaranya serak. “Ada orang yang bisa bikin kamu bahagia lagi...” Air matanya jatuh pelan.
“Tolong jangan takut buat mulai hidup baru.”
Deg.
Dinda langsung menutup mulutnya menahan tangis. Sedangkan Ervin tersenyum kecil penuh kehancuran.
“Karena kamu pantas dicintai lebih baik daripada cara aku nyakitin kamu.”